NovelToon NovelToon
Hasrat Kumbang Sewaan

Hasrat Kumbang Sewaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Selingkuh
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Viaalatte

Di balik nama samaran “Romeo”, ada seseorang yang hidup dari hasrat orang lain.
Semuanya tampak sederhana—transaksi, waktu, dan kesepakatan tanpa perasaan. Dunia yang dingin, terukur, dan seharusnya tidak menyisakan apa-apa. Tapi semakin lama, batas antara peran dan diri sendiri mulai kabur.
Ketika satu pertemuan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pekerjaan, “Romeo” mulai menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan. Ada perasaan yang tak seharusnya muncul. Ada masa lalu yang perlahan mengejar. Dan ada kenyataan yang memaksa dirinya melihat hidup dari sisi yang belum pernah ia hadapi sebelumnya.
Di saat yang sama, kehidupan di luar peran itu mulai retak—membuka rahasia, luka lama, dan tanggung jawab yang tak bisa lagi dihindari.
Kini, ia harus memilih: tetap menjadi “Romeo” yang dibayar untuk memenuhi hasrat, atau kembali menjadi dirinya sendiri… dengan segala konsekuensi yang menunggu.
Karena tidak semua kumbang sewaan bisa terbang bebas setelah selesai bekerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viaalatte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Ponsel Gilang bergetar di meja. Sebuah pesan muncul di layar. Ia menatapnya lama, lalu berdiri tanpa bicara.

“Kak, mau ke mana?” tanya Sekar pelan.

“Keluar bentar,” jawabnya datar, mengambil jaket dan kunci motor.

“Kak…” Sekar ingin menahan, tapi suaranya tak cukup kuat. Gilang sudah menutup pintu dan melangkah pergi.

Sekar menarik napas berat, lalu merangkul Putri yang sejak tadi berdiri di pojok dengan mata sembab. “Udah, jangan mikirin apa-apa dulu,” katanya lirih.

Beberapa saat kemudian, Gilang berhenti di depan hotel bintang lima. Motor matic tuanya tampak kontras di antara mobil-mobil mewah yang berjajar. Ia diam sejenak, memandangi gedung tinggi itu, lalu melangkah masuk.

Di lobi, Valeria sudah duduk menunggunya. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tajam. Begitu melihat Gilang, ia berdiri pelan.

“Romeo,” ucapnya, menatap lekat. “Akhirnya kamu datang juga.”

Gilang hanya membalas senyum tipis tanpa sepatah kata pun.

Valeria meliriknya dari ujung mata, lalu berkata pelan, “Ikut aku.”

Tanpa banyak bicara, Gilang mengangguk. Ia berjalan di belakang Valeria dengan kepala sedikit tertunduk, menarik tudung hoodie navy-nya hingga menutupi sebagian wajah. Beberapa tamu hotel yang lewat sempat menatap, tapi Gilang tak peduli.

Mereka naik lift ke lantai paling atas. Begitu pintu terbuka, langkah Valeria berhenti di depan sebuah pintu kamar suite. Ia menempelkan kartu akses, dan pintu terbuka pelan dengan bunyi klik lembut.

Begitu masuk, aroma ruangan mewah langsung terasa—campuran wangi mawar dan parfum mahal. Gilang berdiri di dekat pintu, sementara Valeria melepas mantel panjangnya dan menatapnya dari kejauhan.

“Aku ingin kamu menjalankan tugasmu sekarang,” ucap Valeria pelan, suaranya setengah menggoda tapi mengandung nada serius di baliknya.

Gilang menatap Valeria lama, matanya ragu. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena hasrat, tapi karena bayangan Wildan yang terus muncul di kepalanya. Senyum Valeria menipis ketika ia sadar sesuatu tidak beres.

“Kenapa diam?” tanya Valeria pelan.

Gilang menarik napas dalam, melangkah mendekat, lalu berhenti beberapa jengkal di depannya. Tangannya sempat terangkat, tapi tak jadi menyentuh. Ada jeda panjang, udara di antara mereka seakan membeku.

