Kedua orang tuanya meninggal berbarengan, tiga adik kecilnya terancam kelaparan, Adeline Dewi dipaksa untuk mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih instan daripada sekedar 'pendamping bayaran'. Memang dasar semprul, ia nekat menjadi ART di rumah konglomerat memalsukan foto di ijazah dengan dokumen dari calon kandidat sebelumnya yang ia tipu.
Tujuan utama Adeline, mencuri dan balas dendam.
Sedikit-sedikit barang mewah yang tampaknya tak terpakai, ia ambil dan ia jual. Syukur-syukur dapat perhiasan.
Tapi aksinya ketahuan oleh pemilik rumah, Argan Atmorajasa. Salah Adeline sendiri, dengan seenaknya mencium laki-laki itu di depan teman-teman Argan. Sudah pasti pria itu langsung menandai Adeline.
Tapi, ada alasan kuat kenapa di usia 36 Argan masih melajang. Dan saat tahu alasannya, membuat Adeline ingin mundur saja rasanya.
Di lain pihak ia juga diganggu oleh Dewa, Si Kepala Bodyguard dengan pesona luar biasa. Ia menyimpan sejuta misteri, apakah termasuk rahasia Adeline juga?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruangan Dewa
“Suit-Suit!”
Beberapa orang di Gym menggoda Adeline yang masuk ke dalam. Adeline hanya cengar-cengir karena menganggap itu bukan 'cat calling' tapi hanya bercanda.
“Fokus latihan ya broooo, biar bisa tegak.” Sahut Adeline cuek.
“Haisss, ucapan semangatnya malah bikin kepikiran” Desis salah satunya.
Seperti yang kita tahu, Adeline terbiasa dengan laki-laki. Tidak ada hari tanpa menggoda. Asalkan semua sesuai batasannya. No sentuh-sentuh, No makian kasar.
“Boss kamu mana?” tanya Adeline sambil matanya menelusuri setiap sudut ruangan di sana. Dewa tidak terlihat di mana pun.
“Itu ruangannya di ujung.”
“Itu kamarnya?” tanya Adeline.
“Bisa dibilang ‘rumah’ sih Mbak.”
“Rumah?!”
“Iya, lihat saja sendiri.” Kata si bodyguard sambil menyeringai.
Pintu itu tinggi dan besar seakan tidak dibangun untuk manusia.
Baja ringan sampai plafon.
Saat dibuka, Adeline disambut dengan taman batu ala jepang dengan jembatan kecil untuk dua orang. Di bawah jembatan ada kolam ikan koi.
“Hah? Ada ruangan begini di dalam ruang Gym?!” desis Adeline takjub.
Adeline bisa melihat, itu adalah bagian lain dari rumah ini yang belum pernah dijamahnya. Atapnya terbuka seakan terpisah dari rumah utama, namun tidak terlihat dari depan.
Di ujung jembatan ada teras berlantai kayu, bench, sofa yang nyaman, dan tentu saja Dewa sedang berkutat di salah satu alat untuk membentuk perutnya, namanya Pulldown.
Dan ia tidak menggunakan pakaian, hanya boxer dan sepatu kets yang menempel di tubuhnya.
Adeline sampai-sampai menggigit bibirnya saat melihat kemolekan tubuh Dewa.
Pria itu menoleh padanya, dan menghentikan kegiatannya.
Ia tersenyum dan berdiri untuk menyambar handuknya.
“Yuk,” katanya sambil tersenyum tipis ke arah Adeline.
Sisa-sisa keringat di tubuh pria berkulit coklat itu malah membuat wangi parfum maskulinnya jadi lebih menyebar. Adeline menghirup udara dalam-dalam, menyesap wangi feromon yang mulai menyerang otaknya.
“Errrghh..” erangnya pelan.
Dengan berlari-lari kecil, Adeline menyusul langkah Dewa yang lebar. Dewa berjalan masuk ke dalam rumah kecil di tengah. Bergaya Jepang dengan atap yang ujungnya agak melengkung.
Di dalam ruangan itu ada perabotan lengkap, mulai dari ruang keluarga sampai dapur. Bergaya modern industrial. Dan satu tempat tidur agak ke belakang. Bagaikan apartemen tipe studio. Namun yang ini, sebagian besar dindingnya berkaca besar, menampilkan pemandangan taman dengan kolam yang indah.
