NovelToon NovelToon
Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.

Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.

Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.

Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

"Anggap dia nggak pernah ada. Siapa pun yang berani bicara, menyapa, atau bahkan sekadar melirik dia... berarti berurusan langsung sama gue. Paham?!"

Suara Alvaro menggelegar, memantul di dinding-dinding kantin yang mendadak beku. Kalimat itu bukan sekadar gertakan; itu adalah titah seorang raja di SMA Garuda. Ia berdiri tegak di atas kursi kayu, menatap seisi ruangan dengan mata elang yang tak menyisakan ruang sedikit pun untuk pembelaan. Di sampingnya, Airin menunduk dalam, bahunya sedikit berguncang—sebuah pertunjukan air mata yang begitu meyakinkan seolah hatinya baru saja dicabik-cabik karena "sepatu mahalnya dirusak" olehku.

Aku berdiri mematung di ambang pintu kantin. Seluruh pandangan tertuju padaku, namun dalam hitungan detik, mereka membuang muka serempak. Keheningan yang tercipta jauh lebih menyakitkan daripada makian paling kasar sekalipun. Kakiku yang hanya berbalut kaus kaki tipis—yang kini mulai kusam karena sepatu bututku dipaksa lepas kemarin—terasa sangat dingin saat bersentuhan dengan lantai porselen. Aku merasa seperti mayat hidup yang sedang dipamerkan di tengah kerumunan.

"Varo, sudah... kasihan Aira. Mungkin dia cuma nggak sengaja," bisik Airin. Suaranya terdengar lembut dan tulus, namun aku tahu, itu adalah umpan agar kemarahan orang-orang semakin tersulut.

"Nggak ada kata kasihan buat pencuri dan perusak, Ai," sahut Alvaro tanpa sekali pun menoleh ke arahku. Suaranya dingin, menusuk sampai ke tulang. "Dan lo, Aira... karena lo udah bikin Airin kesulitan, lo harus bayar. Semua buku di perpustakaan lama harus lo susun ulang berdasarkan kode terbaru. Sendirian. Sampai selesai. Kalau ada satu saja buku yang salah letak atau lo berani kabur sebelum beres, gue pastiin lo nggak akan bisa ikut ujian semester depan. Ngerti?!"

Aku tidak menjawab. Lidahku terasa kelu, seolah seluruh pasokan oksigen di ruangan ini telah diserap habis oleh egonya. Aku hanya bisa menunduk, menatap jempol kakiku yang mulai terlihat dari lubang kecil di ujung kaus kakiku. Hina. Sangat hina.

*

Debu. Hanya itu yang bisa kuhirup sejak empat jam yang lalu.

Perpustakaan lama SMA Garuda terletak di ujung koridor paling belakang, sebuah gedung tua yang jarang sekali dikunjungi siswa karena suasananya yang suram dan pengap. Rak-rak kayu jati setinggi tiga meter berjejer seperti barisan raksasa yang siap menelanku hidup-hidup. Bau kertas tua yang menguning dan bau apek menyengat indra penciumanku, membuat kepalaku yang sudah pening karena lapar semakin berdenyut nyeri.

Aku memanjat tangga lipat besi yang berderit setiap kali aku bergerak. Tanganku yang kecil dan penuh bekas luka tusukan jarum kini tertutup lapisan debu tebal saat memindahkan tumpukan ensiklopedia berat. Perutku melilit hebat, rasa perihnya merambat sampai ke hulu hati seolah-olah lambungku sedang memakan dirinya sendiri. Sejak pagi, tidak ada satu pun makanan yang masuk ke perutku.

"Permisi... boleh aku lewat?" tanyaku pelan saat seorang anggota OSIS masuk untuk mengambil beberapa berkas di sudut ruangan.

Gadis itu tidak menjawab. Ia bahkan tidak melirikku. Ia melangkah melewati bahuku seolah aku hanyalah udara kosong yang tidak kasatmata. Saat ia pergi, ia sengaja menyenggol tangga lipatku hingga goyah.

"Hati-hati!" seruku spontan.

Tetap tidak ada suara. Ia keluar dan membanting pintu kayu perpustakaan dengan keras, meninggalkanku dalam sunyi yang mencekam.

Aku menyeka peluh di dahi dengan punggung tangan, meninggalkan corengan hitam di kulitku yang kusam. Kacamata tebal yang kupakai berkali-kali melorot karena hidungku yang basah oleh keringat dan sisa air mata yang belum kering.

Titt-titt!

