NovelToon NovelToon
HOT Duda Itu Majikan Hatiku

HOT Duda Itu Majikan Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Duda
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

WARNING ⚠️
(untuk umur 17 keatas)

...
Arkeas InjitAsmo hidup dalam keteraturan yang mewah. Baginya, hidup adalah tentang estetika dan wangi yang presisi. Namun, dunianya runtuh saat istrinya pergi dan ia harus mengurus Alisya sendirian di tengah kesibukan peluncuran parfum terbaru. Sepuluh pengasuh profesional sudah ia pecat dalam sebulan karena "bau badan mereka tidak estetik."

Masuklah Zollana, melamar pekerjaan. Karena sebuah insiden di mana Zollana tidak sengaja memecahkan Vas bunga kristal itu hingga hancur berkeping-keping, Arkeas justru menyadari satu hal: Alisya anaknya berhenti menangis saat berada di dekat Zollana.

Arkeas terpaksa mempekerjakan Zollana sebagai nanny sekaligus asisten rumah tangga dengan kontrak "Dilarang Ceroboh". Namun, nyatanya? Zollana justru membawa kekacauan yang berwarna di rumah minimalis Arkeas yang dingin.

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11 Panic Buying atau Panic Loving? Efek Samping Cemburu Buta

...

Pagi ini, suhu di penthouse Arkeas terasa lebih dingin dari biasanya, tapi bukan karena AC-nya rusak. Melainkan karena sosok Arkeas InjitAsmo sedang melakukan aksi "Gengsi Melangit".

Setelah kejadian mencium sudut bibir Zolla di lab kemarin, Arkeas bangun dengan perasaan seperti baru saja menelan satu botol konsentrat parfum murni: sesak, pusing, tapi aromanya candu banget.

"Zol," panggil Arkeas saat ia melihat Zolla sedang asyik bermain Cilukba dengan Alisya di sofa.

Zolla menoleh, wajahnya fresh banget walau cuma pakai daster rumahan motif bunga-bunga kecil. "Ya, Tuan CEO yang Paling Dingin Sedunia? Ada instruksi baru? Atau mau saya hapus lagi memori 'kejadian kemarin'?"

Arkeas berdehem kencang, mencoba menutupi telinganya yang mendadak panas. "Lupakan soal kemarin. Itu... itu cuma tes reaksi kimia. Saya mau pastikan indra peraba kamu masih berfungsi normal."

Zolla tertawa renyah, tawa yang bikin Arkeas makin glitch. "Halah, alasan! Bilang aja Tuan emang ketagihan sama 'macan' kayak saya."

"Diam kamu. Sekarang ikut saya. Kita ke mall," perintah Arkeas ketus.

"Loh? Ngapain, Tuan? Mau beli vas bunga lagi buat saya pecahin?"

"Kita beli baju. Saya nggak mau asisten saya penampilannya kayak habis kena scam toko barang bekas terus. Kalau ada tamu kayak Celine lagi, saya nggak mau reputasi saya jatuh karena asisten saya pakai skincare gambar macan harga lima ribuan," alasan Arkeas, padahal sebenarnya dia cuma pengen memanjakan Zolla tanpa harus bilang "saya sayang kamu".

...

Sesampainya di mall mewah Jakarta Pusat, Arkeas menarik tangan Zolla langsung menuju butik-butik yang harganya bikin Zolla pengen pingsan di tempat.

"Tuan, ini satu baju harganya bisa buat bayar kosan saya setahun plus makan enak tiap hari!" bisik Zolla panik saat melihat label harga sebuah dress satin warna champagne.

"Pilih saja. Jangan banyak protes. Ini bagian dari investasi branding perusahaan," ucap Arkeas sambil duduk di kursi tunggu dengan gaya yang sangat bossy.

Zolla mencoba beberapa pakaian. Saat ia keluar dari ruang ganti memakai mini dress warna hitam yang menunjukkan lekuk tubuhnya yang mungil tapi padat, mata Arkeas hampir saja keluar dari tempatnya.

"Gimana, Tuan? Bagus nggak?" tanya Zolla sambil berputar kecil.

Arkeas menatap kaki jenjang Zolla, lalu naik ke pinggangnya yang ramping, dan berakhir di bahunya yang putih bersih. Tiba-tiba, Arkeas berdiri dan menyambar blazer besar yang ada di rak terdekat, lalu menyampirkannya ke bahu Zolla dengan kasar.

