NovelToon NovelToon
SIMFONI TAK BERATURAN

SIMFONI TAK BERATURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.

Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.

Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.

Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Setelah melewati keriuhan lalu lintas yang mulai mendingin, deru mesin Ninja 150RR milik Sandi akhirnya memasuki kawasan residensial elit Pondok Indah. Suasana di sini sangat kontras dengan Jatinegara; jalanan lebar beraspal mulus dinaungi pepohonan palem yang menjulang tinggi, serta pagar-pagar rumah megah yang kokoh berdiri layaknya benteng. Cahaya lampu jalanan yang temaram memberikan kesan eksklusif sekaligus sepi.

Sandi melambatkan lajunya, melirik spion yang menangkap bayangan Saskia yang masih asyik bersandar di punggungnya. "Sas! Bangun, Oneng! Sudah mau sampai gerbang rumah lo nih," seru Sandi, suaranya memecah keheningan malam yang sunyi.

Saskia perlahan melepaskan benaman wajahnya dari jaket Sandi. Ia menghirup aroma maskulin yang tertinggal di sana, lalu bergumam pelan dengan nada yang terdengar sangat ragu. "Sayang...?"

Sandi menolehkan kepalanya sedikit ke samping, mencoba menangkap ekspresi Saskia dari balik kaca helm. "Apa? Jangan bilang lo mau minta putar balik lagi buat beli martabak? Gue benar-benar harus pulang cepat, Sas."

Saskia tidak menjawab dengan kata-kata yang jelas. Wajahnya yang memerah semakin merona, jemarinya meremas ujung jaket Sandi dengan gelisah. "Bukan itu... Ak... kalau... eh, aku... hm..."

Sandi mengernyitkan dahi, merasa gemas dengan tingkah laku calon tunangannya yang mendadak gagap. "Apaan sih? Ha ho ha ho saja lo kayak burung hantu? Ngomong yang jelas, Sas. Lo kenapa?"

"Aku... aku... iihhh!!!" Saskia berteriak kecil karena frustrasi dengan dirinya sendiri. Ia kembali membenamkan wajahnya di punggung Sandi dan mulai memukul-mukul pelan pundak pemuda itu dengan kepalan tangan mungilnya, seolah sedang menyalurkan rasa malu yang meledak-ledak di dalam dada.

Sandi semakin heran, ia sedikit tertawa mengejek. "Lo kenapa sih, Pe'a? Kayaknya lo beneran kesambet setan di rumah Andra tadi ya?"

Saskia menggeser posisinya lebih rapat, hampir tak ada celah di antara mereka. Ia mendongakkan kepalanya, menyandarkan dagunya tepat di bahu Sandi agar bisa berbisik langsung ke arah telinga pemuda itu. Suaranya terdengar bergetar. "Itu... Yang! Aduuuhh... Ihhh... Gimana ya ngomongnya..."

"Ngapa sih? Cepat ngomong, gue mau buru-buru balik. Kasihan Ibu kalau sendirian kemas barang-barang di rumah. Besok pagi pickup-nya sudah datang, Sas," desak Sandi, suaranya sedikit lebih serius.

Saskia menghirup napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. "Jadi begini, Yang... aku... aku boleh nggak aku minta sesuatu? Aku... aku... ihhh susah banget sih ngomongnya!"

"Ya Tuhan! Lo kenapa sih?" gurau Sandi meski rasa penasarannya mulai memuncak.

Saskia menggigit bibirnya, matanya menatap tajam ke arah profil samping wajah Sandi. "Kamu jangan marah atau benci sama aku ya, Yang. Janji?"

Sandi menghela napas panjang, mencoba bersabar menghadapi drama malam ini. "Apalagi sih si Oneng ini! Iya, iya, gue nggak akan marah. Janji deh. Memang ada apa sih?"

Saskia memejamkan mata rapat-rapat, lalu meluncurkan kalimat yang sudah tertahan di ujung lidahnya sejak mereka meninggalkan Rawamangun. "Aku... aku boleh minta cium kamu nggak, San?"

CITTTT!!!

Sandi menginjak rem belakang secara mendadak hingga ban belakang motornya sedikit berdecit di atas aspal. Mesin motornya mati seketika karena ia lupa menarik tuas kopling akibat rasa terkejut yang luar biasa. Sandi segera menolehkan badannya sepenuhnya ke belakang, menatap Saskia dengan mata membelalak lebar.

Plak!

Sebuah tepukan mendarat di atas helm Saskia. Sandi menatapnya dengan ekspresi antara tidak percaya dan ngeri. "Gila lo, Sas! Sas! Kita ini baru satu hari, loh! Baru satu hari disetujui untuk dijodohkan. Baru omongan mau dijodohkan, belum ada acara resmi, belum ada apa-apa! Wah gila, kacau banget dah otak lo!"

