Kini aku sudah resmi menjadi istri dari Anggara Putra Gibson. Namun, aku menjadi istri kedua. Aku yang masih duduk di perkuliahan semester delapan, menyusun skripsi sembari menata hidup baru bersama lelaki yang sudah mempunyai istri itu, dan dia adalah suamiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gustinara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#30 HERO
Here we go..
✨✨
Anggara pov
Aku menonton punggung mungil yang menjauh dari mobil. Punggung yang sudah lama tak aku tatap bila aku terbaring disisinya menahan rasa ingin memeluknya, tubuh yang selalu ada jika aku pulang kepadanya, dan tubuh yang sama sekali belum aku jamah seperti para suami lainnya. Menghilang kala pintu kaca bangunan hampir jadi ini tertutup rapat.
"Rambut kamu lucu" ucapku tak sadar. Aku langsung mengatupkan bibirku. Untung saja perkataanku tak terlalu jelas olehnya.
Aku tertawa geli melihat layar ponselku yang terhubung dengannya. Ini sangat lucu. Tapi apa dia benar-benar ketakutan? Merasa janggal dengan perasaanku, aku mengikutinya dari belakang.
Untung saja lift lain disamping lift yang sudah mengantarkan Luna berada di lantai dasar. Jadi aku tidak lama-lama menunggu. Sempat berfikir Luna akan salah paham kalau aku mengikutinya. Tapi terserah lah, ini kan demi keamanannya. Aku sedikit curiga pada ekspresi wajahnya saat aku temui di rumah sakit.
"Tuan masih disana?" Ucap Luna dengan sedikit getaran yang samar saat aku sudah memasuki lift.
"Iya masih, aman?"
"Aman tuan. Saya masuk ruangan dulu"
"Ok"
Pintu lift terbuka di lantai tujuh. Aku melihat kekanan dan kekiri. Lorong sebelah kiri masih gelap dan lorong kanan masih menyala. Aku tahu ruangan dilorong kiri masih dalam pembangunan. Benar saja sontak aku terkejut bertemu dengan lelaki paruh baya yang menyerngit menatapku bingung sembari menghampiriku.
"Anak pak Gibson ya?" Ucap lelaki tersebut dan menjulurkan tangannya. Aku mengangguk dan tersenyum kaku lalu menggapai lengannya dengan tangan kananku setelah memindahkan ponsel ke lengankiri dan menempelkannya kembali di telinga kiriku.
"Ada apa disini?" Ucap lelaki tersebut. Aku bingung akan menjawab apa, tetapi suara krasak krusuk dari seberang ponsel membuatku curiga.
"TUAN ANGGARA!" Teriak Luna dari seberang sana. Aku langsung berlari mencari ruangan tempat Luna berada. Bapak paruh baya tersebut juga sepertinya terkejut karena pergerakanku yang tiba-tiba.
Aku menggebrak satu persatu pintu disana. Dan satu yang terkunci. Aku berbalik kepada pria paruh baya yang mengekoriku dari belakang.
"Ini ruangan anda?" Ucapku. Ia mengangguk. Sepertinya ia juga terheran mengapa pintunya bisa terkunci.
Aku mendobrak pintu tersebut. Tak peduli tatapan bingung dari sang empunya hotel. Sepertinya dia pun khawatir karena ia tahu Luna ada didalam. Dalam dorongan ketiga, lengan bahu kanan dengan tenagaku yang cukup kuat, pintu kayu itu terbuka.
Aku melihat Luna sangat mengenaskan. Rambutnya sudah acak-acakan dan lengannya diikat. Bajunya sudah setengah terbuka menampakkan tanktop hitamnya. Kedua pria tersebut terkejut kala melihatku juga sang empunya hotel dibelakangku.
"Kalian? What are you doing?" Ucap Januar. Keduanya langsung pias.
Aku naik pitam. Langsung ku tonjok dan aku siksa mereka berdua tanpa ampun hingga mereka keluar darah dari hidungnya.
"Aing wae salakina can pernah nyentuh awakna!" Ucapku pada mereka.
Aku langsung menghampiri Luna yang menangis menekuk lutut di sudut ruangan sembari menyilangkan lengannya.
"Lun? You okay?" Tanyaku.
Ia langsung memelukku tanpa intruksi. Sedikit terkejut memang. Tetapi aku langsung membalas pelukannya.
"Help me." Ucapnya histeris didepan telingaku. Aku mengelus punggungnya yang masih gemetar.
"You're safe." Ucapku.
