[Cek novel terbaru, Soul Shaman.]
Battle Domain, sebuah Game Virtual Reality yang terasa sangat nyata dan berjalan lebih cepat dari waktu yang ada di dunia nyata. Berkat fitur tersebut, Battle Domain berkembang dengan cepat di seluruh dunia hingga berpengaruh pada ekonomi dunia.
Veigas Ercnard seorang laki-laki berusia 18 tahun yang baru saja lulus dari sekolah mengalami dilema antara kuliah atau kerja.
Di tengah dilemanya, Veigas menemukan Battle Domain yang ternyata bisa menghasilkan uang dengan cukup mudah.
Karena terdengar menarik Veigas memulai petualangannya di Battle Domain untuk menghasilkan uang. Namun, seiring berjalannya waktu, tujuan Veigas yang awalnya hanya untuk menghasilkan uang pun berubah.
h
Kebanggaan, harga diri, reputasi, dan kehormatan, itulah hal yang menunggu Veigas setelah menyelam semakin dalam di Battle Domain.
———
#WF
Side Story: Alcatraz
–––
I do not own cover images.
Cover Images: Copyright © Kakao Games Corp. | KOG All rights reserved.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 30 - Desa Viridis
Beberapa hari setelah pertempuran di Hidden Dungeon, Veigas memutuskan untuk melakukan perjalanan seorang diri. Sebelum berpisah dengan teman-temannya, Veigas menjelaskan semua ia alami kepada teman-temannya. Mulai dari menjalani Epic Quest hingga Vanatara Trial Chamber, mereka sangat terkejut dengan semua hal yang di alami Veigas.
Saat akan bepergian, Veigas membayar pajak bulanan rumahnya lebih awal, karena khawatir akan pergi terlalu lama dari Kota Danau Biru.
Saat ini, Veigas sampai di sebuah desa yang sangat tenteram. Nama desa itu adalah Desa Viridis, desa itu mengingat Veigas dengan kampung halamannya. Veigas berjalan ke pintu masuk desa yang dijaga oleh dua orang pria.
[Rick Lv.20 (Village Guard)
HP : 8.000]
[Morty Lv.19 (Village Guard)
HP : 7.500]
Melihat kedatangan orang asing, kedua penjaga itu segera menghentikan Veigas.
“Maaf Petualang, kau harus melepas tudungmu jika ingin beristirahat di desa kami.”
Veigas segera melepas tudungnya, sesuai dengan permintaan kedua penjaga, “Apakah aku boleh masuk sekarang?”
Penjaga Rick mengangguk, “Silakan masuk Petualang, tolong jangan membuat suatu masalah bagi desa kami.”
“Aku mengerti.” Veigas melewati kedua penjaga dan masuk ke dalam desa.
Di dalam desa, terdapat banyak anak kecil yang bermain-main. Melihat pemandangan itu, Veigas merasakan seperti ada sesuatu yang bangkit dalam dirinya. Perlahan-lahan Veigas merasakan kerinduan untuk bermain-main bersama anak-anak itu.
‘Ini aneh, aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya, bahkan di dunia nyata.’ Veigas agak kebingungan.
Anak-anak yang tengah berlarian kesana kemari itu segera berhenti begitu melihat Veigas.
“Lihat ada Petualang!”
Anak-anak itu segera mengerumuni Veigas dan mulai mengajukan pertanyaan, beberapa ada yang mengajaknya bermain, dan beberapa hanya mengganggunya.
“Kakak Petualang, apa yang sedang kau lakukan di desa kami?”
Veigas segera menurunkan dirinya dan menjawab dengan ramah, “Aku sedang ingin beristirahat.”
Seorang anak perempuan mengangkat tangannya, “Kakak Petualang, aku bisa mengantarmu ke penginapan.”
“Benarkah? Kalau begitu aku akan merepotkanmu.” Veigas mengelus kepala anak perempuan itu.
Kerumunan anak kecil itu mengikuti Veigas dan anak perempuan itu ke penginapan.
“Kakak Petualang, kenapa wajahmu bisa seimut itu?” Seorang anak laki-laki bertanya dengan polosnya.
Veigas bingung bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu, “Apakah aku imut? Kenapa tidak ada yang mengatakan aku tampan?
“Kakak Petualang merupakan orang yang tampan dan imut!”
“Aku ingin memiliki suami seperti Kakak Petualang!”
“Aku ingin terlihat seperti Kakak Petualang!”
Anak-anak itu segera meributkan wajah Veigas. Tidak lama kemudian mereka semua sampai di penginapan.
“Kakak Petualang, kita sampai. Ini adalah penginapan milik orang tuaku dan hanya satu-satunya penginapan di desa ini.”
Veigas melihat penginapan yang cukup besar itu, walaupun semuanya dibangun dengan kayu tapi bangunan masih terlihat sangat baik.
“Terimakasih banyak semuanya, ini hadiah untuk kalian semua.”
Veigas membagikan satu Copper kepada semua anak-anak yang mengikutinya.
“Hore!”
“Kita kaya!”
