Andi dan Intan adalah dua kakak beradik yang terlahir dari keluarga sederhana. Andi umur 5 tahun dan Intan adiknya umur 3 tahun. Bapaknya meninggal karena serangan jantung, sedangkan mamaknya menikah lagi dengan seorang pria duda.
Mereka (Andi dan Intan) harus berjuang sendiri tanpa kedua orang tua, hingga menjadi pengemis dan pengamen untuk bertahan hidup. Akan tetapi, Andi dan Intan berpisah karena suatu kecelakaan di sebuah lampu merah.
Bagaimana kisah selanjutnya tentang kedua kakak beradik ini? Ikuti kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tampan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30: Ujian Akhir-2
Selanjutnya..
**
Sebelumnya..
"Gitu dong, itu baru namanya sahabat setia dan sekawan," kata Rendy sambil tersenyum.
**
Rendy kemudian berlari mengejar Andi.
"Andi, tunggu!" panggil Rendy.
Andi pun berhenti, lalu berbalik badan.
"Ada apalagi sih, Ren?" tanya Andi setelah Rendy bersamanya.
"Kita kan tidak 1-2 tahun lagi berteman, jadi aku tahu bagaimana perasaan kamu. Ikutlah bersama kita, Di. Masalah uang saku, makan, dan biaya bus, jangan kamu pikirkan," kata Rendy dengan wajah memelas.
"Hmmm.., karena kalian yang minta, aku ikut!" kata Andi.
"Yesss.., gitu dong!" kata Rendy dengan senang.
"Kayak anak kecil, tahu!" ucap Andi sambil tersenyum melihat tingkah Rendy.
"Ya sudah, kami berangkat konvoi dan coret-coret dulu ya, Di," kata Rendy dan langsung meninggalkan Andi.
"Ren! Jangan lupa tulis namaku di baju kalian, ya!" pekik Andi.
"Beres bosss...," sahut Rendy sambil mengacungkan jari jempolnya. Andi pun melanjutkan langkahnya menuju gerbang.
Sesampainya di luar gerbang, Andi langsung naik ANGKOT (Angkutan Kota) yang sudah menunggu khusus anak sekolah. Setelah sewa sudah banyak, Angkot pun berangkat.
Tetapi, Andi tidak langsung pulang ke panti asuhan. Dia lebih dulu mampir ke tempat ibadah di mana dulu dia pernah beribadah pertama kali diantar oleh bundanya (Bunda Risma).
"Minggir, Pir!" seru Andi kepada supir Angkot.
Angkot pun berhenti. Andi turun dan membayar ongkos. Setelah itu, dia melangkah menuju tempat ibadah.
Sesampainya di halaman tempat ibadah, dia langsung menuju rumah tempat menyimpanan kunci yang berada di samping tempat ibadah.
"Bapa, boleh aku meminta kunci tempat ibadah?" tanya Andi setelah tiba.
"Eh, Andi! Kamu mau berdoa?" tanya bapa itu yang sudah mengenal Andi. Karena Andi selalu rajin mengunjungi tempat ibadah itu di hari biasa.
"Iya, Bapa," jawab Andi.
Bapa itu kemudian mengambil kunci dan memberikannya kepada Andi, "Ini, Nak."
Andi membuka pintu tempat ibadah dan melangkah menuju altar yang disampingnya terdapat sebuah kotak khusus tempat persembahan. Dia memasukkan sesuatu (mungkin uang) ke dalam kotak tersebut.
Setelah itu, Andi melangkah lagi menuju tempat khusus berdoa. Dia berlutut, lalu melipat tangan dan menengadah (menghadapkan wajah setengah atas).
"Tuhan, aku tahu, aku adalah orang hina dan pemberianku adalah pemberian orang hina. Tetapi, aku juga tahu bahwa Engkau tidak membeda-bedakan manusia. Tuhan, terima kasih atas penyertaanMu, hari ini aku telah selesai ujian. Amin," doa Andi.
Selesai berdoa, Andi berdiri dan melangkah menuju pintu keluar. Dia kembali menutup dan mengunci pintu tempat ibadah, lalu mengembalikan kunci ke rumah bapa itu.
"Ini kuncinya, Bapa," kata Andi.
