Jatuh cinta memanglah hal yang membahagiakan. Tapi, jika jatuh cinta tanpa dicintai, apakah masih dikatakan hal yang membahagiakan?
Itulah yang dirasakan oleh seorang wanita yang bernama Mita Yuriko. Jatuh cinta kepada seorang dokter bedah nan tampan yang banyak disukai oleh wanita cantik, merupakan tantangan bagi dirinya.
Ia terus menunjukan rasa sukanya kepada pria itu, namun pria tersebut tak pernah menanggapinya. Sampai pada akhirnya sebuah insiden yang seharusnya tak terjadi kepada mereka berdua, membuat keduanya menjadi terikat. Dan membuat mereka menyandang sebagai suami istri yang dirahasiakan dari orang-orang sekitar.
Apakah Mita masih memperjuangkan rasa cintanya itu? Apakah ia memilih menyerah saat mengetahui jika pria itu masih belum menyukainya?
——————
Info dulu. Cerita ini kelanjutan dari 'Perjuangan Cinta Si Gadis Desa' jadi, jika kalian penasaran awalan cerita mereka bisa baca dulu karya Author yang itu✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wndanaomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 0030. Mual Lagi
🍄🍄🍄
-
-
-
Pagi-pagi sekali Mita sudah berada dirumah sakit. Wanita itu sedang ada jadwal operasi untuk pasiennya yang akan segera melahirkan. Jadwal operasinya dimulai setengah delapan. Kini ia sudah siap dengan pakaian khusus menjalankan operasi. Juga ia tak sendiri disana, melainkan bersama tiga orang dokter. Dua dokter pria dan satu dokter wanita, beserta dirinya. Jadi semua ada empat orang dokter.
Para suster-suster pun juga ada diruang operasi, sebab keberada suster tersebut untuk membantu para dokter ketika menjalankan operasi.
Dan Mita tak menyangka jika dokter bedah yang akan menjalankan operasi kali ini adalah Fadli. Sosok pria yang kemarin malam bertamu dirumahnya. Ia juga tak meragukan keahlian pria itu. Sebab, selain memiliki wajah yang rupawan. Pria itu juga memiliki IQ yang tinggi, juga kemampuannya dalam pengoperasian bisa disetarakan dengan dokter senior yang sudah sangat berpengalaman.
Jadi, pria itu adalah berliannya dirumah sakit besar itu, setelah Zeen Albaret sang putra dari pemilik rumah tersebut.
“Jadwal operasi akan segera dimulai, mari para dokter dan perawat disini. Bersiap-siaplah kalian.” Ucap seorang dokter paruh baya, yang memimpin operasi tersebut.
“Baik dok!” jawab semua orang disana.
Tepat setengah delapan, pasien sudah dibaringkan ditempat yang sudah disediakan. Semua orang mulai fokus pada pekerjaan mereka.
Dengan Mita yang bertugas mengeluarkan sang bayi, dibantu dengan dokter Sena yang sangat membantu Mita saat mengerjakan tugasnya.
Selang empat jam lamanya. Barulah operasi itu selesai, tepat dijam sebelas lewat. Semua akhirnya bernafas lega saat operasi itu berjalan dengan lancar. Kemudian bayi itu dibawa oleh para perawat keruangan khusus untuk bayi. Sedangkan ibunya dibawa keruang IGD untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dan pemeriksaan tersebut dilanjutkan oleh dokter Zeen dan para anggotanya.
“Kerja bagus semuanya,” ucap Anton. Dokter paruh baya itu, juga senior dirumah sakit tersebut.
“Kerja bagus juga, buat dokter Anton,” timpal Fadli.
Kini keempatnya sedang diluar ruangan, sedang mengistirahatkan diri sebelum membersihkan diri mereka.
Namun tampaknya fokus Mita terhenti saat operasi telah usai. Wanita itu tampak termenung dikursi yang ia dudukki.
'Apa aku akan melahirkan seperti itu?' batin Mita. 'Selama ini aku selalu membantu para ibu-ibu melahirkan. Dan tak pernah takut saat melihat mereka kesakitan. Tapi sekarang... beberapa bulan lagi aku akan merasakannya. Entah mengapa hati kecilku sedikit takut.'
Tiba-tiba perut Mita bergejolak, dan mampu membuat tengorokannya mengeluarkan suara khas orang mual.
“Hukb!” Mita menahannya dengan tangan kanannya.
Ketiga dokter itu langsung melihat kearah Mita.
“Ada apa dokter Mita?” tanya Fadli.