Gilang menutup matanya sejenak untuk menenangkan pikirannya, lalu dengan tangan gemetae, Gilang merangkul Valeria kedalam pelukannya, lalu mulai mencumbu Valeria dan mulai membaringkannya ke atas ranjang, Gilang mencoba menjalankan perannya seperti biasa. Semua gerakannya tampak terukur, seolah diatur oleh kebiasaan, bukan keinginan. Namun kali ini tubuhnya menolak. Ada jeda aneh di antara napas dan pikirannya seakan sesuatu di dalam dirinya terputus.

Wajah Valeria tetap tenang, tapi Gilang tahu ia sadar ada yang berbeda. Sentuhan yang seharusnya memangunkan sesuatu kini hanya meninggalkan rasa dingin dan berat di dada. Ia berusaha bertahan, tapi semakin lama, semakin jelas bahwa tubuhnya tak lagi mau bekerja sama.

Bayangan Wildan kesakitan terlintas begitu cepat, tapi cukup untuk meruntuhkan sisa kendali yang ia punya. Semua gairah lenyap, digantikan rasa takut dan jijik yang menyesakkan.

Gilang menarik diri perlahan. Valeria sempat menatapnya, heran karena perubahan mendadak itu. Napas Gilang terdengar berat, bukan karena lelah, tapi karena sesuatu yang lain.

Ia menunduk, berusaha menyembunyikan kegelisahan di matanya. “Maaf…” katanya pelan, hampir seperti bisikan. “Saya… ke kamar mandi sebentar.”

Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah cepat menuju pintu kamar mandi dan menutupnya rapat.

Begitu pintu terkunci, Gilang menatap bayangannya di cermin. Keringat dingin menetes di pelipis, matanya merah, wajahnya pucat. Ia menggenggam wastafel kuat-kuat, mencoba mengatur napas. Tapi yang muncul justru kilasan wajah Wildan dan tangisan ibunya.

Gilang mencuci mukanya dengan kasar, lalu ia menghembuskan nafas kasar. Dengan cepat dia berusaha membangunkan gairah tubuhnya yang tak bisa diajak kerja sama. Sampai habis setengah botol sabun, Gilang tak berhasil membangkitkan gairahnya.

"Sial! kenapa gak mau bangun juga?!" gumamnya serak. Ia memukul ringan permukaan wastafel, lalu menatap bayangannya lagi—sosok yang tampak asing dan lelah.

Di balik rasa frustasi itu, ada ketakutan yang lebih dalam: pikirannya dipenuhi bayangan Wildan, penyakit itu, darah, dan semua yang ia dengar dari dokter. Seolah tubuhnya sendiri kini menjadi musuh yang tak lagi bisa ia percaya.

Ia menutup mata, mencoba menenangkan diri. Tapi hening kamar mandi malah membuat pikirannya semakin bising. Dengan paksaan Gilang melakukan aksinya lagi, kali ini lebih cepat dan kasar, tapi tubuhnya tetap menolak, sampai akhirnya dia menyerah dan kemudian terduduk lemas dibawah wastafel.

Tiba-tiba terdengar bunyi klik halus dari arah pintu. Ia menoleh cepat, terkejut melihat Valeria sudah berdiri di ambang kamar mandi. Entah bagaimana wanita itu bisa masuk padahal pintu sudah dikunci.

“Ups,” ucap Valeria ringan, senyum samar terukir di wajahnya.

Gilang refleks berdiri, merapikan kemeja dan celananya yang kusut, dengan wajah yang masih basah. Ia tampak gugup, sementara Valeria melangkah pelan mendekat. Gerakannya tenang, tapi matanya tajam, seolah bisa membaca apa yang sebenarnya terjadi.

“Romeo.” suaranya lembut tapi mengandung tekanan halus, “ada yang salah?”

Gilang menelan ludah, tenggorokannya kering. Ia mencoba bicara, tapi suaranya tertahan di tenggorokan. “Maaf… sepertinya saya… saya nggak bisa,” ujarnya terbata, matanya menghindar dari tatapan Valeria. “Saya… saya—”

Kata-kata itu menggantung. Nafasnya terengah, jemarinya bergetar ketika berusaha menutupi wajah. Ada rasa malu, takut, dan sesuatu yang sulit dijelaskan bercampur jadi satu.

Valeria masih berdiri di tempatnya, menatap Gilang tanpa berkata apa-apa. Hanya matanya yang memperhatikan setiap gerak kecil pria itu.

