"Zahra hanya ingin menikah jika dengan kak Rafif, Abi" ucap Zahra yang membuat semua orang di ruangan itu terkejut mendengarnya
Zahra adalah anak tunggal dari pasangan Abi Ahmad dan Umi Khadijah. Kedua orangtuanya sepakat untuk menjodohkan putri satu-satunya itu dengan anak sulung sahabatnya. Tapi siapa sangka, pada akhirnya Zahra menikah dengan Rafif anak kedua dari sahabat Abinya.
Mereka menikah setelah seminggu menjalani proses ta'aruf yang batal di lakukan oleh Zahra dan anak sulung dari sahabat Abinya. Zahra memilih jalan itu untuk membantu Daffa, orang yang seharusnya di nikahkan dengannya karena Daffa saat itu juga memiliki masalah lain yang tidak memungkinkan dirinya untuk menikah dengan Zahra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semuanya Gelap
Seminggu berlalu, tapi Zahra tak kunjung membuka matanya. Kondisi Rafif sendiri sudah lebih baik, cideranya juga sudah pulih dan gips di lehernya juga sudah di lepas. Rafif tak hentinya berdoa untuk kesembuhan Zahra, ia juga tidak pernah meninggalkan Zahra sedikitpun sejak Zahra di pindahkan ke ruang rawat barunya yang pernah menjadi tempat Rafif di rawat
Siang itu Rafif baru saja selesai sholat dhuhur di ruangan Zahra, ia segera merapikan sajadahnya dan menyimpannya di atas sofa. Lelaki yang telah menikah dengan Zahra selama lima bulan itu segera menghampiri istrinya yang masih setia menutup matanya
"Zahra, bangunlah. Sampai kapan kau akan tertidur seperti ini? Aku sangat merindukan suaramu saat berbicara bersamaku" Rafif mulai berbicara pada Zahra seperti saran Dokter, ia disarankan agar lebih sering mendorong Zahra dengan berbicara kepadanya agar Zahra bisa segera sadar dari komanya
"Zahra, apa kau tidak merindukanku? Baru sekali kau menyalami tanganku ketika aku berangkat kerja, aku masih ingin melihatmu melakukan itu lagi. Aku ingin terus melakukan hal-hal kecil tetapi membahagiakan bersamamu. Ku mohon, bangunlah" pintanya menggenggam erat tangan Zahra yang terasa hangat di dalam genggamannya.
Mata Rafif tidak sengaja menangkap pergerakan tangan kiri Zahra yang mulai bergerak lemah, matanya segera terbuka lebar untuk melihat pergerakan kecil dari istrinya itu
"Assalamualaikum" ucap Abi dan Umi Zahra secara bersamaan mengalihkan perhatian Rafif
"Waalaikum salam. Abi, Umi, jari-jari Zahra tadi bergerak Abi, Umi" Rafif menghampiri mertuanya dan memberitahu mereka dengan hebohnya saat selesai menjawab salam mereka
"Benarkah Rafif?" Tanya Abinya tidak percaya, Rafif mengangguk dengan sangat senang
Rafif kembali memperhatikan Zahra dan matanya berfokus pada mata Zahra yang mulai mengerjap pelan, betapa senangnya Rafif melihat itu
"Zahra, Zahra akhirnya kau membuka matamu" ucap Rafif kembali menghampiri Zahra dan di susul oleh kedua orangtua Zahra
"Ka..k Ra..f..if" panggil Zahra terbata dengan suara yang lemah, Rafif adalah orang pertama yang ia cari ketika baru saja sadar
"Iya Zahra, aku disini" jawab Rafif mengambil tangan Zahra dan menggenggamnya erat
"Ge..lap, kenapa semuanya gelap?" tanya Zahra dengan suara yang lemah namun sudah mulai bisa di dengar jelas oleh semua orang
"Gelap? Zahra, nak apa maksudnya gelap?" Abinya turut menanyakan maksud Zahra mengatakan kata gelap
"Zahra tidak bisa melihat apapun, semuanya gelap" keluhnya mencoba memejamkan matanya sesaat lalu kembali membukanya dengan lebar secara perlahan
Rasa lega Rafif yang tadi sempat muncul saat melihat Zahra mulai sadarkan diri kini menghilang, rasa panik dan khawatir kembali menyerangnya
"Sebentar, Rafif panggilkan Dokter Umi" Rafif segera keluar dari ruangan Zahra dan tak kama kemudian ia kembali masuk kesana dengan Dokter yang menangani Zahra selama ini
"Bu Zahra, apa yang ibu rasakan?" tanya Dokter itu pada Zahra
"Gelap, saya tidak bisa melihat apapun" keluh Zahra, air matanya tak jarang keluar membasahi wajahnya
"Sebentar" Dokter itu lalu mengambil medical pen light dan mulai menyalakannya lalu menyorot mata Zahra
"Bagaimana istri saya Dok?" tanya Rafif begitu khawatir
"Sepertinya retina mata Bu Zahra mengalami cidera akibat pecahan kaca yang mengenai matanya, bisa juga akibat benturan keras pada kepalanya yang melukai sarafnya. Kita harus melakukan pemeriksaan lebih jauh untuk itu" jawab sang Dokter yang disambut ke khawatiran semua orang yang ada diruangan itu
"Tapi istri saya masih bisa melihat kan Dok?" Tanya Rafif penuh harap
"Saya belum bisa menyimpulkan apapun, kebutaan akibat kecelakaan memang dapat terjadi, ada yang bisa di sembuhkan namun tak jarang juga bisa menyebabkan kebutaan yang permanen. Kita tunggu saja hasil pemeriksaannya" kata Dokter tersebut memegang pelan bahu Rafif
"Baik Dok" walaupun Rafif mengiyakan perkataan Dokter fersebut, tapi hatinya sangatlah merasakan kegundahan saat ini
"Kalau begitu, saya permisi" pamit Dokter tersebut berlalu keluar dari ruangan Zahra
"Umi, Abi. Zahra tidak bisa melihat apapun, semuanya gelap. Zahra takut Abi, Umi" Isak Zahra yang masih berbaring di tempatnya
Abi dan Uminya segera menghampirinya dan dan menggenggam tangan putrinya, mencoba menenangkan dan memberikan kekuatan pada Zahra yang tengah diliputi ketakutan. Meski tidak dapat di pungkiri, mereka semua juga ketakutan melihat kondisi Zahra saat ini
"Yang sabar sayang, kita serahkan semua kepada Allah. Tawakal Nak" ucap Abinya mengelus kepala anaknya
"Zahra takut Abi, Zahra takut tidak bisa melihat wajah Abi dan Umi lagi" Zahra semakin terisak karena memikirkan banyak hal dengan kondisinya saat ini
Sementara itu, Rafif terlihat begitu terkejut dengan efek yang di timbulkan oleh kecelakaan itu. Ia merasa sangat bersalah karena tidak bisa menjaga Zahra dengan baik. Isakan tangis Zahra terasa menembus jantungnya, sangat sakit mendengar dan melihat Zahra terisak seperti itu