Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memberi Pelajaran
Melihat kehadiran Bai Kai, ekspresi para pemuda itu berubah seketika. Tawa yang tadi begitu keras perlahan mereda, digantikan oleh tatapan waspada. Entah mengapa, hati mereka serentak merasakan firasat buruk.
Aura yang memancar dari Bai Kai begitu tenang namun justru itu yang membuatnya terasa berbahaya. Bagi orang-orang yang pernah bersentuhan dengan dunia bela diri, aura seperti itu hanya dimiliki oleh seseorang yang benar-benar terlatih. Seorang pendekar.
Pandangan mereka lalu beralih kembali ke Gao Rui.
“Tuan Muda…” gumam salah satu dari mereka pelan, seolah baru menyadari sesuatu.
Cara pria itu memanggil bocah di depan mereka jelas bukan panggilan sembarangan. Itu adalah sebutan yang biasa digunakan untuk keturunan keluarga besar atau bahkan bangsawan.
Keringat dingin mulai muncul di dahi beberapa dari mereka. Mereka hanyalah preman-preman kelas rendah. Ilmu bela diri yang mereka miliki pun hanya sekadar cukup untuk menakuti orang biasa. Jika benar dugaan mereka… maka mereka sedang berhadapan dengan seseorang yang tidak seharusnya mereka sentuh.
Tatapan mereka kembali jatuh pada tubuh Gao Rui. Saat itulah mereka benar-benar memperhatikan. Di pinggang bocah itu terselip dua buah pedang.
“…pedang?”
Napas mereka tertahan. Itu bukan sekadar hiasan. Tidak mungkin seorang anak membawa dua pedang jika ia tidak tahu cara menggunakannya. Artinya… bocah ini juga seorang pendekar.
Rasa takut mulai merayap perlahan, menyusup ke dalam hati mereka satu per satu. Suasana di gang sempit itu berubah total.
Di tengah ketegangan itu, Bai Kai melangkah sedikit mendekat.
“Tuan Muda,” ujarnya tenang, “apakah kau baik-baik saja?”
Gao Rui tetap menatap ke depan, lalu menjawab singkat.
“Aku baik-baik saja.”
Ia kemudian mengangkat tangan sedikit, memberi isyarat tanpa menoleh.
“Tunggu sebentar.”
Nada suaranya santai. Seolah apa yang ada di depannya bukanlah ancaman apa pun. Para pemuda itu menegang.
Gao Rui lalu melangkah maju satu langkah. Tatapannya menyapu mereka, dingin dan tenang.
“Aku akan memberikan sesuatu,” katanya pelan, “yang akan kalian ingat seumur hidup… agar kalian tidak mencuri lagi.”
Belum sempat mereka bereaksi...
Tap!
Tubuh Gao Rui langsung melesat ke depan cepat. Para pemuda itu bahkan belum sempat mengangkat tangan sepenuhnya ketika....
Duk!
Satu pukulan.
Seorang pemuda langsung terlempar dan jatuh tak bergerak.
“Apa?!”
Duk!
Pukulan kedua mendarat.
Satu lagi tumbang.
Duk! Duk! Duk!
Dalam sekejap, suara benturan tubuh dengan tanah menggema di gang itu. Tidak ada teknik rumit. Tidak ada jurus yang indah. Hanya pukulan sederhana… namun cukup untuk membuat setiap lawannya langsung pingsan. Perbedaan kekuatan di antara mereka terlalu jauh.
Beberapa detik kemudian semua pemuda itu sudah tergeletak di tanah. Tak satu pun yang masih berdiri.
Bai Kai yang melihat dari belakang hanya bisa menghela napas panjang, lalu menepuk keningnya pelan.
“…Tuan Muda…” gumamnya, antara kagum dan tidak tahu harus berkata apa.
Sementara itu, Gao Rui berdiri di tengah gang, menepuk-nepuk tangannya ringan seolah baru saja menyelesaikan pekerjaan kecil.
Ia lalu melangkah ke arah pemuda pencuri yang sudah pingsan. Tatapannya jatuh pada tas kecil yang masih tergenggam di tangan pemuda itu.
Gao Rui mengulurkan tangan.
Wush…
Tanpa menyentuh, tas itu terangkat dan melayang ringan menuju tangannya, seolah ditarik oleh kekuatan tak kasat mata. Ia menangkapnya dengan santai.
