NovelToon NovelToon
Pilihan Hati Rania

Pilihan Hati Rania

Status: tamat
Genre:Romantis / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: Aan Iman

Jika kita tidak pernah mencobanya makan dari mana kita akan tahu hasil akhir sebuah perjuangan? Rania memilih mundur ketika ia bukan menjadi pilihan satu satunya bagi seseorang. Trauma masa lalu Nia sapaan akrabnya yang ditinggal menikah sang kekasih dengan sahabat sendiri menyisakan trauma untuk jatuh cinta lagi. Kini ia dihadapkan dia pilihan, bersama tambatan hati atau merubah takdir cintanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panic attack

Embun di pagi begitu menyejukan, memberi sensasi semangat menyambut hari tuk di lalui. Tidak ada waku untuk bermalas malasan bagi mereka yang memiliki tanggung jawab. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi, melainkan ikut membantu meringankan ekonomi karyawannya.

Meski status bos bahkan pemilik perusahaan tidak serta merta bisa bersantai begitu saja. Justru merekalah yang banyak bekerja, memutar otak mencari cara untuk menciptakan suatu karya penghasil cuan.

Rania duduk di kursi penumpang, rencana nya ia akan pergi ke kampus untuk menanda tangani surat kelulusan. Setelah itu ia akan pergi ke salon melakukan fitting baju pengantin. Galih akan menyusul jika Rania sudah tiba di sana.

"Silakan nona." Sam membukakan pintu.

"Terima kasih pak." Ucap Rania sopan.

Rania kini sudah terbiasa diantar Sam kemana mana atas perintah Galih. Awalnya ia merasa itu terlalu berlebihan, namun setelah Sam memberi tahu jika selalu ada yang mengikuti mereka dari kejauhan Rania jadi menurut.

"Nona, saya akan menjemput pak Galih lebih dulu lalu menjemput nona di sini. Jangan pergi kemana mana sebelum kami datang."

Sam berpesan pada Rania sebelum ia pergi dari kampus.

"Baiklah." Rania mengerti apa yang Sam maksud. Lalu mereka berpisah di dekat pintu masuk kampus.

"Rania tunggu."

Jef dari belakang menyusul langkah kaki Rania. Mereka sama sama akan di wisuda dua minggu lagi. Dan Jef akan mulai bekerja di kantor Mario sebagai accounting manager. Posisi yang pernah Sania duduki.

"Hai Jef, apa kita akan lama di kampus? "

Mengingat pesan Sam Rania sedikit bingung, jika urusannya selesai dengan cepat Rania harus menunggu hingga ia di jemput oleh calon suaminya.

"Aku rasa tidak juga, hanya tanda tangan sertifikat kelulusan lalu berfoto untuk album angkatan. Memang ada apa? "

Bisa di lihat oleh Jef Rania sangat cantik hari itu mengenakan one set formal berwarna lilac.

"Tidak, mungkin aku akan naik taksi saja ke tempat Sania."

Di kantin begitu ramai ketika para mahasiswa mulai berdatangan untuk jajan atau sekedar minum dan nongkrong. Rania ikut duduk di salah satu kursi kantin. Saat mengecek ponsel miliknya Rania terkejut ada beberapa pesan masuk dari Mrs. Jolly.

Ia bergegas merapikan tasnya kemudian pergi menuju gerbang kampus. Mrs. Jolly memberitahu Rania di kantor ada client penting yang ingin di dampingi Rania untuk mengurus beberapa asetnya.

Rania berusaha menelpon Galih untuk memberi kabar bahwa ia harus ke kantor, namun tidak di angkat. Beberapa saat menunggu taksi akhirnya Rania bisa meninggalkan kampus. Perlu waku tiga puluh menit membelah jalanan menuju Jolly law firm.

Setibanya Rania di kantor asistennya Salsa sudah menunggu sejak tadi. Mereka benar benar kesulitan menghubungi Rania, client baru perusahaan kali ini sangat berbeda dari yang lain. Sulit di hadapi, dia hanya ingin Rania yang menjamu nya.

"Dia ada di ruang kerja Mrs. Jolly."

Rania mengangguk mengerti. Kedatangan tamu VIP tidak bisa diabaikan begitu saja. Demi mendapatkan kesepakatan mereka harus siap menuruti apapun keinginannya.