Suara klakson mobil dari arah parkiran bawah membuat gerakanku terhenti di atas tangga. Aku menyeret langkah menuju jendela besar perpustakaan yang berkabut debu tebal. Aku mengusap permukaannya dengan lengan bajuku, menciptakan lubang kecil untuk mengintip ke dunia luar.

Di bawah sana, di bawah cahaya lampu jalan yang mulai temaram, sebuah Mercedes-Benz hitam mengkilap terparkir dengan angkuh. Alvaro berdiri di samping pintu penumpang yang terbuka. Dari sini, ia tampak begitu sempurna. Jaket almamaternya terlihat gagah di tubuh tegapnya. Wajahnya yang tadi begitu kejam saat menghakimiku di kantin, kini melunak. Ada senyum tipis—sangat tulus dan penuh kasih—yang tersungging di bibirnya.

Tak lama, Airin keluar dari gedung sekolah. Ia berjalan anggun, rambutnya yang tertata rapi berkilau tertimpa cahaya lampu. Ia menenteng tas desainer pemberian Papa, sesuatu yang tak akan pernah bisa kumiliki. Alvaro menyambutnya, mengusap puncak kepala Airin dengan sangat lembut, lalu membantunya masuk ke dalam mobil seolah Airin adalah porselen paling mahal dan rapuh di dunia.

Aku bisa melihat mereka tertawa bersama sebelum pintu mobil tertutup. Tawa yang sangat kontras dengan kesunyian yang mencekikku di sini.

Dadaku sesak. Rasanya seperti ada tangan raksasa yang meremas paru-paruku hingga aku tak bisa menghirup oksigen. Air mata yang sejak tadi kucoba tahan akhirnya luruh, menetes di atas kaca jendela yang kotor.

"Harusnya itu aku, Varo..." bisikku parau, suaraku pecah ditelan sunyinya rak-rak buku. "Harusnya aku yang ada di sana... Harusnya tangan itu mengusap rambutku, bukan dia yang mencuri semua ceritaku."

Aku melihat mobil itu melaju perlahan, meninggalkan gerbang sekolah yang mulai sepi. Mereka pergi menuju kemewahan, menuju meja makan yang penuh dengan makanan hangat, menuju dekapan hangat orang tua yang lebih memuja kebohongan daripada kejujuran. Sementara aku? Aku tertinggal di sini, membusuk di antara debu dan kertas-kertas tua yang tak lagi berharga.

Malam semakin larut. Jam dinding besar di sudut perpustakaan menunjukkan pukul delapan malam. Seluruh tubuhku terasa remuk, kakiku sudah tidak bisa lagi merasakan lantai karena saking kebasnya. Dengan tenaga sisa yang hampir habis, aku memaksakan diri menyelesaikan rak terakhir. Aku menjejalkan buku-buku tebal itu ke tempatnya dengan jari yang gemetar.

"Sudah selesai..." gumamku pelan pada ruang hampa.

Aku mengambil tas kain kusamku, menggendongnya dengan bahu yang merosot layu. Aku berjalan menuju pintu kayu besar yang menjadi satu-satunya jalan keluar. Pikiranku sudah melayang ke rumah, membayangkan rasa air hangat dari wastafel dan sedikit sisa roti di gudang belakang yang mungkin bisa mengganjal perutku.

Tanganku meraih gagang pintu kayu yang dingin itu. Aku menekannya ke bawah.

Cklek.

Pintu itu tidak bergerak. Aku mengerutkan dahi, mencoba menekannya lagi dengan lebih kuat.

Cklek. Cklek. Cklek.

Jantungku mulai berdegup kencang, suaranya berdentum keras di telingaku. Aku menarik gagang pintu itu sekuat tenaga sampai telapak tanganku perih, namun hasilnya nihil. Pintu itu terkunci rapat dari luar.

"Halo? Ada orang di luar?" teriakku, suaraku memantul di antara langit-langit perpustakaan yang tinggi, menciptakan gema yang menakutkan.

Aku menggedor pintu itu berkali-kali. "Tolong! Ada orang di dalam! Pak Satpam! Tolong buka pintunya!"

Hening. Tidak ada jawaban selain sunyi yang kian mencekam. Seseorang sengaja mengunciku. Alvaro? Atau salah satu pesuruhnya?

Aku merogoh saku rokku dengan panik, mencari ponsel bututku. Namun, telapak tanganku hanya menyentuh kain kosong. Aku baru ingat, ponselku—satu-satunya alat komunikasi dan harta yang kupunya—tadi pagi dirampas secara paksa oleh Shinta dan teman-temannya atas perintah diam-diam dari Airin. Mereka mungkin sudah membuangnya ke tempat sampah atau menghancurkannya.

