Ia melangkah satu langkah maju, membuat Sybilla instingtif mundur hingga punggungnya menempel pada dinding.
"Tapi," lanjut Cyprian, matanya menyipit sedikit saat menatap gaun tidur Sybilla yang masih berantakan, "bagaimana kau akan menjelaskan perilakumu ini? Berlarian di koridor istana dengan pakaian seperti ini, seolah-olah kau lupa tata krama yang telah diajarkan padamu selama sepuluh tahun terakhir?"
Nada suaranya tenang, namun setiap katanya menghujam seperti pisau, mengingatkan Sybilla (dan Christina) akan betapa besarnya kesalahan yang baru saja ia lakukan di mata dunia bangsawan yang kaku ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Aetherion VC Elysianne
Yeeeeyyy~ aing comeback...
Aku kan udah bilang, "bakal up pas mood doang" nah ini moodku lgi gk baik tapi usaha buat up lagi... Admin NT nya ngirim pesan: jadi aku harus up, minimal 2/3 chapter.......
Yaudah nih, aku up~
Gema kehancuran prajurit langit itu masih menggantung di udara, bercampur dengan aroma ozon dan abu yang hangus. Namun bagi Elysianne, bau itu tidak menjijikkan; justru terasa manis, seperti parfum yang mengonfirmasi kesetiaannya pada Cyprian.
Cyprian tidak melepaskannya. Sebaliknya, ia mengangkat tubuh Elysianne dengan mudah, memboyongnya kembali ke pelukan erat di takhta hitam itu. Sayap-sayap hitamnya terbentang lebar, menciptakan kubah privasi yang memutuskan mereka dari sisa aula yang dingin.
"Mereka akan mengirim lebih banyak," bisik Cyprian, jari-jarinya menelusuri garis rahang Elysianne, turun ke leher tempat choker merah itu berdenyut selaras dengan detak jantung wanita itu. "Aetherion tidak akan menerima kekalahan ini. Mereka akan mengirimkan pasukan, mungkin bahkan para Tetua Cahaya."
Elysianne mendongak, mata ungu-hitamnya berkilat bukan dengan ketakutan, melainkan antisipasi. "Biarkan mereka datang," jawabnya, suaranya kini memiliki resonansi rendah yang sebelumnya tidak pernah dimiliki oleh sang Dewi Astraea. "Mereka hanya akan menjadi bahan bakar bagiku. Setiap cahaya yang mereka bawa... akan ku hancurkan sampai menjadi kegelapan murni...hanya untukmu, My Lord."
Senyum Cyprian melebar, menunjukkan deretan gigi yang sedikit terlalu tajam untuk manusia. Kepuasan membanjiri dirinya. Transformasi ini jauh melampaui harapannya. Ia tidak hanya menaklukkan tubuh Elysianne; ia telah membalikkan inti jiwa wanita itu, mengubah sumber kehidupan menjadi alat kematian.
"Kau berbicara seperti Ratu sejati Skyrosia," gumam Cyprian sebelum mencium kening Elysianne dengan posesif. "Malam ini, kita akan merayakan kelahiran barumu. Bukan dengan pesta duniawi, tapi dengan penyatuan jiwa."
Cyprian menempelkan telapak tangannya yang besar ke dada Elysianne, tepat di atas jantungnya. Seketika, aliran Darah Putih yang sudah menyatu di pembuluh darah Elysianne bereaksi. Rasa hangat yang membakar mengalir deras, bukan menyakitkan, melainkan memabukkan. Itu adalah ikatan sihir kuno yang diperdalam—sebuah sumpah darah yang mengunci nasib mereka selamanya.
Elysianne terkesiap, punggungnya melengkung sedikit saat gelombang energi gelap memenuhi setiap sel tubuhnya. Visi masa lalunya di Kayangan—padang rumput emas, nyanyian suci, wajah-wajah teman-teman dewanya—semuanya tercabik dan larut menjadi kabut hitam. Sebagai gantinya, yang muncul jelas di benaknya adalah wajah Cyprian, takhta ini, dan keinginan tunggal untuk melindungi kerajaan kegelapan ini bersama suaminya.