Kemudian ia berbalik, memandang Bai Kai. Senyum lebar terukir di wajahnya.
“Ayo,” katanya ringan, mengangkat tas itu sedikit. “Kita kembalikan tas milik nenek ini.”
Ia berkata ringan seolah apa yang baru saja terjadi hanyalah hal sepele dalam harinya.
Gao Rui dan Bai Kai pun segera meninggalkan gang sempit itu. Tanpa menoleh lagi ke arah para pemuda yang tergeletak, keduanya berjalan kembali menuju tempat kejadian sebelumnya. Langkah Gao Rui ringan, sementara tas kecil milik sang nenek tergenggam santai di tangannya.
Tidak butuh waktu lama. Ketika mereka tiba di lokasi, benar saja suasana di sana masih dipenuhi kegelisahan. Seorang nenek tua terlihat duduk di pinggir jalan, tubuhnya sedikit membungkuk, menangis tersedu-sedu. Beberapa orang di sekitarnya mencoba menenangkan, ada yang menepuk bahunya pelan, ada pula yang berbicara lembut, meski jelas belum berhasil meredakan kesedihannya.
“Sudahlah, Nek… mungkin masih bisa ditemukan…” hibur salah satu dari mereka.
Namun sang nenek hanya menggeleng lemah, air matanya terus mengalir.
Di saat itulah....
“Apakah ini milikmu?”
Suara tenang Gao Rui terdengar. Semua orang menoleh.
Gao Rui berdiri tidak jauh dari sana, mengangkat sedikit tas kecil di tangannya. Mata sang nenek membelalak. Tangisnya seketika terhenti, digantikan ekspresi tak percaya.
“Itu… itu…” suaranya bergetar.
Dengan langkah gemetar, ia berdiri dan mendekat. Tangannya yang keriput terulur perlahan, seolah takut bahwa apa yang dilihatnya hanyalah ilusi.
Ketika tangannya benar-benar menyentuh tas itu, air matanya kembali jatuh.
“Ini… ini milikku…” katanya lirih.
Gao Rui menyerahkan tas itu tanpa banyak kata.
Seketika, sang nenek memeluk tas tersebut erat-erat, seolah takut kehilangannya lagi. Ia lalu menatap Gao Rui, matanya penuh rasa syukur.
“Terima kasih… terima kasih banyak, Nak… terima kasih… terima kasih…” ucapnya berulang-ulang, suaranya bergetar.
Ia bahkan mencoba membungkuk, namun Gao Rui segera mengangkat tangannya sedikit.
“Tidak perlu seperti itu,” katanya cepat.
Namun sang nenek tetap terus mengucapkan terima kasih, berkali-kali tanpa henti.
Gao Rui yang biasanya santai kini terlihat sedikit canggung. Ia menggaruk pipinya pelan, jelas tidak terbiasa dengan situasi seperti ini.
“I-itu hanya kebetulan saja,” gumamnya, berusaha meremehkan.
Bai Kai yang berdiri di samping hanya tersenyum tipis, menikmati pemandangan itu.
Setelah beberapa saat, Gao Rui akhirnya mundur selangkah.
“Kalau begitu… kami pamit,” ujarnya singkat.
Sang nenek kembali mengangguk berkali-kali, masih memeluk tasnya erat.
“Terima kasih… hati-hati di jalan…”
Gao Rui hanya mengangguk kecil, lalu berbalik.
Bersama Bai Kai, ia kembali berjalan menuju toko pakaian, tempat mereka meninggalkan Lan Suya.
Tak lama kemudian, mereka pun tiba di depan toko pakaian. Gao Rui melangkah masuk dengan santai. Namun begitu ia melihat ke dalam, ia terdiam.
Lan Suya masih berdiri di antara deretan pakaian, dikelilingi oleh beberapa pelayan yang sibuk menunjukkan berbagai pilihan. Di tangannya sudah ada beberapa helai pakaian, sementara di sampingnya tergantung lebih banyak lagi.
“…Belum selesai?” gumam Gao Rui.
Bai Kai berdeham pelan.
“Sepertinya… belum, Tuan Muda.”
Gao Rui menoleh, menatapnya datar.
“…Katamu hanya satu jam, Senior?”
Bai Kai tersenyum canggung, mengusap tengkuknya.
