Menyerahkan barang berharga kepada pasangan yang halal, mungkin terdengar norma-normal saja. namun apa jadinya jika barang berharga itu, jatuh kepada laki-laki yang sudah dibuang jauh-jauh dari kehidupannya?
Itulah yang dialami oleh seorang gadis cantik bernama Elizabeth Stephanie Putri. entah bagaimana ceritanya, wanita itu bisa masuk ke dalam kamar hotel dan melakukan hal itu. Dan lebih mengejutkan adalah, laki-laki yang ada di sebelahnya, adalah mantan kekasihnya sewaktu SMA dulu.
Apa yang akan dilakukan oleh Elizabeth, saat kenyataan pahit itu, menghantam dan meluluhlantakkan hidup dan hatinya? mampukah dia bertahan dengan laki-laki yang sangat ia benci?
yuk Simak,...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhevy Yuliana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berusaha keras
Pagi harinya,...
Kondisi dari Elizabeth sudah semakin membaik. membuat wanita itu, semakin bebas untuk melakukan aktivitas yang ia mau. tentu saja, hal itu membuat Elizabeth merasa sangat bahagia. karena pada akhirnya dirinya bisa kembali untuk melakukan aktivitasnya tanpa hambatan apapun.
"bagaimana keadaanmu sayang?"tanya seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar pribadinya.
Membuat Elizabeth yang mendengar itu, seketika menoleh ke arah sumber suara. mendapati seorang laki-laki yang sangat ia benci saat ini.
Tanpa mengindahkan pertanyaan dari laki-laki itu, Elizabeth segera beranjak dari tempat duduknya untuk keluar dari dalam kamar. setelah kejadian itu, Elizabeth memutuskan untuk tinggal di kamar terpisah dengan Andra. Karena Wanita itu, masih merasa trauma masih membenci laki-laki yang tengah memukulnya itu.
Walaupun itu dilakukan secara tidak sengaja, namun tetap saja Elizabeth merasakan sakit yang luar biasa. karena sifat dari Andra tidak pernah berubah sejak dulu. selalu saja tempramental dan tidak ingin mendengarkan penjelasan terlebih dahulu.
"sayang kamu mau ke mana?"tanya Andra Seraya menarik tangan Elizabeth. saat wanita itu, berjalan melewatinya.
"lepaskan aku!"ucapnya pelan namun penuh dengan penekanan dan juga tatapan yang membunuh.
Tentu saja hal itu membuat Andra yang melihatnya, merasa sedikit tertegun dengan sikap wanita yang telah menjadi separuh nafasnya itu. karena selama mereka menjalin hubungan, Elizabeth tidak pernah melakukan hal itu.
"maaf."lirik Andra Seraya mencoba melepaskan genggaman tangannya pada tangan Elizabeth.
Tanpa membalas ucapan dari laki-laki yang bergelar sebagai suaminya itu, Elizabeth segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar.
"hari ini masak apa?"tanya Elizabeth saat wanita itu telah berada di dapur.
"eh Nyonya, Anda mau ngapain Di sini?"tanya salah seorang asisten rumah tangga yang kebetulan melihat kehadiran majikannya ada di sebelah mereka.
"aku ingin membuat sandwich."ucap Elizabeth Soraya tersenyum simpul.
"kalau begitu, biar kami yang membuatnya. anda bisa kembali kemeja makan sekarang."ucap salah seorang dari mereka mencoba untuk menawarkan diri.
Namun, hal itu segera dibalas gelengan kepala oleh Elizabeth."tidak usah saya ingin membuatnya sendiri. lebih baik, kalian segera kembali ke pekerjaan masing-masing."ucap Elizabeth Seraya menyembunyikan senyuman tipis namun dengan nada suara yang sangat tegas.
Tentu saja hal itu membuat semua orang yang ada di sana, merasa tak berkutik. mereka segera mengikuti perintah dari wanita cantik itu.
Sementara Elizabeth, wanita cantik itu mulai meracik makanan-makanan yang ia inginkan. karena selain ingin membuat sandwich, wanita cantik itu juga ingin sekali membuat sosis bakar dan juga telur mata sapi. karena di saat masalah menghampiri dirinya seperti ini, Elizabeth sangat ingin menikmati makanan-makanan untuk membuat tenaganya pulih kembali.
Setelah berkutat hampir 15 menit untuk membuat semua makanan itu, akhirnya Elizabeth telah menyelesaikan semuanya. dengan segera, wanita itu menata semua makanan di tempatnya.
"nah akhirnya sudah beres semua kan. sekarang aku tinggal membuat nasi gorengnya saja."ucap wanita itu Seraya tersenyum simpul.
di saat wanita itu tengah sibuk untuk memasukkan bahan-bahan membuat nasi goreng, tiba-tiba saja seseorang datang menghampirinya.
