Karya asli!!!
on-Going
Salah satu Sovereign tertinggi di Alam Semesta yang Tak Terbatas ini, ia segera menjalani Jalan menuju Dao tertinggi di alamnya, mereka mengetahui dari catatan kuno, jika seseorang bisa melewati batas Penguasa Tertinggi, ia bisa menjadi God King.
Namun siapa sangka, Wanita yang ia anggap mencintainya, dikhianati olehnya. Saat itu ia hendak menerobos melewati batas itu, namun saat menerobos ia sempat terdampak oleh Tribulasi Hukum. Saat itulah kesempatan wanita itu menusuknya dengan Kabut beracun yang asalnya tidak diketahui, bahkan melukai Primordialnya.
Jadi, sisa jiwanya ia bereinkarnasi menjadi pangeran muda dengan nama yang sama "Huang Di", namun jalan takdir yang ia jalankan sangat bertengtangan dengan sifat Ke Angkuhannya sebagai Absolute. Bagaimana perjalanannya menjalankan takdir ini?
Di kebaradaan Dimensional yang lebih tinggi bahkan God King itu hanya seperti Dewa biasa!
"Jika Takdir mempermainkanku! aku akan memandang rendah Semuanya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arceusssxara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 kembali ke Puncak kejayaan
Langit tidak pernah benar-benar diam. Ia hanya menunggu—menunggu saat yang tepat untuk berguncang dan mengumumkan bahwa takdir lama akan segera dihancurkan.
Di atas puncak tertinggi Istana Retakan Kekacauan, tubuh Huang Di telah menyatu sepenuhnya dengan Gerbang Puncak Tuan. Pusaran hukum di sekitarnya telah berubah dari warna-warna kosmis biasa menjadi hitam pekat keemasan, warna eksistensi absolut. Hukum Waktu, Ruang, Realitas, Kekacauan, bahkan Kehendak—semuanya tertarik dan terkunci dalam tubuhnya yang terus-menerus menyerap segala bentuk eksistensi.
Rasa Nyata yang Membakar
"Apa ini... rasa kehendak yang lebih besar dari eksistensiku sendiri...?"
Untuk pertama kalinya, bahkan Huang Di yang pernah dikenal sebagai Calon Cosmic Creator di masa lalunya, merasa jiwanya mendidih oleh sesuatu yang tak pernah ia sentuh: rasa nyata bahwa dunia itu tak sepenuhnya tertulis untuk dirinya.
"Ranah Cosmic Creator... dulu aku nyaris menaklukinya. Namun karena pengkhianatan itu... aku terhenti. Tapi sekarang—"
Tubuhnya bergetar hebat. Bukan karena ketakutan, bukan pula karena kelemahan.
Melainkan karena seluruh semesta mulai membentuk ulang posisinya di sekitar satu eksistensi: dirinya.
Proses Transendensi
Saat proses pemindahan menuju Ranah Tak Bernama terus berlangsung, cahaya keemasan menyala terang dari tubuh Huang Di, lalu meledak ke langit. Suaranya seperti nyanyian hukum purba, membelah langit seperti gemuruh neraka.
...CRAAAAK!!...
Retakan menyebar. Bukan hanya di langit dunia asal, tetapi di dimensi-dimensi di atasnya. Alam semesta yang berlapis-lapis mulai berderak dan bergetar. Realitas memekik. Konsep "ruang" dan "waktu" terguncang.
Reaksi Dunia Asal
Di seluruh penjuru Dunia Asal, ribuan sekte besar, istana langit, benteng surgawi, hingga para penguasa Sovereign dan eksistensi tertinggi sekalipun tersentak dari meditasi mereka.
"Apa... ini...?"
"Langit... langit sedang hancur...!"
"Itu... itu dari arah Istana Retakan Kekacauan! Apakah itu... Ye Qingchen!?"
Mereka menyaksikan dengan ngeri ketika sebatang pilar cahaya keemasan mencuat dari tanah hingga menembus kosmos. Di atasnya, sebuah singgasana hitam emas yang tak pernah mereka lihat, perlahan mengukir eksistensinya.
Singgasana yang tidak dibangun.
Namun terbentuk oleh hukum itu sendiri, tunduk pada satu jiwa.