Setelah mengetuk pintu Rania memberanikan diri masuk, jantungnya seolah berhenti berdetak melihat siapa yang sedang duduk mengobrol dengan atasannya.

"Nah itu Rania, senior akuntan di perusahaan kami. Nia, Tuan Zayn ingin berkonsultasi denganmu kemarilah." Perintah Mrs. Jolly seperti sebuah dorongan yang menuntun Rania kedalam jurang.

Susah payah Rania dan Galih menjauhkan diri dari Zayn, ia malah datang mendekati menggunakan pekerjaan sebagai alasan.

"Nona Rania pasti sangat sibuk sehingga terburu buru... Senang berjumpa denganmu Rania."

Zayn bangkit dari duduknya, ia berjalan mendekati Rania yang masih berdiri di depan pintu. Tangannya terulur meminta Rania berjabatan.

"Oh ya Rania sangat sibuk, dia sedang mempersiapkan pernikahannya."

Mrs. Jolly tidak mengerti situasi diantara mereka dengan polosnya mengatakan hal pribadi Rania dihadapan Zayn.

"Mrs. Jolly bisa tinggalkan kami berdua, maksudku agar semuanya berjalan cepat."

Rania memberi sorot mata seolah memberi isyarat meminta ruang dan waktu.

"Baiklah, semoga ada kabar baik."

Mrs. Jolly terusir dari ruang kerjanya sendiri, menyisakan Rania dan Zayn saja.

"Menarik, ternyata Galih sudah menemukan wanita yang dicarinya. Apa kamu yakin dia mencintaimu? Semua orang tahu jika adikku yang paling dia cintai sejak mereka kecil."

Keduanya saling tatap, Zayn berusaha mencuci pikiran Rania agar meragukan Galih. Setelah tahu mereka akan menikah Zayn seolah tidak Terima.

"Jika tidak ada yang dibahas mengenai kerja sama lebih baik anda pergi saja. Kami tidak ada waktu untuk bermain main."

Rania berbalik dan ingin memegang gagang pintu, dengan cepat Zayn meraih tangan Rania lalu menahan tubuhnya ke pintu. Sehingga Zayn bisa mengunci Rania tanpa bisa bergerak.

"Kamu terlalu baik untuk Galih, jangan katakan kamu tidak tahu bagaimana masa lalu Galih setelah di tinggalkan oleh Zahra? "

Zayn mencoba menyentuh pipi Rania namun dengan cepat Rania memalingkan wajahnya.

Rasanya Rania ingin berteriak meminta tolong. Ia merasa jijik tubuhnya disentuh oleh Zayn, pria asing yang selalu mengganggu calon suaminya. Bahkan kini Zayn mengelus rambut panjang Rania, dia begitu penasaran seperti apa perempuan yang Galih pilih.

Mengalami panic attack Rania mulai merasakan sesak nafas, ia menyentuh dadanya yang seakan panas terbakar. Zayn yang melihatnyapun ikut panik dan tak tahu harus bagaimana.

"Hey, Breathe ! Tarik nafas perlahan."

Zayn mencoba memberi pertolongan agar Rania bisa tenang. Ketika ada celah saat Zayn mulai kebingungan Rania mendorongnya sekuat tenaga. Ia berlari menuruni anak tangga menuju lantai bawah.

Tak peduli tatapan orang kantor Rania ingin cepat pergi dari sana. Namun sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya. Galih keluar dengan tergesa-gesa melihat Rania berlari. Rania langsung memeluk Galih mencari rasa aman.

"It's ok, aku di sini Rania. Kamu baik baik saja, tidak perlu takut. "

Galih mendekap Rania erat, tanganya bergerak mengusap punggung Rania berkali kali. Sam melihat Zayn keluar dari kantor hendak mendekat ke arah mereka namun dengan sigap Sam menghadang.

"Ayo kita pulang mas, aku tidak ingin di sini."

Galih tahu alasan Rania ketakutan, jelas ini perbuatan Zayn yang mendatangi Rania tanpa sepengetahuan Galih maupun Sam.

Demi Rania Galih membiarkan Zayn kali ini. Ia menghentikan Sam dan memerintahkan untuk segera pulang. Sementara Zayn merasa bersalah karena sudah menyakiti perempuan. Tadinya ia hanya ingin menakut nakuti Rania agar bisa menarik perhatian Galih. Ternyata perempuan itu malah ketakutan terhadap dirinya.

