Di usia yang tak dikatakan muda, Amaira Husna selalu didesak untuk segera menikah. Alih-alih berkeluh-kesah kepada sahabatnya, Reynand. Menceritakan kegalauannya tentang bagaimana cara mengambil sikap sebab orangtuanya telah mencarikan jodoh untuknya, justru dia mendapati hal yang tak pernah dia sangka.
Salahnya yang bercerita atau inilah solusi satu-satunya untuk menolak jodoh dari orangtua. Sebab Reynand datang di hari yang sama bertepatan disaat tamu orangtuanya tiba. Reynand datang mengutarakan niat untuk melamarnya.
Akankah Amaira menerima tindakan konyol Reynand, yang notabenenya berstatus sahabat dengan hubungan yang jelas tanpa dilingkupi adanya cinta.
Atau terpaksa menerima dan menganggapnya sebatas solusi yang malah berbuntut frustasi akibat keputusannya?
Tpe-
20-09-2019
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARyanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Pagi ini aku terbangun saat Reynand mengguncang bahuku.
"Bangun Ra!?"
"Rey? Kenapa sepagi ini kamu bangunkan aku?" gumamku dengan suara serak khas bangun tidur dan aku berusaha mengerjapkan mataku memulihkan kesadaranku. Badanku rasanya masih membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Semalam setibanya di hotel, aku langsung meletakkan koper, melepas sepatu, melempar blazer yang entah ke arah mana aku membuangnya. Dan sekonyong-konyongnya aku langsung melemparkan diri ke kasur demi untuk memejamkan mata dan tertidur hingga pagi ini Reynand mambangunkanku.
"Aku ada meeting pagi ini," jawab Reynand dan dia duduk bersebelahan dengan posisiku yang masih berbaring miring dikasur. Dapat kulihat tangannya sibuk membuat simpulan dasi.
"Sepagi ini?" tanyaku, lalu aku bangkit duduk.
Kuamati penampilan Reynand dari atas sampai bawah, dia sudah rapi mengenakan kemeja warna biru dongker, rambut sudah tersisir rapi dan dari jarak sedekat ini tercium aroma maskulin yang sudah dipastikan bersumber pada dirinya.
"Ada pekerjaan yang tidak sesuai dengan time schedule," jawab Reynand kini menghadap ke arahku.
"Lalu aku?"
Reynand menaikkan alis sebelah, lalu berujar, "Kamu bisa jalan-jalan disekitaran sini."
"Sendiri?"
"Atau kamu mau ikut denganku?"
"Aku gak mau jadi obat nyamuk," jawabku sambil menguap.
Kulihat Reynand merogoh sesuatu dari saku celana bahannya, lalu menyodorkannya kepadaku.
"Buatku?"
"Kamu bisa memakainya."
Akupun mengambil alih Kartu ATM berlogo visa yang baru saja disodorkan Reynand.
"Boleh buat shopping-shopping?" Seruku dengan mata berbinar dan bibir menyunggingkan senyuman.
"Pakai sesuai kebutuhan!" sahutnya sambil menjitak pelan keningku.
Akupun mengerucutkan bibirku.
"Nomor pin-nya tertera dibelakang kartu," sambungnya. Kini Reynand berdiri dan mengambil tas kerjanya.
"Rey, Kamu balik jam berapa?" tanyaku diiringi bangkit dari ranjang mengikuti langkahnya.
Reynand pun menoleh ke arahku, dan berucap "kenapa, mau nungguin aku?"
"Haa!" sahutku terheran. Sejak kapan Reynand sahabatku yang terkenal sebagai manusia kutub senarsis ini.
"Atau mau ditemani?" dia bertanya dengan menyunggingkan bibirnya dan tersenyum miring.
"Gak perlu, aku bisa jalan-jalan sendiri. Apalagi ada ini!" jawabku sambil mengibaskan kartu ATM berlogo visa. "Sana berangkat, dan hati-hati dijalan," sambungku mengingatkan.
Reynand terkekeh lalu berpamitan padaku, "Aku berangkat."
"Hm," aku bergumam dan kulihat Reynand sudah hilang dibalik pintu.
Akupun beranjak mencari pakaian dan menyiapkan perlengkapan untuk mengeksplor pulau dewata.
Dan Reynand, biarlah dia bergulat dengan pekerjaannya. Karena memang dari dua bulan yang lalu dia ada proyek pembangunan resort kalau tidak salah lokasinya terletak di Seminyak Bali.