Selesainya Proses
Ketika proses integrasi selesai, langit runtuh dalam diam, dan suara petir hukum meledak secara serempak di sembilan dimensi sekaligus. Alam menunduk, hukum bersujud.
Dari pusaran yang tersisa, sosok itu melangkah keluar.
Matanya menyala keemasan.
Tubuhnya membawa gema hukum.
Dan setiap langkahnya menciptakan jalur hukum baru yang tak pernah ada sebelumnya.
Ia telah kembali.
Ye Qingchen.
Huang Di.
Sang Penentu Takdir yang Terlupakan.
Langit yang retak memantulkan suaranya. Dunia diam menanti satu kalimat darinya.
Huang Di menatap ke cakrawala, tempat masa lalunya masih tertinggal—tempat pengkhianatan terjadi, tempat ia kehilangan segalanya, tempat kematiannya dulu dipahat dengan ketidakadilan.
Dengan suara yang dalam, tenang, dan menggema ke setiap ranah dimensi, ia berbicara:
“Kini saatnya aku membalas semua yang telah ditulis… wanita yang akal busuk aku akan membalaskan dendam ini kepadamu.”
Langit telah terdiam.
Hukum telah tunduk.
Dan jiwa-jiwa tertinggi di dunia asal... hanya bisa membungkuk.
Di tengah-tengah bekas pusaran hukum yang masih membara, Ye Qingchen, sang Huang Di, berdiri tenang dengan cahaya keabadian yang mengalir dari setiap hela nafasnya.
Ranah yang ia injak bukanlah lagi sesuatu yang bisa dijelaskan.
Ranah Tak Bernama, ranah di atas Eternal Monarch, ranah yang hanya bisa dimasuki oleh mereka yang telah melepaskan seluruh bentuk eksistensi rendah dan menyatu dengan kehendak semesta.
Sosoknya berdiri seperti puncak tertinggi di gunung yang tak pernah bisa dipanjat.
Hormat dari Dunia
Satu per satu, para Sovereign, para Raja Alam, para Penerus Sekte Agung, bahkan makhluk purba penghuni Retakan Waktu—semuanya berlutut di kejauhan. Suara mereka bergema penuh kekhidmatan.
"Hormat kami kepada Ye Qingchen…"
Meski mereka berdiri di dunia yang sama, namun antara mereka dan Huang Di kini terbentang jurang eksistensi yang tak bisa dijembatani.
Huang Di bahkan tak melihat mereka.
Satu Tujuan, Satu Nama
Meski kekuatan kini tak terhingga.
Meski waktu tak lagi mengikatnya.
Dan meski ruang bisa ia belah hanya dengan mengedip…
Namun satu hal tidak berubah:
Dendam.
Dendam kepada satu wanita berakal busuk, pengkhianat yang menjatuhkan takdirnya di kehidupan sebelumnya. Wanita yang pernah ia percaya... dan gunakan untuk mempercepat perjalanannya—namun justru berbalik menghancurkan dirinya.
Huang Di menatap ke langit kosong. Matanya tak lagi menyala dengan kekuatan, namun dengan sesuatu yang lebih murni: kehendak absolut.
Mengibaskan Tangan, Membelah Ruang
"Sudah waktunya."
Dengan kalimat pendek, ia mengangkat tangannya dan mengibaskannya ke samping.
SRAAAKKKK!!!
Ruang di sebelahnya langsung terbelah, bukan seperti portal biasa, tapi terkoyak seperti lembaran kertas, mengungkap dimensi tersembunyi—alam yang tak pernah dikunjungi oleh makhluk manapun sejak ia tinggalkan:
The Endless Beauty of the Holy.
Alam ciptaannya sendiri.
Dunia surgawi sempurna yang dulu ia bentuk ketika mencapai Eternal Monarch.
Dunia itu hanya tunduk padanya. Hanya mengenal satu nama: Huang Di.
"Aku yang membentuk dunia itu. Maka aku pula yang akan menghancurkan ilusi yang tersisa di dalamnya."