“Ah, tidak apa-apa,” ucap Mita sambil menggeleng. Namun rasa mualnya kembali datang.
“Hukk!” Mita berdiri dari duduknya. “Maaf saya ketoilet sebentar.” Tanpa menunggu jawaban, Mita langsung berlari dari sana dan menuju toilet dimana saja yang penting ia cepat sampai.
Melihat itu, entah mengapa rasa khawatir melanda diri Fadli. “Saya akan menyusul dokter Mita!” Fadli mulai melangkahkan kakinya dengan sangat tergesa.
“Ada apa dengan dokter Mita? Wajahnya terlihat pucat tadi,” ucap Anton merasa bingung.
Sedangkan Sena tersenyum tipis. Ia lah yang memeriksa dan mengetahui jika Mita tengah hamil. Jadi ia tahu betul jika ibu hamil itu sedang mual akibat bawaan bayi.
“Entahlah, saya pun tak tahu...” jawab Sena.
°°°°°°
Mita tengah membasuh wajahnya, rasanya sudah sedikit tenang. Walau ia hanya mengeluarkan air bening saja. Kini wajahnya terlihat lesu setelah mual untuk beberapa menit.
Mita kemudian mengelus perutnya yang masih datar. “Nak... jangan nakal-nakal ya... ibumu ini masih mau kerja nih... jadi, kalau mau main-main. Dirumah aja nanti ya?” ucap Mita, lantas kemudian terkikik geli.
“Ngapain sih? Bicara sendiri, kayak orang gila aja,” kekehnya. Kemudian Mita berjalan keluar dari toilet itu. Dan keterkejutan datang kepadanya saat melihat Fadli yang berdiri disamping pintu toilet itu.
“Kok dokter Fadli ada disini?” tanya Mita merasa heran.
Fadli yang tengah bersandar pada dinding itu, berjalan mendekati Mita. Dengan wajah yang terlihat khawatir.
“Anda baik-baik saja kan, dokter Mita?” tanyanya. “Saya kesini karena khawatir anda kenapa-napa.” Jujur Fadli.
Mita menghela nafasnya. “Saya tidak apa-apa dokter Fadli... mungkin ini karena bawaan bayinya. Jadi saya sedikit mual tadi,”
Fadli diam, ia menatap dalam mata wanita itu. “Apa tak sebaiknya anda diperiksa dulu? Takutnya ada gejala lain?”
“Tidak usah dokter... saya benar baik-baik saja...” ucap Mita sambil terkekeh.
Fadli menghembuskan nafasnya dengan panjang. “Tolong beri tahu saya jika anda sedang tak baik-baik saja dokter Mita. Dan jika ada yang membebani pikiran anda. Langsung saja beritahu saya! Saya akan membantu anda, jadi jangan ditutup-tutupi diantara kita berdua. Karena saya juga ikut andil dalam masalah anda!” ucap Fadli dengan sangat tegas.
Mita kembali tersenyum, tak menyangka jika pria itu bisa bersiatif seperti itu. “Iya dokter Fadli... sudah, anda tak perlu khawatir lagi...”
Fadli menghembuskan nafasnya untuk kesekian kalinya. “Pasti si kecil didalam sana merepotkan dokter Mita, ya?” tanya Fadli dengan tampang polos, seperti anak kecil.
Mita terkekeh. “Engak ah, Engak ngerepotin kok dokter Fadli. Anak adalah berkah, jadi jangan bilang begitu ya?”
Fadli menunduk menatap perut datar Mita. “Iya dokter...”
“Yasudah, kita pergi dari sini yuk! Saya pengen makan dikantin. Perut saya sudah keroncongan nih!” ajak Mita dengan senyum lebar.
Fadli tersenyum tipis melihat itu. “Iya... saya yang akan memesankan makanan untuk dokter Mita yang sangat banyak. Biar dokter Mita cepat kenyang.”
“Hahahaha!” Mita tertawa kencang. “Ya jangan gitu juga dokter...”
Kemudian keduanya berjalan menuju kantin.
Sedangkan disisi lain, Clara yang kala itu tak sengaja melihat keberadaan Mita dan Fadli. Merasa bingung dengan kedekatan mereka.
“Ada hubungan apa mereka berdua? Kenapa mereka membicarakan hal-hal yang ambigu seperti itu?” gumamnya sangat curiga.
-
-
-
🍄🍄🍄
Jangan lupa tinggalkan VOTE dan KOMEN ya.... see you next chapter...
untung aja lo selamat dri rayuan si dikta bejat filda
yg lain juga dilanjut donk 😆😆😆
semangat author 💪💪💪