Meyra merasa sangat aneh karena kini dia berada di sebuah pulau yang dia tidak tahu entah di mana, sejauh mata memandang hanya ada lautan saja.
Setelah dia mencari tahu, ternyata Meyra terdampar di dunia lain. Demi bisa kembali ke bumi, dia rela menerima tawaran untuk menikah dengan siluman singa jantan yang dia temui di sana.
"Apakah aku bisa pulang ke bumi jika menikah denganmu?"
"Tentu saja, aku juga bisa membantumu untuk mengungkapkan kejahatan yang menimpa ayahmu."
Bagaimana kisah selanjutnya?
Langsung kita kepoin yuk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencurahkan Rasa Rindu
Aku dan Lion hanya bisa menatap dalam diam ke arah Ibu Liliana dan juga ayah Lucas yang terlihat begitu saling merindu, Ibu Liliana terlihat terdiam seraya menatap wajah ayah Lucas dengan air mata yang mulai turun di kedua pipinya.
Ayah Lucas pun terlihat sama, dia terlihat menitikan air matanya. Bibirnya terlihat bergetar menyebutkan nama istrinya, terlihat dengan jelas rasa rindunya.
"Liliana," ucapnya dengan pelan dan terdengar bergetar.
Ibu Liliana terlihat tersenyum seraya memandang ayah Lucas dengan penuh cinta, ayah Lucas membalas senyuman dari ibu Liliana, kemudian dia menghampiri Ibu Liliana dan memeluk wanita yang begitu dia cintai itu.
Dia bahkan terlihat mengecup puncak kepala ibu Liliana dengan penuh kasih, aku terharu melihat akan hal itu. Tanpa sadar bahkan aku langsung memeluk Lion, Lion terkekeh kemudian dia berkata.
"Sebaiknya kita pergi ke kamar, kita harus segera berendam dengan air hangat agar tidak masuk angin. Kita juga harus segera ganti baju," kata Lion.
Mendengar apa yang dikatakan oleh suamiku, aku langsung menolehkan wajahku ke arahnya. Lalu, aku pun bertanya.
"Lalu, bagaimana dengan ayah dan juga Ibu Liliana?" tanyaku seraya menolehkan wajahku ke arah mereka berdua yang sedang melepas rindu itu.
Lion langsung mengacak rambutku dengan gemas ketika aku menanyakan hal tersebut, dia seperti mengatakan jika aku dan juga Lion harus memberikan waktu untuk mereka bisa berduaan.
"Tidak usah mengkhawatirkan mereka, mereka berdua lebih tahu apa yang harus mereka lakukan. Sekarang kamu harus bilasan dengan air hangat, biar tidak sakit," kata Lion.
Aku paham jika mereka pasti ingin melepas rindu, aku pun harus memberikan waktu untuk mereka bisa melepas rindu itu berduaan saja.
"Ya, aku paham. Ayo kita mandi," ajakku.
Setelah aku mengatakan hal itu, tanpa aku duga Lion langsung mengangkat tubuhku dan menggendongku.
Lalu dia melangkahkan kakinya menuju kamar kami, Ya... Lion membawa aku ke sebuah kamar yang dulu pernah kami tinggali sesaat setelah aku menikah dengan Lion.
Mungkin ini adalah kamar pribadinya, kamar yang selalu dia tinggali. Lion tersenyum, lalu dia mendudukkan aku di atas bangku kayu.
"Mau mandi sekarang atau mau olah raga dulu?" tanya Lion.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Lion, aku langsung mengernyitkan dahiku. Maksudnya apa coba malah mengajak aku untuk olahraga, katanya tadi aku harus segera mandi dan berganti baju.
Bilangnya biar tidak masuk angin, lalu kenapa dia berkata seperti itu. Sungguh aneh suamiku ini, apalagi saat melihat senyuman di bibirnya yang terlihat sangat messum.
"Mau mandi saja," ucapku.