“Itu… paling cepat, Tuan Muda…”
Ia lalu menambahkan dengan nada pelan.
“Kadang… bisa juga dua sampai tiga jam.”
Hening. Gao Rui menatapnya tanpa berkata apa pun.
Beberapa detik berlalu.
“…Oh,” jawabnya singkat.
Ia kemudian menghela napas panjang, wajahnya datar tanpa ekspresi. Tanpa berkata apa-apa lagi, Gao Rui berjalan ke salah satu kursi di sudut toko, lalu duduk dengan tenang. Tatapannya kosong ke depan. Menunggu dan menunggu.
Sementara di sisi lain, Lan Suya masih dengan penuh semangat memilih pakaian, seolah waktu bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan sama sekali.
...*******...
Waktu berlalu perlahan hingga entah sudah berapa lama Gao Rui duduk di sana dengan ekspresi datar, menatap kosong ke arah depan. Sesekali ia menghela napas panjang, lalu bersandar, lalu duduk tegak kembali. Bahkan ia sempat berdiri, berjalan sebentar, lalu kembali duduk.
Sementara itu, Bai Kai hanya berdiri di samping, sesekali melirik ke arah Gao Rui, lalu ke arah Lan Suya… dan memilih diam. Ia cukup berpengalaman untuk tidak mengatakan hal yang bisa memperburuk keadaan.
Di sisi lain Lan Suya masih sibuk.
“Yang ini… hmm… tidak, warnanya terlalu pucat.”
“Kalau yang ini?”
“Ah, yang itu terlalu mencolok.”
Para pelayan tetap tersenyum ramah, meskipun di dalam hati mereka mungkin sudah kelelahan. Tumpukan pakaian di samping Lan Suya semakin tinggi, menunjukkan betapa seriusnya ia dalam memilih.
Hingga akhirnya…
“Baik. Aku ambil semuanya.”
Kalimat itu terdengar ringan namun membuat para pelayan sedikit tertegun sebelum segera tersenyum lebar.
“Baik, Nyonya!”
Tak lama kemudian, semua pakaian itu dibungkus rapi. Termasuk pakaian yang tadi dipilih untuk Gao Rui dan dua pengawal mereka.
Setelah semua selesai dibayar, Lan Suya akhirnya berjalan keluar dari toko dengan langkah anggun, diikuti oleh Gao Rui dan dua pengawal di belakang mereka.
Begitu keluar, keramaian langsung menyambut mereka. Gao Rui menarik napas dalam-dalam, seolah baru saja keluar dari tempat yang sangat menekan.
Lan Suya yang berjalan di depan tiba-tiba melambat, lalu menoleh ke arah Gao Rui. Ekspresinya sedikit berubah, tidak lagi setenang sebelumnya.
“Rui’er,” katanya pelan.
Gao Rui menoleh.
“Ya, Bibi?”
Lan Suya menghela napas ringan.
“Maaf membuatmu menunggu lama.”
Nada suaranya terdengar tulus. Ini bukan sekadar formalitas. Ia lalu melanjutkan, sedikit mengerutkan kening.
“Kepala Toko Harta Langit di kota ini benar-benar membuatku kesal… aku perlu waktu untuk menenangkan diri.”
Gao Rui sedikit memiringkan kepalanya.
“Apa yang membuat Bibi kesal?”
Lan Suya mendengus pelan.
“Dua bulan lalu, aku sudah memberi instruksi kepadanya untuk mencari lokasi toko yang lebih luas dan lebih bagus,” katanya, suaranya mulai dingin. “Namun sampai sekarang… tidak ada satu pun yang dilakukan.”
Ia berhenti sejenak, matanya menyipit tipis.
“Tidak ada laporan. Tidak ada perkembangan. Seolah-olah perintahku tidak pernah ada.”
Gao Rui mengangguk-angguk pelan.
“Begitu…”
Wajahnya terlihat seperti benar-benar memahami meskipun sebenarnya ia hanya menangkap garis besarnya saja. Namun ia cukup tahu bahwa seseorang yang mengabaikan perintah Lan Suya… bukanlah hal kecil.
Ia lalu mengangkat kepalanya sedikit.
“Kalau begitu… sekarang kita ke mana?”
Lan Suya langsung menjawab tanpa ragu.
“Kita akan ke Penginapan Teratai Emas.”