Karena sebuah sumpah Dany Admaja harus merawat putri sahabatnya yang meninggal karena kecelakaan mobil. Dany merawat Alena yang baru berusia delapan tahun dan menganggapnya seperti keponakannya karena kala itu Dany sudah berusia 28 tahun namun sepuluh tahun kemudian, Alena tumbuh menjadi gadis cantik yang mulai membuat hati Dany bergetar dan sialnya, gadis itu membuka seluruh pakaiannya untuk menggodanya. Apakah Dany Admaja akan tergoda dengan rayuan putri sahabatnya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Alena termenung saat seorang dosen sedang menjelaskan pelajaran. Dia tidak berkonsentrasi sama sekali bahkan tidak mendengar apa yang dosen itu jelaskan. Alena bahkan tidak sadar jika sudah selesai. Rishka yang melihat hal itu tentu saja menggeleng dan karena Alena diam saja, Rishka menggebrak meja sampai membuat Alena terkejut.
"Rishka!" Alena berteriak sambil memegangi dadanya.
"Ayo, lamunin apaan?" tanya Rishka.
"Ngak ada, resek banget deh ya!"
"Gak usah boong, ayo jawab. Kamu lagi lamunin apaan?" Rishka tampak tidak mempercayai Alena yang sok tidak sedang melamunkan apa pun.
"Ngak ada, beneran!" Alena masih berusaha menghindar.
"Masih aja boong, gak bisa lo nipu gue. Lo kayak gini apa gara-gara om lo?" tanya Rishka yang sangat ingin tahu.
"Ngak kok, kata siapa?"
"Ye, nih anak. Udah ngak temen lagi ya kalau lo gak curhat!" ancam Rishka.
"Iya deh, iya. Ngak usah ngancem gitu! Ntar gak ditraktir nasi padang lagi baru tau rasa!"
"Ye.. Dia malah ngancam balik. Ayo dong kasi tau ada apaan? Penasaran nih."
"Rasa penasaran bisa membunuhmu jadi hati-hati loh," goda Alena.
"Ish, nih anak. Lama-Lama ngeselin banget ya?!" Rishka terlihat kesal dan tidak sabar. Alena terkekeh, dia memang sengaja ingin membuat Rishka kesal.
"Cepat ngak, gue itung sampai lima nih!" ancam Rishka.
"Iya deh, sebenarnya aku hanya bingung dengan sikap Om Dany yang tiba-tiba berubah," ucap Alena.
"Berubah bagaimana?" tanya Rishka yang semakin ingin tahu.
"Kamu tahu ngak, Om Dany ngajakin aku nikah," inilah yang membuatnya tidak berkonsentrasi dengan pelajaran. Entah apa yang harus dia lakukan karena dia belum menjawab ajakan Dany yang mengajaknya untuk menikah.
"Apa?" Rishka hampir memekik akibat terkejut. Teriakannya sampai menarik perhatian beberapa mahasiswa yang masih berada di ruangan itu.
"Berisik ah!" ucap Alena kesal.
"Yang lo bilang beneran apa ngak?" tanya Rishka memastikan.
"Ya beneran dong, ngapain aku bohong. Abis ini Om ngajakin fitting baju padahal aku belum jawab!"
"Wah...Wah, cepat amat? Ngak terlalu terburu-buru nih om Dany?"
"Ngak tau, sikap Om Dany aja berubah sejak saat itu dia bahkan udah berani padahal waktu itu nolak!"
"Eits, jangan-jangan lo udah gak perawan ya?" tanya Rishka asal.
"Sembarangan, masih tau!"
"Sangkain deh," ucap Rishka sambil terkekeh.
"Jadi, berubah kayak gimana sikap om Dany? Pasti udah berani peluk dan cium lo, kan?"
"Untuk itu?" Alena menyelipkan rambutnya dan tersipu malu.
"Ish bikin iri aja!" Rishka menepuk lengan Alena, dia jadi sedikit iri dengan Alena yang mendadak mau menikah.
"Trus, kok belum jawab mau apa ngak nikah sama Om lo?" tanya Rishka yang kepo sampai ke ubun-ubun.
"Aku bingung, Rish. Mami Om Dany ngak setuju dan gak ijinin Om Dany nikah sama aku. Mereka berantem mulu gara-gara aku. Apa aku harus menerima ajakan Om untuk menikah?"
"Ye, ngapai lo pikirin Maminya? Kan lo nikah sama anaknya, bukan sama maminya!"
"Tapi kan hubungan mereka jadi tambah gak akur gara-gara aku, Rishka."
"Uda, jangan dipikirin. Om Dany ngajak kamu nikah berarti dia benar-benar serius sama kamu. Dia aja gak peduli maminya mau setuju apa ngak jadi kamu juga gak usah mikir yang enggak-enggak. Lagian jadi orang jangan takut, harus berani sekali-kali!"