"Terlalu terbuka. Ganti. Saya nggak suka," ucap Arkeas dengan nada rendah.

"Loh? Tadi katanya mau yang estetik?"

"Estetik bukan berarti murah dilihat orang lain, Zolla. Baju ini cuma boleh kamu pakai di rumah. Di depan saya saja," bisik Arkeas tepat di telinga Zolla, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.

Zolla tersenyum miring. "Cieee... ada yang posesif nih. Takut ya kalau cowok lain ngelihat saya?"

"Jangan halu. Saya cuma malas kalau nanti asisten saya diculik orang, nanti siapa yang mau bikin seblak buat saya?" Arkeas memalingkan wajah, pura-pura sibuk melihat koleksi tas.

...

Setelah lelah berbelanja (yang berakhir dengan Arkeas membelikan Zolla hampir sepuluh pasang baju yang semuanya "tertutup"), mereka makan siang di restoran privat. Alisya sudah tertidur lelap di stroller-nya.

"Tuan... kenapa Tuan baik banget sama saya?" tanya Zolla tiba-tiba, menatap Arkeas yang sedang memotong steak-nya dengan presisi.

Arkeas berhenti bergerak. Ia menatap Zolla cukup lama. "Kamu tahu kenapa saya menciptakan parfum 'Midnight Desire'?"

Zolla menggeleng.

"Karena saya dulu kesepian. Saya butuh aroma yang bisa menemani saya saat saya merasa dunia ini terlalu bising. Tapi setelah ada kamu di rumah..." Arkeas menggantung kalimatnya. Ia meraih tangan Zolla di atas meja, mengusap punggung tangannya dengan lembut. "Rumah itu baunya bukan lagi cuma parfum saya. Tapi bau kamu. Dan anehnya, saya mulai terbiasa sama bau stroberi murah itu."

Zolla tertegun. Ini adalah momen paling jujur dari seorang Arkeas. "Tuan... itu kalimat paling baper yang pernah saya denger seumur hidup."

"Jangan senang dulu. Itu bukan berarti saya cinta sama kamu," ucap Arkeas cepat, kembali ke mode sok dinginnya.

"Masa? Tapi kok tangannya nggak dilepas-lepas?" goda Zolla sambil mengeratkan genggamannya.

Arkeas tidak melepasnya. Malah, ia membawa tangan Zolla ke bibirnya dan mencium ujung jari Zolla satu per satu. "Anggap saja ini... adaptasi tingkat lanjut. Saya sedang mempelajari bagaimana rasanya punya 'gangguan' yang manis di hidup saya."

...

Ketegangan romantis itu pecah saat pencuci mulut datang. Sebuah Lava Cake cokelat yang lumer banget.

"Tuan, bagi dong! Saya mau yang bagian tengahnya!" Zolla mencoba mengambil bagian tengah dengan sendoknya.

"Enggak bisa. Ini punya saya. Kamu kan sudah pesen Panna Cotta," Arkeas menjauhkan piringnya seperti anak kecil yang nggak mau berbagi mainan.

"Ihh pelit banget! Satu suap aja, Tuan Arkeas yang Paling Ganteng Sedunia!" Zolla merajuk dengan wajah puppy eyes andalannya.

Arkeas menatap wajah Zolla, lalu menghela napas pasrah. Ia menyendok bagian tengah cokelat itu dan menyuapkannya ke mulut Zolla. "Buka mulut kamu."

Zolla menerima suapan itu dengan senang hati. "Enak banget! Makasih, Mas Arkeas!"

Arkeas mematung. "Apa kamu bilang tadi? Mas?"

"Eh... maaf, keceplosan. Tuan maksudnya," Zolla nyengir kikuk.

"Panggil lagi," perintah Arkeas dengan tatapan intens.

"Hah? Panggil apa?"

"Panggil 'Mas'. Saya rasa itu lebih baik daripada 'Tuan' yang bikin saya berasa kayak kakek-kakek pemilik perkebunan teh," ucap Arkeas, dan untuk pertama kalinya, Zolla melihat semburat merah yang sangat jelas di pipi CEO sombong itu.

Zolla tersenyum sangat lebar. "Oke, Mas Arkeas. Mas Duda Paling Gengsi."

...

(Bersambung ke Episode 12...)

1
falea sezi
alahh alah mas duda bucenn/Curse//Curse/
falea sezi
lanjooot
kikyoooo: wokey
total 1 replies
Indri
Terlalu berani karakter zolla
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!