REVISI
Ini kisahku dengannya, tentang aku dan dia. Tentang dia yang berhasil merebut hatiku dan membuatku sangat takut kehilangannya.
Tentang dia yang selalu membuatku kesal dan bahagia disaat yang bersamaan. Aku bersyukur Tuhan menghadiahkannya untukku, dan tentunya hanya untukku saja.
Saat hari-hariku penuh warna dibuatnya, entah dosa besar apa yang pernah ku perbuat di masa lalu sehingga dengan teganya Tuhan memisahkan aku dengannya.
Aku bingung mengapa Tuhan seolah mempermainkan aku dengan selalu membuatnya datang, pergi, datang lagi, lalu pergi lagi?
Aku hanya bisa menguatkan diriku sendiri dengan takdir yang diberikan Tuhan padaku.
Satu hal yang aku tahu, selamanya aku mencintainya. Seperti katanya
"Aku mencintaimu, selamanya cinta kamu. Sampai kita menua, memiliki anak, cucu bahkan cicit. Aku akan bersamamu dan mencintaimu sampai rambut kita memutih dan sampai aku menutup mata" Arkana.
Aku harap semuanya bukanlah mimpi indah namun sesaat. Aku bahkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vicka Villya Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Syeril
"Eh Lin aku pulang dulu ya, udah sore juga nih" ucap Qania disela-sela mereka tengah mengobrol.
"Yaa bentar lagi dong" rengek Fadly.
"Aku pulang sendiri aja, biar Elin disini dulu" ucap Qania.
"Biar aku yang antar" serga Fandy membuat semuanya melirik padanya.
"No thanks" tolak Qania.
"Iya Qan, aku khawatir loh kalau kamu pulang sendiri" pinta Elin.
"Aku nggak pulang sendiri kok, aku pulang bareng temanku. Dia lagi di ruangan lain jenguk saudaranya" ucap Qania mencari alasan.
"Aku pamit ya" lanjut Qania.
Mereka tidak bisa mencegah Qania, dan harapan Fandy untuk bisa berdua bersama Qania pun pupus. Saat Qania hilang dibalik pintu, Fadly langsung memanggil Fandy agar mendekat kepadanya.
"Lo masih ada rasa?" tanya Fadly to the point.
"Sama Qania?" tanya balik Fandy.
"Ya sama siapa lagi" ketus Fadly.
"Ya mungkin" jawabnya singkat kemudian berjalan keluar. "Gue keluar dulu, nggak mau jadi nyamuk" ucapnya seraya membuka pintu kamar dan pergi berlalu.
Qania yang ingin menemui Rizal melihat pintu ruangan Arkana terbuka, betapa hancur hatinya saat melihat Arkana tengah berpelukan dengan Syeril. Rizal yang datang dari belakang Qania juga terkejut dengan apa yang ia lihat. Qania sampai meneteskan air matanya, tubuhnya oleng untung saja dengan sigap Rizal menahan kedua bahu Qania.
"Lo nggak apa-apa Qan?" tanya Rizal cemas.
Pertanyaan Rizal tersebut membuat Arkana dan Syeril melepaskan pelukannya dan menatap kearah pintu. Arkana langsung menjauhkan tubuhnya dari Syeril dan menatap Qania. Ia melihat wajah Qania sudah sembab, matanya berkaca-kaca. Ia hendak turun dari ranjangnya namun Syeril mencegahnya.
"Sayang kamu diam saja disitu dan jangan banyak bergerak, kamu masih belum pulih" pinta Syeril.
Arkana menurut saja dan saat ia kembali menatap Qania, ia melihat air mata Qania sudah membasahi pipinya. Dengan cepat Qania menghapus jejak air mata di pipinya.
"Maaf ganggu, saya permisi" ucap Qania kemudian langsung berbalik pergi meninggalkan Arkana dengan isakan yang sudah tidak mampu ia tahan.
