NovelToon NovelToon
CAMELIA

CAMELIA

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:665.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Kimmy reana

Kara,gadis cantik dan baik hati, tapi suatu kejadian mengerikan mengubah hidupnya menjadi gadis liar dan sulit di kendalikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy reana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 30

Jupiter masih lekat memandang perempuan yang duduk di depannya, yang menikmati makan siangnya tanpa minat. Bisa dibilang ini bukan makan siang, karena jam makan siang sudah terlewat sejak dua jam lalu. 

"Tadi ada yang bilang, gak laper. Tapi, cream soup nya habis paling duluan," sindir Jupiter. 

Camelia meletakan sendok di meja sedikit keras, mendongak menatap Jupiter.

 "Aku tidak bisa membuang-buang makanan!" Balas Camelia.

Jupiter terkekeh, "Baiklah, kalau begitu habiskan makanannya. Setelah itu kita balik ke kantor." 

"Apa? Semua makanan ini?" Tunjuk Camelia, pada meja di depannya yang berisi penuh makanan. Dan, hanya beberapa makanan saja yang baru di cicipi Jupiter, sedangkan Camelia hanya memilih mencicipi cream soupnya saja. 

"Iya, kamu bilang tidak biasa membuang-buang makanan. Jadi, habiskan ini semua, setelah itu kita balik ke kantor." 

"Kamu gila? Siapa yang suruh pesan makanan sebanyak ini? Kamu pikir aku gentong, bisa muat banyak makanan. Lagipula kenapa kamu tidak pesan sesuai kebutuhan kamu saja?!"

Jupiter semakin melebarkan senyumnya mendengar ocehan Camelia. Sedangkan Camelia hanya mendengus kesal, bagaimana bisa dia menghabiskan makanan begitu banyak.

"Udah selesai marahnya?" Tanya Jupiter

"Aku gak sengaja pesan makanan banyak, karena tadi aku memang benar-benar lapar. Tapi, laparku hilang begitu aku lihat kamu makan." 

"Aneh!" Cibir Camelia. 

"Gak aneh, aku suka lihat kamu makan sambil cemberut gitu. Jadi inget waktu aku ambil roti kacang kamu, waktu di perpustakaan."

"Jupiter!"

"Ah iya, aku lupa. Kamu bukan orang itu kan? Sorry,,," Camelia menghala lemah, ia tahu Jupiter adalah lelaki yang sangat gigih, dia tidak akan pernah menyerah sebelum dia tahu sendiri kebenarannya. 

"Ayo kita pulang?" Ajak Jupiter,

"Pulang?" Camelia mengerutkan alisnya.

"Ke kantor maksud aku. Aku masih butuh penjelasan secara rinci kontrak kerja kita. Tadi aku gak dengar, karena lapar." Jelasnya. 

Tempat makan yang dipilih Jupiter, kebetulan tidak terlalu jauh dari kantornya, jadi mereka hanya memerlukan waktu lima menit untuk berjalan kaki. Sesampainya di ruang kerja Jupiter, Camelia segera mengeluarkan beberapa kertas berisi surat perjanjian kontrak kerja. Meski sebenarnya dia malas haris menjelaskan dua kali isi perjanjiannya, tapi tetap saja harus ia lakukan ketika pilik investor memintanya. 

Namun begitu Camelia hendak menjelaskan, Jupiter terlebih dulu keluar ruangan tanpa memberitahunya terlebih dulu. Jupiter keluar begitu saja, membuat Camellia harus tahan emosi, menyikapi sikap aneh Jupiter yang sudah membuatnya kesal sejak tadi. 

Tidak mungkin dia meninggalkan ruangan itu tanpa ijin dari Jupiter, akhirnya dia memutuskan untuk melihat-lihat meja kerja Jupiter. Meja yang terbuat dari kayu berkualitas tinggi itu, tampak mengkilat dan mewah. Minimalis tapi sangat elegan dan mewah, sangat mencerminkan siapa pemiliknya. Jemari Camelia, masih menyusuri setiap sudut meja yang terasa begitu halus dan licin. Namun, matanya berhenti pada sebuah foto yang berbingkai hitam, berdiri tegak persis di sebelah kanan layar komputer. Sekilas memang tidak terlalu nampak dari depan, karena foto itu dipajang membelakangi, dan hanya menghadap kedepan kursi kerja Jupiter. 

Perlahan Camelia memutar bingkai foto tersebut hingga menghadap padanya. Matanya seakan loncat dari tempatnya begitu ia melihat sepasang manusia yang amat ia kenali. Seorang gadis cantik mengenakan kebaya pink tersenyum ceria dengan seorang lelaki tampan mengenakan batik berwarna silver.  Mereka nampak begitu serasi, dan yang membuat Camelia semakin terkejut mereka berfoto sambil berpose memamerkan tangan mereka, yang dihiasi cincin yang sama. 

