Komitmenlah yang membuat dua orang terikat dalam sebuah hubungan. Seperti perjanjian, suatu hari akan dipertanyakan. Sekuat itu Ayya menggenggam ikatan meski sedari awal tak terlihat ada masa depan.
Sementara Ali butuh cukup waktu untuk me-reset ulang perasaannya setelah masa lalu bersarang terlalu lama dalam ingatan.
Akan dibawa ke manakah rumah tangga mereka yang didasari atas perjodohan orang tua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ICU
Ali terbaring di ruang ICU, tak seorang pun diperbolehkan masuk untuk menemuinya.
“Keluarga Bapak Ali? ” Seru dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU.
Vina segera berlari menuju dokter, dan meminta izin untuk menemui Ali.
“Maaf, Bu. bapak Ali belum bisa di kunjungi,” jawab dokter pada Vina yang hampir menerobos masuk.
Bu Lastri dan Ayya pun segera menghampiri dokter.
“Saya ibunya, dok. Bagaimana keadaan anak saya sekarang dok?”
“Keadaannya mulai stabil, untunglah dia tidak mengalami pendarahan yang terlalu hebat, dan tubuh pak Ali ini cukup kuat, sehingga memungkinkan dia lebih cepat keluar dari masa kritisnya, beberapa hari lagi mungkin sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan.”
“Syukurlah, dokter. Terima kasih banyak.”
“Hanya keluarga pasien yang di izinkan berkunjung di jam besuk yang sudah di tentukan, dan ingat! hanya satu orang saja yang bisa masuk, boleh bergantian.”
“Baik dokter, sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak.”
Sang dokter tersenyum pada Bu Lastri lalu pergi untuk memeriksa pasien lainnya.
Ayya tampak mengusap wajah, dan menghela napasnya, memandangi tubuh suaminya dari kaca dengan mata yang sembab.
Bu Lastri melirik Vina yang tidak mau beranjak dari tempatnya berdiri saat ini.
“Vin, sedang apa kamu di sini?” Vina spontan langsung menoleh ketika mendengar suara Bu Lastri.
“Ibu, jangan usir aku, Bu. Vina mohon.” pinta Vina sambil memelas.
“Tapi kehadiranmu tidak dibutuhkan di sini.”
Ayya segera menghampiri Bu Lastri dan mendudukkannya bersama pak Ramlan yang baru datang.
“Kalau begitu, ibu mau pulang dan kembali saat jam besuk nanti.”
“Itu ide yang bagus, ibu dan Ayah pulang saja dan istirahat di rumah, Kalau ada apa-apa nanti Ayya telepon ibu, ya.”
Tinggalah Ayya dan Vina yang masih berada di rumah sakit.
“Mbak Vina, gimana keadaan mbak sekarang? apa kakinya masih sakit?”
“Tidak apa-apa, Ayy. Sekarang sudah lebih baik.”
“Syukurlah, mbak,” ucap Ayya seraya duduk di sampingnya.
Mereka hanya duduk terdiam tanpa sepatah kata sesekali menengok ke arah kaca jendela ruang ICU hanya untuk melihat tubuh Ali yang terbaring di sana. rekan kerja dari mulai atasan sampai bawahan datang dan pergi menjenguk dan memberikan dorongan spiritual untuk Ali, tapi mereka hanya terlihat akrab dengan Vina karena sebelumnya sudah sering bertemu di tempat dinas Ali.
Merasa menjadi istri gelap dan tak dianggap? tentu saja perasaan itu ada dan tengah menggelayuti Ayya saat ini, akan tetapi Ayya kembali pada ucapan Ali beberapa waktu yang lalu bahwa dirinya tidak boleh jatuh cinta, sebelum Ali jatuh cinta lebih dulu, jika Ayya tak dapat menahan rasa cinta itu, maka akhirnya akan menjadi seperti ini, hatinya sangat terluka.
Setelah beberapa hari, akhirnya Ali sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan, Ayya merawatnya dengan telaten begitu pun dengan Vina, dia sangat rajin datang meskipun hanya duduk menantikan Ali sadar seperti seperti sedia kala. Mereka bagaikan dua istri yang setia merawat satu suami dan berusaha menjadi yang paling baik untuk merebut perhatian Ali. Entah siapa yang akan Ali pilih saat ia sadar nanti.
