Bismillah karya baru FB Tupar Nasir
WA 089520229628
Sekuel dari Ya, Aku Akan Pergi Mas Kapten
Kapten Excel belum move on dari mantan istrinya. Dia ingin mencari sosok seperti Elyana. Namun, pertemuan dengan seorang perempuan muda yang menyebabkan anaknya celaka mengubah segalanya. Akankah Kapten Excel Damara akan jatuh cinta kembali pada seorang perempuan?
Jangan lupa ikuti kisahnya, ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Zinni Dibawa Juragan Awan
Kades Awan terlihat kaget mendengar ucapan Zinni barusan, tapi dia berusaha tetap tenang.
"Kenapa mau kamu jual pada orang kota? Lebih baik jual pada saya," ujar Kades Awan.
"Mohon maaf, Pak. Tidak bisa. Sebab, saya sudah lebih dulu menawarkan pada orang lain," tolak Zinni. Kades Awan atau juragan Awan terlihat kecewa, wajahnya merah menyala. Tanah yang sejak dulu dia incar, kalau tidak bisa sampai ia miliki, maka dia akan tetap melakukan cara lain agar tanah itu bisa dia miliki, termasuk memaksa Zinni untuk menyerahkan tanahnya.
"Berapa orang kota itu menawar tanahmu?" tanya Kades Awan. Zinni termenung, dia tidak tahu harga tanah di kampungnya saat ini. Namun, Zinni tidak pendek akal, dia mahalkan saja penawaran orang kota yang dia akui sebagai calon pembeli tanahnya itu.
"1.500.000 X 500 M2\= 300.000.000." Zinni membatin dan menghitung terlebih dahulu sebelum menjawab.
"Saya sudah tawarkan per meter per seginya adalah 1,5 juta net. Sebetulnya tadinya saya akan menawarkan harga per meter per segi adalah dua juta.
"Gila, mahal sekali. Jangan ngada-ngada gadis bodoh, mana ada tanah di kampung ini harganya semahal itu, meskipun letak tanah ini bagus dan strategis. Paling mentok hanya 300 ribu per meter per seginya," kilah Kades Awan.
Zinni mencibir dalam hati. Dia tahu Kades Amar hanyalah berkata bohong, setahunya tanah di kampungnya harga per meter per seginya sudah 500 ribu ke atas.
"Tidak. Saya sudah menawarkan tanah saya pada pengusaha kaya di kota. Jadi, mohon maaf, Bapak tidak bisa membelinya," tukas Zinni.
"Baik, kalau kamu tidak mau memberikannya. Terpaksa kamu harus ikut saya," ucap Kades Awan seraya memberi isyarat kepada dua orang suruhannya untuk membawa Zinni.
Dua pria suruhan yang tadi mengawasi Zinni, kini menghampiri Zinni, lalu memegangi kedua tangan Zinni.
"Lepaskan, kenapa tangan saya dipegangi. Saya mau diapakan?" pekik Zinni mulai panik.
"Tenang saja, kamu akan dibikin enak sama bos kami. Kamu akan dibawa ke KUA untuk dijadikan istri muda oleh bos kami," sahut pria bernama Brad, seraya menarik lengan Zinni kasar.
"Tidak bisa. Saya mohon lepaskan saya. Saya ingin tetap di rumah ini untuk beristirahat beberapa hari dan membersihkan rumah ini. Tolong lepaskan saya," mohon Zinni mulai sedih.
"Tidak perlu membantah. Kamu akan dikasih yang enak, yaitu surga dunia oleh bos kami. Untuk itu, kamu jangan menolak."
"Tidak. Bos Anda tidak bisa memaksa saya, sebab saya sudah menikah dengan seorang pria. Saya sudah bersuami. Sebentar lagi suami saya akan menyusul kemari," aku Zinni. Dalam keadaan kepepet seperti ini, beruntung Zinni masih ada ide untuk mengelabui para bajingan yang menahannya kini.
Kades Awan membalikkan tubuhnya, lalu menatap Zinni garang. Zinni menunduk takut.
"Sudah menikah? Paling pria ecek-ecek yang tidak punya kerja. Lebih baik kamu menjadi istri muda saya, walaupun menikah secara siri, akan tetapi kamu akan senang karena kamu akan mendapat limpahan harta yang banyak dari saya," cibir Kades Awan memanas-manasi Zinni.
"Tidak bisa, Pak. Saya mohon lepaskan saya. Saya sudah menikah dengan seorang anggota TNI berpangkat Kapten. Bahkan sebentar lagi suami saya akan datang ke sini bersama anggotanya satu kompi. Dia datang sengaja untuk menyusul saya bersama calon pembeli tanah saya," tutur Zinni lancar jaya mengarang cerita.
