Putus cinta membuat seorang gadis bernama Emeery menerima perjodohannya dengan seorang duda beranak dua. Namun, sikapnya yang tengil membuat sang duda pusing tujuh keliling, akankah Emeery mampu menaklukkan dinding es suaminya, yang bahkan belum move on dari sang mantan?
Kalau ada, sembilan duda ~
Mau duitnya saja, semuanya ~
Ini dada, isinya duit semua ~
Penasaran dengan kisah mereka? Ikuti ceritanya di sini🤗
Jangan lupa follow
Ig @nitamelia05
fb @Nita Amelia
TT @twins✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Senyum Mengejek
"Bohong, Pak, saya dijebak!" seru Sisil dengan cepat, tak ingin membiarkan Emeery menang begitu saja.
Masih dengan memegangi pipinya Emeery membalas. "Bohong? Semua orang di sini saksinya. Zoe!"
"Saya punya videonya, Pak, dari awal Sisil nyerang Emeery duluan dan nggak kasih ampun," sambar Zoe sambil mengangkat handphonenya tinggi-tinggi. Benda yang dia gunakan untuk merekam aksi Sisil beberapa saat lalu.
Kemudian Talita juga merebut kertas dari tangan Nino, memperlihatkan hasil tangan Sisil yang menjatuhkan harga diri sahabatnya.
"Betul, Pak, ini buktinya kalau memang Sisil yang cari gara-gara. Dia sengaja membully Emeery, entah apa tujuannya. Kasian sahabat saya, dia nggak salah!"
Mendengar itu semua Sisil pun membelalakkan mata lengkap dengan mulut menganga, tak disangka para sahabat Emeery begitu kompak membela. Dia melirik Anjas, pemuda itu hanya bergeming di tempat, tak ada secuil pun berusaha membelanya.
Begitulah Anjas, dia tidak lebih dari seorang pengecut yang selalu melimpahkan kesalahan kepada orang lain.
"Ini benar-benar menyakitkan, Pak, saya trauma," cetus Emeery dengan tampang sedih.
"Kalau begitu kalian ikut ke ruangan saya, kita bahas semuanya di sana," balas Pak Dosen menengahi. "Zoe, kamu temani Emeery sambil bawa bukti-buktinya." lanjutnya, Zoe langsung patuh dan memapah Emeery.
"Tapi, Pak—"
Suara Sisil menghentikan langkah Pak Dosen, tapi pria paruh baya itu sama sekali tak menoleh.
"Tidak ada tapi, kalau kamu tidak menurut, terpaksa saya langsung ambil keputusan untuk men-DO kamu!" tegas pak Dosen yang tak ingin mendengar alasan dari Sisil.
Mata Sisil masih menyisakan amarah yang membara, dia melirik Emeery, dan yang dia dapat adalah sunggingan senyum mengejek, penuh kemenangan.
"Kurang ajar, dia pasti sengaja!" umpat Sisil sambil meninju udara.
Semua orang yang semula berkumpul pun langsung membubarkan diri. Anjas mendekat dan meraih pergelangan tangan Sisil, tapi gadis itu langsung menepisnya dengan kasar.
"Nggak usah sentuh aku, aku ngelakuin ini semua demi kamu, tapi apa? Kamu cuma bisa diem tanpa bela aku sedikit pun. Aku nyesel! Dan liat aja, aku nggak mau nyelesain ini sendirian," ketus Sisil dengan matanya yang menyalak, kemudian dia segera melenggang pergi tanpa memedulikan Anjas.
***
"Kenapa kamu bisa nyerang Emeery tiba-tiba? Sebenarnya apa motif kamu?" tanya Pak Dosen dengan suara yang tegas.
Sisil mendesahkan napas, rasanya tak nyaman sekali duduk berdampingan dengan Emeery.
"Dia godain Anjas, pacar saya, Pak," jawab Sisil sesuai yang ada di otaknya.
"Hah? Nggak salah? Bukannya kamu yang selingkuh sama Anjas, pas Anjas masih jadi pacarku? Lagian aku sama sekali nggak godain dia, Sisil," timpal Emeery dengan nada yang dibuat-buat.
"Ck, tapi sekarang dia pacarku!" sentak Sisil.
"Diam! Jadi kalian ribut hanya gara-gara laki-laki?"
Emeery langsung menggelengkan kepala. "Nggak, Pak, saya udah punya suami, nggak mungkin saya godain pacar dia yang nggak modal apa-apa. Semua itu hanya alasan supaya dia nggak dihukum!"
"Munafik!" cibir Sisil.
"Sisil, jaga ucapanmu!" tegur Pak Dosen.
"Terserah kamu mau ngomong apa. Yang jelas aku punya semua buktinya. Kalo kampus nggak bisa tegas, aku bawa semua ini ke jalur hukum secara pribadi," sambar Emeery dengan tegas, supaya Sisil tidak terus-menerus merasa congkak.
"Betul, lebih baik seperti itu," timpal Zoe yang setia berdiri di samping Emeery.
"Tunggu dulu, Emeery. Bapak pastikan kamu mendapatkan keadilan. Jadi jangan terburu-buru membawa masalah ini keluar ya. Besok Bapak akan memberikan surat panggilan kepada orang tua Sisil dan juga orang tuamu," papar Pak Dosen berusaha menengahi sebelum mengambil keputusan.
"Nggak perlu bawa-bawa orang tua saya, Pak, saya bakal hadapi masalah ini sendiri, orang tua dia aja tuh. Supaya ajarin anaknya berperilaku yang bener!" balas Emeery.
"Baik kalau begitu."
Sisil melirik tajam. "Pak, ini nggak adil."
"Terus kamu maunya bagaimana? Mau mengurus semuanya di kantor polisi?" tanya Pak Dosen.
Sisil langsung menelan ludahnya dengan susah payah. Karena hatinya sendiri mengaku bersalah, kalau Emeery benar-benar melaporkannya, maka kemungkinan besar masa mudanya dihabiskan di penjara. Tidak, dia tidak mau semua itu terjadi.
Anjas tuh pengecut dan mokondo
Skrg aja dia gak punya tempat tinggal
Udah tinggalin Anjas 😄
Kutunggu updatenya lagi kak 😊