Di usianya yang beranjak remaja, pengkhiatan menjadi cobaan dalam terjalnya kehidupan. Luka masa lalu, mempertemukan mereka di perjalanan waktu. Kembali membangun rasa percaya, memupuk rasa cinta, hingga berakhir saling menjadi pengobat lara yang pernah tertera
"Pantaskah disebut cinta pertama, saat menjadi awal dari semua goresan luka?"
-Rissaliana Erlangga-
"Gue emang bukan cowo baik, tapi gue bakal berusaha jadi yang terbaik buat lo."
-Raka Pratama-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caramels_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Keesokan harinya, mereka bertiga berjalan bersama ke kelas. Saat memasuki ruangan, mereka memilih kursi di barisan tengah. Tak lama kemudian, seorang dosen pria dengan janggut rapi memasuki kelas.
"Selamat pagi, mahasiswa baru. Saya Profesor Ikhsan, dosen Sejarah Psikologi. Selamat datang di dunia akademik yang akan menguji intelektual dan ketahanan mental kalian."
Suasana kelas menjadi lebih serius. Profesor Ikhsan mulai menjelaskan silabus, tata tertib, dan harapan yang ia miliki terhadap mahasiswa barunya.
"Saya ingin setiap mahasiswa memperkenalkan diri secara singkat. Mulai dari Anda," katanya, menunjuk seorang mahasiswa di barisan depan.
Satu per satu mahasiswa memperkenalkan diri. Saat giliran Rissa tiba, ia menarik napas dalam sebelum berbicara.
"Hai, saya Rissa dari Indonesia. Saya tertarik mempelajari psikologi karena ingin memahami lebih dalam tentang manusia dan membantu mereka yang mengalami masalah mental."
Profesor Ikhsan mengangguk. "Bagus. Selamat datang di kelas ini, Rissa."
Setelah perkenalan selesai, kuliah pun dimulai. Profesor Ikhsan menjelaskan bagaimana psikologi berkembang dari zaman Yunani Kuno hingga modern. Rissa mendengarkan dengan antusias, mencatat poin-poin penting.
Saat kuliah selesai, Rissa, Zahra, dan Bara keluar bersama.
"Gimana menurut kalian tentang kelas pertama kita?" tanya Bara.
"Menyenangkan! Profesor Ikhsan keliatan sangat berwawasan," jawab Zahra.
Rissa mengangguk. "Aku setuju. Materinya juga menarik." Tiba-tiba, perutnya berbunyi pelan. Bara tertawa.
"Sepertinya ada orang yang butuh makan siang nih. Ayo ke kafetaria!"
Mereka bertiga berjalan ke kafetaria kampus, menikmati makan siang sembari berbincang tentang pengalaman pertama mereka di universitas ini.
...****************...
^^^Setelah makan siang, mereka duduk lebih lama di pojok kafetaria yang menghadap ke taman universitas. Dari jendela besar, tampak daun-daun berguguran ditiup angin musim gugur. Cahaya matahari menembus kaca, memantulkan warna keemasan di rambut Rissa.^^^
“Indah banget, ya,” gumam Rissa pelan.
Zahra menatap ke luar jendela. “Istanbul emang punya cara sendiri buat bikin orang jatuh cinta.”
Bara menambahkan dengan senyum kecil, “Termasuk kalian berdua, mungkin?”
Zahra menyikutnya dengan tawa, sementara Rissa hanya tersenyum samar.
Cinta. Kata itu masih terasa asing tapi juga akrab di dada Rissa. Bukan karena ia tak mengenalnya, tapi karena cinta itu kini hidup di jarak yang jauh — ribuan kilometer dari tempatnya duduk sekarang.
Sore itu, Rissa memutuskan berjalan pulang sendiri dari kampus. Jalanan batu berlumut di sekitar asrama terasa sepi, hanya terdengar langkah sepatu dan gesekan daun yang jatuh. Udara dingin memeluk kulitnya lembut.
Ia menatap langit — langit yang sama yang menatap Raka dari tempat lain di bumi.
Sesampainya di kamar, ia menyalakan lampu meja belajar, lalu membuka laptop. Ada satu pesan yang menunggu di layar.
...Raka...
“Baru pulang. Lelah banget, tapi tiba-tiba keinget kamu. Gimana kuliah pertamamu, Sayang?”
Jantung Rissa berdebar. Ia tersenyum kecil sambil mengetik balasan.
“Menyenangkan. Profesor pertama aku bijak banget. Tapi yang lebih aku senangin... aku ngerasa tenang lagi. Kamu gimana?”
Pesan balasan datang tak lama kemudian.
...Raka...
“Tenang itu bagus. Artinya kamu udah mulai berdamai sama semua yang kemarin. Aku di sini baik, cuma... agak kangen kamu”
Rissa berhenti mengetik sejenak. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, lalu ia balas pelan:
^^^“Kangen juga. Tapi aku suka cara jarak ngajarin kita arti sabar.”^^^
Rissa tersenyum. Di luar jendela, bulan sedang memancarkan cahayanya. Ia mendekat ke kaca, mengembuskan napas, membentuk kabut tipis, lalu menulis satu huruf kecil di sana: R.
...****************...
Beberapa hari berikutnya, kehidupan kuliah mulai padat. Tugas demi tugas berdatangan. Rissa sibuk membaca jurnal, menghadiri kelas, dan berdiskusi dengan Zahra serta Bara. Namun setiap malam, ia selalu menyempatkan waktu untuk menulis pesan kecil di buku catatan yang sama — buku yang dulu ia bawa ke pantai Kuta.
Isi buku itu kini berubah: bukan lagi tentang luka dan kehilangan, melainkan tentang tumbuh, sabar, dan cinta yang tidak menuntut hadir setiap waktu.
Suatu malam, Profesor Ikhsan memberi tugas refleksi pribadi.
“Buatlah esai tentang apa yang membuat kalian memilih jalur psikologi,” katanya.
Rissa menatap kertas kosong di hadapannya lama sekali, sebelum menulis kalimat pertama:
“Aku memilih psikologi karena dulu aku tidak mengerti kenapa cinta bisa menyembuhkan sekaligus melukai. Kini aku tahu, cinta yang dewasa bukan tentang memiliki, tapi memahami.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan satu kalimat terakhir di bawahnya:
“Dan kalau cinta itu punya nama, aku ingin menamainya Raka.”
Rissa menutup bukunya perlahan. Lampu kamar diredupkan. Di luar, salju terus turun tanpa suara, seolah langit sedang berdoa untuk dua hati yang saling menunggu di ujung waktu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...