Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.
Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: PENGEJARAN MALAM DAN RAJA GELAP
"LARI!!! JANGAN BERHENTI!!!" teriak Eyang Sastro.
Mereka bertiga berlari membabi buta meninggalkan area Punden Berdiri. Kaki-kaki mereka menapak cepat di atas akar pohon yang menjalar dan bebatuan tajam. Raga tidak peduli lagi jika kakinya tergores atau terluka. Yang ada di pikirannya hanya satu: lari, lari, dan lari sejauh mungkin dari tempat mengerikan itu.
Di belakang mereka, auman itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat dan lebih menggetarkan jiwa.
"AUUUUUUUUMMMMMM!!!!"
Suara itu bukan sekadar suara, tapi membawa energi yang menekan dada hingga sulit bernapas. Hutan yang tadi sunyi kini bergemuruh. Pohon-pohon besar seakan ikut bergerak, ranting-ranting memukul udara seakan mencoba menghalangi jalan mereka.
"Jangan lihat ke belakang, Raga! Fokus ke depan!" seru Mbah Joyo yang berlari di sampingnya. Napas lelaki tua itu sudah memburu parah, tapi adrenalin membuatnya terus melangkah.
Namun, kecepatan mereka sebagai manusia tidak ada apa-apanya dibandingkan kecepatan makhluk gaib.
Tiba-tiba...
WUSSS!!! WUSSS!!!
Bayangan-bayangan hitam melesat cepat di atas pepohonan, melompat dari satu dahan ke dahan lainnya, mengiringi lari mereka. Itu adalah para pengawal pribadi sang raja, makhluk-makhluk bertubuh tinggi besar, berbulu hitam lebat, dan memiliki mata merah menyala.
Mereka tidak langsung menyerang, seolah sedang bermain kucing dan tikus, membiarkan mangsanya kelelahan dulu sebelum akhirnya dicabik-cabik.
"Eyang! Mereka mengikuti kita!" teriak Raga sambil menengok sedikit ke atas.
"Abaikan! Mereka hanya pengawal! Yang kita takuti adalah tuannya!" jawab Eyang Sastro.
Belum sempat mereka melangkah lebih jauh lagi, tiba-tiba tanah di depan mereka meledak!
BRUUUUAAAKKK!!!
Tanah terbelah, batu-batu beterbangan, dan dari dalam tanah muncul sebuah tembok energi hitam pekat yang menghalangi jalan keluar! Mereka terpaksa berhenti mendadak hingga terseret beberapa langkah karena inersia.
Mereka berhenti, terengah-engah, berdiri mematung.
Jalan depan tertutup. Jalan kiri dan kanan mulai dipenuhi oleh sosok-sosok tinggi besar yang muncul entah dari mana. Mereka membentuk lingkaran mengepung ketiga manusia itu rapat-rapat.
Terjebak.
"Sudah... tidak ada jalan keluar, Eyang?" tanya Mbah Joyo lemas, wajahnya pucat pasi.
Eyang Sastro menghela napas panjang. Ia menyeka keringat di dahinya, lalu menegakkan tubuhnya kembali. Wajah ketakutannya perlahan berganti menjadi wajah penuh wibawa dan ketegaran.
"Kalau jalan lari sudah tertutup... maka satu-satunya jalan adalah menghadap," kata Eyang Sastro pelan namun tegas. "Kita tidak bisa melawannya dengan kekerasan sekarang. Kita terlalu lemah. Kita harus bicara sebagai sesama pemilik wilayah."
"Tapi dia kan mau bunuh kita, Eyang?" tanya Raga gemetar.
"Kalau dia mau membunuh, kita sudah mati sejak tadi. Dia membiarkan kita lari karena dia ingin melihat kita takut. Dia ingin dihormati sebagai raja," jawab Eyang Sastro. "Siapkan dirimu. Dia datang."