“Ibu pasti sangat senang!”
Anak-anak itu terlihat sangat bahagia mendapatkan satu Copper, kehidupan di desa itu hanya bergantung pada ternak dan pertanian. Penghuni Desa Viridis juga ada yang memiliki pekerjaan lain seperti pedagang, tapi karena jarak desa dengan kota cukup jauh, mereka jarang melakukan perdagangan.
“Terimakasih Kakak Petualang!”
Semua anak-anak berterima kasih dengan kompak lalu segera membubarkan diri kecuali anak perempuan yang mengantarkan Veigas.
“Kakak Petualang ayo masuk.”
Suara bel pintu berbunyi begitu anak perempuan itu membuka pintu penginapan. Sebuah suara terdengar dari pintu di dekat meja resepsionis.
“Catherine kau sudah pulang?”
“Ya ibu aku sudah pulang. Aku juga membawa tamu.”
Anak perempuan itu segera berlari menuju ruangan itu dan meninggalkan Veigas sendiri.
Veigas duduk menunggu di meja terdekat, ia membuka Menu untuk melihat salah satu keterampilan yang didapatnya saat melawan Ghost Hayl.
[Darkmoon Slash (Lv. 0)
Damage : 2.000
Mana Cost : 750
Cooldown : 30 sec.
Upgrade Cost : 25.000 Exp (+)
Tebasan kuat yang membuat target memasuki kondisi Confused dalam 1 detik.]
‘Bukankah Keterampilan ini cukup kuat? Bahkan Keterampilan ini memiliki efek saat mengenai target.’
Veigas yang memiliki cukup pengalaman, memutuskan untuk menaikkan Darkmoon Slash sebanyak satu level.
[Darkmoon Slash (Lv. 1)
Damage : 4.000
Mana Cost : 1.500
Cooldown : 28 sec.
Upgrade Cost : 50.000 Exp (+)
Tebasan kuat yang membuat musuh memasuki kondisi Confused dalam 1.2 detik.]
‘Hm... Kurasa ini sudah cukup,’ batin Veigas
Veigas juga ingin menaikkan keterampilan kelasnya, hanya saja untuk itu sangat memakan banyak pengalaman. Beberapa saat kemudian seorang wanita menghampiri tempat duduk Veigas.
“Maaf sudah membuatmu menunggu.”
“Tidak apa-apa Bibi.”
“Ah... jangan membuatku terlihat sangat tua, panggil saja aku Chloe.”
“Baiklah Kakak Chloe, kau bisa memanggilku sebagai Veigas.”
Keduanya berjabat tangan.
“Veigas berapa lama kau akan tinggal di desa kami?”
“Aku hanya akan tinggal di desa ini selama satu hari.”
“Baiklah aku akan segera menyiapkan kamar dan makananmu.” Chloe segera bergegas, “Benar juga, Veigas kuharap kau tidak keluar saat malam bulan purnama datang.”
“Kenapa?” Veigas merasakan sesuatu yang salah dari desa ini.
“Karena setiap malam bulan purnama, Ratu Makhluk Mati akan datang dan mencari tumbal di desa ini.” Chloe memelankan suaranya seolah sedang memberitahu Veigas sesuatu yang terlarang.
“Ratu Makhluk Mati?”
“Itu adalah julukan untuk Dixtri, dia selalu muncul dengan Undead di sekitarnya.”
Jawaban Chloe semakin membuat rasa penasaran Veigas menjadi-jadi, ia sangat ingin bertemu dengan Dixtri atau yang biasa orang desa itu sebut sebagai Ratu Makhluk Mati.
“Apakah Dixtri itu sangat kuat?”
“Ya, monster itu sangat kuat. Bahkan Kepala Desa kami yang sebelumnya terluka parah dan meninggal tidak lama setelah mengusir Dixtri.”
“Baiklah aku akan menahan diri untuk saat ini. Maaf membuatmu menunda pekerjaanmu.”
“Kalau begitu tolong tunggu sebentar.” Chloe segera naik ke lantai atas.
Notifikasi muncul di hadapan Veigas.
[Dixtri The Undead Queen
Kamu telah menemukan ancaman yang sering mengintai Desa Viridis. Dixtri atau yang warga desa sebut sebagai Ratu Makhluk Mati, terkadang datang ke Desa Viridis setiap malam bulan purnama untuk mencari mangsa. Karena keterbatasan warga desa, mereka tidak dapat mengusir maupun membunuh Dixtri. Akhirnya warga desa memutuskan untuk membuat larangan untuk keluar dari rumah setiap malam datang.]
Notifikasi yang masuk membuat Veigas harus melakukan sesuatu terhadap Dixtri, ia tidak bisa membiarkan desa itu terus di teror dengan rasa takut. Selain itu, Veigas ingin tahu apakah ia bisa membuat Dixtri menjadi pasukannya dengan Keterampilan Rising.
“Ini agak menarik.” Veigas tersenyum.
🔥🔥🔥
Dukung terus Battle Domain dengan cara mengirimkan Like, Vote, Tip, Rating, dan Share. 😉