NovelToon NovelToon
Fisherman'S Book

Fisherman'S Book

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:92.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Skyligh

[Minggu,Selasa, Jumat libur].
Novel ini mengisahkan perjalanan seorang pemuda yang, di usia sepuluh tahun, mengalami tragedi pahit—didorong oleh ibu tirinya hingga terjatuh dari tebing ke laut. Dalam perjuangannya bertahan hidup, ia tanpa sengaja menemukan sebuah buku misterius yang tersembunyi di dasar laut. Saat kesadarannya mulai memudar, buku itu menyatu secara ajaib ke dalam pikirannya, menjadi awal dari takdir luar biasa yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyligh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makam Ibu

Pesawat yang ditumpangi Alvarez perlahan lepas landas, meninggalkan landasan udara dengan suara gemuruh yang menggetarkan tubuh besi burung raksasa itu. Di dalam kabin, Alvarez duduk di dekat jendela, memandangi awan yang menggulung di balik kaca. Wajahnya tampak tegang, pandangannya kosong, seakan pikirannya tertinggal jauh di masa lalu.

Melihat ekspresi bos mereka yang berbeda dari biasanya, Toni melirik Max dengan alis mengernyit, lalu memberanikan diri untuk bertanya.

"Bos... kamu kelihatan tegang. Ada apa sebenarnya?" tanya Toni, suaranya setengah berbisik.

Alvarez tak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, lalu berbicara pelan sambil tetap memandang keluar jendela.

"Perjalanan kali ini bukan untuk liburan atau pekerjaan, Ton. Aku kembali ke kota E... untuk mengunjungi makam ibuku." Suaranya terdengar berat. "Yang membuatku tegang adalah... bagaimana jika ayahku melihatku? Apa yang harus kukatakan padanya setelah sekian lama?"

Mendengar itu, Max yang duduk di sebelahnya langsung menyela dengan nada serius. "Bos, kalau boleh aku kasih saran... jujur saja. Ceritakan semuanya. Termasuk bagaimana ibu tirimu memperlakukanmu dulu."

Toni mengangguk setuju. "Iya, Bos. Siapa tahu, setelah mendengar semuanya, ayahmu sadar dan mengusir nenek lampir itu dari rumah."

Alvarez hanya tersenyum tipis, lalu kembali tenggelam dalam pikirannya. Matanya tetap menatap langit, namun batinnya jauh melayang—ke rumah yang dulu ia tinggalkan, ke masa kecil yang penuh luka dan kenangan bisu.

Perjalanan ke kota E memakan waktu sekitar dua setengah jam. Selama itu, Max dan Toni tertidur dengan kepala bersandar ke kursi, sementara Alvarez tetap terjaga, pikirannya terus berkecamuk tanpa henti.

Ketika roda pesawat akhirnya menyentuh landasan bandara Kota E, hentakan ringan membangunkan Max dan Toni. Alvarez menepuk pelan bahu mereka berdua.

"Kita sudah sampai," katanya singkat.

Mereka turun dari pesawat, melewati lorong bandara yang dingin dan modern. Langkah mereka perlahan, seolah waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Di depan pintu kedatangan, mereka berdiri menunggu taksi yang akan membawa mereka ke hotel.

Tak ada kata-kata selama itu. Hanya suara kendaraan dan pengumuman dari pengeras suara bandara. Masing-masing larut dalam pikiran mereka. Rencana hari ini hanyalah beristirahat, mengumpulkan tenaga untuk esok hari—hari ketika Alvarez akan berdiri di hadapan makam ibunya, dan mungkin juga, di hadapan masa lalunya.

Taksi yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah hotel butik bertingkat lima yang berdiri elegan di pusat Kota E. Bangunan itu terlihat hangat dan tenang, dindingnya dibalut cat krem dan jendela-jendela besar yang memantulkan cahaya matahari siang. Seorang petugas menyambut mereka dengan senyum sopan.

“Selamat datang, silakan masuk,” ucapnya ramah.

Mereka bertiga melangkah masuk ke lobi hotel yang sejuk. Aroma kayu manis dan bunga segar menyambut di udara, memberikan rasa tenang yang kontras dengan suasana batin Alvarez. Di balik meja resepsionis, seorang wanita muda dengan seragam rapi menyambut mereka dan menyelesaikan proses check-in dengan cepat.

“Kamar 305, lantai tiga. Ini kuncinya,” katanya sambil tersenyum.

Setelah naik lift, mereka tiba di kamar yang telah disiapkan. Ruangan itu sederhana namun nyaman—dinding berwarna pastel, ranjang putih bersih, dan jendela besar yang menghadap ke taman kota. Begitu masuk, Toni langsung menjatuhkan tubuh ke sofa dan menguap lebar.

“Ah, akhirnya bisa rebahan juga,” keluhnya sambil menutup mata.

Max menaruh ranselnya di atas meja dan membuka tirai, membiarkan cahaya siang masuk menerangi ruangan.

“Bos, istirahatlah sebentar. Besok pasti bakal berat.”

Alvarez hanya mengangguk. Ia meletakkan tasnya dengan hati-hati, lalu duduk di tepi ranjang. Kepalanya tertunduk, jari-jarinya saling menggenggam erat. Di tengah suara angin dari ventilasi kamar, ia berkata lirih, seolah kepada dirinya sendiri.

“Sudah bertahun-tahun aku tidak menginjakkan kaki di kota ini. Tapi semuanya masih terasa segar… seperti luka yang belum pernah benar-benar sembuh.”

Tak ada yang menjawab. Toni telah tertidur di sofa, dan Max hanya menatap Alvarez dengan mata penuh empati, lalu berjalan ke dapur kecil untuk membuatkan teh hangat.

Setelah beberapa saat, Alvarez berbaring di tempat tidur. Ia memejamkan mata, mencoba mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Tapi bayangan ibunya, suara langkah di rumah lama, dan wajah ayahnya yang mulai memudar dalam ingatannya, terus berdatangan seperti mimpi yang belum selesai.

Esok hari, ia tahu, bukan sekadar ziarah ke makam. Itu adalah perjalanan menuju rekonsiliasi, atau mungkin, kejujuran terakhir yang selama ini tertahan di dadanya.

Keesokan paginya, langit Kota E diselimuti awan tipis yang bergerak perlahan, menciptakan nuansa teduh dan syahdu. Jam baru menunjukkan pukul tujuh saat Alvarez berdiri di depan cermin, merapikan kerah kemejanya. Wajahnya terlihat tenang, tapi di balik sorot matanya yang dalam, ada gundah yang tak bisa disembunyikan.

Max dan Toni juga sudah bersiap. Mereka tidak banyak berbicara pagi itu, seolah tahu bahwa hari ini bukan untuk candaan atau lelucon.

Setelah sarapan ringan, mereka bertiga keluar dari hotel dan menaiki taksi menuju pemakaman yang terletak di pinggir kota. Sepanjang perjalanan, tak ada yang membuka percakapan. Hanya suara kendaraan dan musik lembut dari radio mobil yang mengisi keheningan.

Sebelum mereka tiba di makam ibunya Alvarez, mereka singgah untuk membeli bunga lili putih untuk di letakkan di makam ibunya nanti.

Tak lama kemudian, taksi berhenti di depan gerbang besi tua yang mengarah ke kompleks pemakaman. Udara di sana terasa lebih dingin, disertai aroma tanah basah dan bunga melati yang ditanam di pinggir jalan setapak. Pepohonan rindang berdiri tenang, seolah menjaga ketenangan mereka yang telah pergi.

Alvarez berjalan paling depan, langkahnya pelan namun mantap. Ia menggenggam seikat bunga lili putih di tangan kanan, bunga kesukaan ibunya. Max dan Toni mengikuti dari belakang, menjaga jarak agar memberi ruang bagi Alvarez dengan kenangan masa lalunya.

Setelah menyusuri jalan setapak berbatu yang diapit deretan nisan tua, langkah Alvarez akhirnya terhenti. Di hadapannya terbentang makam ibunya — namun bukan ketenangan yang menyambut, melainkan luka yang tak terduga. Matanya membelalak, tubuhnya seketika gemetar.

Makam itu...

Tertutup rerumputan liar dan semak kecil yang tumbuh tanpa arah. Tanaman liar menjalar di atas batu nisan yang mulai kusam, seolah dilupakan oleh waktu. Tak ada tanda bahwa seseorang pernah datang untuk membersihkan atau sekadar menaruh bunga.

Alvarez mengepalkan tangannya. Tubuhnya kaku, seperti menahan amarah yang naik ke dadanya dengan cepat.

“Kenapa bisa seperti ini…” gumamnya, nyaris tak terdengar, namun nadanya mengandung bara. “Kenapa makam Ibu seperti ini?”

Air mata mulai menuruni pipinya, satu demi satu, tanpa bisa ditahan.

“Pasti Ayah tidak pernah datang ke sini lagi... Kalau tidak, bagaimana mungkin makam Ibu dibiarkan seperti ini?” suaranya pecah, terisak dalam lirih.

Tanpa menunggu lebih lama, Alvarez menjatuhkan diri berlutut di tanah. Dengan tangan kosong, ia mulai mencabut rumput-rumput liar itu satu per satu. Jari-jarinya yang biasa menggenggam kemudi kapal kini kotor oleh tanah, namun ia tidak peduli. Setiap helai rumput yang ia cabut, seolah mencabut duri dari hatinya sendiri.

Melihat itu, Max dan Toni yang sebelumnya menjaga jarak, segera berjalan mendekat. Tanpa berkata apa-apa, mereka ikut berjongkok dan membantu Alvarez merapikan makam itu. Dalam diam, mereka mencabut semak-semak liar, menyingkirkan dedaunan kering, dan menyapu permukaan batu nisan dengan tangan mereka sendiri.