"Aku bukannya takut, Rish. Aku cuma gak mau aja om Dany jadi nentang ibunya dan jadi ngak akur sama ibunya cuma gara-gara aku doang. Gak baik nentang orangtua!"
"Ya udah, trus lo maunya gimana? Pergi lagi, gitu aja terus berulang. Awas lo, udah diajak nikah gak mau ntar nyesel."
"Bukan gitu ih, capek ah ngomong sama kamu!" Alena merapikan bukunya, sebaiknya dia bergegas karena bisa saja Dany sudah menunggu dirinya.
"Mau ke mana? Ikut!" Rishka pun mengikuti Alena yang sudah melangkah pergi.
"Ngak boleh, ganggu aja orang mau pacaran!"
"Ye, pokoknya ikut!"
"Rishka, dipanggil ke ruang guru tuh!" seorang teman memanggil.
"Yeah, padahal mau ikut juga," ucap Rishka kecewa.
"Ha...Ha... Duluan ya, Rish!" teriak Alena sambil melambai.
"Awas lo ya, pacarannya jangan sampai kelepasan!" teriak Rishka.
"Asal aja kalau ngomong!" teriak Alena sebelum keluar dari ruangan.
Alena melangkah cepat keluar dari kampus. Dany sudah menunggu sambil bersandar di mobilnya. Beberapa mahawiswi sedang berbicara dengannya sambil menggodanya.
"Om," Alena memanggil dari jauh sambil melambai, jujur saja dia tidak suka melihat Dany di kelilingi oleh para mahasiswi-mahasiswi cantik itu.
"Yeah, yang punya datang!" perkataan itu terdengar dan tatapan tidak menyenangkan Alena dapatkan
"Udah lama nunggu ya, Om?" Alena cuek saja, dia justru memeluk Dany di depan para Mahasiswi yang masih belum juga pergi.
"Ngak kok, Om baru aja datang," jawab Dany padahal dia sudah datang sedari tadi.
"Ya udah, Om. Panas banget nih, mana laper lagi," ajak Alena.
"Ya udah, om juga udah laper," Dany membuka pintu mobil, Alena masuk ke dalam terlebih dahulu.
"Om, jangan lupa telepon kita ya!" teriak para mahasiswi yang berbicara dengan Dany tadi.
Alena bersedekap dada dan tampak tidak senang apalagi Dany melambai ke arah para mahasiswi itu ketika mereka meminta Dany untuk menghubunginya. Alena kesal luar biasa, Dany sampai terkejut melihat wajah Alena yang cemberut akibat cemburu.
"Asem banget tuh muka, abis makan jeruk nipis ya?" tanya Dany.
"Seneng ya om abis digodain cewek-cewek?"
"Eits, cemburu ya?" tanya Dany.
"Ngak, cuma kesal aja liatnya!" Alena membuang wajahnya yang semakin cemberut saja
"Ya udah, jangan marah ya. Om cuma ngobrol bentar doang, ngak lama. Lagian ngak ngomongin apa-apa kok, jangan marah ya."
"Siapa juga yang marah! Lena mau telepon aja, malas ngomong sama Om!" Alena mengeluarkan ponselnya, dia sudah seperti anak kecil yang sedang cemburu tapi memang dia baru 18 tahun.
"Mau telepon siapa?" tanya Dany.
"Teman dong, bang Fajar yang selalu nemani Alena!" jawab Alena kesal.
"Oh, apa dia ada di Jakarta?" Dany sok cuek padahal dia tidak senang.
"Ih, kok Om ngak mencegah sih?"
"Oh, jadi mau membuat Om cemburu ya?"
"Ngak jadi, sebal sama Om!" Alena menyimpan ponselnya kembali. Dany terkekeh, Alena kembali membuang wajah tapi tiba-tiba saja Dany menarik tengkuknya sehingga Alena kembali berpaling dan pada saat itu, sebuah kecupan lembut mendarat ke bibirnya.
Alena terkejut namun sesaat saja karena dia sudah membalas ciuman tiba-tiba dari Dany.
"Gimana, masih marah ngak?" tanya Dany setelah ciuman mereka berakhir.
"Sebel sama Om!" Alena kembali membuang wajah.
"Ya udah, nanti Om lanjutin di rumah. Sekarang kita pergi dulu!"
"Ngak mau!" Jawab Alena yang lagi-lagi membuang wajah ke samping. Dany hanya tersenyum dan membawa mobil pergi. Sesuai dengan rencana, mereka akan mencoba gaun pengantin karena Dany benar-benar serius ingin menikahi Alena.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu