Roseline adalah Psk nomor satu di rumah bordil Heaven yang ada di Spanyol. Entah sudah berapa banyak pria yang menggunakan jasanya untuk menyalurkan hasrat, dia tidak peduli karena dia bekerja untuk menyembuhkan penyakit adiknya yang berusia empat tahun. Setiap hari, Roseline harus melayani pria hidung belang tapi suatu hari, dia dibeli oleh seorang milliarder bernama Edgard Demitry yang mengidap penyakit impoten.
Rose merasa jika itu adalah angin segar karena dia tidak perlu lagi melayani pria hidung belang. Dia melayani Tuannya dengan sepenuh hati namun semua di luar rencana karena penghinaan juga perlakuan buruk yang harus dia dapatkan dari Edgard yang ternyata kejam dan tak memiliki hati. Semua itu semakin memburuk saat kedatangan sahabat masa kecilnya yang membuatnya berada di dalam masalah karena Edgard cemburu. Rose disiksa sedemikian rupa, sebuah kejadian naas pun dia alami karena kekejaman Edgard. Dapatkah dia terbebas dari belenggu pria kejam yang telah membeli dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni Juli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai terusik
Perkataan Madam Dahlia yang mengatakan jika ada seorang pria yang jatuh hati pada Roseline mulai mengusik hati Edgard. Dia yang tadinya tidak mau peduli akan hal itu tiba-tiba saja merasa gusar. Edgard bahkan tidak bisa berkonsentrasi bekerja. Tidak seharusnya dia seperti itu apalagi Roseline hanyalah pelac*r yang dia bayar untuk menyembuhkan penyakit impotennya tapi perkataan Madam Dahlia mulai mengusik ketenangan hatinya.
Umpatan demi umpatan mulai terdengar. Sang asisten yang berada di ruangan itu tampak melangkah mundur karena dia tahu bukan hal baik jika mood bosnya sedang seperti itu. Dokumen yang hendak dia periksa terlihat menyebalkan sebab dia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Edgard bahkan melempar dokumen itu sambil mengumpat.
“Pelac*r sialan!” perkataannya itu tentu saja membuat sang asisten bingung namun dia tidak berani bertanya.
“Sir, aku akan menunggu di luar,” ucap sang asisten yang tidak mau terkena imbas dari amarah bosnya.
“Keluar!” teriak Edgar dengan keras. Tentunya sang asisten langsung berlari keluar bahkan setan pun tidak mau berada di dalam ruangan itu sebab amarah yang mengerikan.
Edgard menghela nafasnya, sial. Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Untuk apa dia marah hanya karena dia mendengar ada pria yang menyukai Roseline? Wanita itu hanya seorang pelac*r, pelac*r yang dia bayar jadi tidak seharusnya dia kesal hanya karena ada yang menyukai Roseline tapi setiap kali dia menyangkal diri dan tidak mau memikirkannya, perasaan tidak menyenangkan itu selalu dia rasakan. Jangan katakan dia sedang cemburu hanya karena perkataan Madam Dahlia. Tidak, hal itu tidak mungkin terjadi sebab Roseline bukanlah siapa-siapa baginya.
Dokumen yang dia lemparkan tadi kembali diambil. Kini dia mulai berkonsentrasi namun sedikit sulit karena dia jadi membayangkan seorang pria yang dimaksud oleh madam Dahlia dan yang menyukai Roseline tiba-tiba saja datang lalu membawa Roseline pergi darinya. Hatinya kembali terusik akibat pikirannya sendiri dan akhirnya dia seperti orang bodoh yang marah tidak jelas hingga pekerjaannya terbengkalai. Tidak bisa, setelah ini dia mau pulang. Dia ingin melihat apa yang Roseline lakukan. Dia juga ingin tahu apakah Roseline tahu jika ada yang menyukai dirinya atau tidak.
Tiba-tiba dia ingin melihat reaksi Roseline tapi dia tidak akan mengatakan pada wanita itu jika ada pria yang menyukainya agar pelac*r itu tidak besar kepala. Setelah menyelesaikan berkas yang sedari tadi membuatnya kesal, Edgard memilih pulang sebab dia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali.
Roselina sedang mengisi waktunya dengan membuat makanan. Sebenarnya dia sangat ingin berenang tapi mengingat kejadian yang tidak menyenangkan kemarin di mana dia dilempar ke dalam kolam renang oleh Edgard membuatnya enggan melakukan hal itu sebab dia takut tuannya tiba-tiba pulang dan memergoki dirinya di kolam renang. Jangan sampai dia kembali mendapat hukuman yang sangat tidak menyenangkan dan dia yakin tidak ada yang mau mendapatkan hukuman itu sebab dia pun tidak mau lagi.
Aroma Lezat dari makanan yang dibuat oleh Roseline tercium saat Edgard pulang. Gracia menyambutnya, dia ingin bertanya namun Edgard sudah mengangkat tangan sebagai tanda jika Gracia tidak perlu menanyakan apa pun. Sambil membuka jas yang dia gunakan, Edgard melangkah menuju dapur. Dasi yang dia pakai pun sedikit dilonggarkan, dia ingin melihat apa yang sedang dilakukan oleh Roseline.
Roseline tak menyadarinya kepulangannya, sebab Dia sibuk dengan makanan yang sedang dia olah. Dia bahkan tidak tahu Edgar sedang memperhatikan dirinya dan baru sadar saat dia berbalik untuk mengambil sesuatu. Keberadaan pria itu tentu saja membuat Roseline terkejut sebab tidak ada suara sama sekali yang menunjukkan jika pria itu dari sana.
“Tuan, kau sudah kembali?” Roseline tersenyum dan kali ini bukan senyum palsu atau senyum terpaksa yang biasa ditunjukkan karena hari ini dia memang sedang senang dan hal itu membuat Edgard memandanginya cukup lama.