Gilang akhirnya memalingkan wajah, bahunya bergetar. Tagannya menutupi mata, dan tanpa bisa ia tahan, air mata itu jatuh begitu saja. Ia menangis diam-diam—pelan, terputus, tapi nyata.

“Maaf,” ulangnya lirig, suaranya pecah. “Saya cuma… nggak bisa.”

Valeria tak mengatakan apa pun. Ia hanya mendekat perlahan, lalu merangkul Gilang dari samping—tanpa suara, tanpa pertanyaan. Pelukannya tenang, tidak menuntut apa pun, hanya memberi ruang bagi napas yang tersendat di dada Gilang.

Gilang membeku sesaat, lalu isak itu pecah lebih keras. Bahunya naik turun, suaranya parau tertahan di tenggorokan. Ia tidak tahu kenapa, tapi pelukan itu membuatnya runtuh sepenuhnya. Semua yang ia tahan, semua yang ia takutkan, keluar begitu saja bersama air mata.

Valeria tetap diam, hanya mengusap punggungnya perlahan, seolah tahu kata-kata tak akan berguna saat itu. Di antara sesak dan hening, Gilang merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan, rasa aman. Hangat. Sejenak, dunia yang berat itu terasa sedikit lebih ringan di pelukan Valeria.

Valeria menggenggam tangan Gilang yang masih gemetar dan menuntunnya ke ranjang. Gilang menurut tanpa suara. Wajahnya pucat, pandangannya kosong seperti tidak benar-benar ada di tempat itu.

Begitu sampai, Valeria menyentuh bahunya dan menuntunnya duduk. Gilang diam saja, tubuhnya kaku, jemarinya saling meremas. Napasnya pendek-pendek, seperti menahan sesuatu yang berat.

Tanpa banyak pikir, Valeria berdiri di depannya lalu memeluknya. Pelukan yang sederhana—hangat dan tenang. Gilang tak langsung membalas, tapi bahunya mulai bergetar. Isakan kecil keluar tanpa suara.

Valeria tidak bicara apa-apa. Ia hanya mengusap kepala Gilang pelan, menepuk punggungnya sesekali. Lama-lama, napas Gilang melambat. Masih berat, tapi tidak seputus tadi.

Gilang perlahan menarik diri dari pelukan itu. Masih dengan napas yang belum sepenuhnya stabil, ia mengusap matanya cepat-cepat.

“Terima kasih,” ucapnya pelan, hampir tak terdengar. Pandangannya mengarah ke lantai, menghindari tatapan Valeria. Ada sisa rasa malu dan gentar di matanya.

Valeria memiringkan kepala sedikit, memperhatikan wajahnya yang masih pucat.

“Sudah lebih tenang?” tanyanya pelan.

Gilang menelan ludah, lalu mengangguk kecil tanpa menatap.

“Sedikit,” jawabnya lirih.

Valeria menarik napas pelan sebelum duduk di sisi ranjang, masih menjaga jarak yang sopan.

“Semua masalah bakal terasa berat kalau kamu tanggung sendirian,” katanya tenang, matanya tetap menatap Gilang. “Kadang cuma butuh satu orang buat dengerin.”

Gilang diam, jemarinya masih saling menggenggam erat.

Valeria mencondongkan tubuh sedikit, suaranya makin lembut.

“Jadi,” lanjutnya, “apa yang sebenarnya kamu simpan sampai bisa nangis kayak tadi?”

Gilang semakin menunduk. Bibirnya kaku, tak ada kata yang keluar. Hanya napasnya yang berat dan tidak teratur.

Valeria menatapnya sejenak, lalu berkata pelan, “Yasudah, kalau kamu belum mau cerita, tenangkan dirimu dulu.”

Ia berbalik, hendak melangkah pergi.

Tapi tiba-tiba, Gilang menarik tangannya. Refleks. Tangan Valeria menempel di pipinya yang dingin. Gilang memejam, seperti butuh sedikit rasa hangat.

Beberapa detik berlalu tanpa suara. Lalu Gilang tersadar, buru-buru melepas tangannya dan berdiri menjauh.