Rizal menatap Arkana dari ambang pintu dengan penuh amarah. Arkana seolah ciut dengan tatapan Rizal tersebut, namun Syeril bersikap biasa saja.
"Harusnya kalau lo lagi bermesraan pintunya ditutup. Dan juga kalau lo mau pamer kemesraan jangan nyuruh orang lain buat datang" sindir Rizal kemudian membanting pintu dengan keras membuat Arkana dan Syeril tersentak. Rizal mengejar Qania.
"Dia kenapa?" tanya Syeril.
Arkana hanya mengangkat bahunya, ia bingung harus menjawab apa. Ia ingin mengatakan pada Syeril bahwa Qania adalah pacarnya, namun disisi lain ia juga bingung dengan perasaannya terhadap Syeril.
___________
Qania terus berlari keluar dari rumah sakit, untung saja Rizal melihatnya dan bergegas mendekatinya.
"Gue antar" kata Rizal sambil menarik tangan Qania.
"Nggak usah" tolak Qania sambil menghapus air matanya di pipi.
"Lo lagi nggak baik-baik saja saat ini" tegas Rizal.
Qania membenarkan ucapan Rizal, lagi pula saat ini ia juga butuh teman dan juga butuh penjelasan dari Rizal mengenai Syeril dan Arkana.
"Baiklah" ucap Qania.
Rizal mengantar Qania pulang dengan mobilnya, ia terus melirik Qania dengan ekor matanya. Ada rasa kasihan melihat kondisi Qania yang berusaha tegar dihadapannya.
"Dia Syeril, pacar Arkana waktu SMA. Dia pindah saat kita baru naik kelas tiga, mereka tidak pernah putus namun juga tidak berkomunikasi setahun ini. Sampai akhirnya Arkana bertemu sama lo dan dia tidak lagi mengingat Syeril" cerita Rizal namun masih fokus menyetir.
Qania diam mendengar cerita Rizal, hatinya sakit sangat sakit mendengar fakta tersebut.
"Arkana itu sayang sama lo, dia hanya bingung dengan situasi yang tiba-tiba saja membawanya pada masa depan dan masa lalunya" lanjut Rizal.
"Sebaiknya lo bicarain ini sama Arkana nanti" usul Rizal.
"Apakah aku ini hanya pelarian saja?" tanya Qania yang membuat Rizal menghentikan mobilnya mendadak.
"Lo jangan berpikiran seperti itu, Arkana itu tulus sayang dan cinta sama lo" sanggah Rizal.
"Emang kamu bisa tahu isi hati seseorang?" tanya Qania membuat Rizal tersudut. "Enggak kan".
Rizal bungkam, ia tidak tahu harus menjawab apa pada Qania. Ia tahu bagaimana perasaan Arkana pada Syeril dulu, dan juga bagaimana perasaan Arkana pada Qania.
"Lo emang benar, tapi gue sebagai sahabatnya yakin bahwa Arkana sangat mencintai lo" tegas Rizal.
"Tidak perlu menghiburku dengan ucapan yang manis kalau toh berujung kepahitan" ucap Qania terkekeh.
"Jangan sok kuat kalau nyatanya tenaga udah nggak punya" sindir Rizal membuat Qania memanyunkan bibirnya.
"Pulang yuk" ajak Qania
"Senyum dulu dong" pinta Rizal.
"Nggak bisa" ketus Qania.
"Kok nggak bisa?" tanya Rizal.
"Soalnya senyumku itu mahal" jawab Qania membuat Rizal geleng-geleng kepala.
"Setidaknya dia mampu menghibur dirinya sendiri saat sedang patah hati seperti ini. Lo hebat Qan" batin Rizal.
semangat💪😘
akhirnya arkana wijaya telah kmbali semoga qania selalu bhagia,,,
dan buat s marsya sadar kalau dia bukn tristan anggara...
jangan terlalu lama ya thor up nya💪😘