Mendengar jawaban dariku, Lion langsung tersenyum. Kemudian dia mengangkat tubuhku dan Lion langsung mengajakku untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Tiba di dalam kamar mandi, Lion mengajakku untuk berendam di kolam air hangat. Dia duduk tepat di belakang tubuhku, dengan telaten dia menggosok tubuhku menggunakan spons yang sudah dituangkan sabun.
Tidak terlihat tanda-tanda jika Lion akan berbuat nakal terhadapku, padahal tadi aku sempat melihat wajahnya yang terlihat begitu menginginkan diriku.
Aku benar-benar bersyukur karena memang aku sangat lelah, sepertinya Lion mengerti akan keadaanku.
"Terima kasih Singa jantanku," ucapku seraya mengecup bibir Lion dengan mesra.
Lion malah tertawa, kemudian dia malah mengangkat tubuhku dan membilas tubuh kami. Aku melihat jika dia seperti sedang berusaha untuk menahan gejolak hasratnya.
Dalam hati aku bersyukur, karena Lion tidak memaksakan kehendaknya. Sepertinya Singa jantanku ini memang sudah benar-benar berubah menjadi manusia yang pengertian, walau terkadang dia bertingkah sangat kolokan.
Setelah mandi bersama, Lion langsung mengajakku untuk keluar dari dalam kamar mandi dan memakaikanku baju. Lebih tepatnya kain tenun yang dililitkan di tubuhku.
Sebenarnya aku merasa tidak nyaman dengan pakaian seperti ini, tapi harus bagaimana lagi. Memang kenyataannya baju di sini seperti ini adanya. Aku hanya bisa pasrah.
"Kamu cantik, Sayang. Kalau memakai baju seperti ini sangat cantik dan juga lebih seksi," kata Lion memuji seraya mengelus pundak polosku.
Tangan nakalnya terus merambat ke bawah sampai ke paha, lalu tangannya dengan nakal masuk dan mengusap lembut milikku.
Oh ya ampun, dia mulai nakal. Jangan sampai nanti dia akan menerkamku saat ini juga, karena aku merasa perlu tenaga yang ekstra untuk pergi ke dunia lain.
Dunia di mana ayah dan bunda berada, dunia lain yang tidak aku tahu bagaimana nampak dan wujudnya.
"Jangan nakal!" ucapku seraya menepis tangannya. Lion terkekeh, kemudian dia berkata
"Tidak, aku tidak akan nakal. Aku hanya mau menyayangi istriku saja, jangan suka berpikiran buruk," kata Lion.
Aku langsung mencebikkan bibirku mendengar apa yang dikatakan oleh Lion, padahal jelas-jelas tadi dia sudah bersikap dengan sangat nakal.
Kalau saja aku tidak mencegah tangan nakalnya itu, sudah pasti dia akan mengajakku berkeringat di atas tempat tidur.
"Iya maaf, aku tidak akan berburuk sangka lagi," ucapku mengalah.
"Iya, Sayang. Dimaafkan," ucapnya.
Setelah mengatakan hal itu Lion mengajakku untuk pergi ke ruang makan, Lion berkata jika dirinya sudah sangat lapar.
Begitupun dengan diriku, perjalanan yang terasa singkat tapi melelahkan itu membuatku merasa sangat lapar.
Bahkan, perutku terasa perih dan juga melilit. Tiba di ruang makan, ternyata aku melihat ibu Liliana dan juga ayah Lucas sedang duduk bersama.
Mereka terlihat seperti sepasang anak muda yang baru saja jadian, Ibu Liliana terlihat sedang duduk dengan sangat manis, sedangkan ayah Lucas dengan telaten menyuapi wanita yang dia cintai itu.
Bahkan, tatapan ayah Lucas tidak terputus dari wajah Ibu Liliana. Tatapan penuh cinta dan juga penuh damba, tatapan tulus penuh kerinduan.
"Ehm!"
Lion terdengar berdehem, kemudian dia duduk tepat di samping Ibu Liliana dan memeluk Ibunya tersebut dengan sangat erat.
Aku tersenyum, kemudian aku mengikuti langkah Lion dan duduk tepat di sampingnya seraya menepuk-nepuk punggungnya dengan sangat lembut.