Seketika, seluruh pasukan pengawal yang mengelilingi mereka serentak berlutut. Kepala mereka tunduk sangat rendah, tidak berani mengangkat wajah sedikitpun. Suasana menjadi hening total. Hening yang mematikan.
Dari arah celah pohon yang paling gelap, terdengar suara langkah kaki.
DUG... DUG... DUG...
Setiap langkahnya membuat tanah bergetar pelan. Suaranya berat, mantap, dan penuh wibawa.
Perlahan, sosok itu muncul dari kegelapan.
Awalnya hanya terlihat siluet hitam yang sangat tinggi dan besar. Tingginya bisa mencapai lebih dari tiga meter, dengan bahu yang lebar dan tubuh yang kekar. Ia mengenakan baju perang kuno berwarna hitam pekat yang disulam dengan benang emas merah menyala. Di kepalanya terdapat mahkota atau ikat kepala yang unik, dan dari punggungnya terlihat sesuatu seperti sayap atau jubah yang terbuat dari asap hitam yang terus berputar.
Saat ia melangkah masuk ke area yang terkena cahaya remang-remang, wajahnya mulai terlihat.
Wajahnya sangat tampan, namun tampan yang menyeramkan. Kulitnya putih pucat, kumis dan jenggotnya tipis terawat rapi. Matanya... matanya tidak berwarna putih dan hitam, melainkan bola matanya berwarna merah darah menyala terang seperti dua bara api. Tatapannya tajam, dingin, dan tanpa ekspresi. Tidak ada amarah, tidak ada senyum, hanya kekosongan yang memancarkan otoritas mutlak.
Di tangannya, ia memegang sebuah tombak panjang yang terbuat dari tulang belulang dan besi hitam, ujung tombaknya tampak basah oleh cairan hitam pekat.
Itulah Kanjeng Raden Tumenggung, sang Naga Hitam, penguasa alam baka dan seluruh isinya.
Ia berhenti tepat di hadapan mereka. Tingginya yang luar biasa membuat Raga, Mbah Joyo, dan Eyang Sastro harus mendongak tinggi-tinggi hanya untuk menatap wajahnya.
Aroma yang keluar dari tubuhnya sangat kuat. Bau tanah basah, bau besi berkar, dan bau anyir darah bercampur menjadi satu, membuat napas Raga sesak dan ingin muntah.
Sang Raja menatap mereka bergantian. Tatapan matanya itu seolah mampu menembus sampai ke dalam jiwa, membaca semua pikiran dan rasa takut mereka.
Akhirnya, ia membuka suara.
Suaranya berat, dalam, dan bergema seperti datang dari dalam gua yang sangat dalam.
"Jadi... kalianlah manusia-manusia kecil yang berani mempermainkan wilayahku..."
Suaranya tidak keras, tapi setiap kata terasa seperti pukulan palu yang menghantam dada.
Eyang Sastro maju selangkah, lalu membungkuk hormat sesuai adat. Ia tidak berlutut, tapi sikapnya penuh penghormatan.
"Patuh, Kanjeng. Hamba Sastro, pengembara dari Gua Penggung. Ini cucu dan kakeknya yang sedang bermasalah dengan ikatan lama."
Sang Raja tidak menjawab segera. Ia mengalihkan pandangan merahnya ke arah Raga. Tatapan itu membuat Raga merasa tubuhnya membeku, tidak bisa bergerak sama sekali.
"Kau..." suaranya meluncur pelan. "Yang menolak istriku..."
Raga menelan ludah susah payah. "Saya... saya hanya ingin memutus ikatan yang tidak adil, Kanjeng. Saya manusia, saya ingin hidup normal."
Sang Raja tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata.
"Tidak adil? Ikatan dibuat oleh leluhurmu sendiri untuk menebus dosa dan menyelamatkan desamu. Dan kau... generasi penerusnya... berani bilang tidak adil?"