“Apakah kau menginginkan sesuatu, Tuan?” tanya Roseline sebab Edgard diam saja.
“Hm, jika sudah selesai segera ke kamar!” Edgard melangkah pergi sambil mengumpat dalam hati. Apa sebenarnya yang sedang dia pikirkan? Kenapa senyuman yang tak biasa itu membuatnya merasa jika Roseline terlihat manis. Sebaiknya dia tidak terlalu banyak berpikir sebab itu bisa menjerumuskan dirinya. Namun satu hal yang membuatnya kesal, dia menginginkan wanita yang dia cintai melakukan pekerjaan seperti yang dilakukan oleh wanita pada umumnya yaitu memasak namun Angelica tidak mau tapi pelac*r itu, dia justru lebih pandai. Sepertinya dia harus kembali meminta Angelica untuk belajar memasak seperti yang dia inginkan.
Roseline bergegas menyelesaikan makanan yang sedang dia olah karena dia tidak mau tuannya menunggu terlalu lama. Dia bahkan meminta bantuan Gracia agar pekerjaannya cepat selesai dan beruntungnya setengah jam kemudian semua makanan yang dia olah sudah terhidang di atas meja. Rasanya cukup puas dengan hasil pekerjaannya tapi dia harus segera bergegas ke kamar untuk melayani Edgard.
Edgar sedang berdiri di depan jendela sambil menghisap sebatang cerutu. Roseline segera menghampirinya dan memeluk dirinya dari belakang. Edgard tidak keberatan dan dia pun tidak melarang sama sekali. Mungkin jika dia membiarkan wanita itu memperlakukannya dengan cara yang berbeda, gair*h yang ada dalam dirinya akan kembali lagi.
“Tuan, bukankah sudah aku katakan, kau tidak boleh menghisap cerutu karena itu tidak baik untuk kesehatanmu,” Roseline memberanikan diri untuk mengambil cerutu yang ada di tangan Edgard.
“Untuk apa kau peduli? Bukankah kau bisa pergi dariku jika aku mati? Bukankah itu yang kau inginkan sebab kau menginginkan sebuah kebebasan?”
“Apa yang kau katakan, Tuan? aku tidak sepicik itu. Kau memang berlaku kejam padaku tapi aku tidak sejahat itu sampai-sampai ingin kau mati. Aku hanya ingin kau berhenti menghisap benda ini sebab benda ini memang tidak baik untuk kesehatan.”
“Cih... Wanita malam seperti dirimu Ingin menggurui aku akan hal ini, apa kau tidak pernah menyentuh benda itu? Jangan kau kira aku mudah tertipu dan aku rasa kau lebih banyak mengkonsumsi barang seperti ini daripada aku. Minuman memabukkan dan obat-obatan, bukankah kau juga mengkonsumsinya?”
"Tolong jangan salah paham padaku, karena aku tidak mengkonsumsi obat-obatan dan benda seperti ini. Aku memang minum saat ada tamu yang meminta aku melakukannya jadi aku tidak bisa menolak tapi untuk obat-obatan, aku tidak pernah menyentuh barang seperti itu sebab aku tidak ingin menjadi pecandu karena aku ingin hidup lebih lama,” apa yang dia katakan adalah benar sebab dia memikirkan nasib Edmund.
“Oh, aku jadi ingin tahu. Jika ada seorang tamu yang jatuh cinta padamu, apa yang akan kau lakukan? Kau pasti akan sangat senang bukan karena ada yang jatuh cinta padamu?” akhirnya pertanyaan itu dia lontarkan, pertanyaan yang sedari tadi mengusik hatinya.
“Tidak, tentu saja tidak!” Jawab Roseline.
“Tidak perlu membual. Pelac*r seperti dirimu pasti akan sangat senang karena dicintai oleh seorang pria dan hanya pria bodoh sajalah yang akan jatuh cinta kepada seorang pelac*r seperti dirimu” Edgard terlihat angkuh saat mengucapkan perkataan itu. Memang hanya pria bodoh yang akan menyukai seorang pelac*r yang telah menjual tubuhnya pada banyak pria hidung belang.
“Yang kau katakan sangat benar, tuan. Para wanita malam yang bekerja di rumah bordil Heaven memiliki sebuah kesepakatan dengan Madam Dahlia. Kami dilarang jatuh cinta pada siapa pun apalagi pada seorang tamu. Jika Kami sampai melakukannya maka kami akan mendapatkan hukuman dari madam Dahlia.”
“Oh, jadi ada peraturan seperti itu?” antara senang dan kesal mendadak dia rasakan. Dia senang karena Roseline tidak akan jatuh cinta pada siapa pun dan dia tidak tahu kenapa dia kesal padahal tidak seharusnya dia marah atau apa pun karena itu bukan urusannya. Namun dia mengambil kesimpulan jika rasa kesal yang dia rasakan akibat pikirannya yang bodoh.
“Kami semua sudah terikat dengan perjanjian Tuan, sebab itu kami tidak bisa sesuka hati dan harus mematuhi Madam Dahlia,” jelas Roseline.
“Bagus, itu sangat bagus. Sekarang siapkan air mandi karena aku ingin mandi!” perintah Edgard.
“Akan segera aku lakukan!” Roseline berjalan pergi, sedangkan Edgard memandanginya dengan ekspresi puas sebab jawaban yang diberikan oleh Roseline sangat memuaskan. Dengan begini tidak akan ada yang bisa memiliki Roseline sekalipun pria itu mencintai dirinya sebab peraturan yang sangat bagus dari pemilik rumah bordil, jujur saja dia sangat puas dengan peraturan itu.