"Menjadi anak pertama berarti harus siap menjadi benteng, harus siap mengalah, dan harus terlihat kuat meski hati rapuh.
Di mata semua orang, Zhira adalah anak yang beruntung. Tapi siapa sangka, di balik senyumnya yang tulus, tersimpan luka mendalam karena perlakuan dingin sang Ibu dan rasa tidak dianggap di rumah sendiri.
Ini adalah kisah perjuangan seorang anak sulung untuk membuktikan dirinya berharga, meski harus berjalan sendirian meniti jalan yang penuh duri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Yang Tak pernah Untuk ku
POV Zhira
Apa benar… Ibu menyayangiku?
Kalau iya… kenapa rasanya seperti ini?
Kenapa kasih sayangnya selalu terasa berbeda… seolah aku bukan anak yang sama?
Apa karena aku anak pertama… jadi aku harus kuat?
Kalau memang begitu…
Kenapa cara ini justru menghancurkanku, Bu?
Aku ini rapuh…
Tapi Ibu tidak pernah mau melihat itu.
Aku hanya ingin jadi anak biasa.
Anak yang bisa pulang, lalu bercerita.
Anak yang dipeluk ketika lelah.
Anak yang ditanya, “Kamu capek nggak hari ini?”
Tapi di rumah ini…
Aku belajar untuk diam.
Karena setiap kata yang keluar dari mulutku…
Selalu berujung salah.
Kadang aku bertanya dalam hati—
Apa aku ini benar-benar anak Ibu?
Atau… hanya seseorang yang kebetulan tinggal di rumah ini?
Karena rasanya…
Aku tidak pernah benar-benar dimiliki.
Aku ingat jelas…
Saat Rara menjatuhkan gelas, Ibu hanya tersenyum.
“Lain kali hati-hati ya, Nak…”
Lembut. Hangat.
Tapi saat aku melakukan kesalahan kecil…
Yang datang hanyalah bentakan.
Tatapan kecewa.
Dan kata-kata yang terus terngiang sampai sekarang—
“Anak pembawa sial…”
Kalimat itu…
Tidak pernah benar-benar pergi.
Apa bedanya aku dengan mereka, Bu?
Kami sama-sama anakmu…
Tapi kenapa rasanya aku selalu harus mengalah?
Selalu harus kuat.
Selalu harus diam.
Padahal…
Aku juga ingin dimengerti.
Malam semakin larut.
Aku memeluk lututku di atas kasur tipis.
Dingin.
Sepi.
Meski rumah ini ramai…
Aku tetap merasa sendiri.
Dari ruang tengah, terdengar tawa Rara dan Bimo.
Disusul suara Ibu…
Lembut.
Penuh kasih.
Suara yang… tidak pernah kuterima.
Aku menutup telinga.
Tapi tetap saja terdengar.
Seperti sesuatu yang sengaja diulang…
Untuk mengingatkanku—
Bahwa aku bukan bagian dari kehangatan itu.
“Aku anak pertama… jadi harus kuat…”
Bisikku pelan.
Seolah itu bisa membuat semuanya masuk akal.
Seolah itu bisa mengurangi rasa sakit ini.
Tapi tidak.
Semakin aku mencoba mengerti…
Semakin hatiku terasa hancur.
Aku hanya ingin sekali saja…
Sekali saja, Bu…
Ibu memelukku.
Seperti saat Ibu memeluk mereka.
Aku ingin merasakan tangan itu mengusap kepalaku.
Mendengar satu kalimat saja—
“Ibu bangga sama kamu.”
Itu saja…
Aku tidak minta lebih.
Tapi mungkin…
Harapan itu terlalu besar untukku.
Tiba-tiba…
Pintu kamarku terbuka sedikit.
Cahaya dari luar masuk, memecah gelap.
Aku langsung memejamkan mata.
Berpura-pura tidur.
Aku takut…
Kalau Ibu tahu aku menangis, aku akan dimarahi lagi.
Langkah kaki itu mendekat.
Pelan.
Jantungku berdegup kencang.
Aku menahan napas.
Tak berani bergerak.
Lalu…
Selimutku ditarik naik.
Menutupi bahuku.
Gerakannya…
Lembut.
Sangat lembut.
Aku terdiam.
Air mataku jatuh lagi.
Diam-diam.
Tanpa suara.
Untuk pertama kalinya…
Aku merasakan sesuatu yang berbeda.
Bukan bentakan.
Bukan amarah.
Tapi…
Perhatian kecil yang nyaris tak terlihat.
Apakah ini… benar Ibu?
Atau aku hanya sedang berharap terlalu jauh?
Langkah itu menjauh.
Pintu kembali tertutup.
Dan lagi…
Aku sendirian.
Aku membuka mata perlahan.
Menatap langit-langit kamar.
Dengan hati yang penuh tanya.
“Bu…”
Suaraku hampir tak terdengar.
“Kalau memang ada sedikit saja tempat untukku di hatimu…”
“Kenapa aku harus merasa seasing ini… di rumah sendiri?”
Hening.
Tidak ada jawaban.
Seperti biasa.
Tapi malam itu…
Untuk pertama kalinya…
Aku mulai bertanya—
Apakah aku harus terus bertahan di tempat yang tidak pernah menginginkanku?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bantu suport aku ya man temennnn 💕💞