Saskia langsung menunduk dalam-dalam, memainkan ujung jarinya dengan gugup. Air mukanya menunjukkan rasa malu yang luar biasa, namun ia tidak menarik pertanyaannya. "Maaf, San... nggak tahu kenapa, dadaku sakit banget dari tadi. Gemas saja lihat kamu. Jangan marah dong, kan aku baru minta izin, bukan langsung nyosor."

Sandi menghela napas panjang, menyeka keringat dingin di keningnya. "Sas! Aduh... Gue nggak marah, gue cuma kaget, Oneng! Kenapa sih mintanya yang enggak-enggak begitu? Nggak ada permintaan lain apa yang lebih normal? Minta dibelikan es krim kek, atau apa gitu?"

Saskia mendongak kembali, menatap Sandi dengan tatapan yang sangat teguh namun manja. "Ada... tadi kan aku minta izin buat cium kamu. Kalau permintaan lainnya... aku minta kamu yang cium aku, atau kita... umm... ciuman beneran."

Sandi terperangah, mulutnya sedikit terbuka di balik helmnya. "Astaghfirullah! Tiba-tiba bisa tobat mendadak gue ya melihat kelakuan lo, Sas! Otak lo isinya apaan sih?"

Saskia tetap bertahan pada posisinya, ia menarik-narik ujung jaket Sandi dengan rengekan kecil. "Ayo dong, Yang... Plis sekali saja. Dadaku sesak banget, gemasnya nggak hilang-hilang kalau cuma dilihatin doang!"

Sandi memijat pangkal hidungnya, merasa pusing menghadapi logika Saskia. "Kalau gue nggak mau gimana?"

Saskia langsung memasang wajah cemberut paling dramatis yang pernah ia buat. "Yah... Sayang mah pelit. Bolehin dong, sekali saja."

"Saskia Fiana Putri! Sadar, Sas! Kalau baru sehari saja kita sudah berani begini, gimana kedepannya? Yang ada sebelum cita-cita kita tercapai, sebelum kita lulus sekolah, dan sebelum kita resmi nikah, lo sudah hamil duluan sama gue gara-gara kebablasan! Lo mau cita-cita jadi bos perusahaan itu hancur?" tegas Sandi dengan nada memperingati.

Mendengar kata-kata keras itu, mata Saskia mendadak berkaca-kaca. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya yang kemerahan. Melihat itu, pertahanan Sandi langsung runtuh. Ia tidak bisa melihat gadis itu menangis, apalagi karena dirinya. Sandi menghela napas pasrah, tangannya terulur menghapus sisa air mata di pipi Saskia.

"Adoooh, jangan nangis kenapa..! Iya, iya, kali ini saja ya. Lo tadi bilang mau cium gue, kan? Udah, cium sekarang saja di sini kalo gitu," ujar Sandi dengan nada mengalah.

Saskia menatap Sandi dengan mata yang masih basah, namun tiba-tiba ia menggeleng. "Nggak jadi."

Sandi bernapas lega, bahunya merosot santai. "Alhamdulillah, gitu dong. Akhirnya lo sadar juga kalau ini salah."

Saskia menyambung kalimatnya dengan seringai kecil. "Nggak jadi aku yang cium kamu. Gantinya, kamu yang harus cium aku."

Sandi nyaris tersedak ludahnya sendiri. "Eeehh! Bisa begitu ya cara mainnya! Cepat banget berubahnya pikiran lo!"

Saskia tidak peduli. Ia segera memejamkan matanya rapat-rapat, memajukan wajahnya ke arah Sandi dengan bibir yang sedikit mengerucut. "Aku siap, Yang. Cepat sebelum ada orang lewat."

Sandi memutar bola matanya, merasa benar-benar kalah telak. "Nggak ah, permintaan yang pertama saja kalau begitu. Gue nggak mau cium lo duluan, nanti gue yang khilaf."

Saskia membuka satu matanya, menatap Sandi dengan jahil. "Ya sudah, berarti kamu yang merem sekarang. Ayo, jangan curang!"

"Gue nggak mau, Sas! Sudahlah, ayo pulang!" Sandi mencoba menyalakan motornya kembali, namun Saskia langsung menarik-narik lengan Sandi dengan kuat.

"Kalau kamu nggak mau, aku bakal teriak-teriak sekarang juga biar satpam perumahan datang semua!" ancam Saskia dengan nada yang tidak main-main.

Sandi membelalak. "Wah, gila lo pakai ngancem segala! Kalau lo teriak-teriak dan gue digebukin massa karena disangka mau nyulik lo, kita batalin saja sekarang juga perjodohan kita!"

