[SEDANG HIATUS!]
Diana Xylaria, Gadis cantik yang ceria dan optimis, ternyata ada rahasia besar tentang dirinya yang bahkan dia tidak tau.
Hidupnya yang biasa saja tiba tiba terusik karena pertemuannya dengan CEO dari sebuah perusahaan besar, Rylan Axelion. Namun sayang, keduanya bahkan tak ingat telah menghabiskan malam bersama.
Ditengah badai perebutan kekuasaan di keluarga Rylan, serta tentangan dari wanita yang berkuasa, Rylan dan Diana harus terus berjuang agar bisa bersama.
Akankah mereka bisa bersama?
Dan Apa sebenarnya Rahasia kelam Diana?
Simak ceritanya di sini.
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩـ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
「 ✦ UPDATE SENIN DAN KAMIS ✦ 」
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Langit malam cerah berawan. Bulan tergantung diam, terlihat anggun dari jendela kamarku.
Kepalaku bersandar rileks di bantal putih yang empuk. Mata terpejam, kembali mengingat kejadian tadi siang seperti menonton film. Alisku mengerut, dan tanganku refleks menarik guling lebih dekat ketika nama itu muncul dalam pikiran.
Tuan Gavin.
Teringat jelas, terlalu jelas malah. Interaksinya beberapa hari terakhir, gaya bicara, nada suaranya, hingga tatapannya kepadaku.
Semuanya.
Semakin dia mendekat, semakin ingin aku menutup diri. Bagaimana cara memberitahu tanpa melukai siapapun?
Aku membuka mata, telentang menatap langit-langit kamar. Segalanya langsung buyar dari kepala. Setelah menghela napas berat, mataku tertutup perlahan, berusaha untuk tidur.
Akan tetapi, pikiran ini menolak untuk tenang.
Memori berikutnya muncul. Suara Tuan Rylan, meja yang berguncang, dan keheningan yang menyusul. Wajahku memanas tanpa sadar. Aku segera menutupinya dengan bantal, memproses memori yang belum sempat dicerna sepenuhnya.
Reaksiku terlalu berlebihan untuk segelas kopi. Aku begitu takut Tuan Rylan salah paham. Kenapa?
Mungkin aku tak mau terlihat tidak profesional. Pasti begitu. Tidak, memang begitu.
Ritme napasku mulai teratur. Dalam diam, aku jatuh ke alam mimpi. Gravitasi menarik, tubuhku terjerembab ke lantai tanpa merasa sakit. Kepalaku berpendar. Pandanganku kabur, seperti melihat dunia lewat kacamata yang berembun. Dua orang melintas, memegang tangan anak kecil yang melompat-lompat.
Aku berusaha mendekat, ingin melihat lebih jelas, namun adegan mendadak berganti. Seorang pria memeluk sesuatu. Langkahnya tertahan, dia menoleh ke belakang, ke arah seorang anak kecil.
Jantungku berdebar tanpa alasan. Paru-paru berkontraksi, membuat dada terasa berat, lalu kosong.
Adegan itu buyar lagi, berkelip cepat. Kali ini, seorang wanita memeluk pria yang terlihat memberontak. Wanita itu berteriak, namun yang aku dengar hanya suara seperti kaset macet. Kakiku mendadak membeku, tidak mau bergerak. Aku menoleh ke arah lain. Seorang anak kecil mematung, tapi tiba-tiba dia berbalik dan berlari.
Kepalaku berat. Napas tertahan, dan segalanya berubah seperti genangan air yang beriak. Pandanganku menggelap, dan tubuhku seperti ditarik masuk ke kegelapan yang tak berujung.
\=\=\=\=
Dari kamarnya di lantai dua, Rylan menatap ke bawah. Mawar hitam yang bermekaran tertimpa cahaya bulan yang terang. Dia mundur, menutup pintu dan tirai balkon, lalu berjalan bolak-balik antara meja dan tempat tidur dengan kepala tertunduk. Suara Vino ketika mobil mereka melewati kafe itu terngiang jelas di kepalanya.
"Tuan cemburu?"
"Tidak, kenapa juga aku harus cemburu? Itu bukan urusanku juga," ucapnya, menjaga suara sedatar mungkin. Vino hanya tertawa kecil.
"Ck! Berisik!"
Rylan mengamuk, membanting bantalnya ke kasur. "Iya, aku cemburu! Lalu kenapa? Puas kau sekarang! Awas saja kau Vino! Kau mulai kurang kerjaan!"
Rylan melempar tubuhnya ke kasur. Rona merah menyebar hingga ke daun telinga.
"Aku menjadi begitu senang hanya dengan mendengar kata 'aku tidak berpacaran' dari mulut Diana. Gila."
Rylan merajuk terhadap selimutnya, meremasnya hingga kusut. Sisi kekanak-kanakan dari seorang raja bisnis yang terkenal dingin, tak pernah diperlihatkan pada siapa pun, bahkan orang tuanya sendiri. Dalam perasaan yang campur aduk, dia pun akhirnya terlelap tidur.