Lampu perpustakaan tiba-tiba berkedip-kedip, lalu...

Ctak.

Kegelapan total langsung menyergapku. Aku terkesiap, mundur beberapa langkah dengan napas yang memburu hingga punggungku menabrak rak buku yang keras. Suasana yang tadinya tenang kini berubah menjadi horor yang nyata. Rak-rak buku yang menjulang tinggi itu seolah-olah berubah menjadi bayangan monster hitam yang siap menerkamku dari segala sisi.

Aku merosot ke lantai, memeluk lututku yang gemetar hebat di atas ubin yang sangat dingin. Aku sendirian. Terjebak di kegelapan tanpa cara untuk meminta bantuan. Di rumah, mereka pasti tidak akan mencariku. Hilangnya aku dari pandangan mereka justru adalah sebuah berkah, sebuah ketenangan yang mereka dambakan.

"Varo... tolong aku..." isakku pecah di tengah kegelapan yang sunyi. Suaraku terdengar begitu menyedihkan, sebuah permohonan kepada seseorang yang justru menjebloskanku ke neraka ini.

Aku menangis sampai dadaku sesak, sampai mataku perih. Aku meringkuk di lantai, merasakan dingin yang mulai menusuk sampai ke tulang. Di detik ini, aku menyadari satu kenyataan pahit: Tidak akan ada pangeran yang datang menyelamatkanku. Pangeranku sedang sibuk memberikan dunianya pada orang yang salah, sementara aku dibiarkan mati perlahan di tempat yang paling ia benci. Aku hanyalah bayangan yang sengaja dilupakan oleh cahaya.

1
Ma Em
Aira seharusnya keluar saja dari rumah itu untuk apa Aira bertahan dirumah seperti neraka itu karena Aira tdk diharapkan dan selalu direndahkan tanpa Aira Airin hanya tong kosong hanya sampah Aira msh mau saja dibodohi .
Aletheia
gak semudah itu kak,kan nunggu Aira dewasa atau lulus SMA dulu
Allea
sampai bab ini masih mempertahankan kebodohannya ckck aira aira dah pergi aja sih,selama ada kemauan jalan selalu ada pergilah menjauh dari keluargamu buktikan kamu hebat
Ma Em
Semangat Aira buktikan kalau Aira bkn anak yg bawa aib bkn anak yg bawa sial tapi sebaliknya Aira anak yg berprestasi dan sangat bersinar buat ayah , ibu dan Airin menyesal dan bongkar semua kebohongan dan keburukan Airin didepan Alvaro dan bilang pada Alvaro bahwa teman masa kecilnya bkn Airin tapi Aira , Airin cuma ngaku2 saja jadi Aira , jgn mau memaafkan mereka yg selalu menghina dan merendahkan kamu Aira .
Ma Em
Aira jgn takut dgn Alvaro , lawan dia kalau Aira takut Alvaro makin berani menghina Aira , semoga saja kebenaran tentang Airin yg ngaku2 teman Alvaro waktu kecil segera terungkap .
Ma Em
Aira bangkitlah lawan mereka yg selalu menghina dan merendahkan kamu , bongkar semua keburukan dan kelicikan Airin agar kedua orang tuamu tau bahwa yg bodoh itu Airin bkn Aira , Aira jgn mau dipermainkan dan dimanfaatkan lagi sama Airin balas lah perbuatan mereka padamu Aira jgn takut ada Barra yg akan menjadi pelindungmu Air 💪💪💪.
Ma Em
Makanya Aira kamu hrs bangkit jgn mau diperalat sama Airin , buat Airin membayar semua perbuatan nya padamu Aira buat kedua orang tuamu menyesal juga Alvaro tunjukan pada mereka keahlianmu yg sebenarnya bkn Airin yg pintar tapi otak Aira yg digunakan Airin untuk mengelabui orang mereka .
Aletheia: sabar ya kak,kita buat supaya Aira bisa teguh jika nanti harus meninggalkan keluarganya☺️
total 1 replies
Ma Em
Bagus Aira bangkitlah dan balas semua perbuatan mereka yg sdh menyakiti dan memfitnah mu Aira terutama Airin jgn diberi maaf juga Alvaro buat dia menyesal .
Ma Em
Heran ya ada orang tua berat sebelah sama anak sendiri dijelek jelekan didepan orang lain hanya untuk dapat perhatian dari Alvaro , tunggu saja saat waktu sdh tiba dan kebenaran akan terungkap siapa Airin dan siapa Aira .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!