“Maaf… maaf, saya nggak sengaja. Saya lancang,” katanya cepat, wajahnya memerah.

Valeria ikut terdiam beberapa saat. Wajahnya tampak canggung, tapi ia berusaha tetap tenang.

“Iya, nggak masalah,” katanya singkat, suaranya datar tapi tidak dingin.

Ia meraih tasnya yang tergeletak di meja, lalu menatap Gilang sekilas sebelum melangkah ke arah pintu.

“Tenangkan dirimu dulu,” ucapnya pelan. “Tapi ingat, tugasmu belum selesai. Selesaikan secepatnya… atau aku harus menagih kembali uang muka yang sudah kamu terima. Sesuai perjanjian.”

Nada suaranya datar, tapi cukup jelas untuk membuat Gilang menunduk makin dalam.

Begitu pintu tertutup, Gilang berdiri mematung beberapa detik. Dadanya naik turun cepat, rahangnya menegang. Lalu tiba-tiba ia meraih bantal di atas ranjang dan melemparkannya ke arah cermin. Suara benturan terdengar keras, pantulannya bergetar.

“Kenapa semua masalah Kau timpakan ke aku, Tuhan?!” teriaknya, suaranya pecah di ujung.

Ia menatap cermin di depannya dengan mata merah. “Apa aku sehina itu sampai Kau terus ngetes aku kayak begini?!”

Napasnya tersengal. Gilang mencengkeram rambutnya sendiri, lalu terduduk di lantai, masih menatap bayangannya yang tampak kosong di cermin.

Gilang berdiri terpaku beberapa saat, napasnya berat dan tak beraturan. Setelah itu, tanpa tenaga, ia melangkah menuju kamar mandi. Langkahnya gontai, seolah setiap pijakan menarik beban yang tak terlihat.

Air mengalir deras saat ia membuka kran. Ia berdiri lama di bawah pancuran, membiarkan air dingin membasahi wajah dan tubuhnya. Tapi rasa sesak di dadanya tidak ikut hilang.

Perlahan, ia memutar kran air kecil dan menatap wastafel. Tangannya gemetar ketika menyentuh air lagi, kali ini bukan untuk sekadar mencuci muka. Ia berniat berwudhu—sesuatu yang bahkan sudah lupa caranya dilakukan.

Entah sudah berapa tahun ia tidak bersuci, tidak benar-benar menghadap Tuhannya. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, ia mencoba lagi—meski dengan hati yang masih retak dan penuh tanya.

Gilang duduk di lantai kamar mandi, punggungnya bersandar pada dinding yang dingin. Air masih menetes dari rambut dan dagunya, membasahi baju yang menempel di kulit. Tangannya gemetar saat hendak diangkat untuk berdoa. Tapi baru sampai setengah, ia berhenti.

Matanya memejam, rahangnya menegang. Lalu tiba-tiba ia berteriak.

“Apa aku harus menghadap-Mu, Tuhan?! Hah?!” suaranya menggema di ruang sempit itu.

“Bahkan Kau aja nggak pernah kasih aku bahagia!”

Ia menunduk lagi, napasnya terengah. Suaranya melemah, tapi penuh getir.

“Kenapa harus aku yang terus ngerasa kotor, sementara yang lain bisa hidup tenang?”

Teriakannya berhenti, berganti dengan napas berat yang naik turun cepat. Gilang menatap lantai basah di depannya, wajahnya kosong. Beberapa detik kemudian dia memejamkan mata, menyesal dengan kata-katanya barusan.

“Maaf…” gumamnya lirih.

Dia berdiri pelan, melangkah gontai keluar dari kamar mandi. Rasanya tubuhnya berat, pikirannya kosong. Sampai di kamar, Gilang duduk di tepi ranjang, menatap ke arah jendela yang tertutup tirai.

Dia menarik napas panjang, menunduk lama, lalu akhirnya berdiri. Dengan langkah pelan dan tanpa ekspresi, Gilang menjalankan kewajibannya malam itu. Bukan karena mau, tapi karena merasa sudah tak punya jalan lain.

1
hrarou
kasian gilang sayang 🥺
Viaalatte: huhu iya kak🥺, makasih sudah mampir🥰♥️
total 1 replies
Viaalatte
yok baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!