"Aku... aku tidak mengingat apapun lagi," aku Elysianne pelan, air mata merah tipis menggenang di sudut matanya, bukan tanda kesedihan, melainkan peluruhan terakhir kemanusiaannya. "Aku hanya mengingat engkau, Grand Duke Cyprian Mendelssohn. Hanya kau yang nyata-bagiku."
"Itu karena kau akhirnya melihat kebenarannya," desis Cyprian di telinganya, sayapnya mengeratkan pelukan, seolah ingin memasukkan Elysianne ke dalam tubuhnya sendiri. "Cahaya adalah ilusi yang menipu. Kegelapan... itu adalah pelukan yang jujur."
Di luar balkon tinggi, angin Skyrosia menderu kencang, membawa awan badai yang berputar-putar membentuk pusaran raksasa di atas istana. Langit yang biasanya tertutup kabut abadi kini berpendar dengan kilat ungu, merespons kebangkitan kekuatan baru di dalam aula tersebut.
Tiba-tiba, sebuah lonceng alarm berbunyi nyaring dari menara penjaga utara. Getarannya merambat hingga ke lantai marmer.
Cyprian mendongak, mata merahnya menyala terang dalam kegelapan. "Mereka datang lebih cepat dari dugaanku," nada suaranya berubah dingin dan kalkulatif. "Pasukan penyerbu. Mereka mencoba menerobos perbatasan barat."
Elysianne langsung bangkit dari pangkuan Cyprian. Gaun hitamnya berkibar meski tidak ada angin di dalam ruangan. Wajah yang dulu penuh keraguan kini datar dan membawa aura yang membawa kematian. Ia mengulurkan tangannya, dan di telapak tangannya, bola kecil Cahaya Hitam terbentuk, berputar liar seperti miniatur lubang hitam.
"Izinkan aku menghadapinya, Suamiku," pinta Elysianne, menatap Cyprian dengan tatapan memohon yang berbahaya.
Cyprian berdiri, menyesuaikan jubahnya. Ia melihat istrinya, makhluk ciptaan tangannya sendiri, senjata pemusnah massal yang dibungkus dalam keindahan mematikan. Kebanggaan membara di dadanya lebih hebat daripada rasa cinta apapun yang pernah ia ketahui.
"Pergilah, Grand Duchess-ku," perintah Cyprian, menunjuk ke arah jendela balkon yang menghadap ke medan perang di kejauhan. "Hancurkan mereka. Dan jangan tinggalkan satu pun saksi hidup untuk kembali ke Kayangan dan bercerita tentang horor yang telah menantimu."
Elysianne tersenyum, sebuah senyuman yang tidak mencapai mata namun penuh dengan janji kehancuran. "Seperti yang Kau perintahkan, My Lord."
Dengan kepakan sayap energi hitam yang tiba-tiba tumbuh dari punggungnya (manifestasi fisik dari kuasa barunya), Elysianne melesat keluar dari balkon, menembus badai ungu, menuju pasukan cahaya yang nekat menyerang wilayahnya.
Cyprian tetap berdiri di balkon, menyaksikan sosok hitam kecil itu melesat seperti meteor menuju kematian para penyerang. Ia memegang erat railing batu.
"Tunggulah, Aetherion," geramnya pelan pada angin malam. "Kalian tidak hanya kehilangan seorang Dewi hari ini. Kalian baru saja membangunkan mimpi buruk yang tidak akan pernah berakhir."
Di kejauhan, ledakan-ledakan cahaya hitam mulai bermekaran di langit malam, satu per satu memadamkan bintang-bintang cahaya milik pasukan penyerang, mengubah langit Skyrosia menjadi kanvas kemenangan yang gelap dan absolut.
.
