Pernahkan kalian melihat angsa? Berenang dan menari dengan anggunnya di tengah sungai.
Tapi tahukah kalian? Di balik ketenangan tubuhnya di atas permukaan, Angsa berjuang mengayuhkan kakinya di dalam air agar dapat terlihat anggun di permukaan.
Begitulah hidup Gisella,
Tak ada yang tahu perjuangan hidupnya selama ini,
Pribadi yang selalu tersenyum riang di depan orang-orang, ternyata memiliki masa lalu yang kelam.
Bergumul dengan masa kecilnya yang selalu di rundung oleh teman-temannya, dan trauma masa kecilnya,
"Dasar anak pembawa sial!"
Ibunya sendiri mengatainya sebagai anak pembawa sial dan mengusirnya dari rumah.
Sang sopir membawa Gisella pergi dari rumah dan membuangnya di tempat antah berantah.
"Nak, kenapa menangis di sini?" tanya seorang wanita paruh baya yang melihat Gisella duduk menangis di pinggiran kebun.
Gisella kecil hanya menatapnya, lalu kembali meringkuk menangis pilu.
"Nak, ikut Emak mau?" tanya suara lembut itu lagi, mengulurkan tangannya kepada Gisella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CloverMint, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 30
Jam tiga subuh, Ella sudah bangun. Setelah merapikan tempat tidurnya, Ella segera bangkit, membasuh muka dan menggosok gigi, kemudian Ella pergi menuju warung Mpok Ati.
"Mpok, titipan Ella ada?" tanyanya begitu masuk ke dalam.
"Ada tuh La. Kembaliannya dalam kantong ya," jawab mpok Ati yang masih mencuci beras.
"Ya udah, makasih ya Mpok, Ella pulang dulu," pamit Ella kembali ke kontrakan.
Sampai di rumah, semua belanjaan dicuci kemudian dimasak.
Ella sedang memasak isian lemper dan kroket. Sambil menunggu matang, Ella merapikan rumah, dari menyapu, mengepel juga menguras kamar mandi. Sudah menjadi kegiatan rutinnya setiap pagi.
"Im.. Ima.. Ayo bangun, kamu kan harus subuhan," ucap Ella sambil menggoyang-goyangkan tubuh Ima yang masih terlelap.
"Mm.. Jam berapa La?" jawab Ima malas malasan.
"Ayo bangun, sudah jam 4 lewat loh," tegur Ella.
Sudah menjadi kebiasaan Ella membangunkan Ima untuk sholat subuh. Ima yang awalnya susah dibangunkan, akhirnya Ima menjadi kebiasaan. Tapi dia-diam Ima selalu bersyukur, sejak berteman dengan Ella, dirinya jadi rajin sholat, rajin nabung, juga nggak pernah main seperti teman temannya. Ima juga senang karena sering dibantu Ella belajar.
"Kamu masak apa La? Kok banyak?" tanya Ima sehabis mandi.
"Itu Pak Haji pesan snack 100 dus. Isinya donat, lemper ayam sama kroket kentang buat jam 11 nanti 100," jawab Ella senang.
"Oh, dus ini buat snacknya?" tanya Ima yang melihat Ella merangkai dus dari semalam.
"Iya.. Sudah sana kamu sholat dulu, nanti aku buatkan teh manis," ucap Ella sambil merapikan dus-dus yang sudah di staples.
Selesai sholat Ima segera membantu Ella, sehingga cepat selesai.
"Kalau tiap hari dapat pesanan gini, enak ya La. Nggak usah kerja di cafe lagi kita" ujar Ima tertawa.
"Semoga Im. Aku mandi dulu ya, Im. Mau ke gereja,baru lanjut ngerjain," ucap Ella masuk ke kamar mandi.
Ima masih duduk menikmati teh panas buatan Ella ditemani singkong goreng.
"Im, aku pergi, aku kunci dari luar ya, kamu kan pasti tidur lagi," pamit Ella sambil tertawa kecil.
"Hehe, tau aja kamu La," jawab Ima yang kembali masuk ke dalam kamar.
###
Dengan menggunakan ojek, Ella pergi ke gereja tempat dimana ia sering pergi bersama Alex dulu. Entah kenapa, hari ini Ella ingin mengikuti kebaktian di sana.
Selesai mengikuti kebaktian, Ella berjalan ke depan gerbang menuju ke penjual es doger yang selalu jualan di sana.
