Masa lalu yang kelam membuat Helena harus hidup dengan dua identitas. Pertama, sebagai dirinya sendiri. Kedua sebagai Candy, wanita malam yang mendapatkan uang setelah memuaskan hasrat para pria hidung belang.
Semua pria itu sama sekali tidak tahu mengenai Helena. Mereka hanya tahu tentang Candy. Sampai kemudian terjadi sesuatu yang tak terduga, ada seorang pria yang menyadari jika Helena dan Candy adalah wanita yang sama. Ya, Adam tahu kalau Helena memang sengaja menyamar menjadi Candy. Hal itu membuatnya ingin tahu lebih jauh tentang kehidupan wanita itu.
Tentu saja seharusnya Adam adalah pria yang Helena jauhi. Namun kenyataannya, Helena malah selalu berakhir di ranjang pria itu. Apa yang harus Helena lakukan? Bagaimana jika seluruh dunia tahu identitas aslinya? Jika itu terjadi, sanggupkah ia menghadapi masa lalu yang kembali terkuak?
WARNING 21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riri Lidya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Like dulu sebelum baca dan jadikan favorit ya^^
•
•
•
Adam turun duluan menunggu Helena bersiap-siap. Ia melihat Venus berkumpul di ruang tamu.
“Kalian tidur nyenyak?” Tanya Adam basa-basi.
Hera mengangguk.
Adam duduk di depan mereka dengan santai. “Ceritakan padaku seperti apa Matthew Parker.”
Diana mematung sedangkan Inanna dan Hera menunduk.
“Kau tidak akan senang mendengarnya.”
“Memang… Tapi harus.”
“Pria itu sangat kejam.” Diana berbisik.
“Dia seorang psikopat,” tambah Inanna.
Dan terakhir Hera. “... Monster.”
Adam tidak lagi bersuara. Ia terlihat sedang berfikir sebelum menghela nafas dalam.
“Seberapa banyak yang kau ketahui tentang Helena, Mr. Pallas?” tanya Hera langsung saat Adam mengeluarkan ponselnya dari saku jas.
Adam melirik sekilas sebelum menatap ponselnya. “Jika kukatakan semuanya, tidak juga. Tapi jika aku jawab tidak tahu, bukankah itu munafik? Yang jelas, aku lebih tahu dari pada publik. Aku lebih maju 10 langkah dari mereka.”
“Apa kau memiliki perasaan pada Helena?” Tanya Diana.
Adam terdiam, tersentak sedikit sebelum kembali santai.
“Bukankah sangat aneh jika tidak ada status dalam hubungan kalian. Dan kau yang hanya baru saja bertemu Helena dalam waktu singkat bisa peduli padanya.”
Adam kembali diam.
“Sekarang coba katakan padaku. Kenapa kau ingin membantu Helena?” sekarang Inanna membuka suara.
Venus butuh kesabaran tingkat dewa saat Adam baru membuka mulutnya.
“Tugasku di sini adalah melindungi Helena. Karena kami adalah partner bisnis.”
“Apakah aku melewatkan sesuatu?” tanya Helena.
Adam berdiri lalu mendekati Helena. “Tidak ada yang perlu kau khawatirkan.” Adam memberikan kecupan singkat. “Are you ready?”
“Yes. Are you?”
Adam tersenyum dan membawa Helena memasuki limusin yang sudah menanti mereka.
***
“Putri Ariadne Helena Alexandras dari Kekaisaran Alexand akhirnya memunculkan dirinya setelah 3 tahun lebih dari kabar kematiannya. Motif dari itu semua belum dipastikan. Dan kabarnya ia...”
Seorang pria duduk diam dalam ruangan temaram yang hanya menatap layar TV tanpa mendengar apa yang dibicarakan reporter tersebut. Dengan kedua jemarinya mengapit batang candu.
“Rupanya dia yang aku lihat di sana...” decak pria itu.
“Apa Anda ingin saya membawa Ms. Alexandras kembali, Sir?” Tanya seseorang di belakangnya.
Nampak pria itu mencoba berfikir. Ia mengambil kalung dengan mata kalung batu ruby, yang tergeletak di mejanya. Ia mendapatinya di salah satu mini market saat ia singgah sebentar ke New York, di dalam dompet tanpa identitas. Padahal dirinya ingin mengembalikan dompet seorang wanita yang keluar dari mini market dengan tergesa-gesa. Tapi dia kalah cepat saat mobil wanita itu sudah melaju di jalanan. Ia sangat yakin milik siapa ini awalnya. Kalung ini sama persis seperti milik Lena. Hadiah ulang tahun Lena yang ke-17 dari Ryan... Tapi tidak mungkin Lena-nya masih hidup.
“... Biarkan dia bersenang-senang dulu. Pada akhirnya ia yang akan kembali ke pelukanku...”
Pria itu menyesap minumannya sebelum melanjutkan kalimatnya dengan berbisik untuk dirinya sendiri, “Karena hanya aku hidup dan matinya... Aku cinta pertamanya.”