"kamu sedang apa sayang?"tanya Andra Seraya melingkarkan tangan kekarnya itu di perut ramping milik Elizabeth.
Tentu saja hal itu membuat Elizabeth sendiri, sedikit merasa tersentak kaget. Namun demikian, wanita itu segera menepis tangan laki-laki yang bergelar sebagai suaminya itu agar menjauh dari tubuhnya.
"jangan pernah sentuh aku."ucap Elizabeth pelan namun penuh dengan penekanan. dan dengan segera, wanita itu kembali melakukan aktivitasnya.
Sementara Andra yang melihat itu, coba untuk mengalah. karena memang semua ini juga atas kesalahannya. dirinya tidak ingin kembali memperkeruh keadaan dengan melakukan sedikit kesalahan saja.
"Ya sudah kalau begitu, aku tunggu di meja makan." ucap laki-laki itu Seraya mengusap kepala Elizabeth dengan lembut. sementara wanita itu sendiri, sama sekali tidak menggubris atau menghidupkan ucapan ataupun perlakuan manis dari laki-laki itu.
"lebih baik aku sarapan di sini saja."ucap wanita cantik itu Seraya menuangkan beberapa makanan di piring yang masih kosong itu.
"emmm. ini enak sekali."ucap wanita cantik itu Seraya mulai menyantap makanan yang ada di piringnya dengan sangat antusias.
Tak berselang lama, wanita cantik itu telah memasukkan beberapa makanan ke dalam bekal yang sengaja ia siapkan sejak pagi.
"kalau seperti ini, jadi ingat waktu masih sekolah dulu. walaupun sekarang, konsepnya juga masih sekolah. tapi sudah sedikit bebas."ucap wanita itu Seraya terkekeh pelan.
Tanpa disadari oleh Elizabeth, ada seseorang yang mengawasinya dari jauh. siapa lagi jika bukan Andra. laki-laki itu, masih berusaha keras untuk mendapatkan maaf dan juga hati wanitanya kembali.
"bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan maaf dan juga hatimu kembali. karena kamu, sudah menjadi milikku. dan pantang bagiku, Jika sesuatu yang telah menjadi milikku aku biarkan terlepas. itu tidak akan pernah terjadi."gumam laki-laki itu menatap lekat ke arah wanita yang sangat ia cintai itu.
****
"apakah mau aku antar?"tanya Andra masih berusaha untuk meluluhkan dan memperbaiki semuanya.
"tidak usah!"jawab Elizabeth dengan ketus dan juga nada suara yang sangat dingin.
Tentu saja hal itu membuat Andra yang mendengarnya, mencoba untuk bersabar. karena sebenarnya, laki-laki itu bukan laki-laki penyabar. namun untuk menebus semuanya, Andra akan mencoba untuk meredam emosinya. dirinya harus mencoba untuk menjadi laki-laki yang penyebar. karena tidak ingin, Elizabeth semakin membencinya dan menjauh darinya.
****
Sementara itu di tempat lain, terlihat seorang laki-laki yang tengah dikerubungi dengan tiga orang wanita cantik. siapa lagi jika bukan Ganesha beserta Viona dan yang lain. sepertinya wanita itu masih berusaha untuk mendapatkan hati dan juga perhatian dari Ganesha.
"Ganesha tunggu!"teriak Viona. hingga membuat laki-laki itu, seketika menoleh ke arah sumber suara.
"kenapa?"tanya Ganesha tanpa basa-basi dan juga dengan raut wajah yang sangat datar dan tak bersahabat.
"ini buat kakak."ucap Viona Seraya menyerahkan sebuah kotak makanan kepada laki-laki itu.
"sorry aku sudah makan."setelah mengatakan hal itu, Ganesha kembali melanjutkan perjalanannya. meninggalkan Viona dan juga yang lain yang masih mematung di tempatnya.
"aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan apa yang aku incar. karena apa yang sudah aku inginkan harus kudapatkan apapun rintangannya."ucapnya penuh dengan tekad.
Sampai kapanpun, Viona akan berusaha untuk mendapatkan perhatian dan juga cinta laki-laki itu. walaupun harus menggunakan perjuangan yang penuh dengan kendala.
"kita kembali sekarang."titah Viona pada yang lain.
thor aku tanya pada jika kau melihat suamimu berpegangan tangan dengan wanita lain (walaupun salah paham), dan kau marah pada wanita itu tapi suami malah membela wanita itu dan malah memarahimu
apakah kau Terima diperlakukan kayak gitu?
renungkan lah thor pakai logika lah thor lihat juga dari posisi sang suami, jangan hanya melihat dari sudut padang wanita saja, karena itu kan membuat kalian berpikir sangat2 egois, alias kalian merasa benar terus, tidak pernah merasa salah
sampai disini pahamkan
terlalu lambat pemikiran suaminy