Joko Tenang didedikasikan oleh ayahnya sebagai pendekar pembela kebenaran di dunia persilatan. Menjadi murid tokoh sakti aliran putih Ki Ageng Kunsa Pari membuatnya memiliki kesaktian pilih tanding.
Namun, penyakit keturunan dari kakeknya menjadi kelemahan terbesarnya sebagai seorang pendekar. Ia akan mengalami kelemahan hingga pingsan jika didekati oleh wanita kurang dari tiga langkah, terlebih jika sampai bersentuhan kulit.
Joko Tenang yang masih remaja turut ambil bagian dalam misi penumpasan gerombolan perampok yang suka menyerang desa, merampok harta, dan menculik gadis-gadis perawan desa. Namun, kelompok perampok itu sangat sulit ditemukan dan ditumpas.
Mampukah Joko Tenang menjalani misi pertamanya dalam dunia persilatan? Temukan jawabannya di novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Wanita Bermata Hitam
*Gadis Bermata Hijau*
Kerling Sukma menatap tidak berkedip sosok berjubah kuning yang membelakanginya. Entah siapa sosok berambut pendek itu. Sementara harimau yang sempat mengancam sudah pergi setelah dihajar oleh orang itu.
Perlahan Kerling bangkit berdiri. Di belakang kakinya, masih tergeletak tubuh Joko Tenang yang tidak sadarkan diri.
“Si... siapa kau?” tanya Kerling agak gugup, jantungnya berdebar. Ia takut jika sosok lelaki di depannya itu adalah orang jahat.
“Hebat,” ucap sosok itu tanpa berbalik.
“Hah!” pekik Kerling Sukma terkejut. Suara lelaki itu sangat jelas terdengar seperti suara wanita.
“Kalian hebat, jatuh dari atas, tetapi masih bisa utuh,” kata sosok berjubah kuning lagi, suaranya suara wanita. Masih membelakangi.
“A... aku tidak tahu,” kata Kerling.
Tes!
“Hekh!” keluh Kerling Sukma, seiring sesuatu tidak tampak menghantam satu titik di tubuhnya.
Bluk!
Kerling Sukma jatuh begitu saja tidak sadarkan diri, jatuh tepat menindih melintangi tubuh Joko. Kedua muda mudi itu bertumpuk.
Sosok seperti lelaki bersuara perempuan itu tadi menjentikkan jarinya ke belakang, mengirimkan satu tenaga menyerang Kerling Sukma hingga tidak sadarkan diri.
Sosok berjubah kuning lalu berbalik, maka tampaklah bahwa sosok berambut pendek itu adalah seorang wanita cantik. Bentuk hidung dan bibirnya seolah sempurna. Jika fokus memandang hidung dan bibirnya, mata tidak akan jemu, justru akan mengundang hasrat untuk memilikinya. Namun, wanita itu memiliki sepasang mata yang semuanya berwarna hitam. Cahaya bola matanya pun terlihat kusam, tidak seperti sebuah bola mata yang bercahaya pada umumnya. Sepasang alisnya membentang rapi, tidak tipis dan juga tidak begitu tebal.
Bukan hanya wajah cantik yang menunjukkan sosok itu adalah seorang wanita, tetapi bentuk dada dan pinggangnya yang berbaju putih menegaskan dia adalah wanita. Jika dilihat dari kematangan parasnya, wanita bertubuh cukup besar itu ditaksir usianya sekitar 30 tahun.
Wanita itu melangkah menghampiri tubuh Joko Tenang dan Kerling Sukma. Tangan kirinya mercengkeram sabuk baju Kerling Sukma dan dengan enteng ia mengangkat tubuh si gadis. Tubuh Sukma ia lempar ke bahu kirinya. Setelah merapikan letak tubuh Sukma dibahunya, tangan kanannya lalu merengkuh sabuk pinggang Joko Tenang dan dengan mudah meletakkannya di bahu kanan.
Selanjutnya, sosok wanita bermata hitam itu menolakkan kakinya sehingga tubuhnya berkelebat seperti burung melayang di antara pepohonan besar.
