Menceritakan seorang gadis remaja yang baru kehilangan sepupu laki-lakinya yang kini pindah keluar kota dan tidak akan kembali dalam waktu lama, karena kepergian kakak sepupunya tersebut ia mencoba mencari sosok seorang kakak diawal perkuliahannya. Kiara Medina adalah gadis yang periang, cuek, casual sekaligus cantik. Namun ia adalah gadis yang penuh rasa sakit karena persahabatan dan percintaannya dimasa SMA yang dramatis sehingga ia mulai kebal dengan segala macam penghianatan dari pacar dan sahabatnya.
Namun dalam perjalanannya mencari kasih sayang seorang kakak pun selalu gagal sampai sudah memasuki semester 2 ia belum bisa memastikan apakah kali ini ia menemukannya atau tidak. Kegagalannya mencari sosok seorang kakak bukan karena penghianatan melainkan sosok yang ia temui selalu saja berakhir jatuh cinta pada Kiara.
Akankah Kiara dapat menemukan sosok seorang kakak sebagai pengganti kakaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denatalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cowok Posessive
Ujian Tengah Semester hari ini telah rampung. Hanya menyisakan 5 mata kuliah yang harus digeluti anak FKIP Bahasa Indonesia dihari berikutnya. Wajah lelah anak kelas B keluar satu persatu dari dalam kelas. Kiara dan keempat temannya keluar hampir bersamaan. Mereka kemudian berjalan berbaris beriringan menuruni lantai 3 gedung FKIP. Waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 siang menjelang sore.
Zahida tiba-tiba membalik tubuhnya saat berjalan " Guys, aku ama Ifa mau ke masjid dulu yah. Sebentar lagi kan sholat Ashar. Sekalian mau refresh otak dulu"
Kiara mengangguk. Enni dan Aizhu pun mengatakan "Oke" bersamaan.
Kedua sahabatnya yang ini memang sering ke masjid untuk sholat berjamaah atau sekedar beristirahat. Bagi mereka, masjid adalah tempat yang bisa menyejukkan hati dan pikiran mereka. Yah, mereka ber lima memang orang dengan karakter yang sangat jauh berbeda. Ifa dan Zahida adalah gadis yang kalem dan lebih dewasa dari ketiga temannya , mereka juga gemar belajar, ibadah dan tidak suka membuang waktu dan uang mereka. Sedangkan Enni anak gadis yang imut, lucu, ceria dan sedikit kekanakan lebih suka shopping untuk menghilangkan stress, dia juga anak yang feminim. Aizhu dan Kiara terlihat satu karakter. Sama-sama tidak bisa berbasa-basi, pribadi yang cuek dan tidak feminim namun juga tidak tomboy. Mereka berdua lebih suka me-refresh otak mereka dengan menonton film, ke tempat dengan pemandangan indah dan mendengarkan musik favorit mereka. Berbeda bukan?
Persahabatan mereka banyak disukai oleh teman-teman sekelasnya, begitu juga dengan kelas lain yang mengenal salah satu dari mereka. Beberapa mengagumi sosok Aizhu yang cuek, namun sekalinya mengeluarkan kata-kata selalu kejam atau membuat teman-temannya tergelak dan terbahak. Ada pun yang mengagumi sosok Ifa dan Zahida, gadis pandai dalam semua mata kuliah dan mau berteman dengan siapa saja. Enni gadis yang pandai memuji orang lain dengan perkataan dan senyum tukusnya. Kiara tak kalah mengagumkan beberapa teman laki-lakinya. Dia gadis yang cuek, jutek dan kadang sadis namun sekaligus cantik secara bersamaan. Seperti bunga mawar merah, yang indah namun menyakitkan jika disentuh, begitulah julukannya.
Zahida dan Ifa berjalan lebih cepat dan sedikit berlari "Nggak usah lari-lari. Masjidnya nggak pindah nggak!!" Tegur Aizhu, saat mereka melewatinya.
"Gue capek. Mau langsung balik ke kosan ya guys" Sergah Enni begitu sampai di lantai dasar, berjalan menuju parkiran sepeda motor.
Aizhu dan Kiara masih berjalan beriringan, tanpa kata. Hanya diam namun berjalan berdekatan, sampai mereka melewati area Wall Climbing dan yiba-tiba ada yang menghampiri mereka.
Seoanh cowok datang dan sedikit berlari dari arah samping mereka. Cowok itu sepertinya baru saja keluar dari laboratorium bahasa karena ia keluar dari gedung itu.
"Kia…!!" Teriaknya, membuatnAizhu dan Kiara berhenti mematung
"Bang Tuor" Kiara mengernyit
"Lo mau pulang kan?"
"Iya"
"Gua anterin yah"
Aizhu yang ada disamping mereka sontak melotot “Ekheemmmm!!!!!”
“Mau kan, Kia?” Thariq kembali bertanya tanpa memedulikan Aizhu yang ada di sampingnya.
Kiara masih belum menjawab. Dia sedikit heran karena sikap Thariq hari ini yang terlihat santai dan tidak dibuntuti Niki. Selama beberapa minggu ini Thariq selalu terlihat pendiam dan hany menyapa seperlunya pada Kiara. Bahkan Niki selalu menempel padanya kemanapun, seolah ingin memberitahu seisi kampus bahwa mereka memiliki hubungan spesial.
