Setelah diputuskan tiga tahun yang lalu oleh mantan kekasihnya dan menutup diri dari pria manapun, Anata Yulia gadis 24 tahun itu, tiba-tiba saja dijodohkan dengan seorang pria yang tidak dikenal oleh kedua orang tuanya.
"Kamu harus mau Nat, sebentar lagi kamu 25 tahun, usia yang rawan dan sudah pantas untuk menikah. Maka, kamu harus mau, ya, kami jodohkan dengan pria tampan dan mapan." Sang Ibu membujuk dengan memohon.
Namun, siapa sangka pria yang akan dijodohkan dengannya ternyata adalah....
"Nata nggak mau, Bu?"
"Kenapa?"
"Karena...."
Yuk, pengen tahu kelanjutan kisahnya? Tentu bakal bikin penasaran. Ikuti kisahnya di "Dijodohkan Dengan Mantan Kekasih"
Ikuti Auhto di
FB " Tupar Nasir
WA 089520229628
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Kesalnya Anata, Senangnya Kafeela
Kafeela dan Anata berpamitan.
Beberapa saat kemudian, suasana di ruang tamu kediaman Pak Mayjend mendadak mencekam setelah keberadaan Jeny berhasil ditemukan di taman belakang.
Gadis itu diseret masuk ke ruang tamu oleh Bu Komandan dengan wajah pucat pasi. Tidak ada lagi gurat wajah angkuh yang biasa ia perlihatkan.
Pak Mayjend berdiri dari duduknya, menatap putrinya dengan tatapan tajam dan dingin. Sebagai seorang jenderal, aura kepemimpinannya yang tegas seketika mengintimidasi ruangan itu.
"Jeny! Jelaskan pada Papa, apa maksud dari semua ini?!" tegur Pak Mayjend dengan suara bariton yang menggelegar, membuat Jeny tersentak ketakutan. "Kamu sudah berani merekayasa fitnah keji menggunakan AI untuk merusak nama baik istrinya ajudan Papa sendiri? Apa tujuanmu melakukan perbuatan memalukan ini?!"
Jeny masih bungkam. Gadis itu menunduk dalam-dalam, meremas ujung bajunya dengan gemetar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia tetap mengatupkan bibir rapat-rapat, menolak untuk bersuara.
Melihat putrinya tetap diam, Bu Komandan akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Beliau melangkah mendekat, menatap Jeny dengan pandangan kecewa yang mendalam.
"Jeny, jawab Papa! Kenapa kamu diam?" desak Bu Komandan, suaranya bergetar menahan tangis. "Mama perhatikan, sejak Kafeela menikah, sikapmu berubah total. Katakan pada Mama sekarang... apakah kamu melakukan semua kegilaan ini karena kamu mencintai Kafeela?"
Mendengar pertanyaan frontal dari sang mama, pertahanan Jeny runtuh. Ia mendongak dengan wajah yang sudah basah oleh air mata. Bahunya terguncang hebat saat emosi yang dipendamnya pecah begitu saja.
"Iya! Jeny memang mencintai Kak Kafeela, Ma! Papa!" aku Jeny akhirnya, setengah berteriak meluapkan rasa frustrasinya.
"Jeny cemburu! Jeny sakit hati melihat Kak Kafeela malah menikah dengan gadis lain yang sama sekali tidak jelas asal-usulnya! Kenapa harus perempuan itu? Kenapa bukan Jeny?"
Pak Mayjend dan istrinya terperangah mendengar pengakuan blak-blakan putri mereka.
Bu Komandan menghela napas berat, lalu memegang kedua bahu Jeny, mencoba membujuk putrinya yang sedang dikuasai ego keremajaan. "Jeny, dengarkan Mama, Nak. Hapus pikiranmu itu. Kafeela itu sama sekali tidak pantas untuk kamu impikan lagi sekarang. Dia sudah menjadi suami orang! Dia sudah menikah dengan orang lain secara sah. Kamu tidak boleh merusak kebahagiaan rumah tangga orang lain hanya karena obsesimu!"
"Tapi Jeny lebih dulu mengenal Kak Kafeela, Ma!" potong Jeny egois.
