Riyanti Aryani adalah seorang gadis dari keluarga berada. Ia terpaksa jauh dari keluarganya lantaran ingin memenuhi cita-citanya. Sebelum tinggal di Surabaya, Riyanti atau lebih akrab dipanggil Riri itu sebelumnya kuliah di salah satu universitas di Malang. Setelah lulus, Riri diterima kerja di Surabaya. Ia ngekos di salah satu tempat kos yang cukup elit. Sebenarnya orang tuanya bisa saja membeliksnnya rumah di Surabaya, namun mereka khawatir Riri akan semakin betah di sana dan akan lupa pulang ke Lombok. Namun siapa sangka Riri bertemu dengan jodohnya di sana.
Sultan Ahmed Alfahrezi, anak sulung dari pasangan Windi dan Javier. Kegabutannya menjadi seorang driver ojek membuat dirinya akhirnya bertemu dengan jodohnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acara demi acara
Riri baru saja bangun tidur. Ia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan memakai pembalutnya. Setelah selesai mandi, Riri merapikan diri dan siap-siap untuk keluar dari kamarnya. Baru saja ia ingin membuka pintu, namun sudah ada yang mengetuk pintu. Ternyata mama yang datang.
"Ma... "
"Ri, mama mau bicara."
"Ah iya, Riri juga ada perlu sama mama."
Mama pun masuk ke dalam kamar.
Ternyata di luar ada Arga dan orang tuanya yang datang, papa sedang menemuinya. Mama melarang Riri untuk keluar.
"Maunya apa sih tuh orang?"
"Kalau kamu nggak nikah-nikah juga, dia pasti tetap ngejar kamu. Dia ke sini mau ketemu calonmu. Mama bilang calonmu baru lusa datangnya."
"Astaghfirullah... aku lupa untuk menghubungi bang Ahmed. Tunggu sebentar ma, aku mau telpon bang Ahmed dulu."
Mama mengangguk.
Saat mengecek handphone -nya, ternyata sudah ada chat dari Ahmed. Riri langsung menghubunginya. Ia meminta maaf karena tadi lupa untuk memberitahu bahwa dia sudah sampai. Ahmed pun memakluminya dan bersyukur karena Riri sudah sampai dengan selamat.
"Neng, ini ibuku mau bicara sama kamu. " Ujar Ahmed."
Riri mendadak salah tingkah.
Ahmed menyerahkan handphone-nya kepada ummi. Ia sudah tahu jika umminya sudah mengenal Riri. Tapi tidak dengan Riri yang belum tahu tentang istri bos besarnya itu.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Sejenak Riri berpikir seperti mengenal suara di seberang sana.
"Hallo kak Riri."
"Eh iya, bu."
"Nak Riri, maaf ya kalau ibu belum bisa bertemu nak Riri. Sampaikan salam kepada orang tuamu. Tapi tenang saja anakku ini sudah tidak mentok sama nak Riri. Jadi nak Riri jangan ragukan Ahmed. Kami orang tuanya juga merestui kalian kok."
"Iya, bu. Terima kasih sudah merestui kami."
"Ya sudah, nak. Kalian lanjutkan lagi."
Ummi memberikan handphone-nya kembali.
Riri pun ngobrol lagi dengan Ahmed sebentar lalu ia pamit karena harus bicara dengan sang mama.
"Ri, tadi ibunya Ahmed?"
"Iya, ma."
"Apa lusa Ahmed akan bawa orang tuanya?"
"Riri nggak tanya, ma."
"Ah tahu gitu tadi mama ngomong sama ibunya."
"Ma, siapa yang nyebarin kabar Kak Sukmawati bang Ahmed itu orang kaya, bos yang punya ojek online lah. Gimana kalau mereka tahu kenyataannya?"
"Papamu yang ngasih tahu orang-orang. Padahal sebenarnya dia tahu kalau Ahmed cuma sopir ojek. Tapi kata papamu biar nggak malu-maluin. Apa lagi kalau sampai Arga dan orangtuanya tahu."
"Astaghfirullah... gimana aku jelasinnya sama bang Ahmed nanti? Dia pasti tersinggung."
"Bilang saja ini demi kebaikan kalian. Yang penting papamu sudah merestui ya."
Riri menghela nafas seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Sementara itu, di ruang tamu papa Riri sedang menemui Arga dan ayah Arga. Arga dan Ayahnya penasaran dengan sosok calon Riri. Mereka sampai menanyakan namanya dan juga nama perusahaan ojek online yang katanya milik calon Riri. Papa pun menjawab seadanya sesuai rencananya sendiri. Dari tadi Arga menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Riri, namun tidak ada. Akhirnya ayah Arga mengajak anaknya pulang karena hari sudah sangat sore.
