Usianya baru menginjak 20 tahun, dia masih kuliah semester empat. Kania Gabriela, gadis yang ceria dan manja itu bersahabat dengan Bella Anastasya yang memiliki seorang paman bernama Axel Niel Pradita Winata.
Laki-laki blesteran Jerman Jawa itu adalah seorang duda beranak satu. Kania mengenal Axel dari sahabatnya Bella yang juga blesteran Jerman Jawa dari mamanya.
Karena iseng sering mengobrol dengan Axel om dari sahabatnya, Kania justru mengajak laki-laki itu menikah.
"Om, nikah yuk?"
"Eh, bocah. Kuliah yang benar, jangan mikir nikah."
Begitulah ketengilan Kania pada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Pembelaan
"Om, aku boleh kan dekat sama om Axel?" tanya Kania.
"Kita sudah dekat Kania, mau dekat apa lagi?" Axel balik bertanya.
"Lebih dekat itu seperti PDKT, om. Bolehkan aku PDKT sama om?"
Axel kembali diam, dia menatap tanpa eksperimen pada Kania kemudian menghela napas panjang. Dia melakukan mobilnya pelan, tidak berniat menjawab pertanyaan Kania.
Selama perjalanan menuju rumah Kania, Axel lebih banyak diam bahkan melirik Kania pun tidak. Gadis itu merasa bersalah dengan keterusan terangan tujuannya.
Hngga akhirnya mobil Axel berhenti tepat di depan pintu pagar rumah Kania. Gadis itu menoleh pada Axel yang menampilkan wajah datar.
"Makasih ya om, maaf kalau ucapanku membuat om Axel jadi tidak suka," ucap Kania.
Axel hanya diam saja, Kania turun dari mobil Axel dan menatap laki-laki yang masih di dalam mobil.
"Maaf om."
Setelah itu Kania menutup pintu mobil, Axel Langung putar balik melajukan mobilnya pergi dari rumah Kania. Gadis itu menatap kepergian Axel, dia menghela napas panjang.
Kania masuk ke dalam rumahnya, satpam menunggunya masuk. Satpam bingung kenapa wajah anak bosnya itu tampak lesu.
"Non Kania kenapa ya? Biasanya kalau pulang kerja wajahnya ceria."
Masih memandang Kania sampai gadis itu masuk ke dalam rumah, di sambut ibunya
Sementara Kania sejak masuk ke rumah, mamanya mengikuti dan mengintrogasi kenapa selalu pulang malam.
"Kania, kenapa pulangnya malam terus sih? Bisa ngga minta sama bosnya pulang lebih cepat? Mama jadi khawatir lho, banyak kejadian di jalan anak gadis pulang malam-malam di begal apa lagi di perkosa sama orang jahat. Mama ngga mau itu terjadi sama kamu kani," ucap mamanya.
"Aku ngga kenapa-kenapa ma, mama jangan khawatir."
"Ngga khawatir gimana, kamu ngga bawa motor lalu pulang sama siapa?" tanya mamanya lagi.
Kania menarik napas panjang menatap mamanya, jika dia jujur pasti mamanya akan marah.
"Aku di antar pulang sama teman ma," jawab Kania berbohong.
"Teman? Teman siapa?"
"Ya teman kerja ma, kok teman siapa sih. Bella ngga masuk," ucap Kania.
"Laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki."
"Apa?! Ngga usah kerja lagi kalau gitu, mending kamu keluar."
Kania lagi-lagi menarik napas panjang, tapi setelah berpikir cepat Kania memberi penjelasan pada mamanya.
"Mama jangan gitu dong, teman satu kerjaan itu ngga masalah kan nganter pulang? Kok mama kolot banget sih, anaknya belajar mandiri jadi marah. Udah deh, aku capek ma. Mau istirahat."
Gadis itu langsung pergi tanpa mendengarkan teriakan mamanya, dia sedang pusing dan penasaran kenapa sikap dan wajah Axel berubah setelah dia menjelaskan tujuannya tadi.
_
Kania semakin penasaran dengan sikap Axel yang tiba-tiba berubah sejak malam itu, dia hendak mencari tahu kenapa Axel seperti itu. Namun sayang, hari ini pengunjung kafe cukup ramai jadi dia belum punya kesempatan untuk bertanya pada Axel.
"Bella, om Axel ada kan di ruangannya?" tanya Kania, hari ini Bella masuk.
"Kenapa? Lo bikin ulah ya?"
"Kagak ih, Lo tuh selalu aja curiga sama gue. Lagian ya, Lo itu harus setuju dengan tujuan gue."
"Tujuan apa?"
"Yaa, deketin om Axel lah."
"Ck, gue males sama Lo."
"Gue juga males sama Lo."
Keduanya saling tatap sinis, Sinta datang menatap keduanya dengan tajam.
"Hei, kalian jangan diam saja dong. Tuh lihat banyak pengunjung, lelet banget sih!" ucap Sinta.
"Mbak Sinta jangan bicara gitu dong. Aku sama Bella sejak tadi juga meladeni pengunjung, busanya marah-marah aja," ucap Kania yang sudah kesal sejak beberapa Minggu dia magang.
"Lo, berani sama gue?"
"Berani? Siapa Lo?" Kania menantang, dia benar-benar sudah kesal sekali sama Sinta.
Keduanya saling tatap tajam, Bella melihat ke arah Kania lalu pada Sinta. Dia tersenyum miring merasa senang Kania kini ada lawannya.
"Kania, cepat Lo tuh bantuin mbak Sinta tuh. Jangan malas-malasan." kata Bella.
"Nah kan, keponakannya bos Axel juga Lo tuh malas. Cepat sana bantuan yang lain, jangan cuma pengen dapat gaji aja lo." Sinta menyambungi.
Kania semakin kesal, dia menoleh pada Bella yang senang dengan dirinya di marahi oleh Sinta.
"Ck, awas aja Lo. Gue ngga bakal bantu Lo ngerjain tugas dari dosen."
Setelah bicara seperti itu, Kania pun pergi menuju dapur. Sinta merasa senang, dia melihat pada Bella dan mendekat padanya.
"Bagus Lo Bella, dia tuh kurang ajar sama senior di sini. Sudah tahu cuma magang tapi seenaknya saja kerjanya." kata Sinta.
"Mbak Sinta jangan suka suruh-suruh Kania seenaknya ya, dia juga kerja dengan baik kok. Meski dia magang, tapi kerjanya ngga sembarangan. Dia itu rajin kerjanya," kata Bella.
Sinta kaget dengan pembelaan Bella pada Kania, wajahnya berubah kesal lalu pergi meninggalkan Bella dengan perasaan kesal karena membela Kania.
"Cih, dasar sok bos. Kamu cuma keponakan, kerja juga sering bolos."
_
_
******