"Cepat tutup pintu dan jendela, jangan sampai terbuka!"
Semua warga yang ada di desa Bondowoso tidak ada yang pernah berani keluar bila sudah Maghrib datang, mereka hanya berdiam diri dalam rumah sampai nanti pagi menyapa.
Dulu desa ini tidak seperti itu, namun sejak beberapa bulan terakhir maka mereka mendapat teror yang begitu mengerikan sekali, semua ini akibat kematian dari seorang gadis bernama Mirasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Menuduh Mirasih
Tantang meninggal nya Laila itu telah menyebar ke seluruh desa sehingga membuat semua warga yang ada di sana menjadi bertanya-tanya apa yang telah terjadi, emang mereka juga penasaran kenapa Laila bisa mengalami nasib seperti itu padahal selama ini tidak pernah ada yang aneh ketika mereka ada di desa ini.
Sebagian orang tentu saja langsung menyangkut paut dan masalah tersebut dengan Mirasih yang baru saja meninggal dunia kemarin, menganggap bahwa gadis itu mungkin saja telah menjadi arwah gentayangan dan membuat masalah besar untuk mereka semua yang tinggal di desa ini, tentu saja itu hanya sebagian orang yang menganggap dan sebagian lagi mereka masih bingung kenapa hal itu bisa terjadi.
Namun yang jelas kematian Laila menimbulkan tanda tanya begitu besar untuk semua orang yang ada di desa tersebut, bahkan mereka juga mulai menaruh rasa iba yang begitu tinggi ketika melihat Arifin begitu berduka setelah Dia kehilangan sosok istri tercinta di malam hari.
Arifin memang sama sekali tidak mengetahui Kenapa Laila bisa mengalami nasib seperti ini, ketika tidur malam dia tidak mendengar suara teriakan dari sang istri sehingga dia tidak memiliki rasa curiga Kenapa istri bisa meninggal dalam keadaan yang sangat sadis, darah yang ada di lantai menandakan bahwa Laila meninggal dalam waktu yang cukup singkat.
Kematian yang mendadak seperti ini tentu saja membuat seluruh warga desa menjadi bertanya-tanya, Mirasih saja masih belum diketahui meninggal karena apa dan sekarang justru Laila menyusul juga dalam keadaan yang begitu sadis, kalau tidak separah Mirasih namun tetap saja mereka merasa iba ketika melihat Laila.
Sebenarnya jauh lebih banyak orang merasa kasihan kepada Laila bila di bandingkan kepada Mirasih, sebab selama ini Laila di kenal sebagai wanita yang baik dan tidak pernah banyak tingkah di antara para warga, tutur kata yang lembut dan dia tidak pernah bermusuhan kepada orang lain sehingga membuat warga yang ada di sini merasa senang dengan istri Arifin itu.
"Aku yakin sekali kalau ini ada sangkut paut nya dengan Mirasih." Fitri berkata dengan sangat yakin.
"Memang nya kau punya bukti apa sehingga begitu yakin mengatakan kalau Mirasih sudah gentayangan menjadi hantu?" Puspita menatap Fitri.
"Ah saat ini memang aku sedang tidak ada bukti tapi nanti kalian semua akan percaya bahwa Mirasih sudah gentayangan." Fitri berkata dengan begitu yakin.
"Dasar kau saja yang selalu berkata buruk tentang orang lain." ucap Puspita sambil membuang muka.
"Coba Kau pikir secara logika saja tentang kematian Laila ini, tidak mungkin ada orang yang bisa masuk ke dalam rumah dan meninggalkan mayat dia begitu saja." Fitri tetap saja kekeh.
"Ya kan kita sama sekali tidak mengetahui dia meninggal karena apa, jadi kenapa kok begitu dengan sangat yakin mengatakan bahwa Mirasih adalah pelaku." Puspita bertanya balik.
"Pokok nya kau lihat saja tentang ucapan aku ini, tidak lama lagi desa kita pasti akan terjadi kehebohan karena muncul arwah gentayangan itu." Fitri berkata sambil melangkah pergi.