Langsung ku memungut tas gendong kecilnya dan menggendongnya seperti sang ayah menggendong anak perempuannya, mengabaikan tatapan bingung sang empunya hotel. Ia menggantung di sisi tubuh bagian depanku.
Aku langsung membawanya kebawah masuk ke mobil. Tangannya masih erat memegang jaketku. Bagaimanapun aku harus membuatnya lepas karena aku harus menyetir.
"Kamu aman Lun. Lepas dulu ya?" Ucapku lembut. Hatiku sakit melihatnya seperti ini. Seolah aku tak becus menjaganya sebagai seorang suami.
Akhirnya Luna melepaskan pelukan eratnya dan mencoba tenang. Ku elus pucuk kepalanya dan menyibakkan rambut yang menutupi mukanya. Matanya masih terpejam dan menekuk. Aku mencium keningnya sebentar dan berlari duduk di belakang kemudi.
"Kamu nginep dimana?" Tanyaku.
Luna tak bersuara. Ia masih shock, terlihat dari sikap tubuhnya yang seolah men-defense. Baiklah sepertinya tidak akan dosa juga aku membawanya ke hotelku.
Beruntungnya jalanan di Palembang sangat lenggang dan aku bisa mengemudikan mobil buleku dengan lancar dan cepat. Dengan waktu sepuluh menit, mobil sedan putih ini sudah terparkir di basement hotel.
Aku membuka safetybelt ku dan keluar dari mobil. Membukakan pintu penumpang dan menuntun Luna untuk keluar.
Langkahnya lunglai walaupun sudah ku tuntun. Matanya sedikit terbuka dan ia menangis. Aku bisa merasakan tubuhnya masih sedikit bergetar tetapi tidak se ekstreme tadi.
Dengan cepat aku menggendongnya ala bridal style dan langsung membawanya kekamar hotelku. Masa bodoh dengan tatapan para pegawai disana. Toh kami ini suami istri bila mereka curiga.
Ku dudukkan tubuhnya diatas sofa dan menutupi bagian dadanya dengan jaket hoody ku. Ku sibakkan lagi rambut yang lagi-lagi menutupi wajahnya. Ku genggam lengannya erat. Aku tahu ini tidak mudah.
"Lun? Udah ya, ada saya ko" ucapku menenangkannya.
Ia membuka matanya lebar dan menatapku. Ia mulai menurunkan bibirnya dan menangis lagi dan masih menatapku. Kini tubuhnya menarik bahuku untuk dipeluk.
Seperti kataku tadi, ini pasti tidak mudah baginya. Aku membalas pelukannya dan sepertinya itu harus. Aku kembali mengelus punggungnya.
"Sstt.. u're save" ucapku lembut.
"Makasih" ucapnya parau. Tanpa ia lihat, aku tersenyum mendengar bisikannya. Aku mengangguk dan mengeratkan pelukan.
Mungkin ia sudah merasa tenang. Setelah lima menit kami berpelukan, ia melepaskan pelukannya dan aku membantunya mencari posisi wenak untuk tubuhnya kembali.
Aku berjalan ke arah pantry membawakan segelas air putih. Ku tuntun lengannya untuk segera meminum air tersebut. Hanya sedikit yang ia minum.
"Kamu istirahat dulu aja" ucapku. Ia mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Tangannya masih menggenggam erat tanganku. Seolah enggan untuk melepas.
Beberapa menit kemudian tangannya melemas dan aku bisa melepaskan tanganku. Ku tatap wajahnya lekat-lekat. Apa dia se-shock itu? Ku ingat lagi teriakan histerisnya.
Suara dering ponsel menyadarkan lamunanku terhadap wajahnya. Ternyata dari Fadlan. Kebetulan memang aku harus memberinya sedikit pelajaran. Sialan memang dia bisa-bisanya membiarkan pegawai wanitanya berkeliaran di kota ini pada malam hari. Untung saja aku mengekorinya tadi.
"Dimana? Kesesat lo?"
"Kenapa bisa-bisanya lo biarin Luna keliaran sendirian?" Ucapku yang langsung meneriakinya sembari berjalan ke arah balkon.
"Maksud lo?"
"Tadi ada kejadian percobaan pemerkosaan! Selidikin sekarang! Tanya sama si pak tua itu yang so kenal sama gue!"
"Luna dilecehin sama pak Januar?"
"Pak Januar siapa? Yang tua-tua itu?" Ucapku bingung.
