No plagiat 🚫
Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa
Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.
Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.
Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?
"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Abu di Lembah Sunyi
Langit Desa Songjia yang biasanya biru bersih kini tertutup jelaga hitam yang pekat. Suara gemericik air sungai yang menenangkan telah digantikan oleh raungan api yang melahap rumah-rumah kayu penduduk. Jerit tangis warga desa yang tak berdosa membelah udara, namun suara itu satu per satu senyap, digantikan oleh suara sabetan logam yang dingin dan tawa keji para prajurit bertopeng baja.
Di dalam gudang bawah tanah yang sempit dan pengap, Song Yuan meringkuk. Tubuhnya gemetar hebat, tangannya membekap mulutnya sendiri sampai buku-buku jarinya memutih. Air mata mengalir deras di pipinya, membasahi lencana kayu yang ia genggam erat di dada. Di atas kepalanya, ia bisa mendengar dentuman keras, suara kayu yang retak, dan benturan senjata yang tak henti-hentinya.
"Yan-ge, di belakangmu!" teriakan ibunya terdengar sayup, disusul oleh suara dentingan pedang yang memekakkan telinga.
"Jangan mendekat ke arah lubang ini, Lanyue! Jauhkan mereka dari sini!" raung Song Yan.
Song Yuan memberanikan diri mengintip dari celah kecil di lantai kayu. Apa yang ia lihat akan menghantuinya seumur hidup. Ayahnya, sang Jenderal Galak yang biasanya hanya memegang parang kayu, kini berdiri seperti Dewa Perang yang turun dari langit. Tubuh Song Yan sudah bersimbah darah—sebagian besar bukan darahnya sendiri—namun beberapa anak panah sudah menancap di bahu dan pahanya.
Song Yan mengamuk. Parang tuanya bergerak membentuk lingkaran kematian. Setiap kali parang itu menebas, satu nyawa prajurit Ibukota melayang. Ia berdiri tepat di atas tutup lubang persembunyian Yuan, menjadi tembok hidup yang tak tertembus. Meski dikepung oleh belasan orang, langkahnya tidak mundur satu inci pun.
"Serahkan lencananya, Song Yan! Kau sudah sekarat!" teriak si pemimpin luka bakar dari atas kudanya.
"Kau ingin lencana ini?" Song Yan terengah-engah, darah menetes dari ujung dagunya. Ia menyeringai liar, memperlihatkan taringnya seperti harimau yang terdesak. "Ambil dari mayatku!"
Tiba-tiba, seorang pemanah musuh yang bersembunyi di balik reruntuhan rumah melepaskan anak panah. Wusss! Anak panah itu meluncur bukan ke arah Song Yan, melainkan ke arah Bai Lanyue yang sedang bertarung melindungi pintu samping.
"IBU!" teriak Yuan dalam hati, namun suaranya tertahan di tenggorokan.
Song Yan melihat serangan itu. Tanpa pikir panjang, ia memutar tubuhnya dan menerjang ke arah istrinya.
Jleb!
Dua anak panah menembus punggung Song Yan. Ia tersungkur, namun tangannya masih sempat menangkap tubuh Lanyue. Mereka jatuh bersama di atas tanah yang becek oleh darah dan air mata.
"Yan-ge..." Lanyue terisak, mendekap wajah suaminya yang penuh luka.
"Lari... bawa Yuan... lari..." bisik Song Yan. Suaranya kini parau, tenaganya hampir habis.
Namun, para pengepung tidak memberi mereka waktu. Si pemimpin bertopeng melompat turun dari kudanya, berjalan mendekat dengan pedang besar yang diseret di atas tanah. Suara gesekan logam itu terdengar seperti lonceng kematian.
"Kisah cinta yang menyedihkan," ucap si pemimpin dingin. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
Melihat bahaya yang mengancam orang tuanya, Song Yuan tidak bisa lagi menahan diri. Ketakutannya mendadak menguap, digantikan oleh kemarahan yang membakar jiwa. Dengan sisa keberaniannya, ia mengambil busur kayu kecil pemberian ibunya dan memasang anak panah terakhirnya. Dari celah lantai, ia membidik tepat ke arah leher si pemimpin bertopeng.
Sret!
Yuan menarik tali busur itu dengan seluruh kekuatannya, persis seperti latihan menyiksa yang ia jalani di beberapa hari lalu.
WUSSS!
Anak panah itu meluncur tepat sasaran. Namun, si pemimpin memiliki refleks yang luar biasa. Ia memiringkan kepalanya sedikit, dan anak panah Yuan hanya berhasil menggores topeng bajunya hingga terlepas. Topeng itu jatuh, menampakkan wajah yang sangat dikenal oleh Song Yan—seorang mantan bawahannya sendiri.
"Siapa di bawah sana?!" bentak pria itu, menatap tajam ke arah lubang lantai kayu.
"Lari, Yuan-er! SEKARANG!" Song Yan menggunakan sisa tenaga terakhirnya untuk bangkit dan menerjang kaki pria itu, menahannya agar tidak mendekati lubang persembunyian.