Di balik celah itu, muncul cahaya putih keemasan yang menyelimuti bukit surgawi, sungai suci, dan istana mengambang yang dulu merupakan pusat The Endless Beauty of the Holy. Dunia itu kini kosong dari suara, namun penuh dengan gema kenangan.
Itulah tempat terakhir wanita itu—pengkhianat yang menjadi alasan kehancurannya—bersembunyi.
Satu langkah lagi, dan Huang Di akan kembali ke tempat segalanya berakhir... dan akan dimulai kembali.
Langkahnya maju ke dalam celah.
Realitas menyatu kembali di belakangnya.
Dan dunia pun kembali sunyi...
Karena balas dendam yang dibawa oleh makhluk tak terikat takdir, tidak pernah bisa dihentikan oleh apapun.
Di jantung dunia surgawi The Endless Beauty of the Holy, istana suci yang berdiri megah bagaikan mahkota semesta berdiri kokoh—menjulang di atas langit yang tak berbintang, menyimpan keindahan yang menyilaukan dan keheningan yang penuh tipu daya.
Di dalamnya, seorang wanita dengan rambut putih mengalir, duduk bersila di atas singgasana berbahan Stellar Jade. Di hadapannya terhampar peta hukum, pusaran energi spiritual, dan untaian hukum dunia yang ia kuasai.
Namanya adalah Li Mei.
Pernah menjadi tangan kanan, sekaligus belahan jiwa, dari sosok yang dulu dikenal sebagai Huang Di.
Kini, ia adalah Ratu Alam Surgawi.
Penguasa The Endless Beauty of the Holy.
Perempuan yang pernah mengukir cinta… lalu menggoreskan pengkhianatan.
Namun saat ini, raut wajahnya yang tenang sedikit berubah. Alis indahnya berkerut. Matanya yang tajam menatap langit-langit istana, seolah ada sesuatu yang tidak wajar merambat ke setiap urat-urat dunia.
"Apa ini? Kenapa Domain Suci berguncang?"
Ia berdiri. Suara gaunnya mengalun pelan. Aura kekuasaan sebagai pemegang Heaven’s Binding Oath mulai memancar.
Lalu…
“KREAAAK!”
Suara retakan itu muncul. Bukan suara bangunan, tapi suara ruang itu sendiri yang robek—hal yang tak pernah terjadi sebelumnya.
Dunia ciptaan ini tak pernah dimasuki siapa pun tanpa izinnya.
Tiba-tiba, suara alarm surgawi berbunyi. Sebuah formasi pertahanan kuno yang melindungi alam suci itu selama ribuan tahun mulai aktif—menandakan adanya penyusup.
Li Mei menoleh ke penjaga pribadinya, seorang Sovereign Rank Void Ascendant bernama Han Shou.
“Han Shou! Perintahkan seluruh batalion cahaya abadi untuk menyegel gerbang dimensi! Tangkap siapapun yang masuk ke sini!”
Han Shou langsung menunduk. “Perintah diterima, Yang Mulia!”
Pasukan Surgawi Bergerak
Di langit The Endless Beauty of the Holy, ribuan cultivator berpakaian perak mulai mengepakkan sayap spiritual mereka. Formasi langit diaktifkan. Cahaya keemasan membentuk simbol langit ketiga, menggetarkan seluruh lapisan dunia.
"Penyusup tidak dikenal muncul di celah selatan surgawi!"
"Identifikasi tidak berhasil. Fluktuasi hukum tidak bisa dideteksi!"
"Makhluk itu tidak tercatat dalam sistem kehidupan dunia ini!"
Laporan-laporan tersebut berdatangan tanpa henti ke pusat komando surgawi. Namun tak ada satu pun dari mereka tahu...
Bahwa orang yang datang bukanlah penyusup biasa.
Langkah yang Mengguncang Dunia
Di lembah paling dalam dari dunia surgawi, tempat di mana dahulu pertama kali dunia ini diciptakan, seseorang melangkah keluar dari celah realitas yang sudah terbelah.
Langkahnya tenang, namun tiap jejak yang ia injakkan menggetarkan formasi kuno, melengkungkan hukum ruang, dan membuat langit berkedip-kedip seolah tercekik oleh kehadirannya.
Ye Qingchen.
Atau yang dulu dikenal sebagai Huang Di.