Suatu hari, Ali mulai membuka matanya, namun, tak banyak yang bisa ia lakukan hanya sedikit menggerakkan jari-jari tangannya itu pun hanya sewaktu-waktu. Ayya kaget sekaligus senang ketika Ali tiba-tiba menyentuh tangannya pelan-pelan. Ayya segera menyambut sentuhan tangan suaminya dengan mata berbinar.
“Mas! Mas bisa bisa bergerak?”
Ali mengangguk dan tersenyum. Sentuhan tangannya semakin erat menggenggam tangan Ayya.
“Syukurlah, keadaanmu sudah membaik sekarang.” Ayya mencium tangan Ali, matanya berkaca-kaca menahan rasa bahagia.
“Ayya telpon Ayah sama ibu dulu sekarang, mereka pasti sangat menunggu kabar ini.”
Mata Ali yang sayu menyiratkan bahwa dirinya sangat senang karena ketika dia sadar, Ayya adalah orang pertama yang sangat ingin dia lihat. Dia mungkin tidak berpikir akan hidup dan melihat kembali wajah istrinya itu.
“Mas, sekarang apa yang mas rasakan?” tanya Ayya antusias.
Ali hanya menggelengkan kepalanya karena bibirnya belum bisa mengatakan apa pun, selain merespon dengan gerakan matanya.
“Ya sudah, mas istirahat saja, jangan terlalu memaksakan diri,” ucap Ayya sambil meraih ponsel yang bergetar diatas meja.
Ayya mendapatkan telpon dari orang tuanya yang saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk menengok keadaan Ali.
“Mas, Abi dan Umi sebentar lagi sampai di rumah sakit, tapi mereka minta Ayya nunggu di depan, mas gak apa-apa 'kan tinggal sebentar?”
Ali mengangguk tanda mengizinkan.
“Sebentar ya, Mas. Kalau ada apa-apa tekan bel saja bisa, 'kan?” dan Ali kembali mengangguk.
Ayya menunggu kedatangan orang tuanya di depan cukup lama karena ternyata mereka di hadang kemacetan lalu lintas kota yang sangat padat. Namun akhirnya mereka tiba meskipun telat. Sambil menuju kamar Ali, Ayya menceritakan keadaan Ali yang semakin membaik saat ini. Akan tetapi dia tidak menyangka ketika tiba di ruangan Ali, suasana di sana terdengar sedikit riuh dengan obrolan beberapa pembesuk yang datang selagi Ayya berada di luar. Ayya tidak begitu mengenal sosok berseragam yang ada di dalam ruangan dia hanya mengenal Vina dan juga Bu Diana diantara orang-orang itu.
Yang membuatnya kaget adalah penggalan dari percakapan yang tertangkap olehnya saat tiba di sana.
“Syukurlah, pak Ali sudah sadar, kita sangat menunggu kesembuhan pak Ali sesegera mungkin.” ucap pak Wakapolres menyemangati Ali.
“Beberapa waktu yang lalu, saat kita datang kesini, pak Ali masih di ruang ICU, saya pikir orang seperti pak Ali ini tidak akan betah berlama-lama tidur di rumah sakit, makanya saya Yakin akan cepat sembuh, Apalagi di rawat calon istri yang sangat baik seperti Vina, pasti membuat pak Ali tambah semangat untuk sembuh,” tutur Bu Diana sambil melirik ke arah Vina. percakapan mereka terdengar sangat akrab. namun, terasa sangat menusuk ke dalam jantung Ayya, apalagi ada orang tuanya yang harus turut mendengar percakapan itu.
“Ya, ampun. Apalagi ini? kenapa harus saat seperti ini ketika Abi dan Umi ada di sini?” batin Ayya sambil menggigit bibirnya dan memalingkan wajah dari orang tuanya.
“Ayy, apa maksud ucapan mereka? jelaskan sama Abi dan Umi?”
Ayya segera mengajak orang tuanya pergi dari tempat itu.
“Abi, Umi, mari kita bicara di kantin saja, ya.”
Ayya sangat bingung harus bicara apa pada orang tuanya saat ini, dia hanya mencari cara untuk mengalihkan topik pembicaraan, dengan harapan orang tuanya akan lupa dengan apa yang di dengarnya di kamar Ali.
BERSAMBUNG ...