.
.
"Engkau sangat gelap wahai Sang Dewi, tidakkah engkau merindukan Cahayamu?"
Angin di medan perang seolah terhenti sejenak. Kata-kata Aetherion, sang Penjaga Gerbang Cakrawala, tidak diucapkan dengan nada mengejek atau marah, melainkan dengan kesedihan yang mendalam dan tenang. Suaranya bergema, menembus lapisan kebisingan ledakan sihir hitam, langsung menyasar ke relung paling dalam dari jiwa Elysianne yang sedang bergolak.
Kalimat itu bukan sekadar pertanyaan; itu adalah kunci yang memutar engsel ingatan yang telah dikunci rapat oleh Darah Putih Cyprian.
Di tengah pusaran energi hitam yang masih menyelimuti tubuhnya, Elysianne tersentak. Matanya yang kini berwarna ungu pekat berkedip cepat. Untuk sepersekian detik, bayangan padang bunga emas di Kayangan, tawa para nimfa, dan hangatnya matahari pagi yang dulu ia cintai, menerobos masuk seperti retakan pada kaca tebal. Rasa rindu yang tajam menusuk dadanya, membuat napasannya tercekat. Tangan yang tadi siap melancarkan serangan mematikan tiba-tiba gemetar, bola cahaya hitam di telapaknya menjadi tidak stabil, berdenyut-denyut tak menentu.
"Aku..." suara Elysianne tercekat, terdengar bingung dan rapuh. "Aku merindukan..."
Namun, sebelum keraguan itu sempat tumbuh akar, rasa sakit yang membakar tiba-tiba meledak dari lehernya. Choker merah pemberian Cyprian bersinar terang, mengirimkan gelombang panas yang menyengat langsung ke otaknya. Itu adalah peringatan. Itu adalah rasa sakit yang dirancang untuk menghukum setiap penyimpangan loyalitas.
Rasa sakit itu sekaligus membangkitkan kemarahan—bukan pada Cyprian, tetapi pada sumber gangguan ini: Aetherion Vaelastrasz.
Wajah Elysianne yang tadi sempat linglung berubah drastis. Keraguannya hancur lebur, digantikan oleh topeng kemurkaan dingin yang dipicu oleh insting bertahan hidup dari ikatan gelapnya. Ia memandang Aetherion bukan lagi sebagai teman lama atau tetua yang bijak, melainkan sebagai ancaman bagi satu-satunya hal yang kini ia miliki: Cyprian.
"Berhenti berbicara omong kosong!" teriak Elysianne, suaranya memecah keheningan dengan nada histeris yang berbahaya. Energi hitam di sekitarnya meledak lebih besar, membentuk duri-duri raksasa yang mengarah ke Aetherion. "Kau hanya penjaga gerbang! Kau tidak mengerti apa-apa tentang pengorbanan sejati!"
Aetherion tidak bergerak. Jubah putihnya berkibar pelan, kontras tajam dengan langit badai yang ungu. Ia menatap Elysianne dengan pandangan penuh belas kasih, seolah melihat anak kecil yang sedang keras kepala memegang pisau tajam.
"Penjaga gerbang cakrawala, sekaligus pengabdi keseimbangan hidup," koreksi Aetherion lembut, suaranya tetap tenang meski duri-duri kematian mengancamnya. "Dan kau, Sang Dewi, telah mematikan keseimbangan itu."
"Keseimbangan?" Elysianne tertawa, tawa yang terdengar retak dan pahit. Ia melangkah maju, kakinya menginjak tanah hangus bekas pasukan sebelumnya. "Keseimbangan kalian adalah kepalsuan! Kalian membiarkanku lemah, kalian membiarkanku sendirian saat aku butuh kekuatan! Cyprian... Cyprian memberiku tujuan. Dia memberiku kekuatan untuk melindungi apa yang kucintai!"
