"Kamu adalah laki-laki yang bisa membuatku percaya, bahwa tidak semua laki-laki itu brengsek" ~Rania
"Kamu adalah wanita yang membuatku mengerti apa itu cinta" ~Aldrich
Aldrich yang tidak percaya pada cinta semenjak pengkhianatan yang dilakukan oleh suami kakaknya dan membuat kakak satu-satunya meninggal karena bunuh diri.
Akhirnya dipertemukan dengan Rania yang tidak percaya kepada laki-laki, setelah melihat sahabatnya sendiri meninggal karena bunuh diri akibat ditinggal kekasih yang telah menghamilinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anugrah Utarie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan
Rania sudah berada di bandara mengantar Aldrich. Laki-laki itu harus kembali ke London untuk mengurus berkas-berkas pernikahan mereka. Karena ia tidak bisa mewakilkan pengurusan berkasnya kepada Adhlino.
Setelah menemani Aldrich check in matanya langsung berkaca-kaca karena akan berpisah selama beberapa hari.
"Kamu jangan lama-lama ya di sana" cebik Rania, karena calon suaminya harus kembali ke London selama beberapa hari mengurus dokumen pernikahan mereka. Sedangkan dirinya juga harus mengurus dokumen syarat pernikahannya disini. Kalau tidak, mungkin dia akan ikut dengan Aldrich.
"Iya, aku tidak akan lama disana. Kalau urusanku sudah selesai. Aku akan segera kembali" Aldrich menarik Rania ke dalam pelukannya dan mencium lama puncak kepala Rania.
"Aku pergi dulu ya, sudah ada panggilan pertama" ucap Aldrich seraya melepaskan pelukan Rania. Wanita itu tampak menahan air matanya yang hampir tumpah setelah Aldrich perlahan berjalan menaiki eskalator menuju lantai 2 bandara.
"Hati-hati ya, jangan lupa kabari aku kalau sudah sampai nanti" teriak Rania sambil melambaikan tangan ke arah Aldrich. Ia segera membalikkan tubuhnya dan cairan bening itu berhasil lolos membasahi pipinya.
Rania melangkah keluar dari bandara dengan mata yang sedikit sembab. Ia langsung menuju parkiran dan segera pulang ke rumah.
Selama beberapa hari dia harus bolak-balik ke kedutaan untuk menyelesaikan berkas pernikahannya. Ia ditemani Alden yang selalu mengantarnya kalau sedang tidak ada tugas.
"Hufftt, akhirnya selesai juga urusannya" Rania menghembuskan napas pelan dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Tak lama terdengar nada dering ponselnya dan ia langsung mengambilnya. Ia melihat panggilan dari luar negeri dan segera menjawabnya.
"Hallo my bride" terdengar suara seseorang yang sangat ia rindukan dari seberang sana. Karena Aldrich memang baru menghubunginya..
"Hmmn" Rania sangat irit bicara karena Aldrich ingkar janji.
"Maaf sayang, ternyata urusanku disini sangat banyak. Belum lagi pekerjaan yang selama ini aku tinggalkan" jelas Aldrich panjang lebar.
"Setidaknya, kirim pesan kek, wa kek atau apa?" akhirnya Rania bicara.
"Iyaaa, maaf yaa. Sekarang kamu buka jendela kamarmu dan lihat ke luar"
Rania langsung bangkir dari ranjang dan membuka jendelanya. Betapa kagetnya saat ia mendapati seorang pria berdiri sambil memegang bucket mawar merah di depan wajahnya.
"Siapa kamu?" tanya Rania dengan sedikit takut.
Saat bunga di turunkan mata Rania langsung membulat dan berteriak kegirangan. "Aldrich, kapan kamu sampai? Kenapa tidak memberitahukan kepadaku?"
"Aku mau memberikan kejutan padamu."
"Berputarlah, aku akan membukakan pintu depan" Rania segera menutup jendelanya dan segera keluar dari kamar. Ia bergegas ke pintu depan dan segera membukanya.
"Merindukanku." Rania mengangguk dan langsung menghambur dalam pelukan Aldrich.