Adeline bisa melihat rumah mungil itu dikelilingi tembok besar.
Di sudut rumah itu, ada dua layar besar menampilkan puluhan kotak. Kotak-kotak itu menampilkan gambar bergerak.
CCTV beresolusi tinggi.
“Waduh...” gumam Adeline langsung merasa tak enak hati.
“Di sini dapat terlihat CCTV yang tidak ditampilkan ke server lain. Ruang komando ada di dalam sana, sementara di sini ruang pribadi saya.” Kata Dewa. “saya akan tunjukan...”
“Pak Dewa,” Potong Adeline cepat. “Sebelum kita melihat CCTV, perlu saya beritahukan kalau saya juga beraktifitas di sana beberapa kali, jadi siapa tahu bapak kaget saat melihat saya di sana. Saya tidak tahu kalau itu ruang benda seni. Soalnya semua ruangan di sini sama saja, penuh lukisan dan patung-patung.” Dengan gugup Adeline mensejajari langkah Dewa.
Dewa menoleh padanya dan tersenyum, “Iya, jangan khawatir. Saya tahu kok.”
Adeline pun menghentikan langkahnya.
“Heh? Pak Dewa tahu?!” Adeline bilang begini sambil melotot.
Dewa pun berbalik sambil tersenyum, senyumnya kini terlihat jahil. “Jangan khawatir, kamu lumayan seksi kok.” Dan ia berbalik lagi untuk menuju ke arah server.
“Saya seksi?!”
“Jarang loh ada yang pole dance dengan putaran seartistik itu. Oh iya, seharusnya kamu tidak berputar di sana sih, tiang itu dalamnya kabel optik, jadi kalau ada kerusakan kamu bisa kesetrum.”
“Tapi bapak sudah tahu dan malah membiarkan saya menari di sana.”
“Ya gimana? Saya laki-laki biasa.”
Adeline mendengus sambil mencibir.
“Yang melihat saya menari siapa saja selain Pak Dewa?”
“Mudah-mudahan hanya saya saja yang melihat kamu. Karena tidak banyak orang tahu tentang ruangan itu, sih.”
“Bapak bisa hapus rekaman mengenai saya?”
“Bisa, tapi lebih baik tidak.”
“Loh? Kenapa? Itu kan hanya aktifitas biasa, saya tidak mencuri apa pun!” setidaknya, Adeline ‘belum’ mencuri apa pun.
“Kamu ambil baju dan sepatu dari sana.”
“Saya hanya pinjam, besok setelah dicuci saya kembalikan. Dan saya pikir itu hanya barang kenangan yang di simpan.”
“Itu barang kenangan penting.”
“Kalau begitu penting kenapa tidak dikunci, Pak?”
“Karena selama ini tidak ada yang selancang kamu main masuk saja ke tempat tersembunyi seakan sengaja mencari celah.”
Adeline menarik nafas panjang, Dewa menggelengkan kepalanya. “Sampai Bu Siti yang Kepala ART saja nyasar, itu karena memang mereka tidak pernah ke sana. Sekali diberi tahu jangan ke arah sana, mereka akan patuh. Kecuali kamu yang malah penasaran. Memang kamu cari apa sih di sana?!”
Adeline menelan ludahnya.
“Hanya... kepo sih.” Desis Adeline salah tingkah.
“Kepo yang sangat mencurigakan.”
“Jadi begini Pak Dewa.” Adeline mengangkat tangannya, “Saya butuh ruangan untuk istirahat.” ini alasan Adeline yang dia pikir lumayan masuk akal, walau pun konyol juga sih kalau didengar.
“Ruangan untuk istirahat?” Dewa mengangkat alisnya. Dia berpikir, memangnya wanita ini tidak memiliki alasan lain yang lebih intelek? Ya tapi dengarkan saja dulu deh.
“Setidaknya untuk tidur siang atau main hape sesekali.” kata Adeline.
“Dan alasannya?”
“Semua wanita di rumah ini, kecuali Ririn dan Bu Siti, mereka membenci saya. Saya tidak mungkin ke paviliun, di sana itu sarang macan! Mereka fans Fanatik Argan! Sementara saya dianggap Argan bantal kucing main uyel-uyel aja! Ke ruang laundry duduk sebentar saja saya sudah hampir disamperin, untung Argan datang. Saya nggak mungkin leyeh-leyeh di kamar Argan, bisa dicurigai ada main. Kemarin numpang mandi di sana saja udah diomeli Pak Dewa, seharian cemberut tampang situ kayak bini diambil orang.”