"I-iya lah ciri-cirinya gitu"
"Bukan! Dua pemuda. Pak tua itu jadi saksi." ucapku. Sepertinya Fadlan mengerti apa maksudku.
"Yaudah gua langsung urusin sekarang. Luna sama lo sekarang? Gimana keadaannya?"
"Aman."
"Jagain jodoh gue!" -tut-
Sial. Dia memutuskan panggilannya sepihak setelah berbicara seperti itu. Bisa-bisanya dia mengaku istriku sebagai jodohnya. Ingin ku teriak memaki-makinya, tapi hal itu justru semakin aneh bagiku.
Ku tatap kembali ke arah sofa dimana wanita yang mengisi pikiranku sekarang terduduk disana. Melihat wajahnya yang terlelap namun seperti ketakutan. Aura itu menarikku untuk menjaganya. Tubuhnya seolah penenang bagiku bila dia ada didekatku sekarang. Mengapa aku jadi takut begini bila akan ada sesuatu terjadi padanya lagi?
Hari mulai malam dan Luna tertidur si sofa kala aku melihatnya setelah membersihkan tubuhku. Ku hendong lagi dirinya tanpa membuka jaket ku yang sengaja aku pakaikan untuk menutupi tubuhnya yang terbuka.
Aku terbangun dari tidurku. Melihat kearah sebelah ranjangku, tak ada Luna disana. Aku fikir mungkin dirinya sedang berada di kamar mandi. Namun aku tak menemukannya dimanapun.
Kemana dia?
Perasaanku kembali gelisah. Mengingat malam tadi saat dirinya sering mengigau resah, membuat tidurku tak tenang sampai-sampai sepanjang malam aku genggam jemarinya.
Langsung aku mencari ponsel dan menelfon Fadlan. Siapa tahu Luna ada disana. Walaupun aku tidak menyukai hal itu, tapi setidaknya Fadlan tidak mungkin memperlakukan Luna seperti lelaki sialan tadi malam.
"Hallo Fad"
"..."
"Luna ada disana?"
"Ada, dia baik-baik aja kok dan melanjutkan pekerjaannya dengan baik" seketika kegelisahanku hilang.
"Oke, gimana udah di urus?" Tanyaku.
"..."
"Yaudah jangan sampe lepas"
"Siap, gak usah terlalu khawatir sama Luna. Ada gue kok."
"Halah! Udah nanti gue kesana habis kerjaan gue kelar!" Ucapku sedikit emosi. Apa apaan dia berbicara seperti itu.
"Kakak sepupu gak usah terlalu khawatir. Lanjutin kerja aja dengan baik ya.. nanti gue kasih kabar"
Rasanya sekarang aku ingin menimpuk kepalanya dengan bata dua kali. Sialnya aku masih punya hati untuk membiarkan duda anak satu itu. Baiklah sepertinya aku harus mandi dan menyelesaikan pekerjaanku lalu mengurus kejadian tadi malam.
***
Luna pov
Perhatian demi perhatian pak Denis, pak Fadlan dan sang klien diberikan padaku pagi ini. Bahkan pak Januar meminta maaf karena meninggalkanku sendirian di ruangannya tadi malam. Ia kira dua orang itu tidak akan melakukan sesuatu yang merugikan bagiku. Pak Januar yang sangat merasa bersalah, terlebih dirinya mempunyai satu orang putri yang pernah hampir menjadi korban pelecehan juga saat SMA.
Hari ini juga aku memakai baju yang sangat tertutup dan longgar. Untung saja aku membawa celana kulot dan kemeja yang sedikit oversize. Aku juga memoles wajahku dengan make-up yang sedikit tebal karena wajahku sangat pucat seperti zombie. Bagaimanapun aku harus menyembunyikan penyakitku dari mereka agar mereka juga tidak terlalu berlebihan memperhatikanku.
Pagi ini semua pekerjaan berjalan dengan lancar. Tim arsitek ada lima orang dan yang dua sebagai pelaku tadi malam sudah diberhentikan langsung oleh pak Fadlan. Walaupun tersisa tiga orang, mereka sangat cekatan. Memang orang-orang di Lewis bukan pekerja yang asal-asalan.
Ingin dari tadi aku menghubungi mama atau kak Vina disana tentang malam tadi. Tapi aku tidak menemukan ponselku dimanapun. Bahkan di dalam tasku. Ku cari ke ruangan kejadian, tidak ada. Sempat berfikir ponselku ada di hotel tempat dimana aku dibawa oleh suamiku tadi malam. Tapi sepertinya tidak mungkin karena aku sudah ingat semua barang yang aku bawa ke hotel.