"Oh, iya, Nak," sahut bapa itu.
"Terima kasih, Bapa, aku pamit dulu," kata Andi. Andi meninggalkan tempat ibadah dan berjalan menuju jalan umum. Tanpa menunggu lama, dia pun naik Angkot pulang ke panti asuhan.
Tidak berapa lama dan hanya beberapa menit dalam perjalanan, Andi pun sampai di panti asuhan. Dia membayar ongkos dan melangkah menuju pintu masuk.
Di dalam ruangan, dia melihat Bunda Risma duduk di ruang tamu sambil nonton TV. Dia menghampiri, lalu duduk di samping Bunda Risma dan memeluknya.
"Sudah makan, Bunda?" tanya Andi.
"Eh, sudah pulang, Nak? Bagaimana dengan ujiannya?" Bunda Risma balik bertanya.
"Sudah selesai Bun, tinggal menunggu pengumuman," jawab Andi lalu melepaskan pelukannya.
"Ganti baju dan makan dulu, Nak," kata Bunda Risma.
"Sebentar lagilah, Bun," jawab Andi.
"Bun," panggil Andi.
"Iya, ada apa, Nak?" sahut Bunda Risma.
"Duhhh... apa harus kutanyakan, ya?" batin Andi.
"Ada apa?" tanya Bunda Risma mengulangi.
Andi menoleh kiri, kanan, dan belakang. Dia seperti melihat adik-adiknya.
"Hmmm.., Bun, bagaimana latar belakang abang dan kakakku yang sudah tamat, juga adikku Indah? Ada enggak mereka sepahit dan sesedih yang kualami? Aku penasaran, Bun," jawab Andi sambil memegang kedua telapak tangan Bunda Risma. Memang, Andi sudah lama ingin menanyakan soal itu.
**
Indah yang sudah duduk di bangku kelas satu (setingkat) SMA dan masih libur karena kelas tiga mereka ujian, begitu mengetahui Andi sudah pulang, dia keluar dari kamarnya.
Akan tetapi, dia tiba-tiba menghentikan langkahnya karena mendengar Andi yang duduk bersama Bunda Risma di ruang tamu menyebut namanya seperti membahas sesuatu. Dia kembali lagi dan mengumpat di balik dinding kamarnya untuk mendengar pembicaraan Andi dan Bunda Risma.
**
"Oh, itu! Kalau kakakmu si Pina, dia mungkin anak yang tidak diinginkan atau hasil dari hubungan gelap. Dia ditemukan oleh warga di t*ng sa**ah dalam keadaan hidup. Lalu, warga mengantarnya ke klinik untuk diperiksa. Kemudian, pihak klinik dan atas persetujuan (setingkat) kepling menyerahkannya ke panti asuhan ini...(sudah menceritakan beberapa orang abang dan kakak Andi). Kalau adikmu si Indah, dia diantar ibunya ke panti asuhan ini pada malam hari. Saat itu, setelah Indah Bunda gendong, ibunya berkata akan pergi, tetapi Bunda tidak sempat bertanya pergi kemana karena ibunya langsung meninggalkan Bunda begitu saja di teras," Bunda Risma mengisahkan. Andi pun meneteskan air mata mendengar latar belakang abang, kakak, dan Indah adiknya.
Indah yang mengumpat di balik dinding kamarnya dan setelah mendengar kisahnya, dia langsung menghampiri Andi dan Bunda Risma ke ruang tamu.
Andi dan Bunda Risma serentak menoleh kepada Indah yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka.
"Jadi, ibuku masih hidup ya, Bun? Kenapa Bunda selama ini tidak pernah cerita bahwa ibuku masih hidup! Kenapaaa...!" kata Indah dengan nada marah.
"Bu--" ucapan Bunda Risma tiba-tiba terpotong.
"Sudah! Aku tidak mau lagi mendengar penjelasan Bunda, Bunda jahattt...!" kata Indah dengan nada marah juga. Lalu, dia melangkah cepat menuju kamarnya meninggalkan Andi dan Bunda Risma.
BERSAMBUNG..
**Mohon didukung dengan cara: Vote, Like, Rate+5, dan Komen, ya READERS yang ganteng/cantik dan baik hati..**🙏❤️🌹