NovelToon NovelToon
THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

THE HIDDEN TEARS OF DIRGANTARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: PERTEMUAN RAHASIA AYAH DAN MIKO

Bab 18: Pertemuan Rahasia Ayah dan Miko

Malam beranjak semakin larut ketika jarum jam dinding di teras rumah Miko menunjuk ke angka sepuluh. Suasana kompleks perumahan itu sudah sangat sepi, hanya menyisakan suara deru angin malam yang membawa hawa dingin sisa hujan sore tadi. Miko baru saja hendak menutup pintu pagar rumahnya setelah selesai mengerjakan tugas kelompok ketika sebuah mobil minibus tua yang sangat ia kenal berhenti tepat di depan rumahnya.

Itu mobil milik Ayah Revan.

Miko membeku di tempatnya berdiri, tangannya masih mencengkeram besi pagar. Jantungnya mendadak berdegup kencang karena rasa panik. Mampus, apa bokapnya Revan mau ngelabrak ke sini karena tahu anaknya numpang tidur di kamar belakang gue? batin Miko cemas.

Namun, dugaan Miko meleset jauh. Pintu kemudi mobil terbuka, menampilkan sosok seorang pria paruh baya yang melangkah keluar dengan sangat perlahan.

Miko tertegun. Pria yang berjalan mendekat ke arahnya itu hampir tidak ia kenali sebagai Om Dirgantara, sosok ayah tegas dan berwibawa yang biasanya selalu tampil rapi. Malam ini, Ayah Revan tampak sangat rapuh. Kemeja kantornya terlihat kusut dengan kancing bagian atas yang terbuka asal. Wajahnya tampak luar biasa kuyu, matanya merah karena kurang tidur, dan gurat-gurat kelelahan tercetak begitu dalam di bawah pelupuk matanya yang menghitam. Bahunya tampak merosot, seolah-olah ada beban seberat berton-ton yang sedang menekan fisiknya hingga ke dasar bumi.

"Miko..." panggil Ayah Revan dengan suara yang teramat serak dan parau, menghentikan langkahnya di depan pagar.

Miko buru-buru membuka pagar lebih lebar, mencoba bersikap sopan meskipun hatinya diselimuti ketakutan. "Eh... iya, Om. Selamat malam. Om... cari Revan? Revannya lagi gak ada di rumah, Om. Dia lagi..."

"Om tahu, Mik," potong Ayah Revan dengan senyuman tipis yang sangat getir. Pria itu menghela napas panjang, menatap ke dalam halaman rumah Miko dengan pandangan yang kosong. "Revan pasti lagi kerja di bengkel Cak To, kan? Om sudah tahu semuanya dari tetangga sebelah yang kemarin melihat Revan lewat."

Miko menelan ludahnya dengan susah payah, tidak berani membantah. "Maaf, Om... Miko gak maksud buat nyembunyiin Revan, tapi Revannya bener-bener lagi keras kepala banget dan gak mau pulang..."

Ayah Revan menggelengkan kepalanya pelan, menyandarkan separuh bobot tubuhnya pada tiang pagar besi karena sepasang kakinya yang gemetar tampaknya sudah tidak kuat lagi menopang tubuhnya sendiri. "Gak apa-apa, Mik. Om gak marah sama kamu. Om justru mau berterima kasih karena kamu sudah mau menampung Revan di sini. Om gak tahu harus ke mana lagi kalau kamu gak mau jadi temannya Revan."

Mendengar nada suara Ayah Revan yang sama sekali tidak dipenuhi amarah melainkan keputusasaan yang mendalam, rasa takut Miko perlahan menguap, digantikan oleh rasa iba yang teramat sangat.

Ayah Revan merogoh saku celana kainnya dengan tangan yang tampak sedikit gemetar. Beliau mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan lecek yang diikat dengan karet gelang—totalnya tidak seberapa, mungkin hanya sekitar tiga ratus ribu rupiah. Beliau menyodorkan uang itu ke hadapan dada Miko.

"Om titip uang ini buat Revan ya, Mik," tutur Ayah Revan, sepasang matanya yang kuyu mendadak berkaca-kaca menahan air mata yang hampir luruh. "Tolong berikan ke dia. Pake uang ini buat beli makanan atau keperluan sekolahnya Revan. Tapi Om mohon sama kamu... jangan pernah bilang kalau uang ini dari Om atau dari Ibunya. Kamu tahu sendiri kan gimana gengsinya anak itu? Kalau dia tahu ini dari Om, dia pasti bakal buang uang ini ke tempat sampah."

Miko menatap lembaran uang lecek di tangan Ayah Revan dengan dada yang mendadak terasa sesak bergemuruh. "Om... kenapa gak Om sendiri aja yang kasih ke Revan langsung ke bengkel? Revan pasti..."