"Cukup, Jeny!" potong Pak Mayjend tegas, tidak ingin mendengar bantahan lagi. "Masuk ke kamarmu sekarang! Papa akan pastikan kamu mendapat sanksi moral atas tindakan kriminal siber yang kamu lakukan ini. Jangan harap kamu bisa bebas keluar rumah setelah ini!"
Dengan tangisan yang semakin pecah, Jeny berlari meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.
Sementara itu, sesaat setelah Kafeela dan Anata berpamitan dari kediaman Pak Mayjend, atmosfer di antara pasangan suami istri baru itu sama sekali tidak membaik. Anata benar-benar dirundung rasa kesal yang memuncak.
Begitu keluar dari gerbang perumahan elit itu, Anata langsung memakai helmnya dengan sentakan kasar. Tanpa memedulikan Kafeela yang terus memanggilnya, perempuan muda itu langsung memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan malam menuju rumah mereka.
"Anata! Sayang, tunggu! Jangan ngebut!" seru Kafeela dari dalam mobil. Ia terus mengejar dari belakang sambil berulang kali membunyikan klakson, namun Anata sama sekali tidak mau menoleh.
Setibanya di rumah, Anata langsung melesat naik ke lantai dua dan mengunci pintu kamar dari dalam.
Brak!
Suara pintu tertutup rapat menjadi penegas batas amarahnya.
Saat Kafeela tiba beberapa menit kemudian, ia mendapati gagang pintu kamar mereka sudah tidak bisa digerakkan. Kafeela berdiri di depan pintu dengan helaan napas yang sangat dalam.
Ia tahu persis, istrinya marah besar dan kecewa karena di awal konflik tadi, ia sempat menunjukkan gelagat meragukan kejujuran Anata demi menjaga nama baik kesatuan dan komandannya.
"Sayang, buka pintunya. Ayolah... Abang minta maaf karena sempat ragu dan membuatmu merasa tersudut," bujuk Kafeela dari balik pintu, berharap ketukan pelannya mendapat respons.
Namun, Anata yang berada di dalam kamar tetap diam. Ia melipat kedua tangannya di dada, duduk di tepi ranjang dengan wajah cemberut. Rasa bersalah Kafeela harus dibayar mahal malam ini.
Sampai hampir jam makan malam tiba, Anata masih betah mengurung diri. Perutnya sebenarnya sudah berbunyi, tetapi rasa gengsi dan amarahnya jauh lebih besar.
*Tok, tok, tok*.
"Sayang, buka pintunya. Kamu harus makan malam. Keluarlah, Sayang, Abang tidak mau nanti kamu sakit karena menahan lapar," bujuk Kafeela lagi dengan nada suara yang terdengar sangat khawatir.
Tetap tidak ada jawaban. Di luar, Kafeela akhirnya menghela napas menyerah. Langkah kakinya terdengar menjauh, membuat Anata seketika merutuk di dalam hati.
"Huh... katanya mau minta maaf, baru ditinggal sebentar saja sudah menyerah dan pergi begitu saja! Dasar tentara kaku!" gerutu Anata kesal, merasa suaminya kurang gigih membujuknya.
Namun, hanya berselang sepuluh menit, langkah kaki itu terdengar kembali mendekat. Pintu kamar diketuk lagi dengan ritme yang sama.
"Sayang... Ini Abang. Abang sudah bawakan kamu makanan kesukaanmu ke atas. Bukalah pintunya," panggil Kafeela lembut.
Mendengar kata 'makanan', pertahanan perut Anata runtuh. Ia terperangah, lalu dengan langkah dihentak-hentakkan, ia membuka kunci dan memutar gagang pintu.
"Akhirnya pintu ini dibuka juga," ucap Kafeela lega. Ia langsung menyelinap masuk ke dalam kamar sambil membawa sepiring nasi hangat dengan lauk yang mengepul, lalu meletakkannya di atas meja rias.
Sayangnya, Anata justru memutar bola matanya malas. Tanpa melirik sedikit pun pada makanan yang dibawa Kafeela, ia langsung melengos keluar kamar begitu saja.
"Sayang? Eh, kok malah keluar? Sekarang kamu bisa makan, atau... mau Abang suapin?" tawar Kafeela dengan percaya diri. Namun saat ia berbalik, kamar itu sudah kosong.
Kafeela menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum gemas. "Ya ampun... ke mana dia? Jadi, dari tadi aku bicara sendiri? Dia benar-benar berniat mendiamkanku malam ini."