Dewa berdehem sambil tersenyum.
Adeline kembali menambahkan alasannya. “Guling-guling di kamar Rinjani juga nggak mungkin, terlalu lancang. Masalahnya, saya itu butuh tidur siang, Pak.”
“Tuh, di sana.” Kata Dewa sambil menunjuk ranjangnya dengan dagunya. “Tapi sama saya tidurnya.”
Menggoda sekali ya tawarannya.
Tapi kini ada hal yang lebih penting yang Adeline harus diskusikan.
“Sejak kapan Pak Dewa tahu identitas asli saya?”
Dewa tersenyum dan mendekat. “Sejak kapan ya...?” dia malah balik bertanya.
Pria itu berjalan ke arah CCTV dan memfungsikan mouse di sebelah layar.
Layar besar itu seketika menampilkan adegan kurang lebih dua minggu yang lalu.
“Ini kamu kan?” tanya Dewa sambil memperbesar layar itu. Tampak Adeline sedang duduk di sebelah tukang kopi keliling, lalu melambaikan tangan ke arah seorang wanita yang turun dari Ojek Online.
Wanita yang turun dari ojek online itu tentu saja Ade Putri.
Lalu Dewa mempercepat adegannya, dan memperlihatkan Adeline mengambil dokumen yang diletakkan Ade Putri di bangku. Ade Putri pergi terburu-buru dan terlihat kalau Adeline membuka dokumen itu dan menempelkan fotonya di sana.
Adeline menatap layar itu dengan wajah blo’on.
Saking begonya rasanya Dewa jadi ingin... menciumnya.
Jarang loh melihat Adeline yang selalu bergaya bak selebritis menampakkan wajah konyol seperti ini.
“Ta-ta-tapi!! Bapak kan mewawancarai saya setelahnya!!” seru Adeline menuding Dewa. “Itu berarti Pak Dewa sudah tahu dong kalau saya Ade Putri gadungan!”
Dewa mengangkat bahunya, “Makanya saya segera menggantikan Bu Siti.”
“Kenapa saya diterima?!”
“Kenapa kamu melamar dengan cara menipu?”
Adeline mengangkat sebelah bibirnya, mencibir. “Astaga...” desisnya. Ya sebenarnya pertanyaan Dewa lebih mutlak, karena di situlah awal dari segalanya.
“Hm?” Dewa memiringkan kepalanya, melipat kedua lengannya di depan dada, dan tersenyum. Rasanya Adeline bagai dite lan jangi dengan senyum malaikatnya itu. Ia seakan mengejek Adeline habis-habisan.
“Sayaaaaa... hm...” Adeline mengelus kedua lengannya yang langsung merinding. “Butuh uang.”
“Kita semua butuh uang.” Desis Dewa.
“Dan bosan dengan pekerjaan sebagai Ani-ani.”
“Hm.” gumam Dewa.
Pria itu menarik nafas panjang. Sepertinya Adeline tidak ingin mengungkapkan hal sebenanrya, jadi rasanya Dewa akan mengerjai wanita ini sedikit lebih lama lagi. Dan kalau seseorang enggan mengungkapkan kejujurannya, itu berarti rahasia dan niat terselubung yang disembunyikannya lumayan penting. Bisa jadi mengenai... dendam.
Namun Dewa juga tak yakin mengenai hal ini karena Adeline sudah dua kali mempertaruhkan nyawanya untuk Argan.
“Baiklah, anggap saja saya percaya padamu. Karena jasa kamu sudah banyak.” Desis Dewa.
“Yah, terima kasih.” Adeline menunduk sambil membuang muka.
“Tapi kamu pasti tahu setelah ini saya bisa dengan mudah mencari identitas kamu yang sebenarnya kan?” kata Dewa.
“Itu melanggar privasi saya, silakan bertanya sendiri, akan saya jawab jujur. Kalau pertanyaannya melanggar privasi, tak akan saya jawab.” Desis Adeline.
