Ashilla tidak pernah menyangka jika di hari itu ia harus merelakan masa lajangnya, menikah dengan sosok yang tidak pernah ia kenal sebelumnya hanya karena ancaman dari sang paman yang akan menghentikan pengobatan adiknya yang tengah berjuang dalam masa kritisnya.
Hidupnya hancur, semakin hancur ketika ia mengetahui fakta sebenarnya mengenai alasan mengapa laki-laki itu memilih menikahinya.
Mampukah Ashilla menjalani biduk rumah tangga yang jelas-jelas tidak ada kata cinta didalamnya?
IG : reinata_ramadani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Sabar Bertemu
°°°~Happy Reading~°°°
Hari-hari berlalu. Sejak saat itu, Damian tak lagi acuh. Laki-laki itu bahkan sering meluangkan waktu, mengunjungi Shilla yang kini kehamilannya semakin mendekati detik-detik kelahiran.
Meski tak lama, hanya sehari dua hari, namun laki-laki itu tak sampai menelantarkan Shilla berbulan-bulan lamanya seperti dulu.
"Menurut prediksi dokter, kapan baby nya akan lahir?"
"Awal bulan--bulan depan, mas," Shilla menjawab sembari memakaikan dasi di leher suaminya.
Sejak saat itu, hubungan keduanya menjadi lebih dekat. Damian memperlakukan sang istri dengan semestinya. Laki-laki itu bahkan meminta Shilla memakaikannya dasi seperti saat ini sebelum ia kembali ke Jakarta.
"Sepertinya saya baru bisa berkunjung di akhir bulan. Baru setelah itu saya menemani kamu sampai nanti persalinan."
Shilla menghitung, akhir bulan. Berarti tiga minggu ke depan suaminya tak akan mengunjunginya lagi sebelum persalinan.
Bukankah itu terlalu dekat dengan hari kelahirannya nanti?
"Saya harus ke Singapura mengurus bisnis yang ada disana. Ada masalah."
Shilla menghela nafas. Sepertinya memang serius, dan ia tak bisa seenaknya sendiri menunda kepergian sang suami demi keegoisannya sendiri.
"Baiklah, sudah selesai. Mas akan berangkat sekarang?"
"Ya. Carl sudah menunggu."
Keduanya lalu berjalan menuju teras rumah. Disana sudah ada Carl yang menunggu Damian untuk ia bawa kembali ke Jakarta.
"Hati-hati. Jaga diri baik-baik, dan baby juga." Laki-laki itu mengusap perut buncit sang istri. Dan tendangan besar seketika menghantam permukaan tangannya seolah menyambut salam perpisahan darinya.
"Mas juga hati-hati."
Keduanya kemudian berpisah dengan mobil yang kini berangsur menghilang di persimpangan jalan.
Waktu berlalu, terhitung sudah dua minggu laki-laki itu tak ada mengunjunginya.
Dengan perut buncitnya, Shilla berjalan tertatih mendekat pada bi Asih yang tengah sibuk menyiapkan sarapan.
"Bi..." Keringat sudah membasahi keningnya. Shilla bahkan sudah tak sanggup untuk sekedar mengeluarkan suaranya.
"Bibi... ."
Baru panggilan kedua bi Asih menoleh, dan dibuat terkejut dengan keadaan Shilla yang kini tengah berjalan tertatih sembari memegangi perut buncitnya.
Buru-buru bi Asih berlari mendekati keberadaan Shilla.
"Non Shilla kenapa?"
"Perut Shilla sakit bi. Sudah dari subuh, tapi sekarang Shilla sudah tidak tahan. Sakit sekali." Nafasnya tercekat. Sakit sekali rasanya, benar-benar sakit hingga ingin mencengkeram apa saja yang dapat menguarkan segala rasa sakitnya.
"Sepertinya non akan segera melahirkan."
"Non Shilla duduk sebentar. Biar saya panggilkan mang Asep."
Bi Asih dengan tergesa berlari mencari keberadaan mang Asep yang seperti biasa berjaga di depan. Sedang Shilla, perempuan itu sungguh tak lagi dapat menahan segala rasa sakit yang menyeruak kala perutnya kembali mengalami kontraksi hebat.
"Adek... Adek udah ngga sabar mau ketemu ayah sama bunda ya. Sabar ya sayang, kita ke rumah sakit dulu. Kita cari dokter untuk membantu adek keluar."
Di sela-sela kontraksi itu, Shilla berusaha menenangkan bayinya yang rasa-rasanya tak sabar ingin segera menyapa dirinya.
Hingga tak lama, bi Asih kini muncul.
"Mari non... ."
Perjalanan itu harus memakan waktu hampir setengah jam lamanya. Keringat besar sebiji jagung sudah membasahi kening perempuan itu.
Shilla kemudian di bawa menuju ruang perawatan. Pembukaan tiga katanya. Membuat perempuan itu harus menunggu hingga pembukaan sempurna.
"Bi..." Perempuan itu berkata dengan lemah di sela kontraksinya.
"Mas Damian. Bi Asih tolong kabari mas Damian."
Bi Asih menepuk jidatnya. Saking paniknya ia bahkan melupakan hal terpenting di tengah persalinan Ashilla.
🍁🍁🍁
Annyeong Chingu
Happy reading
Saranghaja 💕💕💕