Alisha, seorang gadis cantik berumur dua puluh empat tahun. Alisha seorang yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal pada saat Alisha berumur dua tahun. Alisha dirawat oleh paman dan bibinya.
Paman dan bibinya Alisha, mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Amalia. Amalia tidak menyukai apapun tentang Alisha. Bahkan, terkadang Amalia mengerjai Alisha.
Suatu hari, Amalia menyuruh teman laki-lakinya untuk mengambil sesuatu yang paling berharga bagi Alisha, yaitu keperawanannya.
Akankah Alisha berakhir ditangan pria itu? Ataukah ada seseorang yang menolongnya? Mari, cari tahu takdir Alisha!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INRUMIDITAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melamar kerja
Kini, Alisha dan kedua temannya sudah berada didalam kontrakan, mereka sedang merebahkan tubuh mereka di ruang tamu. "Huft melelahkan sekali," ucap Alisha menghembuskan napasnya kasar.
"Eh, di apotek ada yang kosong nggak apotekernya. Aku pengen kerja lagi," ucap Alisha.
"Lo, bukannya kamu mau nikah?" tanya Citra.
"Masih lama kok, masih dua bulan lagi. Lagian, aku juga nggak enak minta uang sama mama papa terus. Ya, walaupun mereka menggapku seperti anak kandung sendiri, tapi aku juga nggak enak jika nggak kerja," jawab Alisha.
"Kalau di tempat kita nggak ada, karena dulu langsung ada penggantinya saat kamu bilang mau keluar. Dimana ya? Nanti aku kabar-kabar ya jika ada info," ucap Citra.
"Ngomong-ngomong si Desi kok nggak ada suara ya?" Citra duduk dan melihat kondisi Desi.
"Eh, sudah molor aja ni bocah, hey bangun tidur didalam." Citra menggoyangkan tangan Desi, tapi Desi sama sekali tidak bangun.
"Beneran sudah tidur si Desi?" tanya Alisha belum percaya.
"Iya, noh kayak kebo," jawab Citra.
"Cepet banget ya dia pulesnya," ucap Alisha sambil mengamati Desi yang sedang tertidur pulas.
"Kita angkat yuk, kasihan dia tidur dilantai," ucap Alisha. Alisha mengangkat badan Desi, sedangkan Citra mengangkat kaki Desi. "Akhirnya, selesai juga, kamu tidur dikamar aku aja." Citra menggandeng tangan Alisha menuju kamarnya.
"Bentar, kita gosok gigi dulu." Alisha kini yang menggandeng tangan Citra menuju ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah selesai dengan acara gosok gigi mereka. Tak lupa, kedua orang ini memakai cream malam mereka. "Dah, sekarang bobok." Alisha merebahkan tubuhnya diatas kasur.
"Lo, nggak jadi cerita-cerita lagi?" tanya Citra.
"Nggak, sudah ngantuk, good night." Alisha langsung memejamkan kedua matanya.
"Ya sudahlah, good night," ucap Citra, ia pun juga ikut merebahkan tubuhnya dan mulai terlelap tidur.
*
*
*
Pukul setengah enam pagi, Alisha dan Citra sedang berada di dapur. Tiba-tiba, Desi terbangun karena mencium aroma masakan yang enak. "Lo, kok aku ada disini ya? Perasaan tadi malam aku tidur di ruang tamu." Desi berpikir sejenak.
"Kok ada aroma makanan yang enak ya? Aku cari ah sumbernya dimana." Desi langsung beranjak dari tempat tidurnya.
Sesampainya di dapur, Desi melihat beberapa olahan masakan yang sudah siap saji. "Wah, kalian ini bangun jam berapa? Kok sudah masak banyak masakan gini?" tanya Desi kepada Alisha dan Citra.
"Jam berapa ya tadi? Aku lupa," respon Alisha.
"Eh Sha, ini temanku baru aja balas, katanya ada lowongan ditempatnya, kamu mau nggak?" Citra memperlihatkan layar ponselnya kepada Alisha.
"Bolehlah, ya sudah ayo sarapan bareng. Aku akan langsung pulang setelah sarapan nanti, aku akan mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan untuk melamar kerja nanti," ucap Alisha.
Alisha dan kedua temannya pun sarapan bersama, setelah itu Alisha langsung pulang ke rumahnya. Alhamdulillah ya Allah, aku bisa kerja lagi. Aku nanti mau kasih uang juga ah untuk bibi," batin Alisha.
Setelah menempuh perjalanan, motor Alisha sampai di halaman rumahnya. Alisha langsung masuk kedalam rumah. "Assalamu'alaikum," ucap Alisha berjalan di ruang tamu.