Setelah permukaan makam ibunya dibersihkan dan bunga lili putih tertata rapi di atas tanah yang basah, Alvarez menatap batu nisan itu dalam diam. Sebuah kehampaan menyesakkan dadanya, menyelusup hingga ke tulang. Ia menekuk lutut, bersimpuh di hadapan pusara yang sunyi, lalu meletakkan telapak tangannya di atas batu yang dingin. Hembusan angin menyentuh wajahnya, seakan membisikkan kenangan yang selama ini ia simpan rapat-rapat.

“Ibu…” bisiknya dengan suara bergetar. “Al datang, Bu… setelah sepuluh tahun yang panjang… Al akhirnya bisa pulang.”

Air mata mulai mengalir tanpa malu. Wajahnya menunduk, suaranya lirih namun penuh beban.

“Maaf, Bu… maaf karena butuh waktu selama ini untuk datang kemari. Bukan karena Al lupa… tapi karena setiap kali ingin melangkah, hati ini selalu ciut. Takut kalau Ibu benar-benar sudah tak bisa kudengar lagi… Takut kalau semua kenangan kita hanya tinggal bayang.”

Ia terdiam sejenak, menahan isak yang menghimpit dada. Lalu, dengan suara yang lebih serak, ia melanjutkan.

“Aku rindu, Bu… rindu seperti anak kecil yang tersesat dan ingin pulang. Tidak ada pelukan yang bisa menggantikan pelukan Ibu. Tidak ada rumah yang terasa benar-benar rumah, sejak Ibu pergi.”

Alvarez mengangkat kepalanya, menatap nisan yang kusam dengan mata basah.

“Apakah Ayah pernah datang ke sini, Bu?” tanyanya, nyaris seperti anak kecil yang merengek. “Tapi lihat makam Ibu... tak terurus... seolah tak ada yang peduli. Padahal Ibu... Ibu layak mendapat lebih dari ini.”

Tangannya mengepal di atas lutut. Giginya bergemeletuk menahan emosi yang tak tertahan.

“Kenapa Ayah membiarkan makam Ibu seperti ini? Kenapa, Bu? Setelah semua yang Ibu lakukan untuk kami…”

Ia memeluk batu nisan itu, tubuhnya berguncang hebat dalam tangis. Max dan Toni berdiri tak jauh di belakang, membisu dalam haru. Bahkan udara pun seperti ikut menunduk dalam duka.

“Ibu… selama ini Al berjuang sendirian. Di laut, di kota-kota asing, di tengah badai yang nyaris menenggelamkan semuanya. Tapi Ibu tahu? Aku berhasil, Bu… Aku membangun sesuatu. Sebuah tempat… tempat yang damai, tempat yang terasa seperti rumah…”

Suara Alvarez melambat, namun setiap katanya terasa berat seperti timah.

“Pulau itu indah, Bu… ada laut yang tenang, angin yang hangat, dan suara alam yang mengingatkanku pada masa kecil. Andai Ibu bisa melihatnya… andai Ibu masih ada… aku pasti akan membawa Ibu ke sana.”

Ia menyentuh batu nisan itu dengan jemari gemetar, seolah mencoba merasakan kehangatan yang sudah lama hilang.

“Tenanglah, Bu… damailah di sana. Tak ada lagi sakit, tak ada lagi air mata. Dan… kalau Tuhan mengizinkan, suatu saat nanti… kita akan bertemu lagi di alam sana nanti. Di tempat yang lebih indah, tanpa perpisahan.”

Alvarez memejamkan mata. Doanya mengalun dalam hati, lembut dan tulus. Angin kembali berembus, menerpa wajahnya dengan kehangatan yang nyaris tak nyata—seperti pelukan seorang ibu yang datang dari balik kematian.

Di belakangnya, Max menyeka air mata yang diam-diam jatuh. Toni menunduk, tak mampu berkata-kata.

Dalam diam dan luka yang tak kasat mata, satu hal menjadi jelas: perjalanan Alvarez kali ini bukan sekadar ke makam. Ini adalah perjumpaan kembali dengan separuh jiwanya yang hilang. Dan mungkin, permulaan dari sebuah pengampunan yang selama ini tertahan.

......Note:"Kalau kamu suka ceritanya, jangan lupa tekan like ya! Komentar kalian juga sangat berarti buat saya—ceritakan bagian favoritmu atau tebak apa yang akan terjadi selanjutnya!"......

1
Urang sunda
luar biasa
Hary
perempuan usia 40tahun lagi enak2nya jangan coba2 bangun gairah birahinya, pasti sangat luar biasa, legit menggigit
Laizajiloh
Hai.. kapan d lanjut ceritanya kak..
Dhewa Shaied
apakah hiatus?
Kinashi Minata
he opo iki?
Kinashi Minata
🤣
Kinashi Minata
🤭
Kinashi Minata
🤭 endi
Kinashi Minata
🤭 opo iki?
Swikong
Mantul👍
Swikong
Lanjutkan........
Swikong
Ayo semuanya semangat💪💪
Swikong
👍👍👍
Swikong
👍
Swikong
Alvarez 👍👍
Swikong
Bos Alvarez👍
Swikong
Ho oh
Swikong
Mengharukan/Cry/
Swikong
Oke
Swikong
Lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!