"Aku sangat-sangat merindukanmu"
Cup
Rania mencium pipi Aldrich sekilas. "Terimakasih atas kejutannya"
"Sama-sama sayang" Aldrich mencium kening Rania. Ia sebenarnya ingin mencium bibirnya, tapi dia takut wanitanya akan marah lagi seperti waktu itu.
Sabar Aldrich, tinggal 2 hari lagi. Maka Rania akan jadi milikmu.
"Ayo masuk" Rania menggandeng tangan kanan Aldrich masuk. Sedangkan tangan kiri Aldrich menggeret kopernya.
Tok... tok.. tok...
Rania mengetuk pintu kamar adiknya. "Ars, ini kak Rania. Apa kakak boleh masuk?"
"Masuk aja kak" teriak Arshad dari dalam kamar.
Ceklek
"Hallo jagoan" sapa Aldrich dan membuat Arshad yang sedang sibuk bermain game langsung menoleh.
Matanya langsung melotot "Kakak Al" teriaknya senang, meletakkan tablet-nya dan segera berlari ke pelukan Aldrich. "Ars kangen tau sama Kak Al" cebiknya setelah melepaskan pelukannya.
"Kakak juga merindukanmu" Aldrich menggendong bocah tersebut dan mendudukkannya di atas ranjang. "Kakak punya sesuatu untuk Ars."
"Apa itu?" tanya Arshad antusias.
"Sekarang tutup matanya" pinta Aldrich dan langsung dilakukan oleh Arshad. Aldrich langsung mengeluarkan sebuah robot Iron Man dan tokoh Avengers lainnya dari dalan kantung kertas yang ia tenteng dari tadi.
"Buka matanya sayang" kali ini Rania yang bicara.
Arshad langsung membuka matanya dan langsung melotot tak percaya. "Wahhhh tokoh Avengers ada Iron Man, Thor, Captain America, Hulk, Black Widow, Haukeye, Winter Soldier, Star Lord, Doctor Stephen Strange, Loki, Black Panther, Spider Man, Ant Man, Mantis, and Thanos" Arshad mengeluarkan semuanya dan langsung memeluk Aldrich.
Cup
Ciuman mendarat di pipi Aldrich, "Makasih kakak Al" ucapnya dan langsung menyusun semua karakter di dekat tempat mainannya yang terletak di pojok kamar. Karena Arshad selalu mengatur mainannya di tempatnya setiap kali selesai bermain. Sehingga kamarnya selalu rapi dan bersih.
Rania jadi terharu melihat kedekatan Aldrich dengan adiknya. Ia mendekati Aldrich dan melingkarkan tangannya di tubuh kekar laki-laki itu. "Thank you" bisiknya di telinga Aldrich.
"You are welcome" jawabnya pelan.
"Istirahatlah, aku ke kamar dulu" Rania meleoaskan tangannya dari tubuh Aldrich dan segera beranjak menuju pintu. Namun tangannya di tahan oleh Aldrich...
"Aku istirahat di kamarmu ya" bujuknya dengan wajah memelas.
"Kamu disini saja, kalau kamu di kamarku. Apa yang akan dikatakan Ayah dan Bunda nanti?"
"Aku nggak akan macam-macam, hanya tidur sambil meluk kamu aja" rengeknya manja.
"No no, sabar ya sayanggg. Tinggal 2 hari lagi ya" Rania langsung berlari keluar dari kamar adiknya. Karena jantungnya sudah berdetak dua kali lebih cepat. Ia langsung berjalan ke kamarnya dan langsung mengunci pintu setelah berada di dalam kamar.
Rania langsung membuka pakaiannya, karena ia samasekali belum mandi setelah pulang dari luar tadi. Kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai mandi dan memakai piyama, ia segera berbaring di atas ranjang karena sudah lelah. Tak lama ia sudah berada di alam mimpi saking lelahnya.
🌿🌿
Rania sudah selesai mandi saat seorang perias masuk ke dalam kamarnya. Kemudian Rania segera duduk membelakangi meja rias. Perias itu mulai menggerakkan tangannya untuk memoles wajah mulus Rania.