"Lo, mama kemana ya? Biasanya aku ngucap salam langsung ada suara mama," gumam Alisha.
Alisha berjalan menuju dapur, disana ada bibik yang sedang mencuci perabotan dapur. "Bik, mama kemana ya?" tanya Alisha.
"Nyonya tadi pamit mau ke swalayan, Non," jawab bibik.
"Pergi sama siapa? Dan naik apa?" tanya Alisha lagi.
"Pergi sendirian, sepertinya naik taksi," jawab bibik.
"Kalau begitu Alisha masuk ke kamar dulu ya, Bi," ucap Alisha.
Tiga puluh menit berlalu, kini Alisha sudah siap untuk melamar pekerjaan. Alisha berjalan melewati ruang tamu. "Lo, Non mau kemana?" tanya bibik yang sedang mengepel lantai ruang tamu.
"Alisha mau melamar pekerjaan, Bi. Alisha bosen dirumah terus, nanti minta tolong, sampaikan ke mama ya kalau Alisha sedang melamar pekerjaan, wassalamu'alaikum, Bi." Alisha berjalan keluar rumah.
Alisha langsung menaiki motor dan memakai helm-nya. Ia melajukan motornya, menuju lokasi tempat ia akan melamar pekerjaan. Jarak rumah dengan lokasi sekitar lima belas menit jika ditempuh menggunakan sepeda motor.
Lima belas menit kemudian, motor Alisha berhenti ditempat parkir sebuah apotek yang cukup besar. Disamping apotek itu ada sebuah rumah sakit yang besar, menurut Alisha rumah sakit ini lebih besar dari pada rumah sakit tempat Alvin bekerja.
Alisha menyerahkan map yang berisi berkas-berkas untuk melamar pekerjaan. "Kamu Alisha kah? Teman Citra?" tanya seorang pria.
"Iya, apakah kamu teman yang dimaksud Citra itu?" tanya Alisha balik.
"Ya, aku dan Citra teman baik sejak sekolah menengah pertama. Kamu tunggu sini ya, aku serahin dulu sama atasan." Pria itu pergi menuju ke lantai dua.
Setelah beberapa saat, pria itu menghampiri Alisha kembali. "Kamu besok disuruh kesini lagi katanya. Oh iya, namaku Adnan." Pria itu mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan dengan Alisha, tapi Alisha seketika menelungkupkan kedua tangan didepan dadanya.
"Aku Alisha," ucap Alisha sambil tersenyum.
"Kalau begitu saya pamit dulu ya, wassalamu'alaikum," ucap Alisha lalu pergi meninggalkan apotek itu.
"Wa'alaikum salam," ucap Adnan. Cantik kali si Alisha ini, bak bidadari turun dari kayangan, batin Adnan sambil memandangi kepergian Alisha.
"Woy, ngelamun apa?" tanya seseorang menyadarkan lamunan Adnan.
"Eh, ngagetin aja Lo bro," ucap Adnan pada Ibnu, salah satu teman apotekernya.
"Lagian ngelamun gitu, lagi mikirin apa sih?" tanya Ibnu kepo.
"Lagi ngelamunin bidadari yang turun dari kayangan," jawab Adnan.
"Bidadari? Mana, gue juga pengen lihat." Ibnu menoleh kesana-kemari, tapi dia tidak melihat sosok bidadari itu.
"Udah pergi," respon Adnan.
"Yah, sayang sekali ... padahal gue juga mau lihat bidadari itu," ucap Ibnu lesu.
"Permisi," ucap seorang wanita paruh baya didepan apotek.
"Iya, Bu ... cari apa ya, Bu?" Adnan langsung menghampiri wanita paruh baya itu.
"Ini, saya mau nebus resep obat." Wanita paruh baya itu memberikan secarik kertas kepada Adnan, Adnan pun langsung mencari obat yang tertera dikertas itu.
Disisi lain, kini Alisha sedang duduk di tepi taman yang letaknya tidak jauh dari apotek tadi. Ia membeli satu cup ice cream yang ia beli dari sebuah stan, stan itu menjual berbagai macam kreasi ice cream.
Sayang banget si Citra nggak ada disini, si penggila makanan itu pasti bakal ketagihan dengan rasa ice cream ini. Apalagi harga nggak menguras kantong, gumam Alisha.
Setelah selesai memakan ice cream-nya, Alisha melajukan motornya kembali, kali ini ia akan mengunjungi sebuah toko buku. Toko buku yang akan dia kunjungi, adalah toko buku langganannya dari dulu.
Salut ama sikap Alisha
Perjuangan Ucup mampir