NovelToon NovelToon
The Predator’S Possession

The Predator’S Possession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Callalily

Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29

Tepat setelah penjelasan dokter selesai, pintu di belakang mereka terbuka lebar. Kali ini, beberapa perawat melangkah keluar, mendorong brankar dengan sangat hati-hati.

“Terima kasih atas kerja keras mu, dokter,” ucap Benedict.

Benedict langsung melangkah lebar, berjalan di sisi brankar Zara sembari mengiringi pergerakannya menuju lift. Luca mengikuti dengan setia di belakangnya, sementara sang dokter akhirnya bisa mengembuskan napas lega yang teramat penjang.

Beberapa menit kemudian, Benedict sudah berada di dalam kamar VVIP. Ia berdiri disamping ranjang tempat Zara terlelap. Perlahan Benedict mengulurkan tangannya. Dengan ujung telunjuknya, ia mengusap pelan beberapa helai rambut yang berantakan di dahi Zara, menyisipkannya ke belakang telinga gadis itu.

“Tidurlah yang lama,” bisik Benedict, suaranya begitu rendah hingga menyerupai angin lalu. “Pulihkan dirimu.”

Ia menarik kembali tangannya, lalu berbalik menatap Luca yang berdiri siaga di dekat pintu.

“Jaga kamar ini. Perintahkan dua tim alfa berjaga di koridor, dua tim lagi di area lobi bawah. Tidak ada yang boleh masuk selain dokter,” perintah Benedict.

“Baik, Tuan. Lalu bagaimana dengan anda?” tanya Luca.

Benedict membetulkan letak jam tangannya. “Aku akan ke Veto,” jawab Benedict dingin. “Sudah saatnya membangunkan mereka yang mengira bisa menyentuh apa yang menjadi milikku.”

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Di tengah ruangan, sembilan orang preman yang masih hidup diikat kencang pada tiang-tiang besi penyangga dalam posisi berdiri melingkar. Tangan mereka semua dirantai ke atas, memaksa ujung kaki mereka menahan beban tubuh yang mulai kelelahan.

BRAKKK.

Pintu besi di dorong terbuka dari luar. Benedict melangkah masuk. Ia sudah menanggalkan jasnya, kini hanya mengenakan kemeja hitam yang dua kancing tertasnya terbuka, dengan lengan yang digulung hingga ke siku, menampilkan otot lengan yang kokoh dan urat-urat yang menegang.

Melihat kedatangannya, preman-preman itu seketika gemetar hebat. Rantai-rantai besi saling bergemerincing gaduh karena tubuh mereka meronta ketakutan.

“Ampun…. ampuni kami Tuan….” ratap salah satu preman.

Benedict tidak menyahut. Ia berjalan tenang menuju meja di sudut ruangan. Di atasnya, terdapat berbagai mecam alat, namun matanya justru tertuju pada sebuah sarung tangan kulit hitam. Ia langsung mengenakannya.

Setelah selesai, Benedict melangkah mendekati preman yang tadi memohon.

“Aku tidak suka membuang waktu,” ucap benedict dingin. “Siapa yang membayar kalian?”

“Kami…. kami tidak tahu namanya, Tuan! kami hanya dihubungi lewat telepon sekali pakai dan diberi uang muka di dalam loker stasiun!” jawab preman itu, napasnya memburu karena panik.

Benedict menatap pria itu selama tiga detik tanpa ekspresi. Detik berikutnya, tanpa peringatan apa pun, tangan kanan benedict melesat maju.

BUGHH!

Satu hantaman mendarat telak di ulu hati preman tersebut hingga terdengar bunyi retakan samar. Preman itu seketika terbatuk darah, tubuhnya menekuk sejauh yang diizinkan oleh rantai.

Benedict kembali menarik tangannya, mengecek sarung tangan kulitnya yang kini terkena sedikit darah. Melihat itu, pikirannya kembali melayang pada guratan merah di leher Zara. Amarah yang sempat ia tekan di rumah sakit kini meluap kembali.

Benedict berpindah ke preman kedua, pria berbadan besar yang tampaknya menjadi wakil pemimpin mereka. Benedict mencengkeram rahang pria itu dengan tangan kirinya, menekan tulang pipinya begitu keras hingga si preman meringis kesakitan.

“Kau,” desis benedidt. “Kau punya waktu lima detik sebelum aku mulai mematahkan jari-jarimu satu per satu. Siapa yang mengirim kalian?!”

“Aku tidak tahu”

“Satu,” hitung Benedict datar. Tangan kanannya bergerak mencengkeram jari kelingking kiri si preman.

“Tuan, demi Tuhan, kami tidak diberi tahu—“

KRETEK!

“AAAARRRGHHH!” jeritan melengkin memecah keheningan aaat Benedict mementahkan jari kelingking itu tanpa berkedip sedikit pun.

“Dua,” lanjut Benedict, beralih ke jari manis.

“Bunuh saja kami! kami benar-benar tidak tahu siapa yang memberi perintah!” teriak preman lain histeris karena frustrasi dan ketakutan yang menyiksa.