Hanya Puspita yang tertegun sendirian karena dia juga tidak yakin dengan apa yang di katakan oleh sebagian warga desa ini, malah yang ada dia cerita bahwa pelaku pembunuhan Laila dan juga Mirasih ini sama, tapi kenapa malah warga desa menuduh bahwa kematian lain Laila justru karena ada sangkut paut dengan Mirasih yang sudah gentayangan.
"Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Fitri barusan." Mansur keluar dari dalam rumah dan menatap sang istri.
"Kamu jangan bilang juga ikut terpengaruh dengan omongan Dia barusan ya!" Puspita menatap dengan penuh kemarahan.
"Bukan karena aku terpengaruh oleh omongan dia tapi semalam aku menyaksikan sendiri bahwa ada yang aneh." Mansur berkata dengan sangat yakin.
"Ada apa memang nya?" Puspita jadi penasaran juga kenapa sampai sang suami bisa berkata demikian.
Mansur terlihat menarik nafas panjang ketika dia ingin bercerita kepada sang istri apa yang telah dia lihat tadi malam itu, ada rasa takut bila nanti Puspita tidak percaya dengan omongan dia namun bila tidak bercerita maka dia merasa terbebani dengan itu semua, Mansur berpikir bahwa ketika nanti dia bercerita maka Puspita bisa berhati-hati ketika malam hari datang di desa mereka sekarang ini.
Puspita sendiri sudah penasaran bukan main karena dia tahu bahwa sang suami ini tidak pernah banyak bicara, bila sudah seperti ini maka pasti itu berita yang sangat penting dan tidak mungkin Mansur berbohong tentang hal tersebut, Mansur di kenal sebagai pria yang pendiam dan dia tidak pernah banyak omong bila menurut dia tidak penting.
"Cepatan ngomong ada apa sebenarnya tadi malam!" desak Puspita dengan nada tidak sabar.
"Tadi malam sebenarnya aku datang ke pos ronda untuk melihat keadaan di sana, tapi ternyata sama sekali tidak ada orang." ujar Mansur mulai bercerita.
"Lalu?"
"Saat aku akan pulang ke rumah dan tentu saja harus melewati pohon kapuk tempat Mirasih meninggal dunia, di sana aku melihat hal yang sangat tidak biasa." Mansur berkata sambil mengusap tangan yang mendadak saja terasa merinding.
"Ada setan ya!" Puspita mendelik dengan keadaan sudah tegang karena mulai takut.
"Awal nya aku mengira itu hanya bayang-bayang saja, tapi setelah aku mendekat maka aku melihat secara langsung tentang sosok tersebut." ujar Mansur.
"Bagaimana wujud nya?!" Puspita sudah tidak sabar karena menurut dia Mansur terlalu panjang bercerita.
"Mirasih memang menjadi hantu gentayangan dan dia memiliki wajah hancur berantakan, dia menangis serta meminta tolong." jelas Mansur.
"Ah bisa saja itu bukan Mirasih." elak Puspita kembali tetap tidak percaya.
Mansur menelan ludah dengan susah payah ketika sang istri sudah tidak percaya dengan omongan yang dia katakan barusan, entah bagaimana harus membuat Puspita percaya bahwa tadi malam dia memang menyaksikan secara langsung tentang keberadaan arwah gentayangan yang mulai meneror desa mereka saat ini.
"Demi Allah aku sama sekali tidak berdusta dan itu memang arwah Mirasih." Mansur berkata serius.
"Kenapa kamu yakin bahwa itu memang arwah dia?" tanya Puspita.
"Wujud nya sama, organ tubuh yang keluar itu juga sama sehingga tidak mungkin ada arwah lain yang menderita seperti Mirasih saat itu." jawab Mansur.
Terdiam Puspita karena dia tidak punya cara untuk membantah ucapan suami dia lagi, mungkin saja benar apa yang Mansur katakan bahwa Mirasih telah menjadi arwah gentayangan dan dia juga yang telah membunuh Laila malam itu, walau tidak ada bukti jelas namun mereka sudah merasa curiga bahwa gadis itu memang telah menjadi arwah gentayangan untuk membalas dendam.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komentar nya ya.
curiga SM si Jarwo dan bapaknya🤔👻