"Ekhm…Ekheeeemmmm!!" Aizhu meninggikan suara batuk yang ia buat-buat itu untuk mencari perhatian kedua manusia yang ada di depannya ini.
"Tumben bang. Niki emang kemana?" Kiara celingukan.
"Nangi gua ceritain dikostan. Sekarang yang penting kita pulang bareng yah" Bujuknya lagi.
Tin..!!
Tin..!!
Klakson sepeda motor jantan terdengar dari kejauhan. Terlihat wajah Renno yang tersenyum manis diatas motor yang masih melaju pelan itu. Ia tidak memakai helmnya karena masih di area kampus. Sepeda motor itu berhenti tepat di depan tiga orang yang mematung di depan laboratorium bahasa.
"Ayo, sayang. Aku anterin pulang" Senyumnya mengembang memperlihatkan sebelah lesung pipitnya.
Kiara tersenyum teduh "Kok tau aku udah keluar dari kelas?"
Thariq dan Aizhu saling menatap "Aku??" Ucap Aizhu
"Kamu??" Thariq menimpali dan kembali menatap Kiara dan Renno bergantian.
Aizhu nampak menahan tawa dengan menutup mulutnya "Duh, mendadak mules perut gue denger obrolan mereka"
Renno mematikan mesin sepeda motornya "Tau lah. Aku nungguin kamu dari tadi di bawah wall climbing" ia melihat jam tangannya "Masin jam 03.10 kita pulanng dulu, trus ganti baju lanjut latihan fisik yah" timpal Renno.
Thariq kemudian menarik Kiara mendekat padanya "Kia mau pulang sama gua"
Seketika Renno mendelik tajam "Heh!!! Jangan pegang-pegang pacar gua!!" Melihat lengan Kiara dipegang oleh Thariq.
Aizhu hanya menepuk dahinya kasar "Drama macam apa ini, Tuhaaaannn. Kenapa harus di depan gue sih"
"Pacar?" Thariq melepas pegangan tngannya dan melirik Kiara.
"Eh, iya bang. Kenalin, pacar gue. Bang Renno. Anak Teknik Mesin" Kiara menegrluarkan senyum canggungnya.
"Salam kenal!!! Awas lo kalo megang-megang cewek gua lagi. Gua hajar lo. Ayo naik, sayang"
Kiara melangkah mendekati sepeda motor Renno "Bang Thor, gue nitip Aizhu yah. Tolong anterin dia ke kostan"
"Emang gue barang? Di titip-titip!" Aizhu melengos berjalan melewati mereka bertiga.
Kiara hanya geleng-geleng kepala. Aizhu memang seperti Anti Cowok kampus. Dia tidak pernah mau berurusan dengan satu cocok pun di kampus. Sekedar memboncengnya dengan sepeda motor atau mengobrol lama dengannya, itu sebuah kemustahilan. Jadi, Kiara tau kalau Aizhu pasti akan menolak itu. Aizhu sengaja berjalan masuk ke gang-gang kecil khusus pejalan kaki. Takut kalau-kalau Kiara tetap memaksanya untuk naik motornya Thariq.
"Hati?hati, Su!!" Teriak Kiara saat Aizhu masuk ke gang sempit antara lab kimia dan biologi.
Kiara pun naik keatas boncengan sepeda motor milik Renno "Gue duluan ya bang. Kita lanjut ngobrolnya di telepon aja"
Renno membalik sedikit tubunhnya ke arah Kiara "Nggak boleh!!" Lirikannya nampaksetajam silet.
"Posessive amat jadi cowok. Baru pacaran, belom tunangan kan? Nggak usah se-posessive iitu lah" sindir Thariq.
"Nggak usah ngajak berantem lo!!" Renno kian tersulut.
Kiara kemudian memegang bahu Renno "Udah bang. Nanti aku kesorean latihannya"
Renno langsung menancapkan gas. Cepat berlalu dari hadapan cowok yang menurut Renno, mengganggu pacarnya ini. Renno melaju dengan pelan, agar mereka masih bisa saling mengobrol sampai rumah kost Kiara.
"Itu cowok yang waktu itu ketemu di kini market depan kampus kan?" Tanya Renno, sembari melajukan sepeda motornya.
"Iya"
"Bukannya dia punya pacar? Ngapain dia mau pulang bareng kamu? Apa dia sekarang suka sama kamu? Hem?!"
"Nggak tau bang. Mungkin lagi pengen curhat sama aku" Kiara mendadak malas membahasnya
"Kalian emang sering curhat begitu?"
"Iya"
Renno nampak menundukkan kepalannya "Mulai sekarang nggak boleh deket sama cowok lain selaingua ya, Kia. Selain urusan tugas kampus, nggak usah ketemu atau pergi bareng cowok. Rumah kost kamu juga cuman boleh bukain pintu buat gua aja. Cowok lain nggak boleh"
Kiara sontak terdiam. Pasalnya cowok yang sering ia trmui dan pergi dengannya bukan hanya Thariq, ada Faiz dsn juga senior-seniornya di sekretariat Mapala.
"Mana bisa bang. Gue calon anggota Mapala. Nantinya banyak senior cowok yang bakal gue temuin dan nongkrong bareng kan" Kiara ingin tau apa jawabannya kali ini.
"Selain mereka, jangan ada lagi. Okey?"