Pernikahan yang berlandaskan rasa bersalah juga karena ingin bertanggung jawab membuat Icha terjebak dalam situasi rumah tangga yang sangat menyedihkan. Kehadirannya tak dianggap ada oleh suami yang dia cintai. Namun, dia masih bisa tetap bertahan.
"Bukan aku yang menginginkan pernikahan ini, kak Adit. Tapi kenapa kamu malah membuat aku semakin lama semakin tersiksa? Apakah aku harus tetap bertahan, atau malah pergi jauh meninggalkan kehidupan yang menyedihkan ini?" Marisa Aurelia.
"Beri aku waktu untuk belajar mencintai kamu, Icha. Jika aku sudah siap nanti, maka rumah tangga kita pasti akan baik-baik saja." Aditya Hutomo.
Namun, bukannya malah membaik. Rumah tangga yang sudah dasarnya rusak itu malah semakin rusak dengan munculnya orang ketiga. Akankah Icha masih tetap bertahan dengan Aditya yang semakin dingin padanya? Atau ... Icha malah memilih pergi meninggalkan kehidupan pahit yang selama ini menyiksa hati juga pikirannya.
Ikuti kisahnya di sini. Di Sebatas menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Bab 30
"Marisa." Tanpa sadar, bibir Aditya mengucapkan kata itu. Membuat dia mendapatkan tatapan kesal dari atasan juga rekan yang tidak suka dengan tindakan Aditya yang dianggap terlalu tidak sopan.
"Ee ... maafkan bawahan saya, nona muda. Dia mungkin sedikit kurang sopan pada nona barusa. Saya harap, nona bisa memakluminya. Dan ... nona tidak mempermasalahkan ketidaksopanan nya itu."
"Gak papa. Aku gak merasa terganggu dengan apa yang dia lakukan barusan. Dia hanya memanggil namaku. Itu tidak masalah."
"Ah, syukurlah kalau gitu. Oh ya, nona. Ayo silahkan nona masuk ke dalam! Akan saya perlihatkan seluruh bagian rumah sakit ini. Katakan saja yang mana yang ingin nona lihat. Maka saya akan dengan senang hati membawa nona melihatnya."
"Oh ... baiklah kalau begitu."
"Ayo, kak! Kita masuk ke dalam. Ada banyak tempat yang ingin aku lihat," ucap Icha pada Cleo dan mengabaikan semuanya.
Cleo hanya tersenyum pada Marisa sambil mengangguk kecil. Untuk pertama kali, dia merasakan ada yang aneh dengan hatinya ketika melihat salah satu suster yang sedang berbaris di sana. Namun, dia berusaha mengabaikan rasa itu dengan segera mengikuti langkah Icha buat masuk ke dalam.
Setelah kepergian Icha dan Cleo. Pemimpin rumah sakit tersebut melirik Aditya sesaat sebelum akhirnya dia ikut beranjak mengejar Icha dan Cleo dari belakang.
"Selesai pertemuan, kamu datang ke ruangan ku," ucap pemimpin itu sebelum pergi.
Aditya hanya mampu menunduk diam. Sementara yang lain, setelah kata-kata yang mereka dengar barusan, langsung menoleh ke arah Aditya. Ada juga yang masa bodoh dengan apa yang akan terjadi dengan Aditya selajutnya.
"Dokter Aditya barusan bikin masalah besar kek nya. Sampai-sampai, pemimpin terlihat begitu kesal tadi. Bahkan, meminta dokter Aditya untuk datang ke ruangannya setelah pertemuan usai."
"Bagaimana tidak kesal? Kau tahu siapa perempuan tadi, bukan? Dia adalah pemilik rumah sakit ini sekarang. Aku dengar, dia anak satu-satunya keluarga Nugroho. Pewaris kekayaan terbesar yang sangat berkuasa. Jika punya masalah dengannya, maka tidak hanya dokter Aditya yang akan dapat masalah. Tapi kita semua juga."
"Maksud kamu?"
"Ya katanya ... ini katanya nih ya. Katanya itu, papanya adalah orang yang paling berkuasa. Dia bisa membeli apapun yang mereka mau. Terutama, membeli rumah sakit ini. Lalu di tutup karena telah membuat anak kesayangannya tidak puas."
"Ah, begitu kah? Bahaya sekali kalau gitu. Aku jadi merasa merinding memikirkan apa yang baru saja kamu bicarakan. Jadi takut aku sekarang tahu gak?"
"Kenapa harus takut sih kamu? Jika kita tidak melakukan kesalahan. Atau paling tidak, jika kita bisa membuat nona muda itu merasa puas, maka kita akan aman, alias selamat dari segala bahaya. Terutama, dalam dunia pekerjaan."
