Elda Setya Ningrum adalah gadis asal salah satu kota kecil di jawa tengah "Kebumen"
Elda saat ini sedang menempuh pendidikan di salah satu universitas di bandung, elda mendapat beasiswa melalu jalur prestasi.
Ayah elda sudah meninggal saat elda berumur 4tahun, dan ibunya hanya seorang buruh cuci.
Elda bahkan harus bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhannya.
Disaat kesulitan yang elda lalui, elda bertemu dengan Ardian Fernand Prakaza, kakak tingkat elda yang terkenal playboy dan angkuh.
Ardian adalah anak konglomerat di kota bandung, Ardian hampir memiliki kisah hidup sama seperti elda,bedanya ardian tidak memiliki ibu, dan hubungan dengan ayahnya tidak terlalu baik.
Bagaimana kisah elda dan ardian selanjutnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Srayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melamar?
Ardi duduk sembari melihat ke luar jendela, hamparan sawah yang mulai menguning terliha begitu indah, ardi yabg sedari kecil hidup di kota begitu takjub dengan pemandangan yang terhampar di depan mata, ardi kini sedang duduk di salah satu kursi kereta api, hari ini ardi sedang menempuh perjalanan untuk menyusul elda ke kampung halamannya, beberapa kali ponselnya bergetar, pesan masuk dari riyan serta nanda tak henti menghiasi layar ponsel milik ardi.
Ardi hanya bisa tersenyum ketika membaca pesan singkat dari kedua sahabatnya.
Ardi merogoh kotak cincin yang tersimpan di saku jaketnya, kemarin di temani kedua sahabatnya dan melan, ardi pergi ke toko perhiasan untuk membeli sebuah cincin yang akan di berikan kepada elda, ardi ingin melamar elda hari ini, ardi tidak mau elda jatuh ke pelukan orang lain, ardi menatap cincin dengan bermatakan sebiji berlian yang sangat indah, rasanya ardi sudah tidak sabar lagi untuk cepat sampai di rumah elda.
Perjalanan masih cukup jauh, ardi menyalakan musik dan memasangkan handset ke kedua telinganya.
Ardi kembali mengingat saat pertama kali bertemu, dan beberapa bulan terakhir waktu yang sudah di lalui bersama dengan elda.
Rasa kantuk mulai melanda, ardi beberapa kali menguap dan matanya terlihat berair, ardi sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya lagi, akhirnya kini matanya terlelap dengan sempurna.
Entah berapa lama ardi terlelap tiba-tiba ada seorang pramugari yang membangunkannya, mengatakan bahwa sebentar lagi keretanya akan berhenti di tempat tujuan ardi,
Ardi berjalan ke toilet kereta untuk membasuh mukanya terlebih dahulu. Setelah merasa segar ardi kembali lagi ke tempat duduknya dan mengecek semua barang bawaannya.
Setelah kereta berhenti dengan sempurna di stasiun Karanganyar, ardi turun dan duduk di kursi tunggu sembari memesan taksi online.
Tak berapa lama ardi mendapat telefon dari supir taksi online bahwa sudah menunggu tak jauh dari stasiun.
Ardi berjalan menuju lokasi yang sudah di tentukan, setelah sampai ardi langsung naik ke dalam mobil dan mobilpun melaju ke arah rumah elda.
Dari stasiun membutuhkan waktu sekitar 15menit menuju rumah elda, namun sayangnya taksi tersebut hanya bisa mengantar ardi hingga jalan utama, karena dari jalan utama rumah elda masih jauh naik ke atas, benar-benar jauh dari bayangan ardi, rumah elda benar-benar berada di pelosok.
Dengan bermodalkan secarik kertas alamat rumah elda yang di berikan oleh melan kemarin, ardi mulai berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah elda, dan beberapa kali ardi bertanya kepada penduduk sekitar.
Mentari mulai menampakkan sinar jingga yang begitu indah, ardi kini berdiri di depan rumah beratap bilik bambu yang sederhana, ardi menatapi dengan seksama kondisi sekitanya.
Ardi tak menyangka kondisi ekonomi keluarga elda benar-benar sulit.
Bahkan ukuran rumah elda sama besarnya dengan kamar ardi yang berada di rumah utama ayahnya.
Dengan sedikit ragu ardi berjalan mendekati pintu rumah, tangannya mengetuk beberapa kali dan mengucapkan salam.
"Permisi" ardi kembali mengetuk pintu rumah elda.