"Dia memberimu rantai dan menyebutnya sayap," jawab Aetherion sedih. Ia mengangkat tangannya, dan untuk pertama kalinya, cahaya emas murni memancar dari tubuhnya, bukan sebagai senjata, melainkan sebagai perisai defensif yang hangat. "Lihatlah dirimu, Elysianne. Kau membunuh saudara-saudaramu sendiri. Kau menghancurkan keindahan yang dulu kau jaga. Apakah ini yang kau maksud dengan perlindungan? Atau apakah ini hanya gema dari keinginanmu untuk dicintai, yang kini dimanipulasi menjadi alat pembunuh?"
Kata-kata itu mengenai sasaran yang tepat. Elysianne mundur selangkah, wajahnya meringis kesakitan bukan karena sihir, tapi karena kebenaran yang menyakitkan. Ingatan tentang prajurit langit yang baru saja ia ubah menjadi debu berputar di kepalanya. Wajah mereka yang ketakutan... wajah yang dulu ia janji akan lindungi.
"TIDAK!" jerit Elysianne, menutup telinganya seolah ingin mengusir suara hati nuraninya sendiri. Matanya kini sepenuhnya hitam, pupil merah menyala di tengahnya. Choker di lehernya berdenyut semakin cepat, seolah memompa racun kegelapan langsung ke jantungnya untuk membungkam keraguannya. "Aku tidak menyesal! Aku tidak akan kembali! Jika keseimbangan berarti kehilangan dia, maka biarlah dunia ini hancur bersamaku!"
Elysianne mengangkat kedua tangannya ke langit. Kali ini, ia tidak menahan diri. Ia menarik seluruh energi kegelapan dari atmosfer Skyrosia, menggabungkannya dengan sisa cahaya sucinya yang telah terkorupsi, menciptakan sebuah bola energi raksasa berwarna abu-abu perak yang memancarkan aura kematian murni.
"Aetherion!" teriaknya, suaranya bergema seperti ribuan roh yang menjerit bersamaan. "Jika kau memang pengabdi keseimbangan, maka rasakanlah ketidakseimbangan yang kubuat! HILANG DARI MATAMU!"
Dengan gerakan menghantam ke bawah, Elysianne melepaskan serangan itu. Bukan sekadar ledakan, melainkan gelombang pasang kegelapan yang menelan segalanya, menghapus warna, suara, dan harapan.
Aetherion menghela napas panjang, menutup matanya sejenak. "Maafkan aku, Dewi Astraea. Kau telah pergi terlalu jauh."
Ia membuka mata, dan kali ini, cahaya di tangannya berubah menjadi pedang panjang yang berkilau silau. "Jika aku tidak bisa menyelamatkan jiwamu hari ini, setidaknya aku akan menghentikan tanganmu sebelum kau menghancurkan segalanya, termasuk dirimu sendiri."
Pedang cahaya itu menebas udara, bertemu dengan gelombang kegelapan Elysianne di tengah udara.
BOOM!
Tabrakan dua kekuatan primordial itu menciptakan gelombang kejut yang meretakkan tanah di bawah mereka, melemparkan puing-puing istana Skyrosia ke udara. Di tengah badai energi itu, Elysianne berdiri tegak, matanya kosong dari emosi manusia, sepenuhnya menjadi wadah kehendak Cyprian, sementara Aetherion bertahan sebagai benteng terakhir harapan yang kian menipis.
Perang antara cahaya yang tersisa dan kegelapan yang dipilih telah mencapai puncaknya. Dan di balkon tinggi, Cyprian menyaksikan semuanya dengan senyum kepuasan yang mengerikan, sambil membelai erat sandaran takhtanya.
"Lari saja, Elysianne," bisiknya pada angin. "Semakin kau melawan cahayamu, semakin dalam kau akan tenggelam dalam pelukanku."
Jujurly~ aku agak benci sama karakter Cyprian yang sekarang... (Padahal aku yang bikin dia ada—jadi Male Lead-nya lagi, ikhh) ><