Mengingat semalam, aku jadi terbayang bagaimana tuan Anggara menyelamatkanku, menggendongku dan sampai mencium keningku! Bahkan tadi saat aku terbangun di sebelahnya, jemarinya menggenggam erat jemariku. Memandangi wajahnya yang terpejam membuat perasaan yang asing menjalar didadaku membuat wajahku memanas. Maka dari itu, aku kabur.
Aku tidak mau berlama-lama disana. Aku tak bisa tahan dengan pesona wajah dan perlakuannya tadi malam. Itu sangat mengganggu ku. Aku tidak mau bergantung lagi pada orang lain sampai orang itu sendiri kelelahan seperti dulu. Aku tidak ingin kehilangan lagi. Maka biarlah aku tetap seperti ini. Bergantung pada diri sendiri. Karena yang aku tahu, diriku sendiri tidak akan pernah meninggalkanku sendirian.
***
Author pov
Setelah selesai bertemu dengan yang punya tanah dan melakukan transaksi pembelian lahan kosong di Palembang, seperti ucapannya Anggara akan pergi ke lokasi projek dimana istrinya berada sekarang.
Saat di perjalanan, ada suara ponsel berdering yang Anggara sendiri tidak mengenali dering ponsel tersebut. Ternyata benar saja, itu bukan ponselnya melainkan ponsel lain. Mobilnya sengaja menepi dan mencari sumber suara. Anggara menemukan ponsel putih terpasang case berwarna hijau tua di bawah jok penumpang.
Mbak Vina is calling..
Tertera dilayar ponselnya nama tersebut. Nama yang Anggara sendiri sedikitnya tahu siapa yang menelfon. Langsung saja ia mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo Luna?" Ucap Vina dari seberang sana.
"Hallo, mbak?" ucap Anggara kaku. Hening sebentar. sepertinya Vina sedikit terkejut karena yang mengangkat panggilannya bukan adik perempuannya.
"Hallo? Ini mas Anggara?" ucap VIna
"I-iya mbak"
"Lunanya mana? Lagi sama mas Anggara kah?"
"Kebetulan ponselnya ketinggalan dimobil saya, Luna lagi di lokasi projek nya. Ini saya mau kesana mbak" ucap Anggara.
"Oh oke, tapi.. ini benar mas Anggara kan suaminya?" tanya VIna lagi.
"Iya mbak, betul"
"Oh yaudah jaga Luna ya, apa dia baik-baik aja? Kalian lagi di luar kota kan?"
"Iya mbak. Sebenernya tadi malam ada kejadian yang gak mengenakan.. tapi kayaknya Luna baik-baik aja sampai sekarang" ucap Anggara. Anggara berfikir dirinya memang harus melaporkan kejadiannya ini pada salah satu keluarga istrinya.
"Kejadian apa?"
"..."
"Yaampun, terus gimana?" ucap Vina terkejut diseberang sana.
"..."
"Yaudah mas Anggara, jaga terus ya Luna nya. Dia pernah kayak gitu soalnya waktu SMA"
"Kayak gitu gimana?"
"Iya semacam pelecehan gitu sampe ganggu psikis nya. Sampai dia punya rasa kecemasan berlebih dan selalu panikan. Beruntungnya ada.. umm ada ya yang support maaf- pacarnya dulu" ucap Vina yang ragu memberitahu pada suami adiknya.
"Tapi Luna sekarang udah gak apa-apa kan?" ucap Anggara tak memedulikan mantan pacar istrinya.
"Seudah pacarnya lulus dan pindah keluar negeri, ada temen-temennya yang jaga. Sampe akhirnya dia putus dan keadaan keluarga kami jatuh, dia bangkit mas. Aduh sebenernya mbak gak mau cerita tentang masa lalu Luna. Kalau gak ada Zahwa atau temen yang lain kuliah di Bandung, papa juga kayaknya gak izinin Luna sendirian"
"Gak apa-apa mbak cerita aja"
"Tapi Luna udah sembuh kok, dia juga bisa bertahan hidup sendirian juga kan di Bandung yang udah meyakinkan kami kalau Luna baik-baik aja. Cuma gak tahu juga kalau tadi malem kejadian kayak gitu. Makanya mbak mohon awasi terus aja ya mas karena Luna itu memang orangnya so soan berani. walaupun Luna sebagai madu, tapi dia tanggung jawab mas toh"
"Baik mbak gak usah khawatir, makasih udah mau kasih tau saya"
Anggara seolah tidak menyangka pernah ada kejadian seperti tadi malam pada Luna di masa lalu. Kini Anggara semakin penasaran pada istri keduanya itu. Setelah kejadian yang sama sampai membuat psikisnya terganggu, tetapi dia masih bisa bekerja hari ini. Apa benar istrinya itu sedang baik-baik saja?