"Iya, tunggu sebentar" terdengar jawaban dari dalam rumah elda. Dan tak lama kemudian pintu rumah tersebut terbuka, nampak elda mengenakan baju yang sudah kumal dan celana pendek selutut yang kotor sepertinya bekas tanah basah.
"Kak ar-ar-ard?" elda melebarkan matanya ketika melihat ardi yang kini berdiri di depan pintu rumahnya.
"Hai" ardi tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah elda sedangkan elda hanya bengong saja, elda seakan tidak percaya dan merasa dirinya sedang berhalusinasi tentang ardi, karena memang sepulangnya liburan semester sekarang, elda merasa bayangan ardi terus mengganggu pikirannya.
"Sopo nduk"? suara seorang wanita paruh baya terdengar memanggil elda dari dalam sana
"El...?" Ardi menggoyangkan tangan elda sehingga elda tersadar dari lamunannya.
"Lo baik-baik saja?" sambung ardi lagi
"Ini beneran kakak? kok bisa datang kemari? ada keperluan apa kak?" elda melontarkan pertanyaan secara bersamaan kepada ardi
"Sopo nduk?" ibu elda datang menghampiri anaknya yang sedari tadi di tanya tidak kunjung menjawab.
"Halo bu, saya ardi teman sekolahnya elda" ardi menjabat dan mencium tangan ibunya elda sebagai salam penghormatan.
"Oh temannya elda, mari masuk" ibu elda mempersilahkan ardi masuk
"Ada tamu kok tidak di suruh masuk" sambung ibu elda sembari menyenggol lengan elda.
Ardi berjalan masuk mengikuti ibunya elda, setelah di persilahkan duduk, ardi duduk di kursi sederhana yang terbuat dari bambu, sedangkan ibu elda pergi ke dapur untuk membuat minuman untuk ardi.
Kali ini elda dan ardi duduk berhadapan, ardi menatap ke arah elda dengan tajam, sedangkan elda hanya bisa menundukan pandangannya.
"Sibuk apa di rumah el?" ardi mencoba mencairkan suasana dengan mencari topik pembicaraan.
"ehm, bantu tetangga panen padi di sawah kak" elda meremas bajunya dengan kedua tangannya
Sejenak ardi melihat ke baju yang elda kenakan, nampak begitu lusuh dan kotor akibat goresan tanah, ardi semakin kagum dengan elda yang mau bekerja apa saja untuk membantu ibunya.
"Ini nak, minumnya, seadanya saja, maklum di kampung" ibu elda meletakkan segelas air putih di meja dan ikut bergabung duduk dengan ardi serta elda.
"Terimakasih bu" ardi tersenyum dan menganggukkan kepalanya
"Ngomong-ngomong, namanya siapa nak? dan ada keperluan apa datang kemari?" ibu elda menatap ardi dengan seksama dari unung kaki hingga kepala, jika di lihat dari penampilannya pasti dia anak kota dan anak orang kaya.
"Nama saya Ardian bu, saya orang asli bandung, dan kedatangan saya kemari hanya ingin bersilaturahmi dengan ibu sekeluarga" ardi menarik nafasnya panjang sebelum melanjutkan perkataannya.
"Dan niat saya yang kedua adalah, datang kemari ingin meminang putri ibu untuk menjadi calon istri saya, bukan menikah dalam waktu dekat bu, karena saya dan elda masih sama-sama mengeyam bangku pendidikan, jadi saya juga ingin menyelesaikan pendidikan saya dan juga saya harap elda juga bisa menyelesaikan pendidikannya serta meraih cita-citanya" kemudian ardi merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kotak cincin lalu membukanya, setelah membukanya ardi menyodorkan kotak cincin itu ke depan elda.
Elda hanya bisa membuka mulutnya saking terkejut dan tidak menyangka ardi akan datang melamarnya.
Sedangkan ibu elda hanya bisa menatap putrinya dengan sendu, dia merasa putrinya tidak sepadan dengan ardi, putrinya hanya gadis desa miskin, ibu elda tidak ingin elda bernasib sama seperti dirinya dulu.
Tapi siapa yang bisa melawan takdir, jika allah menakdirkan ardi dan elda berjodoh sebagai orang tua dia hanya bisa merestuinya.
"Kalau ibu, terserah elda saja nak, semua keputusan ada di tangan elda" ibu elda kembali menatap ke arah ardi.
"El..?? bagaimana?" ardi menatap elda dan menanti jawaban dari elda.
Sedangkan elda masih diam tak bergeming di posisinya, dia tidak tau harus memberi jawaban apa untuk ardi, elda merasa dirinya tidak pantas bersanding dengan orang seperti ardi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.