Setelah cukup jauh berkelebat, wanita bermata hitam berhenti di dekat sebuah pokok pohon besar yang tidak memiliki batang. Tingginya hanya sepinggang.
Dak! Seeet!
Pokok pohon sebesar dua pelukan itu ditendang begitu saja. Yang terjadi adalah pokok pohon itu bergerak stabil bersama akar-akar besarnya ke samping lalu berhenti. Pergerakan itu membuat sebuah lubang besar terbuka di bekas posisi pokok pohon. Ada tangga kayu di dalamnya.
Dengan langkah yang tenang, wanita berambut pendek bergerak turun ke dalam lubang yang gelap. Tidak ada cahaya sedikit pun. Hanya dalam hitungan sepuluh detik, pokok pohon tadi kembali bergerak sendiri dan lubang kembali tertutup rapat. Kondisinya terlihat alami dengan tumpukan dedaunan kering.
Ruang bawah tanah itu benar-benar gelap gulita. Namun, wanita berambut pendek dapat berjalan normal tanpa takut menabrak tembok atau bebatuan yang ada di dalam lubang.
Namun, setelah terus berjalan di dalam kegelapan yang sarat dengan aroma tanah, akhirnya di ujung sana ada cahaya. Wanita itu terus berjalan menuju ke cahaya hingga keluar ke sebuah tempat terbuka yang mendapat cahaya dari atas.
Tempat itu adalah hamparan batu yang dikurung oleh dinding batu dan tanah. Ada hamparan air yang tidak begitu besar, lebih mirip disebut kolam. Tumbuhan liar yang tumbuh di sisi atas dinding hampir menutupi lubang besar tersebut.
Di sekitar pinggiran kolam juga ada dua dipan batu yang dilengkapi batangan kayu setebal lengan. Di pinggiran dinding ada dipan batu yang di atasnya ada tungku dan perlengkapan memasak, termasuk adanya tumpukan kayu bakar di sisi dipan. Sejumlah keranjang berisi rempah-rempah dan tumbuhan bumbu juga ada tertata rapi. Jadi, tempat itu seperti perpaduan dapur, kamar dan tempat mandi.
Wanita berjubah kuning menurunkan dan membaringkan kedua pemuda yang dibawanya ke satu dipan batu. Balok kayu ia gunakan sebagai bantal bagi kepala Joko Tenang dan Kerling Sukma.
Wanita itu kemudian pergi ke dapur. Ia mengambil gerabah tanah liat lalu pergi menciduk air di kolam, kemudian kembali lagi. Sejumlah jenis rempah ia masukkan ke dalam gerabah. Ia mendekatkan tangannya ke lubang tungku yang sudah diisi beberapa potong kayu bakar.
Blep!
Tak lama, api menyala membakar ujung kayu-kayu di dalam lubang tungku. Gerabah lalu diletakkan di atas tungku.
“Di mana ini?”
Tiba-tiba terdengar pertanyaan seorang wanita.
Wanita berjubah kuning terdiam sejenak mendengar pertanyaan dari Kerling Sukma yang sudah sadarkan diri.
“Kau berada di tempat persinggahanku,” jawab wanita berjubah kuning tanpa berbalik atau menengok melihat kepada Sukma.
“Kau seorang perempuan?” tanya Sukma yang sudah duduk di pinggiran dipan batu yang ditidurinya.
“Kenapa? Kau baru kali ini melihat wanita berambut seperti lelaki?” Wanita misterius justru balik bertanya.
“Bu... bukan demikian. Awalnya aku hanya menyangka kau adalah lelaki. Tapi, apakah kau orang baik?”
“Tidak, aku orang jahat. Aku orang yang berpuluh-puluh tahun menyimpan rasa benci dan memendam rasa dendam,” jawab wanita itu dengan nada yang ringan. Tangannya bekerja mengulek beberapa rempah.
Aroma rempah itu sampai ke indra penciuman Sukma.
“Terima kasih telah menolong kami,” ucap Sukma.