\=\=\=
Aku bangun paginya dengan tubuh yang berkeringat dingin dan kepala sakit. Aku berusaha mengingat-ingat mimpi tadi, tapi semakin kuingat, semakin samar. Cahaya matahari masuk lewat sela-sela tirai, menyadarkan aku dari lamunan. Lupakan sejenak soal ini, saatnya kembali ke realita.
Langkahku sampai ke kantor tepat waktu. Tuan Rylan sedang menelepon seseorang, dan aku baru menyapanya saat panggilan selesai.
"Hai Diana. Oh iya, nanti ada sedikit perubahan jadwal. Tanda tangan dengan X Property di jam 10 pagi ya."
Aku mengangguk, segera membereskan berkas-berkas untuk nanti. Mataku melihat lebih saksama lagi. Alamatnya terasa kukenal.
'Eh, inikan tempat aku membeli rumah?' pikirku.
Tepat jam 10, kami menginjakkan kaki di kantor pusat X Property. CEO itu, teman Tuan Gavin, sedang bercakap-cakap seru dengan Tuan Gavin sendiri. Aku memperlambat langkah, sedikit bersembunyi di balik tubuh Tuan Rylan.
"Wah, suatu kebetulan Diana. Senang bertemu lagi denganmu," sapa CEO X Property. Tuan Gavin melihatku sambil tersenyum.
"H-hai," balasku sedikit kikuk.
Tuan Rylan mengerutkan alisnya sedikit, tampak kurang senang. "Kalian saling kenal?" tanya Tuan Rylan heran.
"Oh, panjang sekali ceritanya. Awalnya kami-"
"Aku membeli rumahku di sini kira-kira sebulan yang lalu," ucapku cepat, memotong perkataan CEO X Property. Tuan Rylan mengangguk.
"Kalau begitu, aku pamit dulu. Sampai jumpa, Diana, semuanya." Tuan Gavin berbalik pergi.
"Oke, mari beralih ke bisnis."
Setelah berbicara profesional selama kira-kira 30 menit, kontrak ditandatangani dan kesepakatan disetujui. Aku dan Tuan Rylan segera kembali ke perusahaan. Ketika sampai, aku duduk di kursi sembari menghela napas panjang.
"Hei Diana," ucap Tuan Rylan tiba-tiba tanpa melihat ke arahku. "Kau menyukai Gavin?"
"Tentu saja tidak!" jawabku spontan tanpa perlu berpikir lagi. Tuan Rylan tersenyum tipis kelihatannya. Dia ber-oh pelan. Aku menoleh ke arah lain, menghindari tatapannya.
Suara dering ponsel memecah keheningan, menyelamatkanku dari situasi canggung. Wajah Tuan Rylan mendingin saat mengangkat telepon.
"Ada apa Calantha? Kalau tak penting jangan menghubungiku," ucapnya ketus. Aku tak dapat mendengar suara Calantha dengan jelas, hanya bagian akhirnya: ".... Lagipula, kita akan segera bertemu, Rylan."
Tuan Rylan segera mematikan telepon itu. Mendadak, satu notif masuk ke ponselku. Melihat siapa yang menghubungi, seketika mood-ku merosot tajam. Itu Calantha.
Hai, Diana. Apa kabar?
Aku tidak membalasnya.
Aku tahu kau mungkin tak ingin membalas pesanku. Tapi suasana hatiku benar-benar sangat baik sekarang.
Aku mengerutkan kening. Jantung berdebar lebih cepat dari biasanya. Ada yang salah. Aku memandang Tuan Rylan yang kembali sibuk dengan wajah datarnya.
Aku kembali ke ponsel ketika satu notif lagi muncul. Calantha mengirimkan sebuah foto. Dia sedang berada di bandara, berpose angkuh.
Namun, bukan itu fokusku. Aku melihat sebuah siluet di latar belakang. Hal itu membuatku khawatir tanpa alasan. Pernapasan mendadak seperti dicekik, dan mataku berkunang-kunang. Kepalaku sakit, jantung seolah dihantam dari luar.
Aku tidak mengenalnya. Tidak sama sekali.
Pikiranku seolah berteriak dari dalam, membuatku tegang tanpa alasan. Seperti alaram bahaya.
Suara Tuan Rylan terdengar samar dari kejauhan. Aku terdiam, menatap kosong ke depan seiring pandangan yang menggelap.
"Diana!" tuan Rylan berseru, memanggilku. Aku menoleh sesaat ke arahnya, lalu aku tak bisa mendengar apapun lagi. Pandanganku kembali gelap. Kosong.
Lalu perasaan itu muncul. Seperti tenggelam, ada yang menarik tubuhku. Rasanya seperti tersedot ke dalam sebuah vakum, begitu hampa.
walaupun kepribadian xena kuat dan bisa diandelin, tapi bisa nyelakain kamu juga kalo gak terkendali 😖