“Pertanyaannya selayaknya wawancara kerja biasa kok. Kamu tidak akan saya pecat, saya sudah tahu kinerja kamu lumayan baik. Jadi ART bisa, Jadi bodyguard apa lagi. Khehehehe.” Kekeh Dewa.
“Begitulah. Saya biasa membela diri.”
“Karena kamu Ani-ani, jadi sering diserang istri sah ya?”
Adeline mendengus sinis.
“Sini... kita wawancara di sini.” Dewa duduk di ranjangnya dan menepuk posisi di sebelahnya.
Kalau dulu, diperlakukan begitu, Adeline pasti sigap melangkah, naik ke atas tubuh kliennya, dan membuka pahanya. Extra sedikit meliuk-liukan tubuhnya.
Namun sekarang... ia tidak ingin direndahkan. Ia tidak dalam posisi menjadi Escort, dan sekarang dia seorang Karyawan dengan gaji halal.
Hatinya sakit. Ia kini tak tahu harus marah atau menangis, karena ia sangat menyukai dewa.
Namun Dewa menganggapnya sampah.
Rasa cinta itu...
Hilang sudah,
Runtuh sudah,
Lenyap semua penilaian Adeline yang bilang Pak Dewa itu orang paling bijak di rumah itu.
Ternyata dia yang paling buruk kelakuannya.
Namun, bukan Adeline kalau langsung kena mental.
Setelah Adeline pikir-pikir lagi, biar saja ia simpan video Adeline menari pole dance.
Adeline lumayan percaya diri dengan kemampuan tari-nya kok. Siapa tahu malah bisa membuat Dewa yang mengejarnya, bukan ia yang mengejar Dewa.
“Heh!” dengus Adeline lagi. “Saya tahu bapak akan mengancam saya dengan video. Mohon maaf saya tidak akan terpengaruh. Silakan ditonton sepuasnya buat bahan co*li kalau begitu ya Pak. Sampai patah sekalian tuh burung...” gumam Adeline sambil berjalan berbalik ke arah luar.
Dewa menatap Adeline dengan sinis. Adeline benar, tadinya akan ia gunakan untuk bisa membuat Adeline tidur dengannya. Tapi tampaknya, jebakan itu tidak mempan untuk Adeline.
Sebaliknya, malah ia yang terjebak ke dalam pesona wanita cantik itu.
“Lamaran Putri Kusuma baru saja diberikan ke saya nih, dari Argan.” Desis Dewa.
Adeline menghentikan langkahnya lalu mengeluh. “Eerrghhh...” iya juga itukan tujuannya ke sini. Merayu Dewa agar bersedia mempekerjakan si Ade putri.
“Argan sepertinya tertarik, karena rencananya kamu akan dijadikannya aspri, sementara urusan bersih-bersih biar si Putri Kusuma ini saja.” Kata Dewa. “Kok wajahnya Putri Kusuma ini mirip banget Ade Putri yaaaa, dan kenapa isi profilnya mirip banget sama Ade putri yaaaa?!”
“Iya itu memang Ade Putri.” Gumam Adeline.
“Oh. Udah bestie rupanya.” Seringai Dewa menghiasi wajah tampannya.
“Saya merasa bersalah padanya.” Gumam Adeline.
“Good. Kamu memang banyak salah, sih.” Lama-lama Adeline sebal dengan kekehan Dewa yang seakan sok ramah padahal mengejeknya. Atau Adeline yang sedang kelewat sensitif? “Duduk sini, Elin...” desis dewa.
“Saya tidak akan mau melakukan adegan itu.” Sahut Adeline Tegas.
“Cuddling sedikit kan nggak papa, kamu kan pacar saya.” Kata Dewa sambil tersenyum.
“Saya tekankan, saya tidak-“ dan Adeline pun terdiam. “Sayaaa... apanya bapak?”
“Pacar saya.”
“Hah?!”
“Kamu pacar saya, saya bilang.”
Cukup lama Adeline mencerna kalimat Dewa. Ia bahkan tidak percaya telinganya sendiri.
“Kapan... saya ditembak?” seingatnya memang tidak pernah.
“Nggak usah tembak-tembakan, bosan. Keputusan saya sepihak.”
“Memangnya bisa begitu?!” seru Adeline.
“Bisa saja. Duduk di sini... di pangkuanku. Aku kangen semalaman nggak ketemu kamu.”
“Hah...?”
gasss🔥🔥🔥🔥👌