"Bang, es doger satu minum sini, yang dua dibungkus ya," pesan Ella.
Sambil menunggu pesanan siap, Ella duduk di kursi panjang. Ingatannya kembali disaat bersama Alex, setiap pulang gereja, mereka pasti minum es doger di tempat yang sama ini.
Tanpa disadari, seulas senyum merekah di wajahnya.
"Ini Neng, esnya," ucap si abang.
"La.. Ella,"
"Ella menoleh dan terkejut melihat Alex sudah berdiri di sisinya.
"Eh.. Pagi Lex," sapa Ella.
"Kamu dari gereja ya, La?" tanya Alex mengamatinya.
"Iya.. Kamu juga ikut misa pagi ya?"
"Iya, kok nggak liat tadi di dalam?" tanya Alex yang ikut duduk dan memesan es doger.
"Rame tadi mungkin Lex," jawab Ella pelan.
"Aku kira kamu muslim seperti Farah," ujar Alex menatap Ella.
"Hehe.. Bukan Lex," jawab Ella.
Mereka menikmati es tanpa bicara. Ella bingung harus bicara apa, jadi dia diam saja, apalagi Alex juga nggak bicara sama sekali.
"Bang, sudah. Jadi semua berapa?" tanya Ella sambil mengembalikan gelas.
" 20 ribu, Neng," jawab abang es doger.
Alex segera memberikan selembar uang 20 ribu ke tangan Si Abang.
"Lex, nggak usah, aku bayar sendiri saja," jawab Ella merasa nggak enak hati.
"Nggak papa. Sekalian, La. Ayo aku antar kamu pulang," ajak Alex.
"Jangan Lex, nanti ngerepotin," jawab Ella dengan hati berdebar tak karuan.
"Ayo," Alex menarik tangan Ella menuju parkiran motor
Akhirnya Ella menuruti Alex ketika ia memberikannya helm. Selama perjalanan, mereka hanya diam tak berbicara.
"La, rumahmu benar masuk gang ini?" tanya Alex begitu sudah di depan gang.
"Iya, masuk terus nanti ada gang lagi, belok kanan," jawab Ella lirih.
"Stop.. Stop.. Sini Lex," ucap Ella.
Alex memasukan motor ke halaman rumah. Dilihatnya ada beberapa rumah petak berjajaran.
"Mampir Lex?" tanya Ella.
"Boleh," jawab Alex mengikuti Ella masuk ke dalam rumah mungilnya.
"Maaf nggak ada kursi, duduknya di lantai ya," ucap Ella tertunduk malu.
"Nggak papa La, santai aja," jawab Alex sambil melepaskan sepatunya dan ditaruh didepan pintu.
"La, sudah pulang?" tanya Ima yang baru keluar dari kamar karena mendengar suara ramai.
"Iya Im, ini kenalin, Alex," ucap Ella mengenalkan mereka.
Ella masuk ke dapur diikuti Ima.
"La.. Tuh cowok keren amat yak?" bisik Ima perlahan.
"Im, tolong bawa keluar ya," pinta Ella memberikan baki berisi minuman dan singkong goreng untuk Alex.
"Lex diminum," ucap Ima, meletakkan gelas diatas meja.
"Ella ke mana?" tanyanya.
"Oh, tunggu sebentar katanya. Dia lagi ngaduk ketan untuk buat lemper," jawab Ima.
"Memang bisa Ella buat lemper?" tanya Alex terkejut.
"Ya bisa. Tiap hari dia buat donat, lemper dan lainnya, dititip ke warung-warung kalau pagi. Maklum, buat biaya hidup" jawab Ima tersenyum sedih.
"Oh.. Emang nggak ada keluarga lainnya?" tanya Alex menyelidik.
"Nggak tahu sih, Ella jarang cerita kehidupannya," jawab Ima sambil menikmati es doger yang dibawa Ella.
Alex mengamati ruangan 4x5 meter itu. Tak ada foto keluarga terpanjang, juga tak ada barang yang berharga.
"Maaf ya Lex, ditinggal. Soalnya hari ini banyak pesanan" ujar Ella yang keluar dari dapurnya.
"Nggak papa La, kalian kerja aja. Aku di sini minum teh," jawab Alex santai.
Akhirnya Ella dan Ima masuk kedalam menggoreng kentang dan menyiapkan adonan kroket, kemudian Ella juga segera menggoreng donat. Setelah semua selesai, Ella mengeluarkan donat yang masih panas untuk dicicipi Alex.