"Apa? Apa yang kamu katakan itu serius?" Kades Awan bertanya dengan Nada yang tersentak.
"Kalau tidak percaya, Bapak bisa lihat nanti. Suami saya tadi membiarkan saya pergi duluan ke sini, karena beliau masih berada di kantor. Tapi, saat ini suami saya sedang dalam perjalanan ke sini," yakin Zinni, berharap Kades Awan percaya.
"Bawa dia ke villa. Jangan sampai ada orang lain tahu," perintah Kades Awan kepada kedua orang suruhannya.
"Tidak, juragan Awan, tolong jangan bawa saya. Saya sudah menikah dan punya suami. Suami saya seorang Tentara, dia akan marah kalau Anda melakukan pemaksaan ini," tolak Zinni mulai terisak.
"Alah, omong kosong apa? Tidak mungkin seorang Kapten menikahi gadis yatim piatu sepertimu. Bawa dia ke villa," titah Kades Awan seraya keluar dari rumah Zinni.
"Tidakkkk. Mau dibawa ke villa mana? Tolong, biarkan saya di sini," teriak Zinni ingin lepas.
"Diamlah. Supaya bos kami tidak melakukan kekerasan, kamu harus patuh dan jangan berontak. Kamu akan dibawa ke villa Roste miliknya di kampung ini," ujar pria berkaca mata.
"Tolong, jangan sakiti saya. Bagaimana kalau nanti suami saya mencari saya?"
"Untuk itu, kamu diam dan patuh gadis manis. Maka bos kami tidak akan melakukan kekerasan. Ikuti saja kami," ujar pria itu lagi seraya menarik tubuh Zinni menuju mobil.
"Villa Roste, mau diapakan saya di sana?" pekik Zinni, sengaja dia menekan villa Roste agar bisa didengar Excel.
"Diamlah. Tenang. Kalau kamu tenang, maka Juragan Awan tidak akan melakukan tindakan yang kasar. Kamu justru akan mendapatkan hal yang enak-enak dari dia," ujar pria berkaca mata sembari menarik paksa tangan Zinni menuju sebuah mobil jeep.
Sementara itu di lain tempat, Excel yang masih dalam perjalanan, kini fokusnya terbagi antara menyetir dan mendengarkan suara Zinni di Hp nya.
Setelah beberapa saat yang lalu dia menerima pesan WA dari Zinni, Excel mengikuti arahan Zinni. Panggilan Zinni dia angkat dan dia biarkan menyala. Suara Zinni mulai terdengar, bahkan ada pekikan dan kalimat memohon yang diucapkan Zinni agar orang yang bernama juragan Awan tidak menyakitinya.
"Lepaskan saya, saya sudah menikah. Suami saya seorang anggota TNI berpangkat Kapten, dia akan datang ke sini bersama anak buahnya satu kompi," teriak Zinni dari dalam sambungan telpon.
Sejenak Excel tersentak, Zinni saat ini sedang berbohong dengan mengaku sudah menikah dengan seorang tentara berpangkat Kapten, yang sebentar lagi akan datang dengan membawa pasukan satu kompi.
"Ya ampun Zinni, kamu dalam situasi terancam, masih bisa mengarang cerita. Sepertinya si Zinni benar-benar kepepet dan terancam, sampai dia berkata seperti itu." Excel mendengarkan dengan serius apa yang dikatakan Zinni di dalam telpon, tanpa memutuskan sambungan.
"Sebaiknya aku memang harus menghubungi adik-adik letingku," putus Excel mengikuti kata-kata yang Zinni ucapkan di dalam sambungan telpon.
"Pak Excel tolong Pak, datang cepat, saya dikurung di villa Roste." Teriak Zinni menyebutkan dirinya kini dikurung di villa Roste.
Excel bergerak secepat mungkin, menghubungi adik-adik letingnya yang bisa dia mintai bantuan dan kebetulan sedang ada waktu luang. Permintaan tolong Zinni bukan sekedar hal biasa, akan tetapi sebuah ancaman akan keselamatan dirinya.
Tidak butuh waktu lama, permintaan Excel direspon cepat. Kurang lebih 20 orang adik leting, siap membantu Excel. Mereka langsung bergerak ke alamat yang disebutkan Excel.
"Sabar Zinni, aku segera datang," gumam Excel seraya memacu mobilnya secepat mungkin menuju villa yang disebutkan Zinni tadi di sambungan telpon.
Kira-kira Zinni akan selamat nggak ya? Jangan lupa dukungan dan votenya.
semoga saja benar ya Thor ☺️🤩