NovelToon NovelToon
Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Romansa Fantasi / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat

Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.

Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.

Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.

Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28. mencari bukti

Sejak pertemuan dengan Hartono, Leon dan kawan-kawannya bergerak lebih hati-hati tapi juga lebih giat. Mereka pikir, selama ada keinginan untuk mencari, pasti akan ditemukan sesuatu. Namun kenyataan berbicara lain, setiap jalan yang mereka coba selalu berujung pada titik kosong.

Pertama, Dimas yang punya kenalan di kepolisian berusaha meminta salinan berkas kasus lama. Jawabannya singkat, “Berkas sudah dinyatakan selesai dan ditutup. Tidak ada alasan untuk membukanya kembali.” Bahkan saat mencoba bertanya ke petugas yang dulu menangani, orang itu hanya menggeleng sambil berkata, “Sudah lupa, itu sudah lama sekali.” Padahal jelas-jelas nada bicaranya tertekan, seolah takut berbicara lebih banyak.

Raka dan Bimo mencoba melacak saksi mata yang disebut-sebut ada di lokasi kejadian. Setelah berhari-hari bertanya ke warga sekitar, akhirnya mereka menemukan satu orang yang melihat peristiwa itu. Namun begitu mendengar nama Hartono disebut, orang itu langsung pucat pasi, lalu menolak berbicara dengan alasan “tidak melihat apa-apa” dan segera masuk ke rumah sambil mengunci pintu rapat-rapat.

“Dia sampai gemetar ketakutan,” kata Raka dengan wajah kecewa. “Jelas-jelas dia tahu sesuatu, tapi tidak berani bicara.”

Mereka juga mencoba mencari rekaman CCTV jalanan di sekitar lokasi kecelakaan. Namun jawaban dari pengelola jalanan sama saja, “Rekaman dari waktu itu sudah terhapus otomatis karena batas penyimpanan, atau rusak karena gangguan listrik.” Padahal Leon tahu, di daerah itu sistem penyimpanannya cukup handal.

Setiap malam, mereka berkumpul dan saling bertukar kabar, tapi isinya selalu sama, tidak ada apa-apa. Bukti seolah menghilang ditelan bumi, saksi mata menutup mulut rapat-rapat, dan jalur hukum terasa tertutup rapat seolah tidak ada celah sedikit pun. Bahkan informasi yang mereka dapatkan lewat cara tidak resmi pun selalu berhenti di tengah jalan.

“Seolah-olah semua jejak itu sengaja dihapus bersih-bersih sampai tidak tersisa satu pun,” gumam Bimo dengan nada putus asa. “Mereka sudah mempersiapkan ini jauh-jauh hari, Leon. Tidak ada yang terlewatkan.”

Leon hanya diam sambil memegang buku catatannya. Ia merasakan frustrasi yang makin membebani. Di dunia cerita yang ia ciptakan, kebenaran selalu bisa ditemukan selama ada keinginan untuk mencarinya. Tapi di dunia nyata ini, kekuasaan dan uang bisa menutupi segalanya dengan begitu rapi. Rasanya seperti berjalan di dalam ruangan gelap tanpa cahaya, tidak tahu harus melangkah ke mana lagi.

“Kita sudah mencoba segala cara yang kita tahu, tapi hasilnya tetap zonk,” kata Dimas dengan napas berat. “Mereka terlalu kuat, Leon. Kalau kita terus memaksakan diri, yang ada malah membahayakan lo dan keluarga lo sendiri.”

Mendengar itu, hati Leon terasa hancur. Bukan karena takut, tapi karena merasa tidak berdaya. Lima tahun hidupnya terbuang, orang tuanya menderita, dan pelakunya masih bebas berjalan dengan tenang, seolah tidak ada yang bisa menyentuhnya. Semua usaha, semangat, dan harapan yang ia bangun perlahan terasa menyusut, digantikan oleh rasa lelah dan kenyataan pahit yang tak bisa dibantah.

Malam itu, Leon duduk sendirian di teras. Ia membuka buku catatannya, tapi tidak menulis apa pun. Halaman-halamannya tetap kosong, sama seperti hasil pencariannya selama ini. Untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya-tanya...apakah keadilan di dunia ini benar-benar ada, atau hanya sekadar cerita yang indah untuk dibaca saja?

