NovelToon NovelToon
Belunggu Pernikahan

Belunggu Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"

Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.

Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.

Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Arlan melangkah perlahan menuju kamar Dion, berusaha meredam suara langkah kakinya agar tidak mengejutkan penghuni di dalam. Ketika pintu kayu ek itu terbuka sedikit, pemandangan di dalamnya membuat langkah Arlan terhenti di ambang pintu. Jantungnya berdenyut dengan rasa hangat yang asing namun sangat ia rindukan.

Di bawah temaram lampu tidur berbentuk bintang, Maya tertidur dalam posisi miring dengan satu tangan masih mendekap Dion. Dion sendiri tampak sangat nyenyak, kepalanya bersandar di lengan Maya dengan napas yang teratur. Cahaya redup itu menyapu wajah Maya, menghilangkan garis-garis ketegangan yang biasanya selalu ia tunjukkan di depan Arlan. Di sana, Maya terlihat begitu damai, begitu rapuh, dan begitu cantik.

Arlan masuk dengan gerakan sepelan mungkin. Ia duduk di tepi ranjang yang kosong, tepat di sisi Maya. Untuk beberapa menit, ia hanya diam memandangi dua orang yang paling berarti dalam hidupnya itu. Rasa bersalah kembali menghantamnya seperti ombak ,ia teringat bagaimana ia pernah membiarkan wanita ini kedinginan di gudang, sementara sekarang ia menyadari bahwa Maya adalah satu-satunya rumah tempat hatinya ingin pulang.

Perlahan, Arlan mengulurkan tangan, merapikan anak rambut yang menutupi kening Maya. Gerakannya begitu hati-hati, seolah Maya adalah sayap kupu-kupu yang akan hancur jika disentuh terlalu kasar.

Namun, sentuhan itu rupanya cukup untuk membuat Maya terjaga. Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan. Begitu matanya menangkap sosok Arlan yang duduk begitu dekat, Maya tersentak kecil dan hendak bangun.

"Sstt... jangan bangun, nanti Dion terbangun lagi," bisik Arlan lembut, tangannya menahan bahu Maya dengan tekanan yang sangat ringan.

Maya terdiam, jantungnya berdebar kencang. Ia menatap Arlan yang kini tidak lagi memakai topeng CEO yang dingin. Mata pria itu terlihat jujur, penuh dengan kerinduan yang menyakitkan.

"Kenapa ke sini, Mas?" bisik Maya lirih, suaranya serak khas orang baru bangun tidur.

Arlan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru merebahkan tubuhnya di samping Maya, menggunakan sisa ruang di ranjang Dion yang cukup besar itu. Ia menarik selimut untuk menutupi mereka bertiga, lalu menyamping menghadap Maya.

"Hanya ingin memastikan monster di mimpi Dion benar-benar tidak berani kembali," ucap Arlan pelan, suaranya bergetar. Ia memberanikan diri menggenggam tangan Maya di atas kasur. "Boleh aku tidur di sini malam ini? Hanya malam ini, Maya... biarkan aku merasa memiliki keluarga lagi."

Maya menatap jemari mereka yang bertautan. Ia ingin menarik tangannya, ingin mengingatkan Arlan tentang semua luka yang belum sembuh, tapi rasa hangat dari telapak tangan Arlan seolah melumpuhkan logikanya. Untuk sesaat, ia membiarkan egonya kalah.

"Dion akan senang kalau bangun dan melihat Papanya ada di sini," jawab Maya akhirnya, memberikan jawaban yang aman meskipun hatinya tahu itu lebih dari sekadar untuk Dion.

Arlan tersenyum ,senyum tulus pertama yang Maya lihat sejak setahun terakhir. Arlan menarik tangan Maya dan mengecup punggung tangannya lama, lalu menyandarkan keningnya di kening Maya. Di antara mereka ada Dion yang tertidur pulas, menjadi pembatas sekaligus pengikat yang kuat.

Alam itu, di kamar kecil yang dipenuhi aroma bedak bayi dan ketenangan, Arlan bersumpah dalam hati. Ia tidak akan membiarkan rahasia Sarah atau apa pun menghancurkan momen ini. Ia akan menjadi dinding pelindung yang paling kokoh, meski ia tahu, kebenaran yang ia simpan di dalam saku jasnya adalah bom waktu yang sewaktu-waktu bisa membumihanguskan kebahagiaan semu ini.

Selamat tidur, Maya," bisik Arlan sebelum akhirnya ia pun memejamkan mata, memeluk kehangatan yang selama ini ia sia-siakan.

Pagi harinya, cahaya matahari yang menyeruak masuk melalui celah gorden membuat Maya perlahan terbangun. Ia merasakan beban hangat di pinggangnya. Saat menoleh, jantungnya berdegup kencang melihat Arlan masih di sana, tidur dengan posisi memeluknya dan Dion sekaligus. Wajah pria itu terlihat sangat tenang, jauh dari kesan kejam yang selama ini Maya benci.

Namun, kedamaian itu terusik saat ponsel Arlan yang tergeletak di nakas bergetar tanpa henti. Maya melirik layar ponsel itu: "Sarah (30 Panggilan Tak Terjawab)".