***

Setelah kejadian itu Galih mengirim pemberitahuan pada Mrs. Jolly jika Rania akan mengundurkan diri. Dia bahkan melarang Rania keluar rumah. Galih tentu tidak ingin terjadi hal buruk menimpa Rania terulang lagi.

Rania hanya menghabiskan waktu berjalan jalan di taman, merawat tanaman mama Ami atau membuat kue di dapur. Dulu sekali saat ia remaja sering membantu mama membuat kue pesanan pelanggan.

Menyadari ada yang salah pada dirinya, Rania membuka laptop dan mencari beberapa informasi yang berkaitan dengan gejala panik yang sering ia alami.

Sebentar lagi wisuda Rania tak ingin terkurung selamanya, ia merasa tidak bebas dan rindu menghirup udara luar. Dari pagi sampai sore Mama Ami sibuk di restoran, sementara Galih bekerja di kantor. Ia hanya akan berkunjung sore hari lalu kembali ke apartemen untuk istirahat.

Ingin mengundang teman temannya pun mereka sama sama sibuk.

"Halo.. "

Sapa Rania setelah panggilan tersambung.

"Iya Rania, kamu butuh sesuatu? "

Tanya seseorang di sebrang telpon.

"Apa boleh aku pergi konsultasi? Sebentar lagi wisuda, aku malu jika terus mengalami hal itu lagi."

Rania memohon agar permintaannya di setujui.

Terdengar helaan nafas berat disana. Sesaat berpikir sebelum menjawab.

"Baiklah, aku akan jemput kamu lalu kita pergi bersama."

"Terima kasih mas."

Ucap Rania pada Galih.

Sebelumnya Galih memang sudah bertanya pada beberapa psikolog mengenai gejala yang di derita Rania. Ia memiliki ciri ciri dari anxiety disorder dimana rasa takut dan panik berlebih akan muncul ketika dirinya merasa terancam. Itu bisa terjadi akibat gangguan stres pascatrauma.

Ada hal yang belum Rania jelaskan pada Galih mengenai masa lalunya yang hanya diketahui Mario. Semua peristiwa buruk yang pernah Rania alami semakin memicu gejala itu muncul. Mulai dari penolakan keluarga Mario, kejadian di Bali, Mario yang berusaha menyentuhnya di apartemen, bahkan Galih juga memaksa menciumnya ketika mereka di Jepang. Paling parah diantaranya yaitu tamparan Bu Sela, Iren yang menyiramnya di toilet dan perlakuan Zayn.

Jangan anggap hal sepele yang mereka lakukan tidak berdampak buruk pada penerimanya. Rania susah payah bangkit dari trauma yang Bayu ciptakan, sekarang malah tambah parah bagi kesehatan mentalnya.

"Maaf non, pintunya terbuka jadi bibi langsung masuk."

Rania yang masih melamun di sofa dekat jendela bangkit menghampiri bibi Jihan.

"Ada apa bi? " Tanya Rania heran, tidak biasanya bibi masuk begitu saja.

"Di depan ada kurir pengirim bunga ditujukan untuk nona Rania. Katanya harus di Terima langsung oleh penrimanya."

Beberapa petugas bahkan sudah memaksa untuk menerimanya di pintu gerbang. Namun kurir memaksa atas perintah pelanggan mereka.

Akhirnya Rania keluar kamar dan berjalan menuju pintu gerbang utama.

Terlihat seorang kurir mengenakan topi hitam dengan kaca mata tebal membawa buket bunga mawar berukuran besar. Rania mengira itu dari Galih sebagai bentuk kasih sayangnya. Rania mengambil alih buket kemudian menandatangani surat tanda Terima.

Saking bahagianya Rania tidak memperhatikan sosok kurir yang sempat menatapnya dengan seringai aneh.

"Terima kasih."

Ucap Rania berbalik dan kurir pun keluar gerbang. Namun saat Rania membaca kartu ucapan yang terselip seketika buket itu jatuh ke tanah.

- Missing you Like a crazy -

Zayn

Rahang Rania menganga tak percaya. Ia pun berbalik badan hingga melihat sosok Zayn yang tengah tersenyum ke arahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!