~
Pagi ini, cuaca sangat cerah mentari bersinar terang dan lalu lalang kendaraan bermotor menghiasi jalanan.
Aku sudah bersiap dengan dress bermotif bunga-bunga selutut beserta totebag tak lupa sandal jepit yang sudah bertengger manis di kaki.
Begitu keluar dari hotel, tadi aku terlebih dahulu mampir ke sebuah outlet mencari sunblock dan juga topi pantai. Maklum, sebab gak ada persiapan. Camera juga gak bawa, tapi tak jadi masalah sebab ponsel juga bisa buat jepret. Mengabadikan moment dan memberi kesan kenangan bahwa aku pernah menginjakan kaki disini.
Aku mulai membuka ponsel pintarku menanyakan pada mbah google, lokasi dan tempat rekreasi yang asik dikunjungi dan mana saja yang recomended untuk aku singgahi yang baru pertama kali kesini.
Tak lupa GPS aku aktifkan beserta mengandalkan aplikasi ojek online. Biar si abang ojek jadi juru antar. Gak mungkin kalau harus berjalan kaki untuk berpindah dari tempat yang lumayan jauh.
Lokasi yang pertama aku datangi adalah pura Petitenget. Yang menariknya arsitektur puranya sangat unik. Pura ini juga sering digunakan oleh warga sekitar sebagai tempat upacara keagamaan. Daya tarik objek wisata di Badung selatan ini menawarkan pesona Indonesia alam pantainya.
Lanjut ke pantai Petitenget yang memiliki daya tarik unik dengan keindahan pemandangan alam yang khas serta pesisir pantai yang alami dan indah. Garis pantainya berada satu garis dengan pantai kuta. Terlihat banyak turis asing yang berjemur menikmati sinar matahari.
Lokasi ketiga yang aku datangi adalah pantai seminyak kalau masyarakat sekitar mengenalnya dengan nama Dhynapura yang memiliki kontur pantai pasir putih yang lembut. Ada fasilitas seru yakni berenang, bermain selancar, berjemur dan ada juga wisata menunggangi kuda dipesisir pantai. Untuk tiket masuk ke pantai ini gratis alias tidak dipungut biaya.
Lalu aku menuju ke Seminyak Square berbelanja sekaligus mencari makan untuk mengisi perutku yang sudah sedari siang tadi meminta jatah. Aku merogoh ponselku dan mengecek, namun tak ada satu pesan yang dibalas oleh Reynand dan waktu sudah menunjukkan pukul dua siang saat aku tiba disini.
Setelah makan, aku melanjutkan langkahku mengunjungi beberapa gerai. Keluar masuk dari satu butik ke butik yang lain meski tidak membeli, hanya melihat -lihat saja. Ada sih yang aku beli tapi tidak semua yang aku singgahi, hanya beberapa barang yang menurutku menarik dan cocok.
Pukul setengah empat sore aku kembali ke hotel tempatku menginap.Tubuhku sudah terasa lengket, ingin segera aku mengguyur tubuhku atau berendam dibathtub.
Kamar yang aku tempati bertipe Deluxe. Lokasi strategis yakni menghadap kolam renang dan tentu mempunyai pemandangan yang bagus.
Aku sudah berdiri di depan pintu kamar hotel. Beberapa paperbag yang berisi buah tangan dan cinderamata sengaja aku letakkan di lantai. Aku mencoba merogoh mencari cardlock. Setelah menemukannya aku mencoba mengetukkan pada kotak sensor. Setelah berwarna hijau dan terdengar bunyi, aku pun membuka pintu dan masuk.
Tapi justru pemandangan langka yang kini terlihat di hadapanku. Terdapat sosok yang bertelanjang dada. Mengenakan handuk yang hanya membelit pinggang sampai lutut. Memperlihatkan badannya yang bersih, bagian perutnya yang layaknya tatakan es batu dan tetes-tetes air mengalir dari rambut basahnya. Kulihat sepertinya dia sedang sibuk mencari sesuatu pada kopernya yang dia letakkan diatas ranjang dan kurasa dia tidak menyadari keberadaanku.
Tak berapa lama, kini pandangannya mengarah kepadaku. Kulihat Reynand tampak tersentak melihat kehadiranku yang masih berada diambang pintu yang masih terbuka.
"Ira! Apa yang kamu lakukan?"
"A—aku..."
"Oh shit!" terdengar Reynand mengumpat dengan suara kecil.
Karena aku tak kunjung menjawab, Reynandpun berjalan tergesa melangkah mendekatiku.
To be Continue