Tubuhnya mendadak bergetar, kakinya lemas bagaikan tidak bertenaga. Bahkan tanpa disadari, ia mencengkram kuat pinggiran meja, hingga buku-buku tangan nya memutih. Mendadak oksigen di ruangan itu terasa menipis dan kian mencekik tenggorokannya. Matanya panas, bahkan buliaran air mata terasa begitu mendesak kelopak matanya, namun ia masih berusaha sekuat tenaga menahannya. Hingga suara pintu terbuka secara tiba-tiba mengejutkannya. 

Camelia segera mungkin membalik bingkai foto, dan mengusap kasar buliran bening di wajahnya, namun kecepatannya tidak sebanding dengan getaran aneh di dalam tubuhnya yang seakan membuatnya lumpuh seketika, sehingga tanpa sengaja ia justru membuat bingkai itu terjatuh. 

"Maaf. Itu,, aku,,, aku tidak sengaja." Camelia segera meraih bingkai yang terjatuh, untung saja bingkai itu tidak rusak sedikitpun. Membuatnya menghela lega, karena keadan bingkai masih utuh seperti semula. 

Jupiter berjalan tergesa, menghampirinya.

"Kamu?" 

"Aku minta maaf, bersikap tidak sopan melihat-lihat meja kerja kamu. Dan,,,menjatuhkan ini. Aku sangat menyesal." Camelia Menyerahkan bingkai foto itu pada Jupiter. 

"Baiklah, kita mulai pembahasan kontrak. Kita sudah terlalu membuang-buang waktu." Camelia berjalan melewati Jupiter, namun baru beberapa langkah, Jupiter terlebih dulu mencengkram tangannya. 

"Kamu lihat foto itu?" Tanya Jupiter,

"Iya,,, aku tidak sengaja. Aku minta maaf." Camelia meronta, mencoba melepaskan cengkraman tangan Jupiter di pergelangan tangannya.

"Aku sudah minta maaf bukan? Apa itu kurang? Aku tidak sengaja, kenapa kamu terlihat begitu marah. Aku ganti bingkai foto nya." Ucap Camelia, namun Jupiter masih diam, tatapannya sulit sekali di artikan. 

"Astaga,,, kenapa sebenarnya kamu? Aku tahu itu foto penting di hidupmu. Aku tidak sengaja. Aku minta maaf, nanti,,," namun belum sempat Camelia menyelesaikan kalimatnya, Jupiter terlebih duku menariknya, dan mendekap tubuh Camelia dengan erat.

"Kemana saja kamu selama ini. Kenapa baru muncul sekarang?" Suara rendah Jupiter terdengar lirih di telinganya, deruan nafas Jupiter begitu panas menyapu ceruk lehernya, karena lelaki itu menenggelamkan wajahnya di leher Camelia. 

Camelia mengerjapkan matanya berulang kali, tidak percaya dengan apa yang dialaminya. Ingin sekali membalas pelukan Jupiter, karena pelukan lelaki itu sungguh lah pelukan paling nyaman setelah pelukan Ibunya. 

Pelukan Jupiter yang sangat ia inginkan, kini benar-benar terjadi, bahkan jika pun ini hanya mimpi, Camelia tidak akan pernah rela jika ia harus kembali terbangun. Namun begitu ia mengingat kembali bingkai foto dan kotak makan yang masih bertengger manis di atas meja kerja Jupiter, seolah mengawasinya, akhirnya Camelia melepas pelukan Jupiter.

"Anda tidak seharusnya bersikap seperti ini, Pak Jupiter!" Demi menetralkan kembali degup jantungnya, Camelia mencoba kembali bersikap profesional seperti biasa. 

"Anda tidak bisa bersikap seenaknya seperti itu," lanjutnya. 

Camelia segera merapikan blazernya, dan kembali berjalan menuju kursinya tadi. 

"Sepertinya anda sedang dalam keadaan kurang baik, jadi sebaiknya kita bicarakan lagi lain waktu." Tangan Camelia bekerja cepat, memasukan beberapa dokumen ke dalam tas miliknya. Beberapa dokumen di paksa masuk begitu saja, tanpa dirapikan terlebih dahulu, karena ia ingin segera keluar dari ruangan itu, jika tidak maka Camelia bisa hilang kendali dan meminta Jupiter kembali memeluknya. 

"Saya permisi kalau begitu." Jupiter tidak bereaksi sedikitpun, dia hanya diam mematung bahkan tidak sedikit pun mengeluarkan suara, meski Camelia sudah keluar dari ruangannya. 