Akhirnya Anggara memutuskan untuk melajukan mobilnya kembali ke area projek. Sampai disana Anggara tak langsung turun karena ia melihat Luna dari jauh yang sedang mengobrol dengan beberapa orang logistik yang sedang saling bantu mengangkat properti.
Perkataan demi perkataan Vina masih terekam di benaknya. Ia terus mempertanyakan apakah Luna sudah baik-baik saja? Anggara tahu penyakit psikologi anxiety disorder itu sulit untuk dihilangkan. Aplaagi penyebabnya terulang. Anggara tak yakin bahwa Luna baik-baik saja.
Lima belas menit dia terdiam di dalam mobil hingga sesuatu yang menarik dirinya untuk keluar muncul. Yaitu Fadlan menghampiri Luna dengan dua cup eskrim durian dan sepertinya itu akan diberikan pada Luna yang sedang berkeringat. Ntah mengapa Anggara merasa kesal melihat kebersamaan mereka. Langsung saja dirinya turun dari mobil dan menghampiri keduanya.
Luna dan Fadlan terlihat sedang mengobrol santai dan tertawa bersama. Hingga sampai Anggara berdeham, keduanya menoleh. Fadlan memasang wajah sinis sedangkan Luna memasang wajah terkejut dan sedikit gelisah karena perasaan asing itu muncul lagi.
"Luna, ponsel kamu" ucap Anggara menyodorkan ponsel Luna. Langsung saja Luna mengambilnya dan memasukkannya kedalam saku celana.
"Gimana? Udah diurus semuanya?" Tanya Anggara kini kepada Fadlan.
"Udah kok, kamu juga udah gak apa-apa kan Lun?" tanya Fadlan. Luna mengangguk.
"Gimanapun juga lo harusnya lebih hati-hati Fad! Dia perempuan! Ini juga kota orang, dan lihat siapa pelakunya? Orang lo sendiri" ucap Anggara memperingati.
Perhatian yang tidak langsung itu membuat wajah Luna memanas dan menyemburkan guratan merah muda.
"Lu gak liat kepala gue bolong gini? Lagian gue juga udah suruh Denis anterin dia semalem tapi Luna nolak. Untungnya kan ada lo, sepupunya" ucap Fadlan terkekeh sembari memperlihatkan perban dikepalanya. Mengakui Anggara sebagai sepupunya Luna, membuat Fadlan bersemangat.
"Sepupu? Kan dia tahu gue ini suaminya? Gimana sih?" Gumam Anggara.
"Pak, Mas.. Saya mau keatas dulu ya. Pak Denis manggil saya di ht" ucap Luna pamit. Ia harus menjauh dari Anggara sekarang. Tubuh dan hatinya sudah tak karuan.
Setelah Luna pergi, Fadlan mengajak Anggara duduk di sebuah kursi panjang dan menyuruh tukang es durian membuatkan satu porsi lagi untuk Anggara.
"Dia istri gue, bukan suami gue" ucap Anggara dingin.
"Iya tahu, tapi Luna bilangnya gitu kok" ucap Fadlan. Anggara langsung mendongak dan melebarkan matanya menatap Fadlan.
"Apaan si? Gak terima? Kan lo juga bilangnya Luna tuh sepupu lo" ucap Fadlan terkekeh. Anggara bergeming, ia bingung harus berkata apa. Lebih baik dirinya menyantap es durian menyegarkan yang sudah berada di atas pangkuannya.
***
Dikeramaian supermarket, Silvi sedang memilih susu hamil di lorong susu. Ia membaca satu per satu informasi tentang susu tersebut di kemasan. Sampai ada tangan besar yang mencolek bahunya.
Nugi! Sontak Silvi melebarkan matanya. Ia bertanya-tanya, mengapa Nugi bisa berada disini dan mengapa ia tahu bahwa dirinya ada disini?
"Kamu? kok.."
"Liat dari instastory" ucap Nugi. Silvi teringat bahwa saat turun dari mobil dirinya mengunggah sebuah status di instagram pribadinya.