Sementara itu di lantai bawah, Anata rupanya sudah mengambil posisi nyaman di meja makan. Ia sengaja mengabaikan makanan dari Kafeela dan memilih menyantap hidangan yang ada di meja makan, ditemani oleh Bi Neni yang memandangnya dengan tatapan heran.
Bi Neni bingung, sebab baru saja ia melihat Kafeela membawa sepiring penuh makanan ke lantai atas untuk istrinya. ''*Tadi makanannya diapain? Apakah Non Nata tidak mau menyentuhnya dan memilih makan di sini karena saking marahnya*?'' batin Bi Neni menebak-nebak, tidak berani bertanya langsung melihat wajah judes sang nyonya muda.
"Alhamdulillah," ucap Anata setelah menyelesaikan suapan terakhirnya dengan lahap. Ia meneguk segelas air putih hingga tandas, lalu bangkit dari kursi.
"Bi Neni, terima kasih ya. Saya kembali ke atas," pamitnya.
Anata berjalan kembali ke lantai atas dengan langkah anggun. Sebenarnya ia malas harus kembali ke kamar yang sama dengan Kafeela, namun berhubung ia tipe penakut dan tidak berani tidur sendiri di kamar lain, ia terpaksa membuang urat gengsinya.
Tapi urusan memaafkan Kafeela? Nanti dulu. Marahnya harus tetap dipertahankan.
"Sayang, kamu tadi ke bawah? Padahal Abang sudah bawakan nasi ke kamar," cegat Kafeela begitu melihat Anata muncul di ambang pintu.
Anata mengabaikannya dan masuk, berjalan melewati Kafeela begitu saja seolah-olah suaminya itu adalah makhluk tidak kasat mata.
"Lihat ini, Abang punya sesuatu untuk meredakan marahmu," puji Kafeela tidak menyerah. Ia melangkah mendekat, mencoba melingkarkan lengannya di pinggang Anata untuk merayu.
Anata dengan sigap berkelit dan menjauh. Tatapannya menghunus tajam pada Kafeela. "Abang tahu tidak? Aku ini marah besar karena Abang sudah meragukan kesetiaanku tadi! Abang lebih memilih membela reputasi komandanmu dibanding mempercayai istrimu sendiri!" omel Anata, menumpahkan segala kekesalannya.
Kafeela terdiam, menerima rentetan kemarahan itu dengan lapang dada karena tahu dirinya memang salah. "Sayang, Abang minta maaf. Sungguh. Tadi Abang bukan meragukanmu, tapi Abang syok dan panik memikirkan hubungan kerja dengan komandan di kesatuan, apalagi Abang ini ajudan langsung beliau. Abang hanya butuh waktu untuk berpikir jernih."
"Tapi faktanya video itu terbukti palsu, kan? Andai tadi aku tidak keras kepala mendesak untuk pembuktian sekarang juga, Abang pasti akan terus memandangku dengan pandangan curiga seperti yang ada di video editan buatan Jeny itu!" tukas Anata berapi-api.
Kafeela menghela napas, menatap Anata dengan pandangan penuh rasa bersalah sekaligus rasa sayang yang mendalam. Baginya, kemarahan istrinya malam ini adalah bumbu yang justru merekatkan hubungan pernikahan mereka yang baru berjalan beberapa hari ini.
Melihat Anata yang masih bersedekap dada dengan napas memburu, Kafeela perlahan mendekat, mencoba mencairkan suasana mencekam itu dengan senyuman tipisnya yang khas.
Rasa bersalahnya tetap ada, namun ia bersiap menggunakan seribu satu cara agar sang istri mau kembali ke pelukannya malam ini.
Ibu..... anaknya nanti tolong di kasih tau ya... Feeling ibu tepat banget, kalau Si Jin itu suka sama Kafee. Jadi nasehati Bu jangan jadi pelakor ya anaknya.... Jangan bikin malu. Ini udah bikin kasus kayak gini. Padahal itu video bapaknya sendiri lo.... diedit lagi pelukan sama istri anak buahnya ckckck....
Memang harus tegas Kafee. Kasih tau papa si jin Jeny. Biar di ganti aja. Jangan karena masalah kayak gini malah menghancurkan rumah tangga mu