Keesokan harinya.
Pagi hari di rumah Riri diadakan acara siraman untuk Sisi sebelum menjadi pengantin. Prosesi acara pun berjalan dengan lancar. Acara dihadiri oleh sanak saudara dan tetangga dekat saja. Sebelum siraman tersebut, Sisi juga meminta do'a restu dan minta maaf kepada kedua orang tuanya dan kakaknya. Pada momen ini, Riri tidak dapat membendung air matanya saat Sisi meminta restu untuk melangkahinya. Di rumah calon mempelai pria pu juga melakukan prosesi yang sama.
Malam harinya, setelah shalat Maghrib mereka mengadakan acara pengajian sekaligus bridal shower setelah pengajian selesai. Acara pengajian diisi dengan membaca Al-Qur'an dan do'a bersama, sekaligus ada tausiah agama dari seorang pemuka agama. Acara pun berlangsung sakral dan lancar.
Dilanjut dengan acara henna art sekaligus bridal shower yang dihadiri beberapa sahabat Sisi dan sepupunya. Dalam hal ini, Riri tidak ikutan. Ia kembali ke kamatnya karena harus menghubungi Ahmed. Namun ternyata orang yang ia hubungi tidak aktif. Riri menjadi gelisah. Ahmed memang tidak bilang jika ia akan melakukan penerbangan malam ini, agar besok pagi ia bisa menghadiri acara pernikahan Sisi. Setahu Riri Ahmed akan ke Lombok besok. Riri pun mengirim chat kepadanya berharap nanti Ahmed akan membalasnya. Padahal Riri ingin sekali memberitahunya tentang isu yang tersebar di rumahnya mengenai Ahmed. Seharian tadi ia tidak bisa menghubungi Ahmed karena sibuk dengan acara demi acara.
"Duh gimana ini? Kemana sih kamu bang?" Gumamnya.
Di tempat lain, tepatnya, Di Bandara. Ahmed baru saja turun dari pesawat. Ia langsung dijemput oleh seseorang yang sengaja dia hubungi untuk menjemputnya dan membawanya ke salah satu hotel milik opa Tristan di Lombok Tengah.
"Selamat malam, tuan Sultan. Selamat datang di Lombok."
"Selamat malam, Pak Erik. Terima kasih sudah menjemput saya."
"Dengan senang hati, tuan muda."
Mereka langsung menuju ke hotel karena Sultan harus segera istirahat dan menyiapkan diri untuk besok.
Sesampainya di hotel, Sultan lupa menyalakan handphone Android nya. Jadi ia tidak bisa membaca chat dari Riri. Ia pun langsung membersihkan diri lalu tidur. Sebelumnya Sultan sudah shalat Isya' di pesawat.
Sedangkan Riri belum bisa tidur karena memikirkan Ahmed. Pikirannya sudah ke mana-mana. Ia juga sempat berpikiran buruk tentang Ahmed. Ia hanya bisa mondar-mandir di ruang tengah. Sementara sebagian orang sudah beristirahat dan pulang ke rumah.
"Ri, ngapain dari tadi mama lihat kamu kayak orang bingung?"
"Ma, bang Ahmed nggak bisa dihubungi."
"Mungkin lagi di jalan."
"Dari tadi, ma."
"Ya barang kali dia sudah berangkat ke sini naik pesawat."
"Masa' sih? Tapi dia nggak bilang kalau mau berangkat malam ini."
"Lupa paling. Sudah, jangan overthinking! Sekarang tidur gih! Besok pagi kan kita harus siap-siap."
"Iya, ma."
Akhirnya Riri kembali ke kamarnya. Ia menggantikan gajinya dengan piama. Setelah itu ia pergi cuci muka dan gosok gigi. Kemudian ia memarikan lampu kamar, naik ke atas tempat tidur dan menyalakan lampu tidur.
"Semoga dugaan mama benar." Batinnya.
Riri pun menarik selimut dan membaca do'a.
Keesokan harinya.
Sekitar jam 5 pagi MUA sudah datang untuk merias pengantin. Sedangkan Sisi baru saja selesai shalat Shubuh karena semalam ia tidur terlalu larut. Riri juga baru bangun karena ada telpon dari Ahmed. Ia sangat lega karena ternyata Ahmed sudah dalam perjalanan ke rumahnya. Riri segera beranjak ke kamar mandi.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
penasaran Arga feat Ahmed bertemu 😄😄😄