"Wih ibu hamil, lagi mau beli susu?" ucap Nugi sinis melihat barang yang sedang digenggam oleh Silvi.
"Apasih, sana Nugi!" ucap Silvi mendorong tubuh Nugi yang mendekat.
"Kok gitu? Aku juga mau dong ikut serta rawat anak aku sendiri" ucapnya dingin sembari memalingkan pandangannya ke arah jajaran pajangan susu. Ia memilih dan mengambilnya satu. Silvi terus melihat Nugi dengan wajah memerah.
"Kayaknya ini kamu suka deh Sil, kamu kan suka strauberi" ucap Nugi menatap Silvi dan memberikan satu kotak susu. Melihat tatapan tajam Silvi, Nugi tersenyum.
"Kenapa? Kamu kan waktu itu bilangnya mau buang.. tapi dipelihara juga?"
"Jangan ngomong lagi Nugi" ucap Silvi mengintimidasi.
"Aku gak akan ngomong lagi asal kamu bolehin aku tahu perkembangan anak aku."
"Apasih! Kan aku udah bilang, ini anak Anggara!" ucap Silvi yang masih bisa terkontrol volumenya.
"Ini bukan tentang malam-malam yang udah dilaluin sama kita SIl! Ini demi manusia!" ucap Nugi sembari pergi meninggalkan Silvi yang mematung mencerna ucapan Nugi.
Silvi melihat susu yang diberikan Nugi tadi. Nugi memang paling tahu tentang seleranya. Hatinya merasa sakit sekarang. Ia ingin menangis sekencang-kencangnya. Merasa berdosa pada Nugi, pada anak yang dikandungnya dan terutama pada Anggara.
***
Sore ini pekerjaan tim interior telah selesai, sisanya akan dilakukan bila bangunan sudah berdiri sepenuhnya. Rencananya para tim akan melakukan pesta durian sore ini juga karena pak Januar pun harus terbang ke Bandung malam ini. Semua tim senang dan bersorak berkumpul di loby hotel. Luna pun sama, apalagi durian adalah buah kesukaannya.
Fadlan membukakan durian untuk Luna. Luna sangat berterimakasih pada bosnya itu. Tak menyangka ia bekerja di perusahaan impian, mempunyai bos yang baik juga upah yang sangat banyak. Cita-cita tentang pekerjaannya sudah tercapai. Apalagi projekan pertamanya di Lewis sudah ia lewati dengan lancar.
Beriringan dengan obrolan demi obrolan, ponsel Luna mengeluarkan suara notifikasi pesan singkat. Ternyata itu dari suaminya, Anggara. Entah mengapa bila menyangkut tentangnya, Luna merasa nyaman dan hatinya menghangat. Apalagi Anggara yang menghubunginya duluan.
[Mr. Anggara]: Sudah beres? Saya ada di parkiran.
Pesan singkat itu membuat Luna terlonjak kaget. Ia langsung panik tak tahu harus bagaimana. Melihat pesannya hanya di baca saja, Anggara langsung menelfon Luna. Hal ini membuat Luna semakin tak karuan. Akhirnya ia berpamitan kepada semuanya untuk duluan meninggalkan ruangan. Fadlan yang melihat Luna pamit, hanya menatapnya sedih. Namun ia pun tak punya hak untuk melarangnya.
Luna langsung keluar dari loby dan mencari mobil sedan yang ia kenal. Langsung saja ia menghampiri mobil putih tersebut dan dengan ragu mengetuk kacanya.
"Ada apa tuan?" ucap Luna mencoba biasa saja.Anggara menatapnya sebentar.
"Kamu baik-baik aja kan? Masuk" ucap Anggara, Luna menuruti dan duduk di kursi penumpang.
"Luna, jawab" ucap Anggara sembari memundurkan mobilnya dan keluar dari area projek.
"Saya baik, kita mau kemana?"
kasihan mbak luna yg jd korban.
tapi y sdh lah, takdir kehidupan terus berlanjut, dengan jln ny masing2
Mugi yg bosan dengan usaha ny tuk tanggung jawab pergi.
raasain lo dilvi nikmati hasil yg kau tanam
pantes aja si silvi ngelunjak.
Anggara ny yg bego
udah di selinguhi, masih ja mau baikan.
stukurin ..bakalan ngebesarin anak orang yg nitip benih ny ke rahim silvi
tapi takut di cerai kan 😀😀😀
takit gsk dapatateri dari kamg Anggara 😁😁😁
gak bisa mov on dari istri tercinta ny yg terang2 an selingkuh di belakang ny.