***
Suara deringan telepon mengganggu tidur Helena. Ia membuka matanya, menggeram. Baru saja dirinya ingin bangkit, tapi sebuah tangan memeluk tubuhnya posesif dari belakang. Helena mengulurkan tangannya, mengambil ponsel di nakas tanpa harus membangunkan Adam.
“Ya, Max?”
“Ayahmu terkena serangan panik.”
Mendengar itu dengan cepat Helena terduduk.
“Apa?”
“Kami akan menanganinya. Jika kau kemari, be carefull, please.”
“Ada apa, Babe?” tanya Adam serak, khas bangun tidur.
“Daddy...” Helena tidak bisa berkata-kata. Seakan lidahnya kelu.
Dan Adam yang paham maksud Helena langsung benar-benar terbangun. Ia mengambil ponselnya menelpon Lucas. “Bersiaplah, aku akan menghubungi Lucas.”
Helena mengangguk langsung beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.
***
Suara high heels Helena terdengar tergesa-gesa di seluruh penjuru rumah sakit yang sunyi. Dari kejauhan ia dapat melihat Laurent. “Bagaimana?” tanya Helena terengah.
“Bagaimana, Dok?” tanya Adam tenang.
“Semuanya sudah terkendali. Kita hanya dapat menunggu Mr. Alexandras membuka matanya.” Kemudian menatap Helena. “Maafkan aku, Helena, kau belum bisa menemui Ayahmu sekarang. Tapi kau dapat menemui beliau di ruang pemulihan setelah perawat memindahkannya.”
Helena mengangguk.
“Thank you, Mr. Pallas.”
Adam mengangguk mendengar ucapan tulus Max dan balas mengucapkan terima kasih. Setelah itu Max keluar bersama yang lainnya.
Helena dan Adam mengikuti rombongan perawat yang membawa Ryan ke ruang pemulihan. Beberapa jam kemudian barulah mereka bisa masuk. Sampai di tempat, mau Adam ataupun Helena sama sekali tidak bersuara. Helena merasa lebih senang dengan ketenangan itu dan Adam sendiri hanya memaklumi apa yang Helena inginkan hingga Max datang untuk mengecek perkembangan Ryan.
“Berapa lama lagi Daddy akan bangun?”
Max melirik Helena sekilas sebelum menatap aliran infus. “Helena, dengar, aku bukan Tuhan yang bisa memprediksi kapan Ayahmu bangun. Aku hanya seorang dokter yang tugasnya mencoba menyelamatkan Ayahmu dengan seluruh kemampuanku… Dan yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu. Tidak perlu terlalu khawatir, ayahmu juga sedang berjuang..”
Jangan ditanya bagaimana perasaan Helena saat mendengar itu. Ia sampai perlu mengalihkan kepalanya berharap bisa menghilangkan kata-kata Max. Dan Max menghela nafas lalu meremas bahu Helena sebelum pergi.
***
Putih dan silau. Itu yang pertama kali Ryan tangkap setelah membuka matanya. Ia mengerjapkan matanya perlahan dan pandangannya mulai sedikit jelas. Ia melihat lampu di atas kepalanya kemudian wajah anak tercintanya dan seorang pria di sampingnya.
“Daddy? Kau sudah bangun?”
Ryan tidak tahu apa yang terjadi saat ini. Ada apa dengan wajah khawatir bercampur lega Helena. Ia juga tidak dapat menggerakkan badannya. “Meli?”
“Oh my God. Oh my God. Max!”
Ryan tidak bisa menangkap suara Helena. Ia hanya melihat beberapa perawat dan dokter mengelilingi ranjangnya sebelum kembali putih.
***
“Mr. Alexandras kondisi Anda sudah mulai membaik. Namun usahakan jangan banyak berfikir dulu. Otak Anda tak akan mampu apabila langsung bekerja setelah 3 tahun koma,” tutur Max sopan dan Helena pelan-pelan menyerapi perkataan Max.
Max dan yang lainnya menundukkan kepala sekilas lalu melenggang keluar dari ruangan tersebut. Menyisakan Adam dan Helena. Helena melambaikan tangannya di wajah Ryan hingga Ayahnya kesal. Helena terkikik geli melihat reaksi pertama dari Ryan. Ayahnya telah kembali.
Ryan menatap Adam dengan pandangan ingin tahu.
“Um Daddy, perkenalkan ini Adam.”
Ryan memandang Helena dan Adam bergantian. “Apa kalian...”
“Dia hanya temanku.” Helena menjawab dengan cepat.
“Oh syukurlah... Aku kira kau selingkuh di belakang Matthew.”
•
•
•
jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar;)
Moga aja ada lnjutan cerita khidupan mereka stelah menikah..
tapi bagus ceritanya
saya pernah baca di WP tapi ndak selesai jadi penasaran sampai sekarang endingnya gimana 😭😭😭