Satu menit setelah menyadari Camelia keluar dari ruangannya, barulah dia merasakan marah, kecewa dan kesal. Jupiter menyeka semua benda yang ada di atas mejanya, hingga semua benda itu jatuh dan berhamburan di lantai, termasuk kotak makan yang berhamburan dan bingkai foto yang akhirnya retak. 

Sedangkan Camelia, begitu ia sampai dia lobi, ia segera menghubungi Febian, meminta lelaki itu segera menjemputnya. Seakan kebaikan masih berpihak sedikit padanya, tidak berselang lama Febian datang menjemputnya. 

"Mel, lo baik-baik aja kan? Jupiter gak minta service macam-macam kan?" Tanya Febian begitu melihat temannya menangis tersedu-sedu di kursi penumpang.

"Mel,?" Tanyanya lagi.

"Dia tunangan,,, sama Nadira. Teman baik gue." Jawab Camelia. Isak tangisnya semakin kencang, membuat Febian akhirnya menepikan mobil di bahu jalan, karena tidak tega melihat Camelia begitu menyedihkan.

"Lo tau sejak awal kan, hubungan lo sama Jupiter gak akan bisa bertahan. Lo sendiri yang bilang, lo mau move on lupain Jupiter. Kenapa sekarang lo nangis, lemah banget." Febian membuka sabuk pengaman miliknya dan juga Camelia, merengkuh tubuh temannya yang berguncang hebat, karena menangis.

"Cengeng tau, lo udah lewatin masa-masa yang jauh lebih sakit dari ini. Seharusnya lo kuat." Febian mengelus puncak kepala Camelia, meski ia berkata seperti itu, sebenarnya Febian begitu menyayangi Camelia, hanya saja ia ingin Camelia tetap tegar dan bisa melewati masa-masa sulitnya. Meski Camelia pernah mengalami kemalangan secara beruntun, namun gadis itu sangatlah kuat. Tapi justru dibalik sikapnya yang selalu terlihat kuat, ada hati yang sangat rapuh, dan lemah. Dan, kelemaha terbesar di hidupnya adalah Jupiter, cinta pertamanya. 

"Gue,,, udah berusaha, tapi rasanya masih sakit." Camelia memukul-mukul dadanya sendiri, mencoba menghilangkan rasa sakit yang begitu mencengkram hatinya, namun itu sia-sia. 

"Jangan sakiti diri lo sendiri!" Febian menahan tangan Camelia, "Kita kembali kepada Camelia seperti semula, jangan lemah seperti Kara. Karena sekarang hanya ada Camelia, dan Kara sudah lama menghilang. Kita selesaikan semua ini dengan cepat, setelah itu kita pindah ke Singapura menyusul Ibu. Oke?"  

Camelia hanya bisa mengangguk lemah, kembali menenggelamkan wajahnya di dada Febian seperti ia yang kembali menenggelamkan keinginannya untuk terus dicintai Jupiter. 

 

 

1
Wida
sukaaa
lika16
titip sendal
X'tine
bingung baca cerita ini, di ulang ulang
Doubley
KERENN! Aku udah baca, komen, dan like. Semangat, Kak. Feedback ke novel saya dong, judulnya The Vengeance. Terima kasih.❤
Anisa Shofy
ceritanya bagus kak. aku baca di lapak sbelah, krna ga selesai jadi donlot noveltoon buat baca karyamu. semangat yaa..smoga ga typo lagi dan ga ketuker2 namanya hihi
Anisa Shofy
yaamponn jantungan thorr😣
Anisa Shofy
yaamponn jantungan thorr😣
Just Rara
akhirnya happy ending juga
Just Rara
😄😄😄lucu ayahnya si jupiter
Just Rara
knp tiba2 aksa bisa benci gt sm camelia ya?
Just Rara
wah si kara hamil,semoga bu mala bisa luluh hatinya setelah dpt cucu baru dr kara dan jupiterr☺️☺️
Just Rara
knp si febian gak dijodohin sm si nadira aja
Just Rara
akhirnya mereka nikah juga☺️
Just Rara
lah itu febiannya blm meninggal🤔🤔
Just Rara
yak knp si febiannya dibikin meninggal thor😭😭
Just Rara
mantap febian,ungkap semua penjahat nya👍
Just Rara
pasti tu si jupiter sm nadia deh yg ada diruangan itu
Just Rara
say good bye to jupiter ya kara😁
Just Rara
dasar si jupiter,dia gak tulus cinta sm kara😒😒😒
Just Rara
sama aja jahatnya jupiter dgn para lelaki hidung belang itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!