7 tahun berlalu Briana Luna keluar dari rumahnya sendiri semenjak sang ibu meninggal dunia. Statusnya sebagai anak angkat membuat gadis tidak bisa melakukan apapun selain angkat kaki dari rumah tersebut.
Seperti biasa, saat libur semeter Luna akan berubah menjadi gadis gila pekerjaan. Semua dia lakukan demi kelangsungan hidup dan untuk biaya kuliahnya. Sampai hari itu tiba, Elova. Satu-satunya sahabat yang dia miliki menawarkannya sebuah pekerjaaan dengan gaji yang fantastis.
Niat ingin bekerja Luna malah dijadikan obsesi seorang pria aneh yang sialnya adalah majikannua sendiri. Dia Scott Diego Nevalion
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewi ervendi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Jam menujukkan pukul 19.00 malam, Luna berlari di halaman mansion tuan Scott. Beberapa menit lagi waktu makan malam namun dia masih berlari dibawah langit. Luna terus meruntuki dirinya sepanjang jalan.
Brak!!!
Luna menabrak pintu mansion yang kokoh dengan jemari kecilnya. Kenapa begitu gelap? Dia bergumam, kemudian langsung masuk menuju pustaka pribadi Scott berharap pria itu ada didalam sama, duduk diatas sofa dalam kegelapan.
“Kemana dia? Apa di kamar?”
Seiring langkahnya, Luna mulai menyalakan satu persatu lampu yang menurutnya tidak akan menganggu pandangan Scott. Tatapannya tertuju pada pintu kamar yang tertutup rapat dan gelap.
“Apa dia tidak ingin diganggu?” Luna kembali bermonolog. Dia berjalan menuju dapar dengn sedikit gontai. Luna lelah setelah seharian mengurus semua administrasi perkuliahannya, ditambah perjalan yang sangat jauh menurutnya. “Ini akan berakhir.” Gumam gadis itu setelah menyelasaikan masakannya.
Tiga puluh menit kemudian Luna baru membersihkan dirinya. Dia keluar dari kamar dan mendatangi meja makan yang sunyi masih dengan posisinya yang semuala. Luna mencepol bersih rambutnya saat berjalan menuju ujung tangga, dia kembali melihat ke arah gelap, pintu kamar tang masih tertutup rapat Kesunyian ini sungguh menganggu Luna, waktu makan malam berlalu namun Scott belum juga turun dari kamar.
Apa dia tertidur…? Ahkk tidak, sejak kapan dia tertidur?
Apa aku naik saja, membangunkannya?
Untuk apa? Toh tugasku hanya memasak.
Tapi dia belum makan?
Akhhh… Aku membencimu Luna. Gadis bodoh, tolong hilangkan rasa kemanusiaan yang menyebalkan ini.
Luna mulai menapaki anak tangga Setelah berdebat hebat dengan pikirannya sendiri. Aku benci kegelapan tapi aku berjalan didalam kegelapan demi seorang pria. Hahah… bukan kan ini sedikit lucu. Luna berhenti tepat didepan pintu kayu dengan oranamen didiepannya.
Tok!!!
Tok!!!
Tokk!!!
“Tuan, apa anda tertidur? Anda harus makan malam tuan.”
“…” Tak ada jawaban.
Tok!!!
Tok!!!
Tok!!!
“Tua…”
Pintu berat itu tiba-tiba terbuka hanya dengan sentuhan tangan Luna. Dia melonjak. “Oh Tuhan. Apa ini terbuka sendiri? Apa ada hantu?” Meski rasa takut menyeruak kesegalan pembulu darahnya, gadis itu tetap melangkah masuk, jemarinya meraba ke dinding, mencari sakelar lampu disana.
Tak!!!
Luna terpaku dengan keadaan kamar itu, begitu berantakan, bercak darah ada dimana-mana, figura, oranamen dan pecahan kaca berhambur diatas lantai. Luna yang terlihat panik langsung meraih sebuah vas bunga diatas nakas. Dia berjalan mengikuti bercak darah itu, semakin dia jauh melangkah kedalam, tetes keringatnya semakin bercucuran. Hingga pda akhirnya dia berhenti tepat didepan pintu kamar mandi yang sedikit tebuka.
Brakkk!!!
Luna mendorongnya sekuat tenaga, namun masih belum menemukan siapapun didalam. Dia kembali melangkah, mendekati buthup yang tertutup tirai tipis dan betapa terkejudnya gadis itu…
“Tuan?”
Tubuhnya bergetar hebat saat mendapati Scott terkulai lemas diatas lantai, celana berbahan kain katun itu robek hingga memperlihatkan lutut sebelah kanan yang sedikit menyeramkan.
Luna menyibak kemeja Scott yang penuh dengan darah, namun tangan Scott lebih cepat menghentikannya. “Apa yang kau lakukan?” Tatapan intimidasi penuh amarah menatap Luna.
“Anda terluka…”
“Pergi, saya tidak butuh bantuanmu.”
Luna berdecik kesal, dia nyaris pingsan karena mencemaskan pria ini namun sialnya pria itu malah menyuruhnya pergi. “Aku akan pergi setelah memasitika anda baik-baik saja.” Luna menyibak kemeja itu, dia mengeyerit. “Kenapa luka ini tidak sembuh-sembuh.” Guamnya pelan, sesaat dia menatap Scott yang hanya bisa diam menatap Luna menyentuh perutnya.
“Anda harus kerumah sakit.”
“Tidak!!!” Scott menyentuh pergelangan Luna yang ada di lengannya. “Tinggalkan saya!”
“Anda terluka tuan. Aku tidak mungkin meninggalkan anda seperti ini.” Luna tidak menyukai ini, disaat seperti ini air matanya tidak bisa diajak kerja sama. Dia menangis. “Ayo kerumah sakit. Ada aku.” Luna kembali menarik pergelangan Scott.
“Akh…”
“Tuan!!!” Luna menjongkok, memohon.
“Lepas! Saya baik… akhhhhh!!!” Dia berteriak saat menggerakkan kakinya kanannya.
Hiksss.. Hiksss… “Lalu apa yang harus aku lakukan untuk anda?” Hiksss… Hiksss…
“Pergi!!!”
“Kenapa selalu menyurhku pergi? Bentak Luna. “Anda sedang terluka. Aku tidak mungkin meninggalkan anda. Aku pernah merasakan sakit sendiri, dan itu tidak enak.” Berulang kali Luna menyeka air matanya.
“Maka dari itu aku tetap disini, jika anda tidak ingin aku berada didekat anda. Aku akan menjauh, tapi aku mohon , jangan menyuruhku pergi dari sini!!!” Air mata gadis itu tumpah sejadi-jadinya. “Jika anda tidak suka disentuh aku tidak akan menyentuh anda. Jika anda tidak suka aku bersuara, aku akan diam sampai anda benar-benar merasa baik. Setidaknya jika anda membutuhkan ku, aku masih ada disisi anda. Jadi, aku mohon jangan perintahkan aku pergi dari sini.”
Scott terpaku pada wajah cantik gadis itu, dibalik cahaya minim dia melihat lurus wajah kecil Luna yang memerah. Scott tidak pernah menyangka ternyata seindah ini rasanya dikhawatirkan oleh seseorang.
“Jangan menangis!” Luna langsung mengadahkan wajahnya. “Kau sangat jelek, jika.. Khhhh menangis.”
are ok thor ?