"Boleh saya bicara?" tanya Monika sambil mengangkat tangannya. Kedua laki-laki itu menoleh.
"Apa?" tanya dua pria beda warna mata itu.
Monika nyengir sebelum bicara."Apa tidak ada yang bertanya pendapat saya gitu, yang mau nikah kontrak itu saya lho. Bisa bicara lho, masih idup seger buger di sini."
"Yang bilang kamu mayat hidup siapa?" tanya Yoonji balik.
"Kamu tidak ada hak bicara, mau atau tidak kamu akan menerima pernikahan kontrak ini selama satu tahun, gaji kamu tiap bulan 10 juta dengan kompensasi 1 milyar jika kontrak berakhir, paham!"
Monika tak dapat lagi berkata-kata, angka-angka itu berlari dengan riang mengelilingi kepala. Yoonji tersenyum miring, melihat ekspresi gadis itu yang terkejut sekaligus bahagia. "Semua wanita sama saja, kalau dengar uang langsung ijo."
Melamar sebagai OB malah jadi sekertaris, di paksa nikah pula sama yang punya perusahaan.Begitulah mujur Monika Anggraeni, mujur apa buntung kita simak. kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yura
Yura akhirnya bisa tenang setelah disuntik obat penenang, gadis itu mengalami gangguan pengendalian emosi. Yura selalu mengkonsumsi obat untuk mengontrol emosi, tapi sepertinya hari ini dia lupa.
Akhir - akhir ini Yura semakin tidak bisa mengontrol emosi, semenjak Yoonji menikah tingkah Yura semakin menjadi. Tadi siang dia mengamuk, menarik rambut Stefanie dan mencaci maki wanita itu dengan kasar. Sebagai pelampiasan kekecewaannya pada Stefanie karena membiarkan pria pujaan hati Yura menikah.
Stefanie hanya bisa pasrah, meski dia sangat ingin melawan. Jika saja Stefanie mau melawan tentu dia bisa membalas Yura dengan mudah, tapi dia tidak bisa. Bahkan Joohyuk pun tak luput dari amarah Yura, gadis itu menyuruh pengawal ayahnya untuk menghajar mertua yang tidak jadi itu.
Untung saja Huang cepat datang dan menenangkan Yura agar melepaskan dua kawan lamanya itu.
"Bereskan semuanya!"
"Baik Tuan," Sahut beberapa pelayan yang sudah berada di kamar Yura.
Sementara sang putri tidur terlelap, para pelayan membereskan kamar Yura yang penuh dengan barang pecah. Gadis itu menghancurkan semua, para pelayan di sana sudah biasa dengan hal seperti ini. Dari kecil Yura memang seperti ini jika tidak mendapat apa yang ia inginkan, hanya dewasa ini saja dia baru mengkonsumsi obat karena semakin tidak terkendali.
Huang menatap wajah Yura sejenak sebelum melangkah keluar dari kamar sang putri. Wajah Huang merah padam, dia tidak terima putri semata wayangnya patah hati.
"Apa mau sekarang Joohyuk? Kau mau aku melemparkan mu ke penjara!" Teriak Huang pada benda pipih yang baru saja tersambung dengan orang yang masih merasakan remuk redam di tubuhnya.
"Sabar Ji Shun, kita bisa bicara baik-baik. Kau tahu anak sialan itu susah sekali diatur, aku sudah mencoba untuk menghalangi pernikahan mereka. Tapi tetap saja wanita itu bisa lolos, " Joohyuk mendesak nafasnya kasar, mengusap ujung bibir yang masih nyeri.
Pikirannya melayang jauh dimana ia merencanakan sesuatu untuk Monika, dia bahkan sempat akan mencelakai Monika dengan menyuruh beberapa orang sengaja melukai wanita itu. Tapi tetap saja dia bisa lolos, ada saja orang yang memergoki orang suruhan Joohyuk.
"Jangan banyak alasan Hyuk, aku bisa membuat mu lebih dari hari ini. Ingat itu, bereskan wanita yang menghalangi keinginan Yura, atau kau tahu akibatnya!" Huang Ji Shun memutuskan sambung secara sepihak.
"Agh... !"
Joohyuk mengusap wajahnya kasar, hampir saja ia membanting ponsel andai tidak ingat dengan harganya yang lumayan mahal.
"Lihat saja, aku akan membuat mereka menyesal! Agh....!"
"Kenapa kau berteriak seperti itu? Kau membuat telingaku sakit!" Pekik Stefanie yang baru keluar dari kamar mandi.
Joohyuk menoleh sekilas pada wanita yang hanya menutup tubuh dengan handuk.
"Kau benar, kita tidak seharusnya di tindas seperti ini. Aku sudah bosan mendengar an**g tua itu mengongong," Ketus Joohyuk dengan wajah lelah dan marah yang bercampur menjadi satu.
Selama ini Huang Ji Shun memang selalu semena-mena pada dia dan Stefanie, kini tidak lagi, tidak akan. Stefanie tersenyum mendengar apa yang Joohyuk ucapkan.
"Ini baru laki-laki ku, kau sudah terlalu lama diam, Sayang." Stefanie duduk di samping sang suami, raut wajah Joohyuk berubah dingin lebih dingin dari biasanya.
Pria yang masih terluka itu menarik tubuh Stefanie dengan kasar, membuat wanita itu memekik girang. Dia sangat suka Joohyuk yang seperti ini.
perjanjian kalian harus dibatalkan