Aku merasa sangat senang karena Lion bisa bersama lagi dengan ibu kandungnya, wanita yang dua puluh lima tahun ini tidak pernah dirasakan kehadirannya.
"Aku sangat senang bisa bersama dengan ibu," kata Lion.
Ibu Liliana tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Lion, dia bahkan terlihat mengecup puncak kepala putra terkasihnya itu.
"Ya, Ayah merasa lebih senang," kata ayah Lucas seraya tersenyum.
Lalu, ayah Lucas terlihat memandangku dan mengelus lembut tanganku. Dia menatap diriku dengan tatapan penuh terima kasih.
"Terima kasih karena kamu sudah membantu mempertemukanku dengan Liliana, walaupun waktu kami terbatas," kata Ayah Lucas.
"Ya, sama-sama, Ayah," ucapku.
"Jika kalian ingin pergi lagi, sekarang makanlah dulu. Isilah perut kalian, setelah itu kalian bisa berangkat menuju alam di mana kedua orang tua kamu berada," kata Ayah Lucas.
"Ya, Ayah. Tapi, apakah Ayah bisa membantuku untuk mengantarkanku ke dunia itu?" tanyaku dengan penuh harap.
"Kalau untuk mengantarkan ke sana, Ayah tidak bisa. Namun, untuk mengarahkan tentu saja Ayah bisa," kata Ayah Lucas.
"Ah syukurlah, yang terpenting Ayah bisa mengarahkan agar aku tidak tersesat lagi. Aku takut tersesat lagi seperti tadi," ucapku seraya bergidik ngeri. Ayah Lucas tertawa.
"Itu karena kamu sendiri yang salah, kamu membuka mata saat di pertengahan jalan. Seharusnya walau ada apa pun yang terasa atau terjadi, kamu jangan pernah membuka mata jika belum sampai," kata Ayah Lucas.
"Iya, aku paham. Lion juga sudah mengatakan hal seperti itu," ucapku.
"Pesan Ayah, kalian harus hati-hati. Karena di tempat yang nanti akan kamu kunjungi adalah tempat yang sangat rawan," pesan Ayah.
"Benar, kalian berhati-hatilah," kata Ibu Liliana.
"Pasti, aku dan Lion akan lebih berhati-hati lagi," ucapku.
"Kalian harus teliti," kata Ayah Lucas lagi.
"Tenang saja Ayah, lagi pula ada Lion yang akan melindungiku. Aku tidak akan takut sedikit pun," ucapku dengan yakin.
Ayah Lucas terlihat tertawa mendengar apa yang aku ucapkan, dia langsung menatap Lion dan menepuk pundak suamiku beberapa kali.
"Kamu sangat diandalkan, jadi kamu harus bisa melindungi istrimu dengan baik," kata Ayah Lucas seraya terkekeh.
"Ya, Ayah. Pasti aku akan melindungi istriku dengan sangat baik," kata Lion tanpa keraguan sedikit pun.
"Oh ya, Ayah. Lalu, bagaimana dengan ibu?" tanyaku.
"Sebentar lagi Ayah akan mengantarkan ibu untuk pulang, walaupun tidak bisa sampai mengantarkan Ibu ke bumi," kata Ayah Lucas.
Kembali tatapan matanya berubah menjadi sendu, binar bahagia yang tadi terlihat kini terlihat menghilang.
Begitupun dengan ibu Liliana, dia terlihat begitu sedih saat mendengar dirinya akan dipulangkan sebentar lagi.
"Sudahlah, jangan memikirkan kesedihan apa pun. Lain waktu Ayah bisa bertemu lagi dengan ibu, kita makan dulu saja," ajak Lion.
Akhirnya kami pun makan bersama, ayah Lucas dengan setia menyuapi Ibu Liliana. Sedangkan Lion menyuapi diriku, padahal aku bisa makan sendiri. Namun, Lion tetap bersikukuh jika dirinya ingin memberikan kasih sayang dan cinta yang terbaik untukku.
******
Selamat sore kesayangan, selamat beristirahat. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeki, jangan lupa tinggalkan like dan juga komentarnya. Sayang kalian selalu, terima kasih.