“Aku baik kepadamu, tapi aku jahat di mata harimau itu. Kau tidak bisa menilai seseorang baik karena menolongmu, karena seseorang itu bisa saja dinilai jahat oleh orang lain. Orang baik adalah orang yang dinilai baik oleh semua pihak. Bisa saja aku menolong kalian dari harimau itu karena aku punya niat terselubung,” ujar wanita berjubah kuning.
Ia memasukkan rempah yang sudah dihaluskan ke dalam air rebusan.
“Kenapa kau bisa jatuh ke bawah?” tanya wanita berjubah kuning sambil berbalik menghadap ke arah Sukma.
“Hah!” desah Sukma terkejut, ketika mendapati wajah wanita dewasa itu.
“Apa yang kau kejutkan? Apa mataku terlihat seperti setan?” tanya wanita itu dengan ekspresi yang begitu datar.
“Tidak apa, aku hanya tidak menduga,” kata Sukma dengan nada suara bergetar halus.
“Kenapa kau bisa jatuh ke bawah?” wanita bermata hitam mengulang pertanyaannya.
“Aku ingin dibunuh oleh orang-orang jahat. Kemudian kereta kudaku jatuh ke jurang,” jawab Sukma.
“Apa istimewanya dirimu sehingga harus dibunuh?”
“Aku, aku tidak tahu, Pendekar.”
“Kau bisa menyebutku Nara.”
“Iya, Bi Nara.”
“Hmm,” gumam wanita yang mengaku bernama Nara. Ia duduk di dipan batu lainnya sambil tangannya membawa sebuah keranjang anyaman bambu berisi banyak buah kecil-kecil berwarna biru gelap. Buah itu seperti buah ceri.
“Apakah pemuda itu kekasihmu?” tanya Nara sambil mengunyah, memperlihatkan gigi dan dalam mulutnya yang membiru karena zat warna dari buah itu.
“Bukan. Aku tidak mengenalnya. Lagipula aku masih kecil, tidak mungkin punya kekasih.”
“Apa kau pikir dirimu belum memiliki rasa suka terhadap lawan jenis? Di usia sepertimu, aku sudah memiliki kekasih, bahkan berganti-ganti. Apa lagi di zaman sekarang, hubungan percintaan itu semakin gila. Kelak, anak ingusan akan lebih cepat mengenal yang namanya hubungan cinta. Konyol. Siapa namamu?”
“Kerling Sukma.”
“Jika pemuda cantik itu bukan kekasihmu, apakah dia bagian dari orang yang ingin membunuhmu?”
“Aku rasa bukan. Sebelum aku jatuh, ada orang lain yang mencoba menyelamatkanku.”
“Kau benar. Jika dia ingin membunuhmu, untuk apa dia ikut terjun. Aku pikir dia kekasihmu. Karena begitu setianya dia, ketika melihatmu jatuh, dia ikut melompat untuk mati bersama. Nyatanya, kau dan dia justru tidak mati. Pasti di antara kalian ada yang memiliki kelebihan khusus sehingga tidak terluka sampai ke dasar.”
Sukma menengok memandang wajah Joko Tenang.
“Tapi, waktu kami menyatu, ada sinar kuning dari dia,” kata Sukma, kembali beralih memandang kepada Nara.
“Menyatu?” Nara lebih tertarik kepada kata “menyatu” yang disebutkan Sukma.
“Iya. Dia menabrakku dari atas dan memelukku. Dia pasang punggungnya di sisi bawah sehingga tubuhnya yang menghantam pohon.”
“Menarik. Jelas dia bertujuan menyelamatkanmu. Kau tidak mengenalnya, tetapi dia berani mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkanmu,” kata Nara. Lalu perintahnya kepada Sukma, “Angkat air ramuan itu, sudah mendidih!”
Sebagai orang telah ditolong oleh Nara, tidak ada alasan bagi Sukma untuk menolak perintah itu, meski tubuhnya masih menyisakan rasa sakit efek dari menghantam bumi saat jatuh. (RH)