"Gak bisa, Mik. Revan benci sekali sama Om. Dia merasa Om sama Ibu selalu pilih kasih," air mata Ayah Revan akhirnya menetes, membasahi pipinya yang tampak lebih tirus. Pria paruh baya itu mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan telapak tangan yang kasar. "Dia gak pernah tahu, Mik... Dia gak pernah tahu seberapa hancurnya rumah itu sekarang. Uang di laci Ibunya yang hilang kemarin... itu Om yang ambil, Mik. Bukan Revan."

Miko membelalakkan matanya, terkejut luar biasa. "Lho? Jadi... Om yang ambil?"

Ayah Revan mengangguk pelan sembari terisak kecil dalam keheningan malam, menyembunyikan tangisnya agar tidak terdengar oleh tetangga sekitar. "Om terpaksa, Mik. Rumah sakit menelepon Om pagi-pagi buta, bilang kalau prosedur cuci darah Arka harus segera dibayar DP-nya, kalau tidak Arka gak bisa dapet antrean obat minggu ini. Tabungan inti Om sudah habis total, tidak tersisa sepeser pun. Om terpaksa ambil uang belanja Ibumu tanpa pamit... Om gak tahu kalau dampaknya bakal bikin Revan dituduh dan kabur dari rumah."

Napas Miko tertahan di tenggorokan. Kebenaran yang baru saja ia dengar terasa seperti hantaman gada yang sangat keras.

"Fisik Om sudah gak kuat lagi, Mik..." lirih Ayah Revan, memegangi dadanya yang mendadak terasa berdenyut nyeri akibat kelelahan luar biasa setelah banting tulang mengambil jam kerja lembur gila-gilaan dari pagi hingga subuh tanpa henti demi menutup biaya rumah sakit Arka yang membengkak jutaan rupiah setiap minggunya. "Setiap hari Om harus kerja di dua tempat berbeda. Ibu juga fisiknya makin kurus karena stres mikirin Arka yang makin drop dan Revan yang gak pulang-pulang. Rumah kami sudah kayak neraka, Mik... Om cuma mau anak-anak Om tetep hidup, tapi Om malah ngancurin perasaan Revan."

Miko perlahan menerima uang tersebut dengan tangan yang ikut bergetar. Hatinya hancur melihat betapa besarnya pengorbanan rahasia yang sedang dipikul oleh seorang kepala keluarga di hadapannya ini sendirian. "Iya, Om... Miko bakal simpen uang ini dan kasih ke Revan pelan-pelan tanpa bawa-bawa nama Om."

"Terima kasih banyak ya, Mik. Tolong jagain Revan... Om mohon banget," ucap Ayah Revan tulus, menepuk bahu Miko dengan sisa-sisa kekuatannya. "Om harus balik ke kantor lagi sekarang, masih ada berkas lemburan yang harus diselesaikan sampai subuh."

Pria paruh baya itu membalikkan tubuhnya yang tampak membungkuk lelah, melangkah tertatih kembali menuju mobil minibus tuanya. Miko berdiri mematung di depan pagar, menatap kepergian mobil itu yang perlahan menghilang di ujung belokan kompleks perumahan, meninggalkan kepedihan yang teramat sangat pekat di bawah langit malam.

Sementara itu, di Bengkel Mandiri Jaya yang berjarak beberapa kilometer dari sana, Revan baru saja selesai mengelap sisa oli di tangannya dengan kain kumal. Ia menatap uang upah hariannya sebesar lima puluh ribu dari Cak To dengan senyuman sombong yang terukir di wajahnya.

Gue bisa hidup tanpa lo, Yah. Lihat aja nanti, batin Revan penuh kelancangan, memasukkan uang itu ke dalam sakunya dengan kepala tegak.

Revan pulang ke rumah Miko setengah jam kemudian dengan perasaan puas, sama sekali tidak pernah menyadari bahwa di dalam saku celana Miko, ada beberapa lembar uang lecek yang melambangkan tetesan air mata dan sisa-sisa napas terakhir Ayahnya yang kian menipis demi melindunginya dari kerasnya dunia luar. Kesalahpahaman itu kian mengunci takdir tragis mereka, membawa Revan selangkah lebih dekat menuju malam mengerikan di mana Ayahnya akan gugur dalam kelelahan, menyisakan badai penyesalan yang siap meruntuhkan seluruh sisa hidup Revan seumur hidup.

bersambung.....

.

.

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
tri Harianti
tetep ibunya yang salah
tri Harianti
salah orang tuanya sih ini
tri Harianti
yang salah orang tuanya sih
tri Harianti
kasian
tri Harianti
kasian
awesome moment
arahnya. arka dan ayahnya sm2 meninggoy dan...revan nyesel bin nyesek. smua klo udh lewat batas kemampuan dijamin tumbang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!