"Karena zaman sudah berubah, Kanjeng!" potong Eyang Sastro berani. "Hukum adat juga harus mengikuti perkembangan zaman. Jika dipaksakan, akan timbul bencana dan pertumpahan darah. Apakah Kanjeng menginginkan itu?"
Suasana menjadi tegang sekali. Para pengawal di sekitar mulai mendesis marah karena berani memotong pembicaraan rajanya.
Sang Raja menatap Eyang Sastro tajam.
"Kau berani mengajarku hukum, orang tua? Kau tahu siapa aku?"
"Hamba tahu. Kanjeng adalah pelindung gunung, penjaga keseimbangan. Karena itu hamba berani bicara. Kanjeng pasti mengerti bahwa paksaan tidak akan pernah mendatangkan berkah."
Sang Raja diam beberapa saat. Angin berhembus pelan mengibaskan jubah hitamnya.
"Aku tidak peduli soal cinta atau benci. Aku peduli pada HARGA DIRI. Istriku pulang dengan menangis dan terluka perasaannya. Dia dipermalukan di hadapan pasukannya sendiri oleh manusia biasa. Itu adalah luka di atas namaku juga."
Ia melangkah maju satu langkah. Aura mematikan itu semakin terasa berat.
"Ada dua pilihan untuk kalian..."
Suaranya bergema dingin.
"Pertama... serahkan anak muda ini padaku. Aku tidak akan mengambil nyawanya. Tapi dia akan ikut aku ke istana bawah tanah. Menjadi abdi abadi, membersihkan sepatuku dan melayani pasukanku selamanya. Itu sebagai ganti denda."
Darah Raga langsung bergetar mendengar itu. Menjadi budak selamanya?! Itu lebih buruk dari mati!
"Dan pilihan kedua... Kanjeng?" tanya Eyang Sastro tenang meski tangannya gemetar.
Sang Raja menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang sedikit runcing.
"Pilihan kedua... lawan aku. Tapi ingat... jika kalian kalah dalam duel ini... tidak hanya nyawa kalian tiga orang yang melayang. Seluruh desa di lembah sana... akan aku habisi. Aku akan bawa banjir dan angin topan sampai tidak ada satu pun rumah yang berdiri."
Mbah Joyo langsung menjerit ketakutan. "JANGAN KANJENG!!! Jangan libatkan warga desa!!! Mereka tidak bersalah!!!"
"Maka pilihlah dengan bijak..." Sang Raja mengangkat tombaknya tinggi-tinggi. Ujung tombak itu memancarkan cahaya merah gelap. "Berikan dia padaku... atau saksikan kehancuran total..."
Raga merasa dunia seakan runtuh di atas kepalanya. Jika ia menyerah, ia menderita selamanya. Jika ia tidak menyerah, ratusan orang tak bersalah akan mati karena ulahnya.
"Eyang..." Raga menatap Eyang Sastro dengan mata berkaca-kaca. "Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau jadi budak... tapi aku juga tidak mau warga mati..."
Eyang Sastro tidak menjawab segera. Ia menatap tajam ke mata merah sang Raja. Otaknya bekerja cepat mencari celah. Lawan? Mustahil. Menyerah? Tidak mau.
Tiba-tiba, sebuah ide gila muncul di kepala Eyang Sastro.
"Kanjeng Raden..." kata Eyang Sastro perlahan. "Sebelum Kanjeng mengambil keputusan... bolehkah hamba mengajukan satu usulan lagi? Sebuah tantangan... yang jika kami berhasil... Kanjeng harus melepaskan kami dan mengakui keputusan sidang adat tadi."
Sang Raja menurunkan tombaknya sedikit, tampak tertarik.
"Bicaralah. Tapi jika usulanmu membosankan... aku akan hancurkan kepalamu sekarang juga."
Eyang Sastro menarik napas dalam-dalam.