"Tapi ... sepertinya, bikin nona itu puas akan sangat sulit. Aku lihat, nona itu sedikit arogan dan terlalu sombong. Bagaimana bisa kita bikin dia merasa puas dengan kita?"
"Itu gampang. Jangan bikin dia merasa kesal saat kita berhadapan dengan dia. Aku rasa, kita akan selamat dengan cara itu."
Para suster terus saja mengobrol soal pemilik baru rumah sakit ini. Aditya yang ada di sana hanya bisa mendengar tanpa berniat ikut dalam pembicaraan tersebut.
Lalu, saat mereka diizinkan pergi, Aditya langsung beranjak. Kabar hangat tentang pemilik rumah sakit baru, juga Aditya yang ditegur oleh pemimpin tersebar luar di rumah sakit tersebut. Serry yang mendengar kabar itu saat selesai melakukan tugas, bergegas menuju ruangan Aditya untuk menanyakan prihal dari rumor hangat yang dia dengar barusan.
Namun, saat dia ingin bertemu dengan Aditya, Serry yang terburu-buru tanpa sengaja langsung menabrak tubuh Icha.
"Aduh!"
Tentu saja Icha langsung mengeluh kesakitan walau sebenarnya, itu sama sekali tidak terasa sakit. Karena yang menabrak dia adalah musuh yang membuat dia datang ke tempat ini lagi, maka dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan, walau sekecil apapun.
"Risa! Kamu gak papa?" tanya Cleo tiba-tiba panik.
"Ya ampun, nona Marisa. Nona gak papa?" Pemimpin yang masih berjalan bersama Icha langsung saja menarik wajah panik luar biasa.
"Nona maafkan saya. Saya gak sengaja kok. Saya sedang buru-buru. Maaf," ucap Serry dengan cepat.
"Kamu ini gimana sih, suster Serry? Jalan saja gak hati-hati. Gimana kalau kamu melukai nona Risa? Apa kamu bersedia tanggung jawab, hah?"
"Maaf, pemimpin. Saya ... saya benar-benar gak sengaja pak. Tolong maafkan saya."
"Maaf-maaf. Hanya itu yang bisa kamu lakukan ya? Satu kata maaf yang tidak bisa mengembalikan suasana."
Icha terdiam. Dulu, saat dia masih bekerja di rumah sakit ini. Dia pernah mengalami hal yang sama seperti yang Serry rasakan sekarang.
Di marah habis-habisan oleh pemimpin rumah sakit karena menabrak tamu penting yang sedang berjalan bersama dengan pemimpin tersebut. Persis. Semuanya sama persis seperti saat ini. Hanya saja, bedanya waktu itu, dia bergegas karena ingin menolong pasien.
"Risa. Kamu beneran gak papa, kan Dek?" tanya Cleo sambil menyentuh pundak Icha dengan lembut.
Sontak saja. Icha yang termenung sambil satu tangannya memegang bahu bekas dari senggolan Serry itu langsung sadar. Dia memasang wajah yang tidak enak, tapi menggelengkan kepala.
"Aku gak papa kok, kak. Hanya sedikit sakit saja. Gak papa kok."
"Beneran gak papa, Ris? Jika kamu memang merasa sangat sakit, kita langsung pulang agar kamu bisa langsung istirahat. Besok kita lanjutkan lagi lihat-lihatnya. Bagaimana?"
"Terserah kakak saja. Aku ikut apa yang kak Leo katakan saja kalo gitu."
"Ya sudah. Kita pulang sekarang."
Mereka akhirnya langsung meninggalkan rumah sakit setelah berpamitan pada pemimpin rumah sakit tersebut. Sementara Serry dan Aditya, langsung di panggil ke ruangan pemimpin untuk mempertanggung jawabkan kesalahan yang mereka buat.
"Pak. Tolong jangan berikan aku sangsi seberat itu dong. Aku butuh uang lho pak. Sangsi tiga hari tidak masuk kerja dengan denda lima ratus ribu perhari, itu sangat besar. Bagaimana bisa anda memberikan aku hukuman itu?"
Serry langsung mengeluh setelah putusan hukuman yang pemimpin berikan untuk dirinya. Sebenarnya, bukan uang yang jadi permasalahan Serry saat ini. Melainkan, sangsi tiga hari tidak masuk kerja.
Karena jika tidak masuk kerja selama tiga hari, maka selama itu juga dia tidak akan bisa melihat Aditya. Soalnya, waktu bersama Aditya itu ya hanya saat bekerja di rumah sakit ini.
"Jika kamu butuh uang, maka kamu tidak akan melakukan kesalahan seperti barusan itu. Kau tahu? Untung saja nona Marisa tidak memperhitungkan apa yang baru saja kamu lakukan padanya. Jika dia minta aku memberhentikan kamu secara tidak hormat tadi, maka aku terpaksa menuruti apa yang dia katakan."