Mendengar ancaman pembatalan itu, Saskia langsung tertunduk lesu, wajahnya terlihat sangat sedih. "Sandi jahat... Sandi pelit... Sandi pasti sebenarnya nggak suka sama aku. Sandi pasti terpaksa dijodohkan sama aku," isaknya pelan.

Sandi mengeram gemas, rasanya ingin sekali mencubit pipi itu sampai merah atau mencekik leher Saskia dengan pelukan. Melihat keputusasaan Saskia, Sandi akhirnya menyerah sepenuhnya. "Ya sudah! Nih, gue sudah merem. Cepat lakukan sebelum gue berubah pikiran dan hidupin motor lagi!"

Saskia segera mendongak. "Jangan buka mata ya, Janji?"

"Iy—"

Belum sempat Sandi menyelesaikan kata-katanya, ia merasakan sentuhan lembut yang mendarat di bibirnya. Sandi tersentak, kelopak matanya terbuka sedikit dan ia melihat profil wajah Saskia yang sangat dekat. Saskia sedang memejamkan mata dengan tulus, bibirnya menempel pada bibir Sandi dengan penuh perasaan. Sandi merasakan getaran halus merambat ke seluruh tubuhnya, sebuah rasa getir bercampur manis yang membuatnya menyadari betapa tulusnya gadis ini menyayanginya.

Satu detik... dua detik... tiga detik... empat detik... dan tiba-tiba, HUP!

Saskia menggigit bibir bawah Sandi dengan cukup kuat sebelum melepaskannya. Sandi spontan mendorong pelan bahu Saskia dan meringis kesakitan. "Gila lo, Sas! Main gigit saja bibir gue. Sakit tahu! Lo kira bibir gue sate Padang?"

Saskia justru tersenyum sangat manis, wajahnya tampak sangat puas dan lega. "Habisnya kamu gemesin banget sih, Yang! Aku nggak tahan!" Ia kemudian menghambur memeluk Sandi dengan erat. "Makasih ya Sayang, makasih banyak. Dadaku sudah nggak sesak lagi sekarang."

Sandi menghela napas panjang, meraba bibir bawahnya yang terasa berdenyut. "Bibir gue sudah nggak perawan malam ini gara-gara lo. Sampai perih begini, Sas."

Saskia tertawa renyah, ia melepaskan pelukannya dan menatap bibir Sandi dengan rasa bersalah yang dibuat-buat. "Mana sih? Sini aku lihat." Ia memegang dagu Sandi dan memperhatikan bibir bawah pemuda itu yang memang terdapat goresan kecil kemerahan. "Yang... maafin aku ya! Aku beneran kelewatan gemas tadi."

Sandi menggelengkan kepalanya, meski hatinya sebenarnya berbunga-bintang. "Iye, nggak apa-apa. Anggap saja ini tanda kalau bibir gue sudah nggak perawan sama lo! Sekarang kita pulang ya, beneran sudah kemaleman ini! Lo sudah puas, kan?"

Saskia mengangguk mantap dengan binar mata yang sangat bahagia. Sandi membenarkan posisi duduknya, menarik tuas kopling, dan menghidupkan kembali mesin Ninja-nya. Saskia memeluk perut Sandi lebih erat dari sebelumnya, menyandarkan kepalanya di punggung Sandi dengan senyum penuh kemenangan. Malam di Pondok Indah itu terasa jauh lebih indah bagi mereka berdua.

Aspal mulus di kawasan Pondok Indah yang dinaungi pepohonan palem yang rapi seolah menjadi saksi bisu degup jantung dua remaja ini yang kian tak beraturan. Sebelum motor Ninja 150RR itu benar-benar melambat dan ban depannya menyentuh garis imajiner di depan gerbang raksasa rumah Saskia yang bergaya klasik modern, Saskia merapatkan pelukannya sejenak.

"Yang?" panggil Saskia lirih, suaranya sedikit teredam oleh desau angin malam.

Sandi melirik spion, menangkap binar mata Saskia yang masih terlihat sangat cerah meski hari sudah larut. "Apa lagi, Oneng? Jangan bilang sekarang lo mau minta gue grepe-grepe lo di depan pos satpam rumah lo?" godanya dengan nada sarkas yang khas, merujuk pada banyolan "sampah" mereka sejak di rumah Andra tadi.

Saskia tidak merasa tersinggung, ia justru meledakkan tawa renyah yang terdengar sangat lepas. "Ayo, kalau kamu memang berani dan mau!" tantangnya balik dengan nada menggoda yang membuat Sandi nyaris kehilangan fokus pada stang motornya.

Sandi hanya bisa terkekeh kecil, menggelengkan kepala melihat tingkah laku calon tunangannya yang semakin di luar nalar. "Otak lo, Sas... bener-bener sudah terkontaminasi. Isinya oneng semua, nggak ada saringan sama sekali," gumam Sandi, namun terselip nada sayang dalam ejekannya itu.