1
Sarah
Ini karya yang bagus sih, Kak Anggita. Aku suka sama pesan tentang menerima takdir dan Leon yang akhirnya sadar tempatnya itu di dunia nyata. Aku juga suka sama endingnya yang kerasa adem banget terus penuh dengan pesan saling memaafkan juga. Aku juga suka sama proses tentang sihir Reza itu yang akhirnya beneran ditunjukkan awal mulanya. Saran aku sebagai pembaca bener-bener ditampung dan dipertimbangkan. Ceritanya santai dan ringan banget. Aku pasti bakal rate sih, Kak. Meski bukan sekarang. 👍
Sarah
Nah ’kan~
Aku sudah mencium baunya. /Doge/
Sarah
Laki-laki juga boleh nangis, kok. Kalian kan juga manusia. Cuma turun-turunin ego aja~
(Dan jangan di tempat umum juga sih~) 😌
Sarah
Ia, tempatmu di sini, Leon. Kecuali kalau kamu bener-bener mati di dunia nyata terus isekai. Jodohmu cari yang satu dimensi aja. 😂
Sarah
Sejak awal juga sebenarnya aku bingung...
Nanti kalau Leon jadi sama Liora... gimana??
Tinggalnya dimana?
Terus kalaupun ada jembatan antara dua dunia... bingung juga sih...
maksudku...
Di dunia cerita dia beristri, putri dari kerajaan cahaya pula.
Sementara di dunia nyata ibu-ibu masih suka nanya, “Leon kapan nikah?” 😭
Sarah
Baru tau kekuatan dukun bisa untuk isekai... mau juga dong... 😭
Sarah
Meskipun aku kritik bukan berarti aku benci yah.
Semangat yah, aku kasih 2 bunga deh./Rose/👍
Sarah
Sayangnya kematian Liora masih terasa kurang emosional. Kurang pendalaman emosi sama reaksi karakter lain (selain Leon. Zarek, Valgus, Raja, semuanya juga orang terdekat Liora. Padahal mereka orang yang bahkan lebih lama bersama Liora, Tapi yang di highlight paling terpukul... Leon doang. Zarek reka Liora sejak lama, Valgus... dulunya musuh tapi sekarang temannya juga, Raja... ya... bayangin aja, putri kesayangan lu satu-satunya mati di hadapan lu. Harusnya yang paling terpukul gak cuma Leon doang. Reaksi karakter lain gak langsung tegar dan suruh Leon balik. Masih ada tahap renungan dulu pasca tubuh Liora memudar.)
Mana scene pas matinya itu kayak masih berada cepet banget.
Paling kekurangan besar cerita ini... dramanya sih.
(Ya... lain kali aja aku jabarkan lebih jelas soal ini.)
Sarah
Aku jadi bertanya-tanya lagi, Leon ini sebenarnya penulis hebat atau amatir sih? Kalau di bilang yang udah jago rasanya gak mungkin deh. Karena ya... dunia cerita dia ajak se-gak jelas itu. Dan jujur tokoh-tokoh di dunia ceritanya Leon masih kerasa kaku kurang natural dan ada vibe klise nya juga. Tapi, dipuji guru yah?... bagus dong tulisannya.
Atau apakah gini...
Tulisan yang dimaksud kayak tulisan yang tugas-tugas gitu, tapi kalau buat nulis novel masih belum...?
Sarah
Gue pikir bakal di bogem. Untung kagak. Biasanya kan gitu di cerita-cerita film/novel. 😂
Ya... meskipun emang salah, kalau dia langsung nge-bogem juga Dimas jadi ikutan salah. Bayangin aja baru bangun, masih di RS, terus dipukul. /Facepalm/
Sarah
Kamu masih punya ortu dan temen-temenmu, Leon...
Sarah
Wait, meskipun aku gak terlalu sedih sih tapi... agak gak nyangka juga dia bakal mati sekarang. 😦😮
Sarah
Jangan lupa mie instan, Bang~ 😌
Sarah
Mon maap, Leon udah berapa hari di dunia cerita yah? Takut gak bisa balik eyy. Asaan udah lamaa. /Scowl/
Sarah
Nama, thor. Biasakan huruf awal kapital.
Sarah
Masa selamanya? Nanti layu dong. 😂
Wulandari Ayuningtyas
Semangat thor💪
Ananda Anggit: semangat💪💪
total 1 replies
Sarah
Kalau menurutku... Bimo emang gak sejahat itu sih, dia iri aja itu mah. Coba pikirin deh, 5 tahun koma... tidak sadarkan diri, titik paling tak berdaya, itu bukan waktu yang singkat lho. Dalam jangka waktu itu kalau Bimo mau, dia bisa aja bunuh Leon. Diam-diam tinggal cabut alat-alat rumah sakit yang ada badannya, atau bisa lewat cara apa aja asal diam-diam. Udah deh, bisa wassalam itu Si Leon. Tapi meski 5 tahun, tapi dia gak ada niatan bunuh Leon. Padahal itu waktu yang panjang banget untuk merencanakan sesuatu...
Sarah
Tapi, aku masih bertanya-tanya... soal Leon yang awalnya ingetnya dia anak kost dan sebelum masuk cerita dia lagi di kamar kost-an. Padahal nyatanya dia sama sekali gak pernah nge-kost?
Sarah
Nah, mulai lebih make sense nih. Good job. 👍😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!