“Iya, jadi aku dengar Karina baru saja bercerai belum lama ini. Dia sibuk jadi ibu dan pemilik toko roti Aura Bakery sekarang. Usia anaknya sepertinya hampir sama dengan usia anakku, kira-kira 1 tahunan lah,” ujar Benny, seorang lelaki berusia 33 tahun.
“Jujur saja, kamu masih ada rasa ‘kan dengan Karina? 9 tahun loh, tidak mungkin selesai begitu saja. Aku tahu, lelaki memang hanya jatuh cinta sekali saja, setelahnya hanya melanjutkan hidup,” lanjut Beni, teman baik Khale.
Diam-diam dari luar ruangan, Syafira yang tengah mengandung mendengar ucapan sang suami dengan temannya itu.
Bahkan, Syafira pun tahu suaminya langsung menuju ke toko kue milik Karina tak lama setelah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Dari dalam ruangan, tiba-tiba terdengar seperti ada pertikaian di luar. Pintu ruangan juga terdengar seperti sedang berusaha didobrak. Mendapati hal ini, Putra mempercepat aksinya.
Namun, saat Putra sedang mencoba menurunkan tali di pundak kiri Syafira, pintu terbuka karena dobrakan yang begitu kuat hingga mengagetkan pengusaha retail itu.
“DARMAAA,” panggil Syafira segera mendorong sekuat tenaga tubuh Putra dan berlari ke belakang tubuh Darma.
Dengan wajah penuh peluh dan lebam, Darma yang masih membara memukul wajah dan perut Putra. Tak ingin kalah begitu saja, Putra bangkit dan berganti memukul wajah Darma hingga dahi dan pelipis mata teman SMA Syafira itu berdarah. Satu hantaman kembali akan dilayangkan Putra, tapi Darma dengan cepat bisa menangkisnya. Ia kembali memukul habis-habisan tubuh Putra sampai ambruk lagi.
“Sudah, Dar, ayo pergi,” lerai Syafira mengajak Darma kabur dari ruangan itu.
Di luar ruangan, Syafira mendapati dua anak buah Khale yang mengantarnya tadi tengah berkelahi dengan tiga orang pria kekar yang diduga adalah anak buah Putra.
Sementara Putra yang masih terkapar di lantai, memukulkan tangannya ke lantai karena kegagalannya mendapatkan tubuh Syafira. “Sial!”
Menguatkan tubuhnya untuk berdiri, ia lalu meraih sebuah alat kecil yang tersembunyi di balik lampu hias di atas meja.
***
Berada di apartemen, tubuh Syafira yang ditutupi oleh kemeja lusuhnya, terdiam melamun sembari meminum teh hangat yang baru saja Darma buat untuk menenangkannya.
Sementara dua orang anak buah Khale tetap berdiri tak jauh dari tempat mereka duduk.
“Bagaimana kamu bisa tahu aku berada di sana?” Masih dengan tatapan kosongnya, Syafira sedikit menggerakkan kepalanya ke kiri ke arah Darma yang duduk di sebelahnya.
Ia lalu bertanya pada anak buah Khale yang tiba-tiba juga sudah berada di luar ruangan, padahal ia belum sempat menghubungi mereka.
“Kami curiga Ibu kenapa-napa di dalam, karena 10x panggilan kami tidak Ibu angkat, jadi kami susul ke atas. Di sana, kami sudah mendapati mas ini sedang berkelahi dengan orang-orang tadi,” tutur salah seorang anak buah Khale.
Memandangi Darma, Syafira menunggu jawabannya.
“Karina yang memberitahuku bahwa kamu dalam bahaya. Dia menemuiku di rumah produksi. Dia bilang kamu dalam bahaya dan aku harus menyelamatkanmu,” terang Darma membuat Syafira kembali meluruskan pandangannya.
Meminta siapapun termasuk Syafira dan anak buah Khale untuk merahasiakan soal Karina yang memberitahunya, Darma menyampaikan pesan mantan kekasih Khale itu demi keamanan wanita tersebut.
“Dia bilang, Putra meminta toko kuenya untuk menjadi supplier minimarketnya. Meskipun dia tahu Putra dan Khale sedang berseteru karenamu, tapi dia tetap menerima penawaran Putra secara profesional. Dari situ lah tak sengaja Karina tahu rencana Putra yang ingin berniat buruk padamu,” lanjut Khale membuat Syafira termangu.
Banyak hal yang masih tak Syafira paham dengan semua ini.
“Supplier? Bukan kah minimarket Putra sudah banyak rekanan dari pabrik roti? Lalu, dari mana juga dia bisa tahu rumah produksimu?” tanya Syafira mengeluarkan uneg-uneg dalam benaknya.
Terdiam, Darma bimbang, ia tak mungkin mengatakan bahwa sebenarnya ia tak benar-benar pulang saat itu dan malah setiap hari mengunjungi apartemen Syafira untuk sekadar memperhatikannya dari jauh.
“Dar?” Syafira membuyarkan diamnya Darma.
Terpaksa, ia pun mengatakan yang sejujurnya meskipun ada perasaan malu-malu.
***
Masih mengurus persoalan kebakaran yang baginya sangat janggal, Khale tak bisa mempercayai semua ini. Kelalaian yang diduga menjadi penyebab kebakaran, tak seharusnya terjadi karena perusahaannya sudah memiliki SOP terkait untuk menghindari hal-hal seperti ini. Berdiskusi dengan seluruh timnya disertai pemantauan dari anak buahnya, Khale ingin mereka semua jujur padanya.
“Sejak kapan tidak ada pengawasan pada pekerja konstruksi? Apakah tidak ada satupun dari kalian yang mengamatinya? Bagaimana bisa ada cairan yang mudah terbakar di dekat sumber panas. Bagaimana bisa ditemukan putung rokok di dekat tempat tumpukan kayu dan limbah isolasi di sekitar bangunan. Bagaimana bisa kalian tidak mengecek APAR secara berkala hingga alat itu tidak berfungsi saat diperlukan? Dan bagaimana bisa kalian kecolongan pada perilaku pekerja yang menyambungkan terlalu banyak alat kerja berdaya tinggi pada stop kontak? Ini fatal!” Khale murka.
Seluruh timnya tertunduk. Hal ini di luar kendali mereka. Entah mengapa kelalaian ini bisa terjadi tanpa sepengetahuan mereka, padahal selama ini mereka begitu berhati-hati setiap menggarap proyek. Tak ada yang menyangka hal-hal dasar seperti ini bisa terlepas dari kontrol mereka.
Dengan kode tangan, Yogi meminta seluruh anak buah Khale berkumpul di belakang mereka semua.
Sementara itu, di kantornya, Putra masih tak terima dengan aksi Darma semalam.
“Cari dia yang sudah lancang merusak rencanaku!” titahnya pada anak buahnya.
“Hebat sekali kamu, Syaf, berani melanggar perintahku. Beraninya kamu memberitahu orang lain tentang acara kita. Ternyata kamu tidak sepolos yang aku pikirkan.” Putra melempar gelas kaca ke dinding hingga suara pecahannya terdengar nyaring.
Putra tak berhenti berbicara kasar karena apa yang hampir sedikit lagi ia dapatkan, gagal total.
Sementara itu, Karina terlihat begitu tenang dan santai di ruangan kerjanya, sembari menikmati teh hangat pagi ini.
...****************...
dasar laki" emang buaya🙄🙄