Saskia tidak membalas dengan kata-kata, ia justru membenamkan wajahnya sejenak di bahu Sandi, menghirup aroma maskulin yang bercampur dengan bau asap jalanan, lalu mengecup bahu itu dengan tulus. "Yang, makasih banyak ya buat hari ini. Aku bener-bener seneng banget seharian bisa sama kamu, dari sekolah, ke rumah Andra, sampai makan sate bareng Ibu kamu tadi. Semoga kita bisa tetap seperti ini terus, tanpa ada yang berubah, sampai nanti kita benar-benar nikah ya, Yang," ucap Saskia dengan nada yang tiba-tiba berubah sangat dalam dan penuh harap.

Motor Sandi akhirnya berhenti dengan sempurna tepat di depan gerbang pagar besi hitam yang menjulang tinggi. Suara mesin 2-tak yang garing itu mendadak sunyi saat Sandi memutar kunci kontak. "Males! Gue nggak mau janji apa-apa. Nanti yang ada permintaan lo makin aneh dan makin ngaco saja tiap harinya. Bisa-bisa gue jantungan sebelum kita lulus SMP," balas Sandi ketus, meski hatinya sebenarnya sangat tersentuh mendengar harapan Saskia.

Saskia melompat turun dari jok belakang dengan gerakan lincah, tawa renyahnya masih tersisa. Sandi melepaskan sarung tangannya, lalu dengan gerakan telaten yang sudah menjadi kebiasaan baru, ia membantu membukakan helm half-face milik Saskia.

"Nggak kok, aku janji nggak akan minta yang aneh-aneh lagi setelah ini," ujar Saskia sembari merapikan rambutnya yang sedikit berantakan terkena hembusan angin. Ia menjeda kalimatnya sejenak, lalu menambahkan dengan cengiran jahil, "Ya... kalau aku nggak lupa ya. Hehe."

Sandi hanya bisa memutar bola matanya dengan pasrah. "Yaudah, sana masuk. Udah malem banget ini. Gue langsung cabut ya, kasihan Ibu sendirian. Gue harus beresin pakaian dan beberapa barang buat dikemas ke dalam kardus. Jangan sampai besok pagi malah keteteran pas pick-up datang."

Saskia mengangguk mantap, menatap Sandi dengan tatapan yang sangat lekat seolah berat untuk berpisah meski hanya beberapa jam. "Iya Sayang, kamu hati-hati ya di jalan. Jangan ngebut-ngebut, ingat ada aku yang nunggu kamu besok pagi."

Sandi mengenakan kembali sarung tangannya, lalu mengangguk mantap. "Salam buat Nyokap, Bokap, dan Kakek Heru ya. Bilang makasih juga soal semuanya. Assalamualaikum."

"Iya nanti aku sampaikan semuanya. Waalaikumsalam, Sayangku!" balas Saskia dengan penekanan pada kata terakhirnya yang membuat Sandi kembali salah tingkah.

Sandi tidak membalas dengan kata-kata romantis, ia justru memberikan senyuman "tengil" andalannya—ujung bibirnya terangkat sebelah dengan tatapan mata yang seolah meremehkan namun sangat memikat. Tanpa membuang waktu, ia menghentakkan kick starter motornya dan melaju pergi meninggalkan area gerbang mewah tersebut.

"Iii hhh! Kamu tuh ya! Pake senyum begitu segala, bikin gemes tahu nggak!" teriak Saskia dari depan gerbang sembari menghentakkan kakinya ke aspal, merasa sangat tertantang dengan sikap Sandi yang selalu bisa membuatnya "panas dingin".

Sandi hanya terdengar terkekeh dari kejauhan, suaranya perlahan hilang tertutup deru knalpot Ninja-nya. Ia membelah jalanan malam yang kini mulai sepi, meluncur kencang dari kemewahan Pondok Indah menuju kepadatan Jatinegara. Perasaannya saat ini benar-benar campur aduk; ada rasa senang yang meluap-luap karena perhatian Saskia, rasa kaget karena keberanian gadis itu tadi, dan rasa tidak menyangka bahwa hidupnya yang tadinya suram kini mendadak penuh warna.

Di sela-sela konsentrasinya berkendara, Sandi sesekali memegang bibirnya yang masih terasa sedikit perih akibat gigitan Saskia tadi. Ia menggelengkan kepalanya sendiri di balik helm gelapnya. "Dasar Oneng Pe'a! Benar-benar nggak ada duanya," gumamnya pelan sembari tersenyum lebar, menyadari bahwa mulai besok, petualangan barunya bersama "Si Oneng" akan dimulai dari satu atap yang sama.

1
Shintara
Yuk di baca yuk
Shin Nara
Next thor
Shintara: update setiap jam 9 pagi ya kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!