Maya terdiam. Ia perlahan melepaskan pelukan Arlan agar tidak membangunkannya, lalu beranjak dari ranjang.

Maya melangkah dengan sangat hati-hati, memastikan setiap pergerakannya tidak menimbulkan suara yang bisa mengusik tidur lelap Arlan dan Dion. Rasa penasaran yang semalam tertahan kini kembali berkecamuk di dadanya.

Maya keluar dari kamar dan segera menuju dapur untuk membuat sarapan, kebetulan hari adalah hari sabtu Arlan tidak ke kantor .Namun di saat sedang memasak suara bel pintu utama terdengar begitu nyaring seolah tamu yang ada di luar tak sabar untuk masuk kedalam.Bi Minah yang kebetulan berada di ruang tamu sedang membersihkan ruangan beranjak membuka pintu dan menampilkan sosok wanita yang begitu ia kenal.Wanita yang pernah tinggal lama di rumah ini dan juga merupakan ibu kandung Dion.

"Permisi, Nyonya Sarah? Ada apa sepagi ini sudah datang?" suara Bi Minah terdengar ragu dari arah depan.

Maya menghentikan gerakannya yang sedang memotong sayuran. Jantungnya berdesir hebat. Ia tahu, ketenangan semalam hanyalah jeda singkat sebelum badai besar datang menghantam. Ia segera mematikan kompor dan melangkah menuju ruang tamu.

Di sana, Sarah berdiri dengan angkuh. Wajahnya yang pucat karena ketakutan kemarin telah digantikan oleh riasan tebal yang tegas dan sorot mata penuh ambisi.

"Aku ke sini untuk mengambil hakku," ujar Sarah tanpa basa-basi saat melihat Maya mendekat. "Aku akan membawa Dion hari ini juga."

Dunia Maya terasa runtuh mendengar tujuan Sarah datang kerumah ini.

"Apa maksudmu, Sarah? Dion bukan barang yang bisa kau ambil sesukamu," suara Maya bergetar, namun ia berusaha berdiri tegak di depan wanita yang kini menatapnya dengan penuh kebencian itu.

Sarah tertawa sinis, langkahnya yang angkuh bergema di lantai marmer ruang tamu. "Aku adalah ibu kandungnya, Maya. Secara hukum, darahku mengalir di nadinya. Aku punya hak penuh untuk membawanya pergi dari rumah ini."

"Dion masih tidur ,Sarah..." Rasa panik dan takut akan kehilangan Dion membuat tubuh Maya bergetar,ia tidak siap kehilangan Dion.

"Bi Minah! Bawa Dion turun sekarang! Aku akan membawanya pulang ke rumahku!" Sarah berteriak, suaranya melengking hingga ke lantai atas.

Bi Minah hanya berdiri terpaku, ketakutan melihat amarah Sarah. Maya segera menghadang jalan Sarah saat wanita itu hendak melangkah menuju tangga. "Tidak akan kubiarkan. Kau tidak akan pernah membawa Dion selama aku masih bernapas di rumah ini."

"Minggir, Maya! Kau tidak punya hak apa-apa atas dia!" Sarah mendorong bahu Maya dengan kasar.

"HENTIKAN!"

Suara bariton yang menggelegar membuat suasana seketika membeku. Arlan berdiri di puncak tangga dengan wajah yang sangat gelap. Matanya yang merah menatap Sarah dengan intensitas yang mematikan. Ia turun dengan langkah cepat, setiap hentakannya memancarkan aura kemarahan yang tak terbendung.

Arlan langsung menarik Maya ke belakang tubuhnya, melindunginya dari jangkauan Sarah. "Berani sekali kau menyentuh istriku dan membuat keributan di rumahku, Sarah."

" KA Arlan, aku datang untuk mengambil anakku! Aku ibunya!" Sarah berteriak histeris, mencoba mencari dukungan dari pria yang selama ini selalu memihaknya. "Kau tidak bisa memisahkan seorang ibu dari anaknya. Aku akan melaporkanmu jika kau menghalangiku!"

" Laporkan saja,jika kau mau." Tantang Arlan dingin.

" Dion adalah anak dari adikku,dan dia menitipkan Dion pada ku sebelum meninggal . Dan sekarang Dion adalah tanggung jawab ku dan berada di bawah perlindungan ku."

1
Rini Yuanita
hadwch...udh bgus...maya mw pergi...ech mlah d bikin amnesia....skip dech thor...ujung² ny ttp balikan sm arlan😄😄😄
Bang Ipul
Cerita gak bermutu
Bang Ipul
jadi laki sok percaya diri sekali lo
Bang Ipul
bikin emosi deh
Nessa
hadeuhh 🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️🤦🏻‍♂️
Nessa
baru awal bab udah menguras emosi
ㄒ丨乇
misi
partini
🙄🙄🙄🙄🙄
partini
wah Maya very good,,bikin Arlan kering kerontang biar mamposs
partini
enak benar nyalahi orang lain ,ayo Maya be strong be smart jadi wanita tangguh dan sukses bikin dunua mereka jungkir balik
maya: makasih KK sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!