Benedict menghentikan gerakannya. Selama beberapa menit berikutnya, suasana di dalam ruangan itu menjadi mereka. Benedict mengulangi pertanyaannya, bergantian menekan mereka satu per satu, memberikan rasa sakit fisik yang tak terbantahkan.

Namun, hingga akhir, tidak ada satu nama pun keluar dari mulut kesembilan orang tersebut. Mereka benar-benar tidak tahu siapa yang memberikan perintah.

Melihat tidak ada informasi yang bisa ia dapatkan, Benedict perlahan menegakkan tubuhnya. Ia melepas cengkeramannya, membiarkan para preman itu terkulai lemas pada rantai masing-masing. Benedict berbalik menatap Luca yang sejak tadi berdiri di dekat pintu.

“Tuan? apa kita perlu menghabisi mereka?” tanya Luca, bersiap menarik senjatanya.

Bendict mulai melepas sarung tangannya, melemparkannya begitu saja ke atas meja.

“Jangan dulu,” perintah Benedict. “Kematian terlalu mudah untuk mereka yang sudah berani mengusik milikku.”

“Biarkan mereka tetap hidup. Beri sedikit makan dan minum agar mereka tidak mati. Aku ingin mereka membusuk hidup-hidup di dalam ruangan ini sampai aku menemukan sendiri siapa bajingan yang sudah menyewa mereka,” ucap Benedict.

Kemudian ia melangkah keluar. Langkahnya menuju sebuah pintu baja berat bersandi khusus. Setelah menempelkan telapak tangannya pada pemindai biometrik, pintu itu terbuka dengan desis halus. Sebuah ruangan yang dipenuhi oleh deretan layar monitor raksasa yang berpendar biru, menampilkan grafik data dan frekuensi jaringan radio yang terus berjalan.

Luca masuk tak lama kemudian, membawa sebuah kotak kedap sinyal berisi sepuluh ponsel milik para preman.

“Semua ponsel mereka ada disini, Tuan,” ujar Luca, meletakkan kotak itu diatas meja. “Semuanya menggunakan enkripsi standar dan sebagian besar adalah ponsel sekali pakai”

Benedict menatap tumpukan ponsel itu dengan pandangan dingin. “Bongkar semuanya.”

“Bajingan-bajingan itu tidak tahu apa-apa karena mereka hanya pion bodoh. Periksa semua ponsel itu tanpa terkecuali,” ucap Benedict.

“Lacak setiap riwayat panggilan, pesan terenkripsi yang sudah dihapus, hingga koordinat GPS terakhir mereka sebelum mendatangi toko roti. Aku ingin kalian mencari petunjuk sekecil apa pun, baik itu nomer rekening, suara rekaman panggilan, atau menara pemancar sinyal yang mereka lewati. Jika ada kode saja atau data yang mencurigakan, hubungkan langsung ke pusat data utama kita,” jelas Benedict.

Sang bawahan langsung mengangguk cepat. “Baik, Tuan. Kami akan memulihkan setiap bit data yang ada.”

Benedict menatap layar monitor yang mulai memproses data-data dari ponsel-ponsel itu.

“Laporkan padaku begitu kalian menemukan satu nama atau lokasi yang valid,” tambah Benedict.

Benedict menegakkan tubuhnya, bersiap melangkah keluar dari ruangan tersebut. Namun, tepat sebelum jemarinya menyentuh panel pintu untuk keluar, ia teringat sesuatu.

“Ah ya, bagaimana dengan mayat itu?” tanya Benedict tanpa membalikkan tubuh sepenuhnya.

“Tim alfa sudah mengamankannya. Mayat itu ada disini, Tuan” jawab Luca.

Benedict membalikkan tubuhnya perlahan. “Bagus. Bawa dokter forensik kita ke sana. Eksekusi mayat itu sekarang juga.”

Luca mendengarkan dengan seksama.

“Bedah dan periksa seluruh tubuhnya,” perintah benedidt lagi. “Cari apapun yang tersembunyi dalam tubuhnya. Jangan lewatkan detail sekecil apa pun itu.”

1
Lalat
lanjutt ka
Lalat
SERIUSS?? WHATTTTTT
Lalat
iyaya, jjr gw ga expect dia ngmng gt
Lalat
fix kekurangan darah
Lalat
lucuuu 😍
Lalat
blh jg tu
Lalat
lucuu
Lalat
Indonesian bisa di beli ga 🤭
lontong sayur
aku suka
lontong sayur
episode ini manis 🌚
lontong sayur
episode ini manis 🌚🌚🌚
lontong sayur
gemes 🐣
Erna Olivia
lanjut min
Nanda
sakit sih aku klo di posisi Zara
Mita Paramita
lanjut Thor 😘😘😘 bikin adegan romantis
Nanda
serem ya Benedict klo lagi mode gitu
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Mita Paramita
lanjut Thor bikin bennec bucin 🤣
Nanda
cuek tapi perhatian gitu yaa
Nanda
smngt thorr, pls up tiap hari
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!