"Dicoba Lex," ucap Ella sambil menaruh piring berisi donat, setelah itu Ella mulai membentuk kroket dan lemper, baru kemudian dia menggoreng kroket.
Alex terus memperhatikan semua yang dikerjakan Ella. Melihat donat, dia juga teringat akan Gisel sahabatnya.
"Maaf ya Lex nggak bisa nemeni ngobrol," ucap Ella meminta maaf lagi setelah selesai menggoreng kroket.
"Nggak papa, La. Aku juga lagi nggak ada kerjaan. Apa kamu selalu sibuk seperti ini La?" tanya Alex.
"Ya enggak sih, kalau pas ada yang pesan saja," jawab Ella sambil memasukkan kue ke dalam kantong plastik satu-satu dibantu oleh Ima.
"Sini, aku bantuin," ucap Alex menggulung lengan kemejanya.
"Ehh!! Cuci tangan dulu!" pekik Ima kaget.
Alex pun mencuci tangan, dan mereka bertiga membungkus dan memasukkan snack ke dalam dus-dus kecil.
Tak lama, semua kue sudah rapi masuk dalam dus lebih cepat dari waktu perkiraan.
"Nah, cepatkan kelarnya," ujar Ima tertawa.
"Makasih ya Lex, tamu malah bantu-bantu," ucap Ella tersenyum.
"Nggak papa, aku senang malah bisa bantu kalian," jawab Alex yang masih penasaran tentang Ella.
"Kalian di sini dulu ya, aku antar kuenya ke rumah depan," ucap Ella membawa dus dus yang sudah disusun dalam kantong besar.
Ima dan Alex juga ikut membantu membawa kantong ke rumah Pak Haji, kemudian mereka pulang lebih dahulu karena Ella masih menunggu Pak Haji yang mengambil uang di dalam rumah.
"Ella, tuh tiap hari buat donat, tapi nggak bosen makan juga tiap hari. Hahaha," cerita Ima sambil merapikan donat yang sengaja digoreng lebih.
"Eh.. Ella suka donat ya Ima?" tanya Alex kaget.
"Iya. Makanya aku heran.. Tiap hari kan buat donat, aku aja yang cuma nontonin sampe bosen liat donat, tapi Ella yang bikin, nggak ada bosen-bosennya," jawab Ima tertawa.
Apa ini? Kenapa Ella punya banyak kesamaan dengan Gisel? ucap Alex dalam hati.
"Lex, kok bengong? Gimana kue nya, enak nggak? Bantu promosiin, ya. Siapa tahu ada keluarga atau kenalanmu mau pesan snack gitu," ujar Ima yang sudah selesai merapikan barang-barang.
"Siap. Aku minta nomor kalian ya, biar mudah kalau mau pesan," ucap Alex cepat.
Ima segera memberikan nomornya dan nomor Ella.
"Kok kamu nggak tahu nomor Ella?" tanya Ima heran.
"Lupa minta kemarin-kemarin" jawab Alex tersenyum.
"Maaf ya lama," ucap Ella yang sudah masuk dan duduk bergabung.
"Nggak papa La, sudah beres?" tanya Alex.
"Sudah, tapi maaf Lex, bisa nggak kamu pulang? Kami mau istirahat sebentar soalnya," ucap Ella sambil menunduk.
"Eh.. Iya.. Maaf, aku pamit dulu ya, besok-besok main lagi," ucap Alex yang mengerti maksud Ella.
"Maaf ya Lex, bukan ngusir," jawab Ella merasa tak enak hati.
"Nggak papa, santai. Kamu juga pasti cape banget bikin snack 300 pieces. Aku pulang dulu ya," jawab Alex tersenyum dan segera beranjak.
"Ahh… Bisa tiduran kita akhirnya La," ucap Ima, langsung merebahkan tubuhnya di lantai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...HAI!! Terima kasih buat para pembaca yang sudah mendukung saya agar tetap semangat melanjutkan cerita ini setiap harinya!!...
...Agar saya tetap semangat update, dukung saya terus dengan memberikan LIKE, dan VOTE sebanyak-banyaknya ya!!...
...Jangan lupa tinggalkan bintang lima...
...(⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️)...
...dan klik FAVORIT agar tak ketinggalan episode selanjutnya ya!!...
...Terima kasih.❤...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Udah teman teman mengejek Eh kakaknya juga ikutan ...
Tapi YG membuat Tambah sedih mama nya kok cuek Amat...