Lanyue dengan cepat melemparkan sebuah kantong kulit ke dalam lubang lantai sebelum ia sendiri ditarik paksa oleh prajurit lain. "Cari Mo Chen di Hutan Hitam! Jangan pernah menoleh ke belakang, Yuan-er! Ibu menyayangimu!"
Itu adalah kata-kata terakhir yang didengar Yuan sebelum ayahnya melakukan tindakan gila. Song Yan menarik sebuah botol minyak tanah dari pinggangnya dan menghantamkannya ke obor yang terjatuh di dekatnya.
BOOM!
Ledakan api besar menutupi seluruh halaman rumah. Hawa panas menyambar wajah Yuan. Dalam kekacauan asap dan api itu, Yuan terpaksa merangkak masuk ke dalam terowongan sempit di bawah gudang, sesuai instruksi ayahnya. Sambil menangis sejadi-jadinya, ia merangkak di kegelapan, mendengar suara runtuhan rumah kayu yang paling ia cintai di atas sana.
Saat ia akhirnya berhasil keluar dari ujung terowongan di pinggir hutan, Yuan menoleh ke belakang. Desa Songjia sudah tidak ada lagi. Yang tersisa hanyalah lautan api yang menyala di kegelapan malam. 130 nyawa, ayahnya yang galak, dan ibunya yang lembut... semuanya lenyap dalam satu malam berdarah.
Song Yuan berdiri sendirian di tengah hutan monster yang gelap. Di tangannya ada kantong kulit berisi lencana yang dibayar dengan nyawa kedua orang tuanya.
"Setiap embusan napas musuhku... adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas," bisik Yuan dengan suara yang bukan lagi milik anak kecil sepuluh tahun. Matanya yang dulu ceria kini sedingin es, menatap api yang melahap masa kecilnya.
Malam itu, Song Yuan yang nakal telah mati bersama Desa Songjia. Dan dari abunya, seorang pemburu haus darah mulai lahir.
Yuan jatuh berlutut di atas tanah hutan yang lembap, hanya beberapa ratus meter dari batas desa yang kini telah rata dengan tanah. Paru-parunya terasa terbakar oleh asap, dan tenggorokannya perih karena teriakan yang tak sanggup keluar. Ia menatap telapak tangannya; ada bekas luka bakar kecil akibat hawa panas ledakan tadi, namun rasa sakit itu sama sekali tidak terasa dibanding lubang besar yang menganga di hatinya.
Desa Songjia bukan lagi tempat yang indah dengan aroma ubi bakar. Sekarang, desa itu hanyalah lembah sunyi yang dipenuhi sisa abu dan bau maut.
"Ayah... Ibu..." Yuan membisikkan nama itu ke arah angin malam, berharap ada jawaban, namun yang terdengar hanyalah suara dahan pohon yang berderit dan tawa para prajurit di kejauhan yang merayakan pembantaian tersebut.
Ia membuka kantong kulit pemberian ibunya dengan tangan gemetar. Di dalamnya, selain lencana perak yang dingin, ada sapu tangan sutra wangi melati milik Lanyue. Yuan mendekapkan kain itu ke hidungnya, mencoba mencari sisa aroma kehidupan terakhirnya. Namun, wangi melati itu kini bercampur dengan bau asap yang pekat.
Kepolosan Yuan telah terbakar habis bersama rumah kayunya. Ingatannya tentang latihan kuda-kuda yang menyebalkan kini berubah menjadi kenangan paling berharga. Ia baru sadar, setiap bentakan ayahnya adalah cara Song Yan mencintainya, cara agar ia bisa tetap berdiri tegak saat seluruh dunia ingin melihatnya jatuh.
"Kalian salah..." Yuan berdiri perlahan. Kakinya yang dulu sering gemetar saat menahan beban baskom air, kini berdiri kokoh seperti akar pohon jati tua. "Kalian pikir kalian telah menghabisi garis keturunan Song Yan. Tapi kalian hanya memindahkan api itu ke dalam nadiku."
Yuan menyimpan kantong kulit itu di balik bajunya, tepat di atas jantungnya. Ia mengambil busur kayu ringan ibunya yang masih tersampir di punggung—satu-satunya senjata yang ia miliki. Ia menoleh ke arah kegelapan Hutan Hitam, tempat di mana Mo Chen berada. Ia tidak tahu siapa itu Mo Chen, namun ia tahu satu hal: ia harus bertahan hidup agar bisa menjadi mimpi buruk bagi orang-orang bertopeng baja itu.
Di bawah langit yang masih merah karena bara api, Song Yuan melangkah masuk ke dalam kegelapan hutan tanpa menoleh lagi. Setiap langkahnya meninggalkan jejak di atas abu yang berterbangan, sebuah janji bisu bahwa suatu hari nanti, ia akan kembali ke lembah ini bukan untuk menangis, melainkan untuk menuntut balas dengan ribuan anak panah yang akan menutupi langit kekaisaran.
Lembah itu kembali sunyi, meninggalkan sisa abu yang perlahan tertutup embun pagi yang dingin. Masa kecil Song Yuan berakhir di sini, di atas puing-puing Desa Songjia yang kini menjadi makam bagi cintanya.
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