Matanya memandang sekeliling—tanah yang ia bentuk dengan kehendaknya, udara yang ia isi dengan hukum miliknya, dan langit yang ia ciptakan dengan cahaya jiwanya.
Namun semuanya telah ternoda.
Kini dunia ini adalah milik pengkhianat itu.
“Kau menamainya sebagai milikmu… tapi dunia ini adalah hasil keringatku.”
Suara itu bergema di atas langit dengan gema…dan saat suara itu terdengar...
Celah hukum mulai retak.
Kepanikan Surgawi
Di pusat langit keempat dunia itu, Han Shou berdiri bersama delapan Sovereign lainnya. Mereka telah mengumpulkan Enam Pilar Langit dan mengaktifkan teknik penyegelan kuno.
“Bentuk Formasi Nirwana Enam Sudut! Siapkan Serangan Dewa Roh!”
Tapi belum sempat formasi selesai, angin hening berhembus.
Bukan angin biasa—melainkan Void Breeze, angin yang hanya muncul ketika hukum tertinggi bersentuhan dengan eksistensi yang tak bisa dijelaskan.
“BOOOOM!!!”
Satu pilar hukum meledak.
Empat Sovereign tercampakkan sejauh ribuan kilometer, tubuh mereka terbakar oleh api tak dikenal—Api Kekacauan Mutlak.
Han Shou gemetar.
“Mustahil… Siapa makhluk ini…?”
Li Mei yang Tak Menyadari
Di ruang pribadinya, Li Mei berdiri di balkon istananya. Ia bisa melihat formasi-formasi langit yang mulai pecah, satu demi satu.
“Han Shou…?” gumamnya. “Apa yang terjadi? Mengapa aku merasa… rasa ini familiar…?”
Tiba-tiba, sebuah aura yang pernah sangat dekat dengannya—pernah ia peluk, pernah ia hancurkan—muncul perlahan-lahan. Bukan di pikirannya. Tapi dalam jiwanya.
Detak jantungnya berhenti sesaat.
Tidak… ini tidak mungkin… dia… sudah mati…
Dalam hatinya ia memikirkan satu nama "Huang Di" atau sang Sovereign.
Sosok Itu Muncul
Langit di atas istana retak seperti kaca. Sebuah celah terbuka—dan dari sana, sesosok pria melangkah keluar. Jubah hitam dengan garis emas mengalir dari bahunya. Rambut panjang tergerai bebas. Di belakangnya, lingkaran Dao kuno berputar perlahan, bersinar dengan aksara langit.
Di tangannya, pusaran hukum berputar seperti planet yang terikat gravitasi mutlak.
Matanya…
Bersinar emas.
“Li Mei.”
Suara itu bukan suara kebencian.
Bukan juga suara cinta.
Tapi… suara kehendak. Suara dari seorang makhluk yang telah mengatasi segala keterikatan.
Li Mei mundur satu langkah.
“Kau… tidak mungkin… kau… sudah—”
“Mati?” Huang Di melangkah maju dalam satu langkah dan sudah didepannya berada.
Saat itu Li Mei Langsung melangkah mundur dengan cepat beberapa meter
Seluruh dunia The Endless Beauty of the Holy bergetar. Formasi-formasi runtuh. Gunung-gunung suci meleleh. Sungai spiritual membalik arah.
Semua hukum… menunduk pada pria itu.
Dan semua penghuni dunia itu—jutaan makhluk, dari Sovereign hingga beast suci—mulai berlutut, tubuh mereka tak bisa menahan tekanan dari eksistensi yang telah melampaui hukum.
“Penguasa… Penguasa Dunia Ini Telah Kembali…” suara-suara itu mulai gemetar.
Li Mei masih berdiri.
Namun tangannya gemetar.
Bukan karena takut pada Huang Di…
Tapi karena ia tahu…
Takdir telah kembali untuk menagih harga yang tertunda.
"Aku datang untuk menebus hal yang kamu lakukan kepadaku... Li Mei" dengan nada dinginnya
Saat ia mengangkat tangannya, udara membeku. Langit menyala. Ruang waktu mulai berderit seperti kayu tua.
Dan kisah balas dendam pun… dimulai.
gaassss....