"Kanjeng bilang Kanjeng adalah penguasa terkuat. Maka tunjukkanlah kebesaran hati Kanjeng. Jangan menang dengan kekuatan atau jumlah pasukan. Ajaklah kami bertarung dalam sebuah Duel Mantra atau Ujian Kesaktian di tempat suci. Jika kami kalah... hamba janji, Raga akan ikut Kanjeng tanpa menolak. Tapi... jika Kanjeng yang kalah atau seri..."
Eyang Sastro berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan tegas.
"...Maka berarti takdir memang menginginkan kebebasan untuk Raga. Dan Kanjeng sebagai raja yang adil... pasti mau menerimanya kan?"
Suasana hening total.
Sang Raja menatap Eyang Sastro lekat-lekat. Mata merahnya menyala semakin terang. Para pengawal menahan napas. Raga dan Mbah Joyo berdoa dalam hati semoga cara nekat ini berhasil.
Akhirnya...
Sang Raja tertawa.
Awalnya pelan, lalu semakin keras dan menggema. Tawanya tidak terdengar gila, tapi terdengar bangga dan menantang.
"HAHHAHAHAHAAA!!! BERANI KAU YA, ORANG TUA!!! BERANI MENANTANG RAKSASA SEPERTIKU!!!"
Ia menghentakkan tombaknya ke tanah keras!
DUG!!!
"BAGUS!!! AKU SUKA YANG BERANI!!! JENUH JUGA AKU HIDUP SELAMA RIBUAN TAHUN TIDAK ADA YANG BERANI MENANTANG!!!"
Sang Raja melangkah mundur beberapa langkah, memberi jarak.
"AKU TERIMA TANTANGANMU!!! TAPI INGAT... INI BUKAN PERMAINAN ANAK-ANAK!!! JIKA KALIAN KALAH... AKU AKAN MEMBUAT KALIAN MENYESAL BAHWA KALIAN PERNAH DILAHIRKAN KE DUNIA INI!!!"
"Siap, Kanjeng!" jawab Eyang Sastro mantap.
"Kapan kita melakukannya?!" tanya Raga dengan sisa keberanian yang ada.
Sang Raja menunjuk ke arah langit di mana bulan mulai tersembunyi.
"BESOK MALAM... DI PUNCAK GUNUNG... DI HADAPAN MAKAM LELUHUR PENDIRI DESA!!! DI SANA KITA AKAN BUKA PERANG BANTENG DAN SAKTI!!! SIAPKAN DIRIMU... MANUSIA-MANUSIA KECIL... BESOK MALAM... KITA LIHAT SIAPA YANG BERHAK MENJADI RAJA!!!"
BRAAAAKK!!!
Seketika itu juga, seluruh pasukan dan sang raja menghilang bersamaan dengan ledakan asap hitam. Pohon-pohon kembali tenang. Hawa panas dan menekan itu perlahan hilang, digantikan oleh udara dingin malam yang biasa.
Mereka bertiga terduduk lemas di tanah. Napas mereka memburu, pakaian basah oleh keringat dingin.
"Ya Allah... selamat kita..." isak Mbah Joyo sambil memukul dadanya sendiri. "Gila ya Eyang... berani banget tantang makhluk selevel itu..."
Eyang Sastro tersenyum kecut sambil mengusap wajahnya. "Hanya itu cara satu-satunya, Kek. Kalau kita lawan pakai tenaga, kita sudah bubar jalan. Kita tawar menawar dengan harga dirinya."
Eyang Sastro menatap Raga serius.
"Besok malam... adalah ujian terberat kita, Nak. Kita tidak hanya melawan kekuatan gaib... kita berhadapan dengan Jenderal Perang sejati. Kalau sedikit saja salah langkah... nyawa kita dan seluruh desa melayang."
Raga mengangguk pelan. Ia memandang ke arah puncak gunung yang gelap dan tinggi di kejauhan.
"Siap, Eyang. Besok malam... kita tunjukkan bahwa manusia juga punya harga diri."