Untuk mengusir rasa bosannya, Rania mengajak perias itu bicara. "Siapa namanya kak?" tanya Rania sopan.
"Raihana" jawabnya singkat.
"Kak Ana sudah menikah?"
"Sudah, malahan saya sudah punya anak 3" jawab Raihana malu-malu, namun tangannya terus memoles wajah Rania.
"Wahhh, aku kira kakak belum punya anak loh. Karena tubuhnya masih bagus" puji Rania dan membuat Raihana merona.
"Ah kamu bisa aja, ini karena tubuh saya kecil makanya tidak terlalu jelas kalau gemuk. Padahal saya baru melahirkan sebulan yang lalu."
Rania begitu terkejut mendengar penuturan Raihana. "Oh my God, kak Ana strong banget. Aku salut sama kakak. Ternyata sebagai wanita kita harus jadi strong woman ya. Karena selain pekerjaan di rumah yang seabrek itu, kita juga harus melayani suami dan mengurus anak bagi yang sudah menikah."
"Kamu benar sekali, selain strong kita juga harus multitasking. Karena kita memang tidak bisa hanya fokus dengan satu pekerjaan. Berbeda dengan laki-laki yang hanya bisa terfokus pada satu pekerjaan."
"Huh, siap atau tidak aku ya" Rania jadi gugup.
"Siap atau tidak, seoarang wanita pasti akan melalui semua itu. Kita akan selalu berproses selama menjadi seorang istri. Apalagi kalau sudah jadi Ibu, kita akan belajar tiap hari. Mulai dari belajar kesabaran, keikhlasan, mengurus bayi, belum lagi mengurus bayi besar yang paling banyak maunya" jelas Raihana sambil tersenyum.
"Bayi besar?" kening Rania langsung berkerut karena tidak paham maksud Raihana.
"Bayi besar itu adalah suami, karena laki-laki itu. Meskipun di luar dia tampak sangar, tapi kalau sudah bersama orang yang ia sayangi. Maka dia akan berubah layaknya seorang bocah. Selesai" Raihana menjauhkan tangannya dari wajah Rania.
"Aku dapat ilmu banget dari kak Ana, makasih ya kak" Rania berbalik melihat cermin. "Waw, this beautiful" Rania kaget saat melihat pantulan dirinya di cermin.
"Sama-sama cantik, sini aku perbaiki rambutnya. Kamu mau yang seperti apa?"
"Aku mau diikat satu aja" pinta Rania.
"Baiklah" Raihana mulai merapikan rambut Rania dan mengikatnya dengan rapi sesuai permintaan Rania.
"Makasih kak, aku mau pakai gaunku dulu" Rania langsung berdiri dan berjalan masuk ke walk in closet. Kemudian mengambil gaunnya dari dalam lemari dan langsung memakainya.
Raihana segera keluar dari kamar Rania, setelah wanita itu masuk ke dalam walk in closet.
Hmmm, bagaimana ya reaksinya nanti? Dia pasti kaget karena gaunnya berubah dari waktu kita fitting. Semua ini ide Mommy dan Bunda.
Rania tersenyum memikirkan reaksi Aldrich nantinya. Kemudian segera keluar dari walk in closet dan berdiri di depan cermin untuk melihat penampilannya.
Ceklek
"Kakak" panggil Alden dan Arshad secara bersamaan dan segera masuk ke dalam kamar.
"Wahhh kakak cantik" puji Arshad sambil menaikkan kedua jempolnya.
"Ayo keluar kak, acaranya akan segera dimulai dan Ayah sudah menunggu kakak disana" kedua laki-laki tampan itu langsung menggandeng kakaknya keluar dari kamar.
.
.
.
.
bersambung
Bagaimana kira-kira reaksi Aldrich melihat penampilan Rania?
gimana Kenzie dan Liana?
gimana anak2 Riana dan Aldrich?
walaupun akan menghadapi kemarahan suami tapi setidaknya sudah menggigit dan menjambak Leo...